JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Notice: Undefined property: Joomla\CMS\Categories\CategoryNode::$introtext in /var/vhosts/sumbar/public/plugins/content/extravote/extravote.php on line 190

Karya Ilmiah Peneliti dan Penyuluh

PENDAHULUAN

Indikator keberhasilan  pemberdayaan ekonomi rakyat di Sumatera Barat (Sumbar)   bergantung pada suksesnya pembangunan sektor pertanian.  Akan tetapi sektor pertanian yang menjadi andalan Sumbar  menghadapi berbagai persoalan yang belum jelas solusinya secara terukur. Kritik tentang rendahnya kinerja sektor pertanian makin sering dilontarkan.  Beberapa indikator yang dijadikan alasan  antara lain pendapatan rumah tangga pertani Sumbar tercatat sebagai  yang paling rendah di Sumatera serta termasuk golongan terendah di Indonesia (Taher et al., 2005).   Indikasi lain adalah terjadinya marginalisasi rumah tangga pertanian ke arah petani gurem dan buruh tani, serta makin dominannya petani yang menguasai lahan sempit, yakni 0,1-0,5 ha/KK (Kasryno et al., 2000;  Kasryno et al., 2001).

Di Sumbar, potensi SDA terbesar terdapat di sektor pertanian, sama halnya dengan mata pencarian utama penduduk juga di sektor pertanian. Tahun 2006 sebanyak 47,93% penduduk  bekerja pada sektor pertanian.  Secara keseluruhan tahun 2006, sumbangan sektor pertanian dalam menghasilkan PDRB  Sumbar adalah 25,26%.  Kontribusi tersebut masing-masing berasal dari pertanian pangan dan hortikultura (12,11%); perkebunan (5,61%); peternakan (2,04%); kehutanan (1,50%) dan perikanan (3,01%) dari total PDRB (Bappeda Sumbar, 2008).

Pendapatan rumah tangga petani di  pedesaan berasal dari berbagai sumber kegiatan yaitu dari usahatani padi, usahatani non padi, berburuh tani dan buruh di luar sektor pertanian, serta usaha di luar sektor pertanian. Kontribusi pendapatan dari sumber-sumber tersebut bervariasi antar daerah, agroekosistem dan antar kelompok pendapatan. Dengan perkembangan waktu, telah terjadi perubahan struktur pendapatan di seluruh daerah, tetapi sektor pertanian masih mendominasi pendapatan rumah tangga, walaupun porsi pertanian mengalami penurunan.   Turunnya struktur pendapatan di sektor pertanian  disebabkan oleh faktor dari individu petani itu sendiri, yaitu rendahnya produktivitas dan produksi karena kurangnya kemauan meningkatkan pengetahuan dan teknologi produksi. Selain itu juga karena faktor eksternal seperti iklim, kebijakan pemerintah, pasar, dan lainnya.

Peran sektor pertanian terhadap struktur pendapatan rumah tangga pedesaan   dipengaruhi oleh sumberdaya, baik alam maupun tenaga kerja yang tersedia. Selain itu, juga dipengaruhi oleh aksesibilitas terhadap penguasaan modal dan keterampilan (Rasahan  1988). Sementara pendapatan dari usahatani itu sendiri sangat bergantung pada penguasaan lahan dan tingkat efisiensi. Tingkat efisiensi ditentukan oleh struktur biaya dan profitabilitas. Makin efisien usahatani yang diusahakan akan menyebabkan pendapatan dari usahatani tersebut makin tinggi.

Preferensi petani dalam membuat keputusan memilih komoditas yang akan diusahakan adalah dengan mempertimbangkan dinamika harga input dan output usahatani serta tingkat upah pertanian. Hal ini berhubungan dengan tingginya biaya upah tenaga kerja selama proses produksi yang dibayarkan petani, sehingga secara  langsung mempengaruhi tingkat pendapatan. Hasil penelitian Rachman dan Sudaryanto (2002) menunjukkan bahwa dari biaya usahatani padi yang tersebar di 5 provinsi yaitu Jabar, Jateng, Jatim, Sumbar dan Sulsel ternyata bagian terbesar yang dikeluarkan oleh petani adalah untuk biaya upah tenaga kerja dan sewa lahan masing-masing sebesar 31% dan 26% dari nilai produksi. Tinggi rendahnya pendapatan yang diperoleh dari usahatani akan berpengaruh terhadap nilai tukar petani.  Informasi tentang nilai tukar petani merupakan salah satu indikator mengenai tingkat kersejahteraan petani. Beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa nilai tukar petani cenderung menurun, karena laju peningkatan harga yang diterima petani atas produk yang dihasilkan relatif lebih rendah dibandingkan dengan laju peningkatan harga yang dibayar petani untuk sarana produksi (Hutabarat 1996; Simatupang 1992).

Pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dinamika indikator kesejahteraan   petani pedesaan terhadap komoditas  padi, sayuran, dan karet  yang menjadi sumber pendapatan utama,  mencakup: 1)  Struktur pendapatan, 2)  Pengeluaran untuk pangan, 3) Daya beli rumah tangga petani, 4)  Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, dan 5) Perkembangan nilai tukar petani.  Parameter yang dihasilkan dapat dijadikan acuan dalam menilai keberhasilan pembangunan ekonomi di daerah pedesaan, dan basis untuk perencanaan program pembangunan ke depan.

METODOLOGI

Lokasi dan Waktu

Kajian dilaksanakan  di enam nagari dalam tiga kabupaten  dengan komoditas utama padi, sayur, dan karet. Setiap nagari dalam kabupaten yang sama dibedakan   berdasarkan kedekatan dengan pusat perekonomian daerah,  yaitu daerah non remote area (NRA) atau daerah yang mudah dijangkau dan remote area (RA) atau daerah yang sulit dijangkau (Tabel 1).

Pengkajian dilakukan secara berkala selama tiga tahun (2007-2009), menggunakan kuesioner terstruktur.   Data primer terdiri  atas:   (1) struktur dan pendapatan setahun rumah tangga petani, (2) struktur dan pengeluaran pangan dan non pangan,  (3) data produksi dan pendapatan dari setiap cabang usahatani yang diusahakan,  dan (4) data harga input produksi, harga output dan harga barang konsumsi yang dibayar petani serta tingkat upah.

Tabel 1.     Nama kabupaten dan nagari  contoh berdasarkan tipe desa dan komoditas utama padi, sayur dan karet.

Kabupaten

Nama  Nagari

Type

Desa

Agroekosistem

Komoditi Utama

Pesisir Selatan

Surantiah

RA

LS-DR

Padi

 

Bayang

NRA

LS-DR

Padi

Solok

Air Dingin

RA

LK-DT

Sayur

 

Sungai Nanam

NRA

LK-DT

Sayur

Sijunjung

Muaro Bodi

RA

LK-DR

Karet

 

Padang. Laweh

NRA

LK-DR

Karet

Keterangan: RA          : Remote area

NRA      : Non remote area

LK-DT   : Lahan kering dataran tinggi

LS-DR   : Lahan sawah dataran rendah

LK-DR   : Lahan kering dataran rendah

 

Metoda Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan metoda survei. Pemilihan petani contoh   berdasarkan Stratified Random Sampling,  dibedakan menjadi tiga strata, yaitu: petani dengan luas garapan luas  (>0,5 ha/KK), sedang (0,25-0,50 ha/KK) dan sempit (<0,25 ha/KK) untuk lokasi padi dan strata luas (>1,0 ha/KK); sedang (0,50-1,0 ha/KK); dan sempit (<0,50 ha/KK) untuk sayur dan karet.  Setiap strata dipilih lima petani contoh, sehingga jumlah setiap desa  15 orang.  Pemilihan desa contoh mengacu pada data statistik yang menunjukkan daerah terluas penanaman komoditas dominan di Sumbar (padi, sayur, dan karet).

Data upah dan harga dikumpulkan secara berkala di setiap lokasi.   Data upah buruh pertanian dikumpulkan musiman.  Harga input produksi, harga output, dan harga barang konsumsi dikumpulkan secara berkala 2 mingguan.  Harga sarana produksi dikumpulkan dari   kios penjual sarana produksi yang ada di lokasi.  Harga output atau hasil pertanian yang dihasilkan oleh masyarakat desa, dikumpulkan dari beberapa petani atau kontak tani setempat, kemudian dirata-ratakan.  Harga barang konsumsi dikumpulkan dari  kios  yang secara rutin mensuplai kebutuhan  barang konsumsi masyarakat desa contoh.

Metoda Analisis

1.   Struktur pendapatan rumah tangga

PPSP = (TPSP/TP) x 100%

dimana: PPSP  = Pangsa pendapatan sektor pertanian (%)

TPSP = Total pendapatan dari sektor pertanian (Rp/th)

TP     = Total pendapatan rumah tangga petani (Rp/th)

2.   Pengeluaran untuk pangan

PEP = (PEP/TE) x 100%

dimana: PEP  = Pangsa pengeluaran untuk pangan (%)

PEP  = Pengeluaran untuk pangan (Rp/th)

TE    = Total pengeluaran pendapatan rumah tangga petani (Rp/th)

3.   Daya beli rumah tangga petani

DBPp  =  TP/(TE – BU)

dimana: DBPp  = Daya beli rumah tangga petani

TP  = Total pendapatan rumah tangga petani (Rp/th) dari seluruh sumber

TE  = Total pengeluaran rumah tangga petani (Rp/th)

BU = Biaya usahatani

4.   Ketahanan pangan  tingkat rumah tangga petani

TKP  =  PB/KB

dimana:  TKP  = Tingkat ketahanan pangan

(TKP = 1, subsisten; TKP > 1, surplus; TKP < 1, defisit)

PB     = produksi dari usahatani sendiri setara beras.

KB    = kebutuhan setara beras.

5.  Nilai tukar petani

Pengukuran nilai tukar petani dinyatakan dalam bentuk indeks dirumuskan sebagai berikut (Rahmat  dalam Sunanto dan Sahardi 2008):

INTP  =  ITR/IB

dimana:  INTP  = Indeks nilai tukar petani

IT      = Indeks harga yang diterima petani

IB       = Indeks harga yang dibayar petani

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.   Struktur Pendapatan Rumah Tangga

Struktur pendapatan menunjukkan sumber pendapatan utama keluarga petani,  apakah dari sektor pertanian atau non pertanian.  Pangsa pendapatan rumah tangga petani dari sektor pertanian memperlihatkan bahwa rumah tangga petani sayur lebih besar daripada semua komoditas, kemudian diikuti oleh rumah tangga petani karet, dan paling rendah rumah tangga petani padi (Tabel 2).  Selanjutnya, kalau dibandingkan di antara strata rumahtangga tani, untuk petani padi pada strata rumah tangga berpenghasilan rendah, paling rendah pula pangsa pendapatannya, kemudian  makin meningkat dengan makin besarnya luas kepemilikan lahan.

Lain halnya dengan petani sayur, pangsa pendapatan sektor pertaniannya lebih ditentukan oleh harga pasar apabila saat panen,   harganya tinggi, maka  keuntungan   serta pangsa pendapatannya juga  besar.   Hal ini disebabkan oleh harga sayur yang berfluktuasi tajam dalam waktu singkat, sesuai  penawaran dan permintaan.   Pada rumah tangga petani karet, pangsa pendapatannya berfluktuasi berdasarkan sistem usahatani yang tradisional dan turun temurun.  Jumlah pertanaman karet masing-masing  petani jauh berbeda setiap hektarnya, jadi walaupun seorang petani menguasai lahan paling luas, belum tentu populasi karetnya lebih banyak daripada yang menguasai lahan lebih sempit.  Selain itu, ada yang melakukan  panen secara intensif,  ada pula yang  kurang  intensif.   Jadi, terlihat bahwa rendahnya pangsa pendapatan dari sektor pertanian karena belum optimalnya produksi dan produktivitas.

