JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bertanam Ubi Jalar Sebagai Sumber Penghasilan

Ubi jalar, salah satu komoditas tanaman pangan yang tidak hanya sebagai sumbar bahan makanan, tetapi pada beberapa daerah merupakan salah satu sumber utama penghasilan, bagi petani. Biaya produksinya yang tergolong rendah dan pemasarannya yang tidak sulit, walaupun harga jualnya masih berfluktuasi, menjadi faktor pendukungnya. Ubi jalar bisa beradaptasi baik pada berbagai kondisi lingkungan, tumbuh baik dan berproduksi tinggi mulai dataran rendah sampai dataran tinggi, baik di lahan sawah sesudah padi maupun di lahan kering. Karena itu, tanaman ubi jalar sering dijumpai di banyak tempat.

Di Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat, di kiri dan kanan jalan raya pada Km. 40-50 dari Padang, tepatnya di Kecamatan Gunung Talang, banyak terdapat hamparan pertanaman ubi jalar di lahan sawah pada kawasan-kawasan lereng, terutama pada bulan Mei sampai Oktober. Di kawasan ini, pada mulanya petani menanam ubi jalar pada bulan-bulan tersebut karena air tidak cukup untuk bertanam padi sawah. Namun saat ini, pertimbangan petani membudidayakan ubi jalar sudah berubah. Mereka menanam padi sawah untuk kebutuhan pangan dan menanam ubi jalar untuk memperoleh penghasilan. Pola tanam padi-padi-ubi jalar di lahan sawah pada kawasan tersebut sudah menjadi kebiasaan petani. Pola tanam yang sama dengan pertimbangan yang tidak berbeda juga bisa ditemui di Kecamatan Lembang Jaya pada kabupaten yang sama.

Pertanaman ubi jalar pada lahan sawah dengan pertimbangan untuk memperoleh penghasilan bagi petani dengan skala yang lebih luas bisa ditemui pula di Kecamatan Baso, Ampek Angkek, dan Canduang di Kabupaten Agam serta di Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Sebagian petani bahkan menerapkan pola tanam padi-ubi jalar-ubi jalar. Beberapa petani juga membudidayakan ubi jalar di lahan kering, tetapi luasnya lebih sedikit dibanding penanaman di lahan sawah. 

“Bertanam ubi jalar sebagai sumber penghasilan,” bukan isapan jempol. Biaya produksi murah, produksi yang cukup tinggi, dan pemasaran hasil yang tidak sulit, merupakan pertimbangan utamanya. Hal itu bisa dikalkulasikan secara sederhana. Biaya produksi ubi jalar berkisar Rp. 8 – 10 juta per hektar per musim tanam, sudah termasuk biaya tenaga kerja keluarga petani sendiri. Dengan pengelolaan sederhana saja bisa diperoleh produksi umbi lebih kurang 12 ton per hektar. Harga produksi ubi jalar di tingkat petani dengan kerja panen dilakukan oleh pedagang rata-rata Rp. 2.500,00 per kg. Fluktuasi harga jual ubi jalar petani di Provinsi Sumatera Barat berkisar Rp. 1.700,00 sampai Rp. 3.500,00 per kg. Dengan harga jual yang sedang saja petani bisa memperoleh penghasilan dari usahatani ubi jalar sebanyak Rp. 30 juta per hektar. Artinya, petani bisa memperoleh keuntungan dari usahatani ubi jalar lebih kurang Rp. 20 juta per hektar dalam masa 4,5 bulan.

Prospek pengembangan usahatani ubi jalar sebagai sumber penghasilan utama bagi petani, memang cukup besar. Dengan pengelolaan usahatani yang lebih baik melalui perbaikan teknologi budidayanya, produktivitas ubi jalar petani tidak sulit untuk ditingkatkan menjadi 18-20 ton per hektar, bahkan bisa lebih tinggi. Di lain pihak, peningkatan biaya usahatani untuk pengelolaan yang lebih baik, tidak signifikan. Ayo, kita kembangkan usahatani ubi jalar di tingkat petani sebagai sumber penghasilan utama, menuju tercapainya cita-cita petani sejahtera. (Zul Irfan)   

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rating 2.75 (2 Votes)