Tabel 2.  Pangsa  pendapatan  sektor  pertanian  rumah tangga   petani  di daerah   sentra   produksi  padi, sayur dan karet di Sumbar, 2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Pangsa pendapatan sektor pertanian (%)

RT petani padi

RT petani sayur

RT petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

 

NRA

I

42,6

83,8

70,5

75,4

84,9

80,9

58,0

70,9

80,4

II

47,1

41,9

41,6

65,1

77,7

92,3

43,6

78,3

90,6

III

26,8

9,1

23,7

93,2

55,6

76,9

67,1

64,9

77,0

 

RA

I

27,0

63,3

55,4

53,7

100,0

85,7

86,1

75,0

69,8

II

25,8

59,1

52,2

84,1

69,9

78,7

42,2

67,2

68,0

III

6,9

50,4

23,1

81,0

58,7

86,7

57,9

58,9

83,6

 

NRA: Non remote area

RA = Remote area

Kasryno (2005) mengemukakan bahwa perubahan struktur pendapatan rumah tangga pedesaan di Sumbar selama dua dekade terakhir (1993-2002) ini lebih cepat dari nasional, dan ini dibuktikan pula oleh penurunan tingkat kemiskinan.  Laju dan tingkat pendapatan rumah tangga pedesaan dari upah dan gaji serta dari sektor pertanian untuk wilayah pedesaan Sumbar lebih tinggi dari  nasional.  Sebaliknya, pendapatan rumah tangga dari sektor pertanian menurun, yaitu dari 63,80% tahun 1983 menjadi 42,41% dan 25,82% pada tahun 1993 dan 2002.

2.   Pengeluaran Untuk Pangan

Perkembangan pangsa pengeluaran untuk pangan dapat dipakai sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan pedesaan.   Besarnya pangsa pengeluaran untuk pangan menunjukkan pendapatan rumah tangga tani masih terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan dasar (subsisten).  Demikian pula sebaliknya, besarnya pangsa pengeluaran sektor sekunder (non pangan), mengindikasikan telah terjadi pergeseran posisi petani dari subsisten ke komersial.  Artinya, kebutuhan primer telah terpenuhi, kelebihan pendapatan dialokasikan untuk keperluan lain misalnya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sekunder lainnya. Berdasarkan data pangsa pengeluaran untuk pangan dalam Tabel 3, secara garis besar memperlihatkan   bahwa pemenuhan kebutuhan untuk pangan masih melebihi pemenuhan kebutuhan non pangan.  Kalau kita bandingkan dengan data pola konsumsi masyarakat Sumbar pada tahun 1999, 64,63% dari total pengeluaran penduduk masih dibelanjakan untuk pangan.   Artinya,  selama 8 tahun terakhir tidak terjadi peningkatan.  Hal ini mencerminkan bahwa kehidupan petani belum sejahtera.  Apalagi untuk rumah tangga pertanian padi yang menguasai lahan sempit,  terlihat masih sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya.

Tabel 3. Pangsa  pengeluaran  untuk  pangan  rumah tangga petani di daerah   sentra produksi padi, sayur dan karet, Sumbar,  2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Pangsa pengeluaran untuk pangan (%)

RT petani padi

RT petani sayur

RT petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

59,6

52,5

41,7

50,2

59,4

39,5

43,1

43,1

45,2

 

II

48,9

46,4

63,3

67,1

47,6

45,8

59,7

56,4

53,7

 

III

59,2

36,5

66,1

64,7

48,1

22,9

76,0

51,0

52,7

RA

I

53,7

59,9

44,3

50,9

43,4

44,6

52,1

47,0

52,4

 

II

48,2

58,5

79,5

56,1

32,0

46,0

61,0

59,5

56,2

 

III

48,9

55,8

80,4

58,5

63,6

51,0

51,1

60,2

52,5

 

3.   Daya Beli Rumah Tangga Petani

Sebagaimana halnya dengan pangsa pengeluaran rumah tangga untuk pangan, daya beli rumah tangga petani pun memperlihatkan hasil yang sama.  Dalam  Tabel 4 terlihat bahwa daya beli rumah tangga petani sayur yang mempunyai lahan luas, melebihi empat kali  daya beli rumah tangga petani padi dan karet yang mempunyai lahan paling luas.  Hal ini memperlihatkan bahwa rumah tangga petani sayur lebih sejahtera kehidupannya daripada rumah tangga petani padi dan karet.  Nanum demikian, petani sayur pada umumnya mempunyai lahan <0,25 ha, sehingga pendapatannya dari pertanianpun kecil. Konsekuensi logisnya daya beli rumah tangga petani akan kecil pula.  Selanjutnya, kalau kita lihat daya beli rumah tangga petani tahun 2009, terlihat menurun untuk semua komoditas.  Hal ini mungkin disebabkan oleh produktivitas petani menurun karena langkanya pupuk bersubsidi, dilain pihak harga barang-barang konsumsi mengalami kenaikan.

Tabel 4.   Daya beli rumah tangga petani di daerah  sentra produksi  padi, sayur, dan karet, Sumbar tahun 2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Daya beli rumah tangga

Petani padi

Petani sayur

Petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

1,46

2,02

1,21

8,64

8,68

1,37

1,23

1,92

1,38

 

II

1,58

1,61

1,23

6,83

11,37

1,47

1,65

2,48

1,22

 

III

1,56

2,35

0,78

1,66

5,65

1,68

1,90

1,82

1,12

RA

I

0,89

1,26

0,89

1,65

3,04

1,79

1,42

4,13

1,27

 

II

1,21

4,01

0,45

1,15

3,56

2,06

0,53

2,59

0,81

 

III

1,17

1,21

0,52

2,66

8,05

1,40

0,93

2,93

0,93

 

4.   Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani

Perkembangan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga petani juga merupakan ukuran indikator kesejahteraan petani.  Semakin tinggi tingkat ketahanan pangan, yang ditunjukkan oleh semakin kuatnya pemenuhan kebutuhan dari produksi sendiri atau semakin banyak stok pangan, menunjukkan semakin sejahtera rumah tangga petani.   Data dalam  Tabel 5 menggambarkan bahwa tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani padi paling rendah dibanding rumah tangga sayur dan karet nilai tingkat ketahanan pangan lebih kecil dari 1 (TKP < 1) dinyatakan defisit,  nilai  TKP = 1 dinyatakan sebagai subsisten, dan    nilai TKP > 1   dinyatakan surplus.   Hal ini  memperlihatkan bahwa produksi padi sangat rendah dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga petani, dalam arti kata petani padi paling rendah tingkat kesejahteraannya dibanding petani  sayur dan perkebunan.

Tabel 5.   Tingkat  ketahanan  pangan rumah tangga petani di  daerah   sentra produksi padi, sayur dan karet, Sumbar tahun 2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Tingkat ketahanan pangan rumah tangga

Petani padi

Petani sayur

Petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

0,9

1,2

2,0

4,0

1,0

3,2

1,3

0,7

2,5

 

II

1,3

0,6

0,8

2,6

1,1

3,0

1,0

0,8

2,1

 

III

0,6

0,2

0,3

1,4

1,0

2,7

1,2

0,7

1,6

RA

I

0,4

0,5

1,1

1,0

1,1

3,4

1,7

1,0

1,7

 

II

0,4

1,8

0,3

1,3

0,6

3,5

0,3

0,8

1,0

 

III

0,1

0,5

0,1

3,8

0,9

2,4

0,9

0,8

1,5

 

5.  Nilai Tukar Petani

Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan nisbah antara harga yang diterima petani  dengan harga yang dibayar petani.  Secara konsepsi NTP mengukur daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan dalam memproduksi usahatani.   Dalam  Tabel 6 terlihat nilai tukar petani yang kecil, terutama sekali pada rumahtangga petani padi dan karet.  Hal ini menggambarkan bahwa daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan memproduksi usahatani sangat kecil.  Dalam arti kata petani hanya mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, sehingga  secara umum petani  masih tergolong subsisten.

Tabel 6.   Indeks  nilai  tukar  petani  di  daerah  sentra produksi  padi, sayur, dan karet, Sumbar,  2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Indeks nilai tukar petani

RT petani padi

RT petani sayur

RT petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

0,91

1,19

0,72

3,96

1,05

0,89

1,38

0,71

0,64

 

II

1,32

0,59

0,47

2,63

1,11

0,91

0,97

0,85

0,63

 

III

0,65

0,20

0,18

1,42

1,04

0,91

1,18

0,66

0,59

RA

I

0,38

0,55

0,45

1,02

1,14

0,96

1,67

1,01

0,56

 

II

0,43

1,78

0,22

1,30

0,57

1,05

0,35

0,81

0,40

 

III

0,14

0,50

0,09

3,84

0,91

0,76

0,89

0,80

0,51

 

Di Sumbar, komoditas utama yang diusahakan masyarakat adalah padi,  karet,  dan   sayur (kubis, bawang merah, tomat, kentang dan cabe merah keriting). Sentra pertanaman padi berada di kabupaten Pesisir Selatan, tanaman sayur di Alahan Panjang, kabupaten Solok dan karet di kabupaten Sijunjung.

Struktur pendapatan petani berasal dari tiga komponen,  yaitu sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan peternakan, kegiatan dari luar usahatani (berburuh pertanian dan menyewakan alat pertanian), dan kegiatan non pertanian (perdagangan dan jasa).  Pada lokasi pengkajian komoditas padi, struktur pendapatan terbesar adalah dari luar sektor pertanian, sedangkan dari sektor pertanian menempati urutan kedua.  Berbeda dengan lokasi pengkajian komoditas sayur dan karet, struktur pendapatan terbesar berasal dari sektor pertanian, dan dari luar sektor pertanian menempati urutan kedua.    Perkembangan pendapatan rumah tangga untuk ketiga komoditas utama dikemukakan dalam Tabel 7.   Pada tahun 2008 terdapat kenaikan pendapatan total dan pendapatan  usahatani pada ketiga komoditas dibandingkan tahun 2007, tetapi menurun lagi pada tahun 2009. Namun demikian, pendapatan tahun 2009 tetap lebih besar dibanding tahun 2007. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya pendapatan tahun 2008 adalah harga hasil usahatani yang lebih baik dibanding tahun 2007 dan 2009.  Selain itu, kelangkaan dan mahalnya harga pupuk juga menjadi penyebab produktivitas usahatani menurun.

Tabel 7. Dinamika perubahan pendapatan rumah tangga petani menurut komoditas yang diusahakan pada tahun 2007-2009

Komoditi

Sumber pendapatan

Pendapatan (Rp’000/tahun)

2007

2008

2009

Padi

Usahatani

Luar usahatani

Total

5.158,2

11.638,0

16.796,2

10.842,5

13.188,3

24.030,8

8.776,7

10.390,0

19.706,7

Sayuran

Usahatani

Luar usahatani

Total

24.819,9

8.185,3

33.005,5

28.188,3

6.288,3

34.476,6

25.558,3

5.163,3

30.721,6

Karet

Usahatani

Luar usahatani

Total

11.179,1

7.479,9

18.659,0

21.905,0

9.210,0

31.115,5

17.750,0

4.833,3

22.583,3

 

Total pengeluaran rumah tangga selama setahun relatif seimbang, jika dibandingkan dengan total pendapatan setahun untuk semua petani  di lokasi pengkajian.  Pengeluaran rumah tangga ini terdiri atas dua kelompok yaitu pengeluaran untuk keperluan konsumsi pangan dan pengeluaran untuk konsumsi non pangan.  Pengeluaran untuk pangan terdiri atas pengeluaran untuk beras, pengeluaran untuk non beras,   seperti jagung   dan ubikayu  yang   berfungsi menggantikan beras, dan  pengeluaran untuk lauk pauk, minuman, bumbu dapur, rokok dan bahan bakar masak.   Pengeluaran non pangan  antara lain untuk   pendidikan anak, kesehatan keluarga, pakaian, transportasi, pajak,  sumbangan sosial, dan untuk keluarga lain yang memerlukan. Kalau dibandingkan antara pengeluaran untuk pangan dengan pengeluaran non pangan maka terlihat masih berimbang.  Hal ini mengindikasikan bahwa petani di desa-desa Sumbar  masih banyak yang subsisten.

Nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar faktor produksi (NTFP)   untuk ketiga komoditas utama dan  dibandingkan antara daerah NRA dan RA terlihat bahwa NTFP daerah NRA lebih tinggi daripada daerah RA.  Artinya nilai tukar di daerah NRA lebih tinggi daripada di daerah RA.  Hal ini disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan petani di daerah RA lebih tinggi daripada di daerah NRA, seperti harga pupuk, demikian juga dengan harga penjualan produksi pertanian lebih rendah di daerah RA daripada di daerah NRA, sehingga nilai tukar petani di daerah NRA lebih tinggi daripada di daerah RA.  Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan antara RA dengan NRA.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Total pendapatan setahun rumah tangga petani selama 3 tahun cenderung meningkat, namun  pengeluaran rumah tangga  terlihat  berimbang, sehingga  petani tidak dapat menabung  untuk perluasan usahatani.
  2. Pendapatan rumah tangga petani sayur paling tinggi,  disusul oleh petani karet dan padi.  Seharusnya pendapatan petani karet  paling tinggi karena karet merupakan komoditas ekspor, tetapi karena manajemen produksi karet rakyat masih  konvensional, maka  produktivitas  dan pendapatan petani juga rendah.
  3. Usahatani sayur lebih menguntungkan dibanding  padi dan karet, tetapi mempunyai resiko paling rawan dalam proses produksi karena sangat bergantung pada iklim dan pasar.  Permasalahan ini paling terasa pada petani golongan bawah yang selalu kesulitan dalam pengadaan modal, sementara itu biaya produksi komoditas sayur paling tinggi dibanding padi dan karet.
  4. Pengeluaran rumah tangga petani untuk pangan dan non pangan yang  berimbang   membuktikan bahwa petani masih terfokus untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.   Pemenuhan kebutuhan rumah tangga non pangan yang masih kecil menggambarkan bahwa kualitas hidup  petani masih rendah,  tergambar dari   rendahnya  daya beli dan  tingkat ketahanan pangan.
  5. Guna meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan, perlu  dorongan upaya untuk meningkatkan  pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani ke arah lebih baik, terutama untuk petani padi dan karet.  Upaya tersebut dapat ditempuh, antara lain dengan cara  meningkatkan kemampuan SDM, bimbingan inovasi teknologi, penguatan kelembagaan,  dan akses permodalan, serta pembangunan infrastrukur, terutama di daerah NRA, sehingga arus informasi teknologi serta mobilitas barang dan jasa bergerak lebih cepat dengan biaya murah.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Sumbar. 2008.  Sumatera Barat dalam Angka.  Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah  Sumbar dengan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat.

Hutabarat, B. 1996.  Pengaruh dampak nilai tukar terhadap produksi dan pendapatan petani padi sawah. Jurnal Agroekonomi.  15(2): 21-35.

Kasryno, F., E. Jamal, dan I. Las. 2000. Menempatkan pertanian sebagai basis perekonomian Sumatera Barat: Suatu kilas balik dan prospektif ke depan. Makalah disampaikan pada Round Table Discussion Gebu Minang. Bogor, 6 Mei 2000.

Kasryno, F, E. Pasandaran, P. Simatupang, Erwidodo, dan T. Sudaryanto. 2001. Membangun kembali sektor pertanian dan kehutanan.  Prosiding Perspektif Pembangunan Pertanian dan Kehutanan Tahun 2001 Ke Depan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

Kasryno, F. 2005. Peranan Modal Sosial Penguasaan Tanah Ulayat dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan.  Dalam Kasryno, F., E. Pasandaran, dan A.M. Fagi (eds). Tanah Ulayat dan Budaya Padi Minangkabau. Badan Litbang Pertanian- Yayasan Padi Indonesia. hal 17-40

Rasahan, C. A.  1988. Prospek struktur pendapatan masyarakat pedesaan dalam hubungannya dengan kebijakan pembangunan pertanian. Prosiding Patanas: Perubahan Ekonomi Pedesaan Menuju Struktur Ekonomi Berimbang. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi, Bogor

Rachman, B. dan T. Sudaryanto. 2002.  Dampak kebijakan insentif terhadap daya saing usahatani padi.  Makalah Seminar Balitpa Sukamandi, 5 Maret 2002.

Simatupang, P. 1992.  Pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar barter sektor pertanian. Jurnal Agroekonomi   II(1): 37-50.

Sunanto dan Sahardi. 2008.  Analisis pemasaran jagung dan daya beli petani di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. JPPTP 11(2): 1-10.

Taher, T., I. Manti, N. Nasril, N. Hosen, K. Khairanis, Wilson, R. Yuliet, Adrizal, S. Basri dan Mulyadi. 2005. Penelitian Prioritas dan Strategis Pembangunan Pertanian 2005-2015 Sumatera Barat. Badan Litbang Provinsi Sumatera Barat

PENDAHULUAN

Sektor pertanian merupakan sumber pendapatan bagi sebagian besar penduduk Sumatera Barat.  Sementara sumbangannya terhadap PDRB relatif rendah, tahun 2011 sekitar  22,81%.1 Dari data di atas terlihat bahwa pendapatan petani relatif rendah dibanding sektor lainnya, karena 22,81% PDRB terdistribusi kepada 65,7% rumahtangga tani. Skala usaha petani relatif sempit, karena luas penguasaan lahan sempit, rata-rata sawah 0,30 ha dan lahan kering 0,25 ha. Akibatnya pendapatan petani rendah dan sulit berkembang. Untuk melakukan optimasi sumberdaya yang dimiliki petani agar pendapatan meningkat,  kendala utama adalah keterbatasan modal tunai. Mengoptimalkan pemanfaatan suberdaya yang dimiliki, langkah yang harus ditempuh adalah mengembangkan usaha produktif melalui  peningkatan indeks pertanaman (IP), penerapan teknologi adaptif dan menambah serta memilih usaha pertanian yang paling menguntungkan.  Pengembangan usaha produktif harus fokus, diantaranya dengan pendekatan komoditas unggulan, kawasan dan jelas target produksi yang akan dihasilkan, sehingga bisa diperhitungkan potensi skala usaha yang optimal per petani dan per kawasan, sesuai potensi permintaan pasar.

Persoalan utama petani kecil adalah lemahnya modal dalam mengembangkan usaha. Akibatnya penerapan teknologi menjadi lamban dan skala usaha tidak berkembang.  Umumnya petani kecil tidak akses terhadap sumber modal formal seperti perbankan, sehingga tidak jarang petani terperangkap ke dalam praktek sistim ijon atau rentenir yang merugikan petani. Lembaga Kuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) adalah lembaga keungan milik petani dan dikelola oleh petani, salah satu alternative membantu petani mempermudah akses ke sumber modal. Pembiayaan LKM-A fokus untuk pengembangan usaha produktif sektor pertanian. LKM-A merupakan salah satu usaha otonom disamping usaha lainnya dibawah naungan Gapoktan. Gapoktan (gabungan kelompok tani) terdiri dari sejumlah  kelompok tani (Poktan) berperan dalam mengorganisir dan memotivasi petani anggota untuk mengembangkan usaha produktif agar terjadi pengembangan komoditas sehamparan dan diharapkan mampu menerapkan inovasi teknologi dalam skala luas. Pengembangan usaha pertanian membutuhkan teknologi adaptif, disini penyuluhan dan ketersediaan teknologi spesifik lokasi berperan besar. Akan tetapi bila tidak didukung oleh ketersediaan modal bagi petani, penerapan inovasi teknologi akan berjalan lamban.

Gapoktan telah diberdayakan melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2008 dan terus berlanjut sampai tahun 2014.2 PUAP memberikan bantuan penguatan modal sebesar Rp. 100 juta per Gapoktan dan selanjutnya Gapoktan harus menumbuhkan  LKM-A untuk mengelola modal tersebut untuk digulirkan diantara petani dan akhirnya diharapkan modal tersebut berkembang. Pada akhirnya indikator benefit yang strategis adalah berfungsinya Gapoktan yang memiliki lembaga keuangan yang kuat didukung oleh usaha otonom lainnya guna melayani kebutuhan usaha produktif sektor pertanian menjadikan kelembagaan petani tersebut sebagai lembaga ekonomi petani di perdesaan yang dimiliki dan dikelola oleh petani.3

Tulisan ini bertujuan mengemukakan potensi dan tantangan pengembangan LKM-A  sebagai lembaga pelayanan modal guna mendukung pengembangan usaha produktif sektor pertanian di pedesaan.

 

METODOLOGI

Kajian ini merupakan  bentuk analisis data sekunder dengan sumber data laporan perkembangan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)  bersumber dari  laporan para Penyelia Mitra Tani (PMT) dan Sekretariat Tim Pembina PUAP Provinsi Sumatera Barat tahun 2012, dan review hasil kajian tentang manfaat keberadaan gapoktan dan LKM-A terhadap perbaikan sistim produksi dan pendapatan petani.4 Khusus untuk LKM-A tahun 2008 dan 2009 dilakukan eksplorasi lapangan untuk melakukan identifikasi asset beberapa contoh LKM-A pada empat kabupaten.   Parameter yang diukur adalah jumlah gapoktan, jumlah LKM-A yang operasional dengan indikator asset di atas Rp. 100,0 juta, besaran asset dari neraca pada akhir tahun 2012. Untuk mengukur kendala, manfaat dan harapan ke depan oleh LKM-A dilakukan FGD pada beberapa gapoktan/LKM-A contoh di kabupaten terpilih.5

KONTRIBUSI EKONOMI KOMODITAS PANGAN

Pertanian menjadi andalan karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Subsektor yang dominan dalam PDRB adalah tanaman pangan dan hortikultura kemudian diikuti oleh perkebunan dan peternakan. Analisis potensi pengembangan ekonomi wilayah diperlukan untuk mengetahui secara makro sektor dan subsektor yang mempunyai potensi pengembangan yang relatif besar ke depan.  Khusus pada sektor pertanian dalam arti luas (termasuk kehutanan dan perikanan) hasil evaluasi  kontribusi subsektor terhadap PDRB menunjukkan subsektor tanaman pangan memberikan kontribusi relatif besar (11,44%) dibanding subsektor lainnya, akan tetapi rata-rata laju pertumbuhannya per tahun relatif lamban rendah (4,03%) (Tabel 1).  Dengan memperhatikan kapasitas ekonomi dari masing-masing subsektor dan  laju pertumbuhan nilai tambah kontribusi  masing-masing subsektor dalam perekonomian daerah akan diketahui  potensi ekonomi subsektor yang mendapat prioritas pengembangan.6 Disini peran LKM-A secara mikro diharapkan mampu mendorong perumbuhan subsektor prioritas dalam sektor pertanian guna mendukung ketahanan dan kemandirian pangan di Sumatera Barat.

Tabel 1. Kontribusi dan pertumbuhan PDRB subsektor dan sektor pertanian selama lima tahun (2007-2011) di Sumatera Barat.

No.

Sektor/subsektor

Kontribusi terhadap PDRB 2011 (%)

Nilai PDRB (Rp. Juta)

Laju pertumbuhan (%)

2007

2011

 

Pertanian

22,81

8.039

9.414

4,03

1.

Tanaman Pangan dan hortikultura

11,44

4.030

4.723

4,05

2.

Perkebunan

5,75

2.024

2.375

4,08

3.

Peternakan

1,84

631

758

4,69

4.

Kehutanan

1,24

468

513

2,32

5.

Perikanan

2,53

885

1.043

4,19

 

Jumlah modal LKM-A yang sudah terealisasi mendukung pengembangan usaha produktif petani anggota gapoktan sampai tahun 2012 berjumlah Rp. 995,0 Milyar. Modal tersebut sudah berkembang,  karena sebagian LKM-A  telah berjalan sejak tahun 2008 dan setiap tahun jumlah LKM-A yang memperoleh bantuan modal dana PUAP terus bertambah,  sehingga pada akhir tahun 2012 jumlah LKM-A  yang memperoleh bantuan modal PUAP berjumlah  995  buah Gapoktan/LKM-A.  LKM-A tersebut terus berkembang dan sebagian  LKM-A sudah berkerjasama dengan Bank untuk tambahan modal dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna memenuhi permintaan petani anggotanya. Jumlah dana yang tersedia di pedesaan untuk pengembangan usaha produktif bidang pertanian tersebut cukup besar, bila digunakan sesuai tujuan program. Usaha produktif petani bervariasi, karena itu alokasi penggunaan modal LKM-A menurut kelompok usaha (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan usaha non budidaya seperti pengolahan hasil skala rumahtangga dan pemasaran skala kecil)  menjadi relatif kecil, apalagi bila dipilah menurut jenis komoditas/usaha.  Tanaman pangan yang dominan diusahakan adalah padi sawah dan jagung dengan jumlah petani pengguna  terbanyak dibanding kelompok usaha lainnya (Tabel 2). Penggunaan dana pinjaman dari LKM-A tersebut umumnya digunakan untuk perbaikan teknik produksi dan benih/bibit varietas unggul menuju paket teknologi rekomendasi, agar supaya produktifitas miningkat dan pengelolaan usaha menjadi efisien.  Pada gilirannya diharapkan pendapatan petani meningkat.

Tabel 2.   Rata-rata  penggunaan dana PUAP dan jumlah petani pengguna  menurut kelompok usaha periode tahun 2008-2012, di Sumatera Barat

 

Penggunaan Modal Usaha

Rata-rata alokasi dana PUAP (Rp.000)

Persenta

se (%)

Jumlah Petani

 

Persenta

se (%)

 

 

Komoditi

Utama

Pangan

48.773.23648.773.236,4

40,0

62.998

52,01

Padi, jagung

Hortikultura

18.289.963,6

15,0

14.472

11,95

Cabe, ketang, hortikultura lainnnya

Perkebunan

6.096.654,5

5,0

8.090

6,68

Kakao, karet, gambir

Peternakan

14.631.970,9

12,0

15.986

13,20

Unggas, Ternak kecil,  Sapi potong

Usaha non    budidaya

34.141.26534.141.265,5

28,0

17.875

14,76

Produk olahan/   pemasaran hasil skala kecil

Jumlah

121.933.091,0

100,0

121.108

100,00

 

Sumber:Sekretariat PUAP 7

 

 

POTENSI DAN KENDALA PENGEMBANGAN LKM-A

  1. 1. Potensi LKM-A

Sejak tahun 2008-2012 dimana  Gapoktan dan LKM-A dikembangkan, jumlah gapoktan yang tumbuh sebanyak 995 unit dengan jumlah LKM-A aktif dan menjalankan peran sesuai tupoksinyanya sebanyak 842 unit yang tersebar pada 18 kabupaten/kota.  Perkembangan asset LKM-A tersebut bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat (Tabel 3).7

LKM-A secara bertahap berkembang menuju lembaga keuangan mikro yang profesional, melalui pendampingan yang intensif oleh Penyelia Mitra Tani (PMT) dan penyuluh pendamping di setiap nagari/kelurahan/desa.  Sasaran akhirnya adalah LKM-A  menjadi lembaga keuangan yang mampu beremitra dengan perbankan atau MUMN/D  agar kinerjanya lebih optimal mendorong pembangunan ekonomi di wilayah kerjanya dalam arti luas.

Tabel 3. Distribusi jumlah gapoktan/LKM-A dan pertumbuhan asset tahun 2008-2012 menurut kabupaten/kota di Sumatera Barat.

 

No.

Kabupaten/Kota

Jumlah gapoktan (unit)

Jumlah LKM-A  (unit)

Jumlah petani anggota (orang)

Jumlah asset Desember

2012  (Rp000)

1.

Dharmasraya

66

51

8132

9.994.591

2.

Pesisir Selatan

111

79

10545

11.403.100

3.

Sijunjung

68

54

6757

8.066.101

4.

Agam

88

79

6220

12.347.486

5.

Pasaman

41

39

5163

4.567.078

6.

Pasaman Barat

64

60

7822

10.206.759

7.

Lima Puluh Kota

98

93

18681

12.215.876

8.

Solok Selatan

38

36

3878

4.714.733

9.

Solok

74

68

11760

8.250.000

10.

Padang Pariaman

78

76

8607

8.601.374

11.

Tanah Datar

71

68

14940

9.755.289

12.

Ko. Padang

48

34

6363

5.417.080

13.

Ko. Pariaman

65

55

4953

6.935.319

14.

Ko. Payakumbuh

33

29

2415

4.001.556

15.

Padangpanjang

15

9

1842

1.588.000

16.

Ko. Solok

9

2

825

918.000

17.

Ko. Sawahlunto

14

4

1200

1.427.000

18.

Ko. Bukittinggi

14

6

1005

1.523.749


Jumlah

995

842

121.108

121.933.091

Berbagai upaya telah dilakukan untuk pemberdayaan LKM-A menuju tercapainya sasaran akhir di atas. Peningkatan kapasitas SDM pengelola telah dilakukan baik oleh pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota termasuk pihak perbankan diantaranya Bank Indonesia (BI) dan Bank Nagari. PMT telah dilatih sebagai konsultan keuangan mitra bank (KKMB) oleh BI. Berbagai fasilitas untuk kelancaran operasional juga sudah difasiltasi seperti perangkat komputer diikuti dengan pelatihan operasional softwere agar supaya LKM-A menjadi profesional.  Namun, keberhasilan LKM-A tergatung pada keberhasilan petani dalam mengembangkan usaha produktif mereka dan begitu juga sebaliknya.  Pembiayaan bagi pelaku usaha menjadi produktif, menguntungkan dan berkembang sehingga tidak terajadi kredit macet. Oleh karena itu LKM-A ini dibangun atas prinsip saling membutuhkan dan partisipasi masyarakat dalam membangun LKM-A merupakan kunci sukses LKM-A ke depan.

Dampak keberadaan LKM-A secara umum sudah mampu menggerakkan roda perekonomian di pedesaan dengan bergulirnya dana penguatan modal awal dengan total kumulatif selama kurun waktu 5 tahun (2008-2012) dengan modal awal sebesar Rp. 99,5 milyar dan berkembang menjadi Rp. 121,9 milyar pada akhir tahun 2012 dengan pertumbuhan selama lima tahun 22,5%. Dukungan berbagai pihak untuk penguatan lembaga keuangan mikro ini ke depan sangat diharapkan.  Pendampingan oleh personal/lembaga independen disamping tenaga fungsional sesuai  tupoksinya perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah propinsi dan kabupaten/kota.

  1. 2. Tantangan Pengembangan LKM-A

LKM-A sebagai lembaga keuangan mikro milik petani untuk pemberdayaan memerlukan minimal 4 hal pokok yaitu: (i) Pendampingan berkelanjutan; (ii)  Sumberdaya pengelola yang terampil dan amanah; (iii) Fasilitas operasional yang memadai diantaranya kantor yang layak (aman, nyaman dan tata letak strategis), fasilitas mendukung kenyamanan bekerja dan sistem administrasi yang tertib dan terukur; (iv) Legalitas hukum.

Khusus untuk mendukung penguatan LKM-A Kementerian Pertanian menunjuk dan menempatkan sejumlah tenaga pendamping  yaitu Penyelia Mitra Tani (PMT) pada setiap kabupaten/kota pelaksana program PUAP. Pendamping usaha produktif dan kelembagaan petani ditepkan penyuluh pendamping setempat melalui Surat Keputusan Bupati/walikota. Jumlah PMT terbatas dan sampai tahun 2013 rasio PMT per LKM-A adalah 24-25 LKM-A per PMT. Sementara kondisi ideal adalah 15-20 LKM-A per PMT, tergantung pada sebaran lokasi dan kondisi infrstruktur wilayah kabupaten/kota. Dampaknya negativenya adalah sekitar 15% LKM-A belum berjalan sesuai harapan dan LKM-A yang sudah aktif pertumbuhan asset relativ lamban.

LKM-A sebagai pelayanan jasa keuangan merupakan  faktor kunci keberhasilan gapoktan dalam mendorong pengembangan usaha pertanian, agar eksistensinya dirasakan manfaatkan oleh petani dan masyarakat di wilayah kerja nagari/kelurahan/desa secara umum. Kapasitas SDM pengelola LKM-A bervariasi dan rata-rata relative lemah. Meskipun sistim pendfampingan formal oleh PMT belum berakhir, namun memerlukan fasilitasi pemberdayaan SDM oleh pemangku kepentingan guna percepatan kemandirian LKM-A.

LKM-A sebagai unit jasa keuangan dibawah naungan kelembagaan seperti  disajikan pada Gambar 1, gapoktan berperan mendorong pemberdayaan LKM-A.  Kewenangan LKM-A adalah diberikan kewenangan mengelola modal untuk pembiayan usaha produktif atas kesepakatan bersama.  Hubungan structural dan fungsional antara gapoktan dan LKM-A belum sepenuhnya berjalan baik.  Kekompakan antara gapoktan dan LKM-A perlu dibina agar pemahaman tentang kelembagan ini menjadi kuat dan persepsi yang sama agar supaya kelembagaan petani keberadaannya sudah menyeluruh ini menjadi kondusif.

Jumlah pengelola LKM-A tergantung struktur LKM-A yang disepakati dalam musyawarah anggota.8, 9, 10 Sebagian LKM-A dikelola oleh 5 orang yaitu: manejer umum, pembiayaan, pembukuan, penggalangan dana dan kasir, dan sebagian lagi ada LKM-A yang dikelola oleh 3 orang yaitu: manejer umum merangkap pembiayaan, pembukuan merangkap penggalangan dana dan kasir. LKM-A secara langsung atau tidak langsung mampu mengatasi masalah modal petani dan  menciptakan kesempatan kerja. Dengan adanya LKM-A, eksistensi gapoktan sebagai kelembagaan petani sudah dirasakan manfaatnya oleh petani.

Gambar 1. Kedudukan LKM-A sebagai sumber pembiayaan bagi petani dalam sebuah kelembagaan tani Gapoktan.

 

Legalitas hukum menjadi mutlak diperlukan, terkait dengan fungsi LKM-A sebagai jasa keungan. Sampai saat ini sebagian LKM-A berlindung dibawah badan hukum koperasi serba usaha gapoktan dan sebagian kecil berbadan hukum koperasi simpan pinjam (KSP). LKM-A lainnya dikukuhkan dengan akte notaris. Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro mengisratkan bahwa LKM diarahkan berbadan hukum koperasi atau perseroan terbatas (PT). Undang-undang ini harus dipahami oleh berbagai pihak terkait dalam pemberdayaan LKM-A ke depan, agar supaya LKM-A yang sudah tumbuh dan berkembang, esksistensinya tetap berjalan.

 

KERAGAAN KINERJA LKM-A

Perkembangan  asset LKM-A tidak sepenuhnya ditentukan oleh umur (jangka waktu) berjalannya sebuah LKM-A tersebut, terbukti bahwa ada LKM-A yang berdiri tahun 2008 asetnya lebih rendah dibanding yang berdiri tahun 2009 dan sebaliknya. Kajian Hosen et al.11 fokus untuk melihat pertumbuhan asset dengan membanding tahun awal berdiri dengan asset awal rata-rata Rp. 100 juta per LKM-A dengan jumlah asset keadaan Juni tahun 2012. Percepatan pertumbuhan asset tersebut bervariasi antar LKM-A, begitu juga pertumbuhan jumlah anggota LKM-A tersebut.  Rata-rata peningkatan anggota berbanding lurus dengan peningkatan asset LKM-A (Tabel 4). Asset LKM-A menunjukkan peningkatan selama kurun waktu 4-5 tahun. Peninghatan asset ini belum menunjukkan angka yang signifikan, namun ada kecenderungan meningkat berarti perguliran dana berjalan lancar. Kepercayaan masyarakat sudah mulai tumbuh dengan indicator terjadi peningkatan jumlah anggota.  Semakin banyak anggota berarti berarti potensi simpanan anggota akan semakin besar dan sekaligus akan memperkuat permodfalan LKM-A. Bila anggota sedikit dan bahkan cenderung berkurang, berarti kepercayaan masyarakat terhadap LKM-A masih kurang dan perguliran dana akan lamban dan bahkan bisa stagnan, akhirnya asset akan tidak berkembang.

Secara total selama 5 tahun program PUAP  berjalan (2008-2012) di Sumaterra Barat, LKM-A telah menyalurkan pembiayaan untuk pengembangan usaha mikro sektor pertanian menurut kelompok usaha sebagai berikut: untuk pengembangan tanaman pangan 40,0%, hortikultura 15,0%, perkebunan 5,0%, peternakan 12,0%, dan sisanya 28,0 % untuk usaha non budidaya (pengolahan hasil skala rumahtangga dan pemasaran hasil skala kecil).  LKM-A adalah lembaga keuangan yang menyediakan jasa keuangan miikro yang tidak berbentuk bank dan juga tidak berbentuk koperasi sudah diminati khususnya oleh masyarakat tani di pedesaan. Hal ini ditunjukkan oleh semakin meningkatnya jumlah anggota yang akses permodalan ke LKM-A (Tabel 4).

Tabel 4.  Perkembangan jumlah anggota dan asset LKM-A Gapoktan PUAP contoh pada beberapa kabupaten/kota pelaksana PUAP 2008  dan 2009 di Sumatera Barat

 

 

Kabupaten

/Kota

 

 

Tahun

 

 

Nama LKM-A, Nagari

Keadaan Awal

Keadaan Juli 2012

Pertum

buhan

Anggota

(%)

Pertum

buhan

asset (%)

Jumlah anggota

Jumlah asset (Rp.000)

Jumlah anggota

Jumlah asset (Rp.000)

Limapuluh Kota

2008

Sabatang Manjadi, Taeh Baruah, Payakumbuh

80

100.000

447

236.905,-

458,7

136,9

 

2008

Genta Kobra Prima, Koto Baru, Payakumbuh

75

100.000

167

125.190,-

123

25,2

 

2009

Bulakan Sri Cahaya, Tj. Gadang Rumah, Lareh Sago Halaban

92

100.000

207

150.131,-

125

50,1

 

2009

Sitanang Terpadu, Sitanang, Lareh sago Halaban

59

100.000

120

111.540,-

103

11,5

Tanah Datar

2008

Bina karya, Balimbing, Rambatan

90

100.000

217

228.841,-

141

128,8

 

2008

Mitra Bersama, Situmbuk, salimpaung

100

100.000

141

135.367

41

35,4

 

2009

Elok Basamo, Rambatan

76

100.000

300

161.239,-

295

61,2

 

2009

Lona Saiyo, Parambahan, V Kaum

47

100.000

111

123.500,-

136

23,5

Padang Pariaman

2008

Awan bajuntai,  V Koto Kp. Dalam

30

100.000

37

192.950,-

23

92,9

 

2008

Saiyo Sakato, Sei. Geringging

35

100.000

37

107.747,-

6,0

7,7

 

2009

Usaha Bersama, Sungai Durian, Patamuan

53

100.000

63

150.000,-

18,9

50,0

 

2009

Mitra S-3, Sei. Sariak

50

100.000

50

121.412,-

0

21,4

Solok

2008

Mutiara Sukarami, Linjung Koto Tinggi, G. Talang

100

100.000

140

 

180.141,-

40

80,1

 

2008

Telaga Zam-Zam, Bukik Sileh, Lembang Jaya

120

100.000

211

115.000,-

75,8

15,0

 

2009

Gema Lunanti, Selayo

139

100.000

145

163.638,-

4,3

63,6

 

2009

Kubang Meja, Paninjauan, X Koto Diatas

143

100.000

150

130.159,-

4,9

30,2

Hasil kajian Yekti12 yang dilakukan di Kecamatan Piyungan, Yogyakarta bahwa LKM dibawah naungan gapoktan sebagai LKM non formal lebih mengena dikalangan pelaku usaha yang ditunjukkan oleh jumlah petani (100%) yang pernah akses terhadap LKM, sedangkan ke sumber modakl lainnya seperti Bank Umum, kpoerasi, pegadaian sumber pinjaman informal lainnya relatif tendah.  Menurut Wijoyo13 bahwa LKM lebih cocok bagi pelaku usaha mikro karena sifatnya yang fleksibel dan sesuai dengan sifat dan skala usaha petani. Direktorat Pembiayaan Kementerian Pertanian14 mengemukakan bahwa LKM dikembangkan berdasarkan semangat untuk membantu dan memfasilitsi masyarakat miskin atau berpendapatan rendah, baik untuk konsumtif maupun produktif keluarga miskin.  Dalam implementasinya LKM dianggap lebih efisien dari lembaga keuanganh yang lain karena kedekatannya pada masyarakat yang dilayani dan mengurangi biaya-biaya transaksi.

 

KESIMPULAN DAN SARAN KEBIJAKAN

Kesimpulan

(i) Usaha pertanian rakyat mempunyai konstribusi cukup besar dalam perekonomian Sumatera Barat tercermin dari kontribusi pertanian secara umum dalam BDRB. Untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian oleh petani kecil diperlukan sumber pembiayaan yang mudah diakses dan jasa keuangan yang murah salah satunya adalah dari LKM-A.

(ii) Jumlah LKM-A yang sudah tumbuh dan berkembang sebanyak 842 unit, berpotensi tumbuh lebih banyak sesuai jumlah gapoktan (955 unit) sampai akhir tahun 2012 yang diberdayakan melalui program PUAP Kementerian Pertanian.

(iii) LKM-A sebagai Lembaga Keuangan Mikro, fokus memberikan solusi terhadap kendala modal bagi petani kecil, sudah menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan keuangan  dengan indikator berkembangnya asset secara total sejak tahun 2008 dengan  modal awal Rp. 95,5 milyar dan pada tahun 2012 berkembang mencapai Rp. 121 milyar yang tersebar pada 955 unit gapoktan. Modal  tersebut digunakan untuk pembiayaan pengembangan usaha pertanian tanaman pangan 40%, hortikultura 15%, perkebunan 5%, peternakan 12% dan usaha non budidaya (pengolahan hasil dan pemasaran) 28%.

(iv) Tantanngan ke depan adalah system pendampingan yang mampu memacu percepatan pemberdayaan LKM-A dan legalitas hukum yang cocok.

Saran Kebijakan

Saran ke depan adalah LKM-A sebagai sumber pembiayaan untuk pengembangan usaha produktif petani, perlu mendapat perhatian serius dalam bentuk pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan oleh pemangku kepentingan menuju keswadayaan, profesional dan legal.

DAFTAR PUSTAKA

  1. BPS Sumatera Barat. 2012. Sumatera Barat Dalam Angka. Badan Pusat Statistik dan Bandan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Barat. Padang.
    1. 2. Kementan.  2008. Pedoman umum Program Pengembangan Usaha  Agribisnis Pedesaan (PUAP) tahun 2008.  Departemen Pertanian. Jakarta.
    2. Kementan, 2013. Pedoman umum Program Pengembangan Usaha  Agribisnis Pedesaan (PUAP) tahun 2013.  Kementerian Pertanian. Jakarta
    3. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.  2010. OBMNE ”Outcome Based Monitoring and Evaluation). Petunjuk Teknis.   BBP2TP Bogor, Badan Litbang Pertanian.
    4. Astuti, M dan Joko Christanto. 2000. PRA berperspektif SAGA (Socio-Economic and Gender Analysis).  Modul Lokakarya SAGA. Kerjasama ARM-II Badan Litbang Pertanian dengan PSW-UGM. Yogyakarta.
    5. Bappeda 2012. Road map penguatan system inovasi daerah (SIDa) Propinsi Sumatera Barat.  Badan Perencanan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Barat. Padang.
    6. Sekretariat PUAP, 2012. Laporan perkembangan PUAP 2008-2012 di Sumatera Barat.  Sekretariat PUAP. Tim Pembina Pembina PUAP Provinsi Sumatera Barat.
      1. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. 2012. Profil LKM-A “ Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis”.  Dinas Pertanian Tanaman pangan Provinsi Sumatera Barat. Padang.
      2. Badan PSDM Pertanian.  2007. Konsep Dasar LKM-Agribisnis.  Materi dalam TOT PUAP di Ciawi 2007.
      3. Hendaryana R. 2010. Apresiasi pengelolaan dan operasional LKM-Agribisnis. Petunjuk operasional. BBP2TP Bogor, Badan Litbang Pertanian.
      4. Hosen, N., Harmaini, Nirwansyah dan Nurnayetti. 2012. Akselerasi Adopsi Inovasi dan Pengembangan LKM-A pada kegiatan Usaha Bersama Berbasis Komoditas Gapoktan pelaksana PUAP tahun 2008 dan 2009 di Sumatera Barat. Laporan Teknis.  BPTP Sumatera Barat.
      5. Yekti, A. 2009. Peranan Lembaga Keuangan Formal dan Informal bagi masyarakat pertanian di Indonesia. Jurnal pertanian.  STTP Yogyakarta. Hal 91-103.
      6. Wijoyo, Wiloeyo Wiryo. 2005.  Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya konkrit memutus mata rantai kemiskinan. Jurnal “ kajian Ekonomi dan Keuangan” edisi khusus Desember 2005. Jakarta.
      7. Direktorat Pembiayaan. 2004. Kelembagaan dan pola pelayanan keuangan mikro untuk sektor pertanian (pedoman dan kebijakan). Direktorat Pembiayan-Direjen BSP. Kementerian Pertanian. Jakarta.

CallSend SMSAdd to SkypeYou'll need Skype CreditFree via Skype

 

PENDAHULUAN

Produksi padi perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Kebutuhan beras nasional dewasa ini telah menyentuh angka lebih dari 30 juta ton per tahun. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi dalam pengadaan produksi padi semakin berat. Laju pertumbuhan penduduk dan tingkat konsumsi beras yang relatif masih tinggi menuntut peningkatan produksi yang sinambung, sementara sebagian lahan sawah yang subur telah beralih fungsi untuk usaha lainnya. Rata-rata laju pertambahan penduduk Indonesia sekitar 1,27-1,29 % per tahun, dengan laju pertumbuhan tersebut pada tahun 2025 jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 296 juta jiwa dengan kebutuhan beras sekitar 41,5 juta ton atau setara dengan 78,3 juta ton GKG (Las. et al., 2008; Simamarta dan Yuwariah, 2008).  Oleh karena itu perlu upaya peningkatan produksi padi baik melalui peningkatan produktivitas, pencetakan sawah baru, maupun melalui peningkatan luas panen melalui peningkatan indek pertanaman (IP) padi sawah.

Pesisir Selatan termasuk Kabupaten penghasil padi di Sumatera Barat dengan luas sawah 30.446 ha, luas panen 46.525 ha, produktivitas 43,79 kuintal/ha dan total produksi 203.722 ton. Produktivitas ini masih rendah dari rata-rata produktivitas Sumatera Barat yang mencapai 46,01 kuintal/ha (BPS, 2008). Berbagai hipotesis dikemukakan oleh para ahli tentang penyebab makin menurunnya produktivitas padi sawah, antara lain : a). potensi genetik varietas yang ditanam terbatas (Abdullah, et al. 2002), b). cekaman biologi (hama/penyakit) dan fisik (kekeringan), c). degradasi kesuburan tanah, dan d). penurunan input produksi (Fagi, 2000). Keterbatasan potensi genetik varietas padi sawah merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas padi sawah di Sumatera Barat pada umumnya dan Kabupaten Pesisir Selatan khususnya. Di Pesisir Selatan varietas padi yang dominan adalah IR 42 (40%), Cisokan (57,5%) dan varietas-varietas lainnya sekitar 5% (Buharman et al. 2004).

Di samping keterbatasan varietas, kendala lain penyebab rendahnya produktivitas padi sawah adalah rendahnya tingkat penerapan teknologi intensifikasi. Kompleknya permasalahan yang dihadapi pada sistem intensifikasi padi sawah saat ini, maka untuk pengembangan pertanian ke depan, perlu dilakukan perbaikan terhadap komponen-komponen intensifikasi padi sawah yang ada saat ini. Dewasa ini upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan budidaya padi spesifik lokasi yang dikenal dengan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Ada 5 komponen teknologi utama untuk meningkatkan produktivitas padi sawah, yaitu 1). penanaman bibit muda (umur < 10 hari), 2). pemberian bahan organik pada waktu pengolahan tanah, 3). irigasi berselang (Intermittent irrigation), 4). pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, dan 5). pemupukan N menggunakan BWD (Las et al. 2003). Di samping itu ada beberapa alternatif teknologi untuk melengkapi komponen teknologi tersebut di atas yaitu :  a). penggunaan varietas unggul baru, b). penggunaan benih bermutu dengan daya tumbuh tinggi, c). penanaman 1-3 bibit per lubang, d). peningkatan populasi tanaman dengan penanaman sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1, e). penyiangan menggunakan landak, f). pengendalian OPT dengan sistem PHT, g). panangan pasca panen yang tepat, dan h). perontokan gabah menggunakan tresher (Las, et al. 2003 dan Zaini et al. 2003).

Penelitian bertujuan untuk melihat keragaan hasil dan nilai hasil usahatani varietas unggul baru padi sawah berumur genjah (IR 66) dan berumur sangat genjah (Inpari 12) pada populasi tanaman yang berbeda pada lahan sawah di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

BAHAN DAN METODE

Pengkajian dilaksanakan pada lahan sawah Kampung Marapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada MT 2010. Pengkajian dilaksanakan pada lahan sawah dengan luas  0,25 ha yang ditanam dengan 2 varietas padi sawah (IR 66 (VUG) dan Inpari 12 (VUSG)). Ke dua varietas ditanam menggunakan konsep pengelolaan tanaman terpadu padi sawah (PTT) dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1, sedangkan sebagai kontrol sistem tanam biasa. Komponen teknologi PTT pada sistem tanam legowo dan tanam biasa disajikan pada  Tabel 1.

Tabel 1.  Teknologi pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) dan non PTT padi sawah irigasi di Kampung Marapak Kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Komponen Taknologi

Sistem Tanam

Jajar Legowo

Tanam Biasa

Pengolahan tanah

Bajak singkal 1 kali + rotary 1 kali dan diratakan

Sederhana, sistem rotary  1 kali dan diratakan

Varietas

  1. IR 66 (VUG)
  2. Inpari 12 (VUSG)
  3. IR 66 (VUG)
  4. Inpari 12 (VUSG)

Bibit

10 kg/ha

>30 kg/ha

Persemaian

10 kg benih/100 m2

>30 kg benih/100 m2

Umur bibit

10 hari setelah tebar (HST)

21 hari setelah tebar (HST)

Jumlah bibit

1      batang/rumpun

3-5 batang/rumpun

Jarak tanam

20 x 20 cm

Tidak beraturan

Populasi Tanaman

Legowo 2:1 (333.333 rumpun/ha)

Legowo 4:1 (300.000 rumpun/ha)

+ 250.000 rumpun tanaman

Cara dan takaran pemberian pupuk.

  1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
  2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
  3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).
    1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
    2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
    3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).

Pupuk kandang

2 t/ha, diberikan secara tebar rata pada saat pengolahan tanah

Tanpa pupuk kandang

Pengendalian gulma

Secara manual 35 HST

Secara manual 35 HST

Pengelolaan air

Lahan sawah dikering saat tanam sampai 10 HST, kemudian diairi setinggi 5-10 cm selama 1 minggu dan dikeringkan lagi (membiarkan lahan sawah kering sendiri) dan diairi lagi dan dikeringkan lagi sampai fase pembungaan. Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi dengan tinggi air sekitar 5 cm, dan 10 hari menjelang panen lahan dikeringkan.

Tergenang terus menerus dari tanam sampai 10 hari sebelum panen

Pengendalian hama dan penyakit

Menggunakan metode PHT

Menggunakan metode PHT

Panen

Panen dilakukan menggunakan tresher

Panen dilakukan  mengguna-kan tresher

Pengamatan hasil dilakukan dengan cara mengambil ubinan dengan ukuran 5 x 5 meter yang dilakukan pada masing-masing varietas yang diuji dan pembanding. Hasil panen setelah dibersihkan ditimbang untuk menetapkan bobot gabah kering panen (GKP).

Model Analisis

Analisis anggaran biaya

Untuk membedakan antara varietas yang diuji dilakukan analisis anggaran biaya usahatani. Analisis anggaran usahatani meliputi masukan-hasil serta nilai nominalnya, yakni jumlah, harga, dan upah  sarana produksi yang digunakan (benih, pupuk, obat-obatan), tenaga kerja (pengolahan tanah, pesemaian, tanam, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, dan panen) dan perolehan hasil serta  harga gabah saat menjual hasil dalam penerapan teknologi intensifikasi dan non intensifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaan Hasil

Keragaan hasil varietas IR 66 (genjah) dan varietas Inpari 12 (sangat genjah) pada lahan sawah Koto Marapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Keragaan hasil padi sawah (t/ha) varietas IR 66 (VUB) dan Inpari 12 (VUSG) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Varietas

Sistem tanam

Tanam biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

IR 66

5,200

7,000

6,800

Inpari 12

5,400

7,200

6,900

Dari Tabel 2 terlihat bahwa hasil gabah kering panen VUG (IR 66) dan VUSG (Inpari 12) tidak memperlihatkan perbedaan hasil yang signifikan, akan tetapi sistem tanam memberikan perbedaan hasil yang signifikan. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 pada IR 66 (genjah) serta Inpari 12 (sangat genjah) meningkat hasil sebesar 1,8 t/ha atau sebesar 35% lebih tinggi dibandingkan tanam biasa. Pada legowo 4:1 peningkatan hasil lebih rendah dibandingkan dengan legowo 2:1, yaitu sebesar 31% pada IR 66 serta 28% pada Inpari 12. Hasil yang sama juga dilaporkan pada lahan sawah irigasi semi-intensif Desa Pulung Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten  Tulang Bawang Barat, Lampung (Mulyanti  dan  Pujiharti, 2011) serta Sunanjaya et al. (2011) pada lahan sawah di Subak Panarukan Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan-Bali dimana jajar legowo 2:1 memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan legowo 4:1 atau sistem tanam biasa. Hasil penelitian Sumijan dan Jauhari (2011) di Desa Sumberejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri menunjukkan pula bahwa penerapan PTT (VUB, perlakuan benih, dan pemupukan) mampu meningkatkan produktivitas sebasar 23,8% lebih tinggi dibandingkan teknologi petani. Penerapan teknologi PTT dengan sistem tanam 1-3 bibit/lobang tanaman memberikan peningkatan produktivitas lebih tinggi sebesar 33,7%, sedangkan penerapan teknologi PTT dengan komponen teknologi tanam bibit 1-3 batang/rumpun tanaman dan sitem tanam legowo mampu memberikan peningkatan produktivitas yang paling tinggi mencapai 75,8% dibandingkan dengan teknologi petani. Menurut Triny et al. (2004) tanaman yang mendapatkan pengaruh border effect akan lebih banyak mendapatkan faktor-faktor tumbuh seperti cahaya matahari, air dan CO2 sehingga memberikan efek yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi.

Lebih rendahnya peningkatan hasil pada legowo 4:1 disebabkan pada legowo 2:1 populasi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan legowo 4:1. Teknik jajar legowo dikembangkan untuk memanfaatkan pengaruh barisan pinggiran tanaman padi (border effect) yang lebih banyak, sehingga tanaman tumbuh lebih baik dan hasil lebih tinggi. Pada sistem tanam jajar legowo 2:1 seluruh pinggiran tanaman menjadi border effect. Selain border effect, populasi tanaman legowo 2:1 juga lebih banyak dibandingkan legowo 4:1 yakni 333,333 rumpun/ha atau 11,1% lebih tinggi (Tabel 1). Menurut Suriapermana dan Syamsiah (1994), teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanaman padi dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun dalam barisan dan melebar jarak antar barisan. Hasil penelitian Pujiharti dan Mulyanti (2012) pada lahan sawah Kampung Pulung Kencana Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung menunjukkan pula legowo 2:1 lebih efisien dibandingkan dengan jajar legowo 4:1 dan sistem tanam biasa (tegel)

Hasil analisis usahatani (Tabel 3 dan 4) terlihat bahwa pada varietas IR 66 (VUG) dengan sistem tanam biasa tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 18,200,000 dengan ongkos total sebesar Rp. 9,139,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 9,060,500,-. dengan nilai R/C ratio 1,99, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 99% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-, break event yield 2,611,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,758,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,742,-. Pada legowo 2:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 24.500.00024.500.000,- dengan ongkos total Rp. 11,523,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 12,976,500,- dengan tingkat R/C ratio sebesar 2,13, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  113% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,292,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,646,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,854,-. Sedangkan pada legowo 4:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 23.800.00023.800.000 ,- dengan ongkos total Rp. 11,157,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 12,642,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,13, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  113% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,188,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,641,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,859,-.

Tabel 3. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas IR 66 (VUB) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Indikator ekonomi

Satuan

Sistem Tanam

Biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

Hasil gabah

Kg

5,200

7,000

6,800

Penjualan gabah

Rp.

18,200,000

24,500,000

23,800,000

Ongkos total

Rp.

9,139,500

11,523,500

11,157,500

Keuntungan bersih

Rp.

9,060,500

12,976,500

12,642,500

Breakeven yield

Kg/Ha

2,611

3,292

3,188

Ongkos/kg gabah

Rp./kg

1,758

1,646

1,641

Keuntungan/kg gbh

Rp./kg

1,742

1,854

1,859

R/C

 

1.99

2.13

2.13

Tenaga

HOK

44

54

50

Partisi ongkos

Ongkos

Ongkos

Ongkos

Nilai Rp

% total biaya

Nilai Rp

% total biaya

Nilai Rp

% total biaya

Upah tenaga

5,916,000

64.7

7,650,000

66.4

7,284,000

65.3

Kontrak

1,200,000

13.1

1,200,000

10.4

1,200,000

10.8

Total upah

7,116,000

77.9

8,850,000

76.8

8,484,000

76.0

Ongkos pupuk

1,062,500

11.6

1,062,500

9.2

1,062,500

9.5

Bahan organik

0

0.0

800,000

6.9

800,000

7.2

Pestisida

736,000

8.1

736,000

6.4

736,000

6.6

Benih

225,000

2.5

75,000

0.7

75,000

0.7

Ongkos total

9,139,500

100.0

11,523,500

100.0

11,157,500

100.0

Pada varietas Inpari 12 (VUSG) dengan sistem tanam biasa tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 21,600,000,- dengan ongkos total sebesar Rp. 9,751,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 11,848,500,-. dengan nilai R/C ratio 2,22, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 122% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-, break event yield 2,438,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,806,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,194,-. Pada legowo 2:1 varietas Inpari 12 memberikan tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 28.800.00028.800.000,- dengan ongkos total Rp. 12,297,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 16,502,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,34, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  134% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,074,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,708,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,292,-. Sedangkan pada legowo 4:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 27.600.00027.600.000 ,- dengan ongkos total Rp. 11,841,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 15,578,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,33, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  133% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, break event yield sebesar Rp. 2,960,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,716,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,284,-.

 

Tabel 4. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas Inpari 12 (VUSG) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Indikator ekonomi

Satuan

Sistem Tanam

Biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

Hasil gabah

Kg

5,400

7,200

6,900

Penjualan gabah

Rp.

21,600,000

28,800,000

27,600,000

Ongkos total

Rp.

9,751,500

12,297,500

11,841,500

Keuntungan bersih

Rp.

11,848,500

16,502,500

15,758,500

Breakeven yield

Kg/Ha

2,438

3,074

2,960

Ongkos/kg gabah

Rp./kg

1,806

1,708

1,716

Keuntungan/kg gbh

Rp./kg

2,194

2,292

2,284

R/C

 

2.22

2.34

2.33

Tenaga

HOK

44

54

50

Partisi ongkos

Ongkos

Ongkos

Ongkos

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Upah tenaga

6,528,000

66.9

8,424,000

68.5

7,968,000

67.3

Kontrak

1,200,000

12.3

1,200,000

9.8

1,200,000

10.1

Total upah

7,728,000

79.2

9,624,000

78.3

9,168,000

77.4

Ongkos pupuk

1,062,500

10.9

1,062,500

8.6

1,062,500

9.0

Bahan organik

0

0.0

800,000

6.5

800,000

6.8

Pestisida

736,000

7.5

736,000

6.0

736,000

6.2

Benih

225,000

2.3

75,000

0.6

75,000

0.6

Ongkos total

9,751,500

100.0

12,297,500

100.0

11,841,500

100.0

Dari uraian diatas terlihat bahwa sistem tanam jajar legowo memberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sistem tanam biasa. Pada varietas IR 66 (VUG) sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 memberikan tingkat pendapatan 14% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanaman biasa. Sedangkan pada varietas Inpari 12 (VUSG) sistem tanam jajar legowo memberikan tingkat pendapatan petani 12% dan 11% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Hasil padi sawah di Bayang Pesisir Selatan MT 2010 menggunakan varietas IR 66 (genjah) dengan sistem tanam biasa sebesar 5,2 t/ha sedangkan dengan varietas Inpari 12 (sangat genjah) sebesar 5,4 t/ha.
  2. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1  dan 4 : 1  pada IR 66 (genjah) meningkatkan hasil gabah sebesar 35% dan 31% dan pada Inpari 12 (sangat genjah)  sebesar 33% dan 28% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.
  3. Sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 pada varietas IR 66 (genjah) meningkatkan  pendapatan petani 14% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanaman biasa, sedangkan pada Inpari 12 (sangat genjah) meningkatkan pendapatan petani 12 dan 11% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.
  4. Sistem tanaman legowo 2:1 dengan jumlah populasi tanaman sebesar 333.333 rumpun/ha memberikan hasil gabah dan tambahan pendapatan tertinggi pada pada inovasi PTT padi sawah di Sumatera Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. B., Soewito. T dan B. Kustianto. 2002. Status perkembangan pemuliaan padi type baru di Indonesia. Makalah disampaikan pada Lokakarya Penelitian Litkaji dan Pemuliaan Partisipatif, tanggal 22-25 Juli 2002 di Balitpa Sukamandi.

Buharman, B., Burbey, dan I. Manti. 2004. Pertumbuhan produksi di Sumatera Barat : Kendala dan Peluang Peningkatannya. Hlm. 378-405 Z. Dalam Z. Lamid, Buharman, B., M. Boer, N. Hosen, I. Manti, R. Febriamansyah, dan R. Mayerni (Eds). Seminar Nasional Penerapan Agro Inovasi Mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

BPS, 2008. Pesisir Selatan dalam Angka 2008. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesisir Selatan.

Fagi, A. M. 2000. Strategi Perluasan dan Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi untuk Meningkatkan Pendapatan Petani dan Meraih Kembali Swasembada Beras. Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Lahan, Buku I, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Las, I., A. K. Makarim, M. H. Toha, A. Gani, H. Pane, dan S. Abdulrachman. 2003. Panduan Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian, Jakarta, 30 hlm.

Las, I., H. Syahbuddin, E. Surmaini, dan Ahmad M. Fagi. 2008. Iklim dan Tanaman Padi: Tantangan dan Peluang. Dalam Suyamto et al. (Eds). Buku Padi, Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.151-189.

Mulyanti, N. dan Yulia Pujiharti. 2011. Pengaruh Sitem tanaman Legowo terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Padi Sawah di Tulang Bawang Lampung. Hlm. 893-899 Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Pujiharti, Y. dan N. Mulyanti. 2012. Efisiensi Suistem Tanam Legowo di Kampung Pulung Kencana, Provinsi Lampung. Hlm. 1391-1400 Dalam Abdulrachman, S., B. Kusbiantoro, I.P. Wardana, Z. Susanti, G.R. Pratiwi, dan M.J. Mejaya (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2011. “Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Cekaman Lingkungan Biotik dan Abiotik” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Kementerian Pertanian.

Sumijan dan S. Jauhari, 2011. Peluang peningkatan produktivitas padi melalui teknologi PTT pada lahan sawah Semi Intensif di KabupatenWonogiri Jawa Tengah. Hlm. 901-909. Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Simamarta, T., dan Y. Yuwariah. 2008. Teknologi intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) untuk mempercepat kemandirian dan ketahanan pangan. Dalam. B. Suprihatno et al. (Eds) Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Prosiding Seminar CallSend SMSAdd to SkypeYou'll need Skype CreditFree via Skype

 

PENDAHULUAN

Produksi padi perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Kebutuhan beras nasional dewasa ini telah menyentuh angka lebih dari 30 juta ton per tahun. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi dalam pengadaan produksi padi semakin berat. Laju pertumbuhan penduduk dan tingkat konsumsi beras yang relatif masih tinggi menuntut peningkatan produksi yang sinambung, sementara sebagian lahan sawah yang subur telah beralih fungsi untuk usaha lainnya. Rata-rata laju pertambahan penduduk Indonesia sekitar 1,27-1,29 % per tahun, dengan laju pertumbuhan tersebut pada tahun 2025 jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 296 juta jiwa dengan kebutuhan beras sekitar 41,5 juta ton atau setara dengan 78,3 juta ton GKG (Las. et al., 2008; Simamarta dan Yuwariah, 2008).  Oleh karena itu perlu upaya peningkatan produksi padi baik melalui peningkatan produktivitas, pencetakan sawah baru, maupun melalui peningkatan luas panen melalui peningkatan indek pertanaman (IP) padi sawah.

Pesisir Selatan termasuk Kabupaten penghasil padi di Sumatera Barat dengan luas sawah 30.446 ha, luas panen 46.525 ha, produktivitas 43,79 kuintal/ha dan total produksi 203.722 ton. Produktivitas ini masih rendah dari rata-rata produktivitas Sumatera Barat yang mencapai 46,01 kuintal/ha (BPS, 2008). Berbagai hipotesis dikemukakan oleh para ahli tentang penyebab makin menurunnya produktivitas padi sawah, antara lain : a). potensi genetik varietas yang ditanam terbatas (Abdullah, et al. 2002), b). cekaman biologi (hama/penyakit) dan fisik (kekeringan), c). degradasi kesuburan tanah, dan d). penurunan input produksi (Fagi, 2000). Keterbatasan potensi genetik varietas padi sawah merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas padi sawah di Sumatera Barat pada umumnya dan Kabupaten Pesisir Selatan khususnya. Di Pesisir Selatan varietas padi yang dominan adalah IR 42 (40%), Cisokan (57,5%) dan varietas-varietas lainnya sekitar 5% (Buharman et al. 2004).

Di samping keterbatasan varietas, kendala lain penyebab rendahnya produktivitas padi sawah adalah rendahnya tingkat penerapan teknologi intensifikasi. Kompleknya permasalahan yang dihadapi pada sistem intensifikasi padi sawah saat ini, maka untuk pengembangan pertanian ke depan, perlu dilakukan perbaikan terhadap komponen-komponen intensifikasi padi sawah yang ada saat ini. Dewasa ini upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan budidaya padi spesifik lokasi yang dikenal dengan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Ada 5 komponen teknologi utama untuk meningkatkan produktivitas padi sawah, yaitu 1). penanaman bibit muda (umur < 10 hari), 2). pemberian bahan organik pada waktu pengolahan tanah, 3). irigasi berselang (Intermittent irrigation), 4). pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, dan 5). pemupukan N menggunakan BWD (Las et al. 2003). Di samping itu ada beberapa alternatif teknologi untuk melengkapi komponen teknologi tersebut di atas yaitu :  a). penggunaan varietas unggul baru, b). penggunaan benih bermutu dengan daya tumbuh tinggi, c). penanaman 1-3 bibit per lubang, d). peningkatan populasi tanaman dengan penanaman sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1, e). penyiangan menggunakan landak, f). pengendalian OPT dengan sistem PHT, g). panangan pasca panen yang tepat, dan h). perontokan gabah menggunakan tresher (Las, et al. 2003 dan Zaini et al. 2003).

Penelitian bertujuan untuk melihat keragaan hasil dan nilai hasil usahatani varietas unggul baru padi sawah berumur genjah (IR 66) dan berumur sangat genjah (Inpari 12) pada populasi tanaman yang berbeda pada lahan sawah di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

BAHAN DAN METODE

Pengkajian dilaksanakan pada lahan sawah Kampung Marapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada MT 2010. Pengkajian dilaksanakan pada lahan sawah dengan luas  0,25 ha yang ditanam dengan 2 varietas padi sawah (IR 66 (VUG) dan Inpari 12 (VUSG)). Ke dua varietas ditanam menggunakan konsep pengelolaan tanaman terpadu padi sawah (PTT) dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1, sedangkan sebagai kontrol sistem tanam biasa. Komponen teknologi PTT pada sistem tanam legowo dan tanam biasa disajikan pada  Tabel 1.

Tabel 1.  Teknologi pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) dan non PTT padi sawah irigasi di Kampung Marapak Kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Komponen Taknologi

Sistem Tanam

Jajar Legowo

Tanam Biasa

Pengolahan tanah

Bajak singkal 1 kali + rotary 1 kali dan diratakan

Sederhana, sistem rotary  1 kali dan diratakan

Varietas

  1. IR 66 (VUG)
  2. Inpari 12 (VUSG)
  3. IR 66 (VUG)
  4. Inpari 12 (VUSG)

Bibit

10 kg/ha

>30 kg/ha

Persemaian

10 kg benih/100 m2

>30 kg benih/100 m2

Umur bibit

10 hari setelah tebar (HST)

21 hari setelah tebar (HST)

Jumlah bibit

1      batang/rumpun

3-5 batang/rumpun

Jarak tanam

20 x 20 cm

Tidak beraturan

Populasi Tanaman

Legowo 2:1 (333.333 rumpun/ha)

Legowo 4:1 (300.000 rumpun/ha)

+ 250.000 rumpun tanaman

Cara dan takaran pemberian pupuk.

  1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
  2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
  3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).
    1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
    2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
    3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).

Pupuk kandang

2 t/ha, diberikan secara tebar rata pada saat pengolahan tanah

Tanpa pupuk kandang

Pengendalian gulma

Secara manual 35 HST

Secara manual 35 HST

Pengelolaan air

Lahan sawah dikering saat tanam sampai 10 HST, kemudian diairi setinggi 5-10 cm selama 1 minggu dan dikeringkan lagi (membiarkan lahan sawah kering sendiri) dan diairi lagi dan dikeringkan lagi sampai fase pembungaan. Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi dengan tinggi air sekitar 5 cm, dan 10 hari menjelang panen lahan dikeringkan.

Tergenang terus menerus dari tanam sampai 10 hari sebelum panen

Pengendalian hama dan penyakit

Menggunakan metode PHT

Menggunakan metode PHT

Panen

Panen dilakukan menggunakan tresher

Panen dilakukan  mengguna-kan tresher

Pengamatan hasil dilakukan dengan cara mengambil ubinan dengan ukuran 5 x 5 meter yang dilakukan pada masing-masing varietas yang diuji dan pembanding. Hasil panen setelah dibersihkan ditimbang untuk menetapkan bobot gabah kering panen (GKP).

Model Analisis

Analisis anggaran biaya

Untuk membedakan antara varietas yang diuji dilakukan analisis anggaran biaya usahatani. Analisis anggaran usahatani meliputi masukan-hasil serta nilai nominalnya, yakni jumlah, harga, dan upah  sarana produksi yang digunakan (benih, pupuk, obat-obatan), tenaga kerja (pengolahan tanah, pesemaian, tanam, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, dan panen) dan perolehan hasil serta  harga gabah saat menjual hasil dalam penerapan teknologi intensifikasi dan non intensifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaan Hasil

Keragaan hasil varietas IR 66 (genjah) dan varietas Inpari 12 (sangat genjah) pada lahan sawah Koto Marapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Keragaan hasil padi sawah (t/ha) varietas IR 66 (VUB) dan Inpari 12 (VUSG) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Varietas

Sistem tanam

Tanam biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

IR 66

5,200

7,000

6,800

Inpari 12

5,400

7,200

6,900

Dari Tabel 2 terlihat bahwa hasil gabah kering panen VUG (IR 66) dan VUSG (Inpari 12) tidak memperlihatkan perbedaan hasil yang signifikan, akan tetapi sistem tanam memberikan perbedaan hasil yang signifikan. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 pada IR 66 (genjah) serta Inpari 12 (sangat genjah) meningkat hasil sebesar 1,8 t/ha atau sebesar 35% lebih tinggi dibandingkan tanam biasa. Pada legowo 4:1 peningkatan hasil lebih rendah dibandingkan dengan legowo 2:1, yaitu sebesar 31% pada IR 66 serta 28% pada Inpari 12. Hasil yang sama juga dilaporkan pada lahan sawah irigasi semi-intensif Desa Pulung Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten  Tulang Bawang Barat, Lampung (Mulyanti  dan  Pujiharti, 2011) serta Sunanjaya et al. (2011) pada lahan sawah di Subak Panarukan Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan-Bali dimana jajar legowo 2:1 memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan legowo 4:1 atau sistem tanam biasa. Hasil penelitian Sumijan dan Jauhari (2011) di Desa Sumberejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri menunjukkan pula bahwa penerapan PTT (VUB, perlakuan benih, dan pemupukan) mampu meningkatkan produktivitas sebasar 23,8% lebih tinggi dibandingkan teknologi petani. Penerapan teknologi PTT dengan sistem tanam 1-3 bibit/lobang tanaman memberikan peningkatan produktivitas lebih tinggi sebesar 33,7%, sedangkan penerapan teknologi PTT dengan komponen teknologi tanam bibit 1-3 batang/rumpun tanaman dan sitem tanam legowo mampu memberikan peningkatan produktivitas yang paling tinggi mencapai 75,8% dibandingkan dengan teknologi petani. Menurut Triny et al. (2004) tanaman yang mendapatkan pengaruh border effect akan lebih banyak mendapatkan faktor-faktor tumbuh seperti cahaya matahari, air dan CO2 sehingga memberikan efek yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi.

Lebih rendahnya peningkatan hasil pada legowo 4:1 disebabkan pada legowo 2:1 populasi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan legowo 4:1. Teknik jajar legowo dikembangkan untuk memanfaatkan pengaruh barisan pinggiran tanaman padi (border effect) yang lebih banyak, sehingga tanaman tumbuh lebih baik dan hasil lebih tinggi. Pada sistem tanam jajar legowo 2:1 seluruh pinggiran tanaman menjadi border effect. Selain border effect, populasi tanaman legowo 2:1 juga lebih banyak dibandingkan legowo 4:1 yakni 333,333 rumpun/ha atau 11,1% lebih tinggi (Tabel 1). Menurut Suriapermana dan Syamsiah (1994), teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanaman padi dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun dalam barisan dan melebar jarak antar barisan. Hasil penelitian Pujiharti dan Mulyanti (2012) pada lahan sawah Kampung Pulung Kencana Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung menunjukkan pula legowo 2:1 lebih efisien dibandingkan dengan jajar legowo 4:1 dan sistem tanam biasa (tegel)

Hasil analisis usahatani (Tabel 3 dan 4) terlihat bahwa pada varietas IR 66 (VUG) dengan sistem tanam biasa tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 18,200,000 dengan ongkos total sebesar Rp. 9,139,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 9,060,500,-. dengan nilai R/C ratio 1,99, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 99% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-, break event yield 2,611,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,758,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,742,-. Pada legowo 2:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 24.500.00024.500.000,- dengan ongkos total Rp. 11,523,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 12,976,500,- dengan tingkat R/C ratio sebesar 2,13, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  113% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,292,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,646,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,854,-. Sedangkan pada legowo 4:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 23.800.00023.800.000,- dengan ongkos total Rp. 11,157,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 12,642,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,13, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  113% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,188,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,641,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,859,-.

Tabel 3. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas IR 66 (VUB) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Indikator ekonomi

Satuan

Sistem Tanam

Biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

Hasil gabah

Kg

5,200

7,000

6,800

Penjualan gabah

Rp.

18,200,000

24,500,000

23,800,000

Ongkos total

Rp.

9,139,500

11,523,500

11,157,500

Keuntungan bersih

Rp.

9,060,500

12,976,500

12,642,500

Breakeven yield

Kg/Ha

2,611

3,292

3,188

Ongkos/kg gabah

Rp./kg

1,758

1,646

1,641

Keuntungan/kg gbh

Rp./kg

1,742

1,854

1,859

R/C

 

1.99

2.13

2.13

Tenaga

HOK

44

54

50

Partisi ongkos

Ongkos

Ongkos

Ongkos

Nilai Rp

% total biaya

Nilai Rp

% total biaya

Nilai Rp

% total biaya

Upah tenaga

5,916,000

64.7

7,650,000

66.4

7,284,000

65.3

Kontrak

1,200,000

13.1

1,200,000

10.4

1,200,000

10.8

Total upah

7,116,000

77.9

8,850,000

76.8

8,484,000

76.0

Ongkos pupuk

1,062,500

11.6

1,062,500

9.2

1,062,500

9.5

Bahan organik

0

0.0

800,000

6.9

800,000

7.2

Pestisida

736,000

8.1

736,000

6.4

736,000

6.6

Benih

225,000

2.5

75,000

0.7

75,000

0.7

Ongkos total

9,139,500

100.0

11,523,500

100.0

11,157,500

100.0

Pada varietas Inpari 12 (VUSG) dengan sistem tanam biasa tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 21,600,000,- dengan ongkos total sebesar Rp. 9,751,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 11,848,500,-. dengan nilai R/C ratio 2,22, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 122% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-, break event yield 2,438,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,806,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,194,-. Pada legowo 2:1 varietas Inpari 12 memberikan tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 28.800.00028.800.000,- dengan ongkos total Rp. 12,297,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 16,502,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,34, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  134% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,074,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,708,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,292,-. Sedangkan pada legowo 4:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 27.600.00027.600.000,- dengan ongkos total Rp. 11,841,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 15,578,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,33, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  133% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, break event yield sebesar Rp. 2,960,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,716,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,284,-.

 

Tabel 4. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas Inpari 12 (VUSG) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Indikator ekonomi

Satuan

Sistem Tanam

Biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

Hasil gabah

Kg

5,400

7,200

6,900

Penjualan gabah

Rp.

21,600,000

28,800,000

27,600,000

Ongkos total

Rp.

9,751,500

12,297,500

11,841,500

Keuntungan bersih

Rp.

11,848,500

16,502,500

15,758,500

Breakeven yield

Kg/Ha

2,438

3,074

2,960

Ongkos/kg gabah

Rp./kg

1,806

1,708

1,716

Keuntungan/kg gbh

Rp./kg

2,194

2,292

2,284

R/C

 

2.22

2.34

2.33

Tenaga

HOK

44

54

50

Partisi ongkos

Ongkos

Ongkos

Ongkos

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Upah tenaga

6,528,000

66.9

8,424,000

68.5

7,968,000

67.3

Kontrak

1,200,000

12.3

1,200,000

9.8

1,200,000

10.1

Total upah

7,728,000

79.2

9,624,000

78.3

9,168,000

77.4

Ongkos pupuk

1,062,500

10.9

1,062,500

8.6

1,062,500

9.0

Bahan organik

0

0.0

800,000

6.5

800,000

6.8

Pestisida

736,000

7.5

736,000

6.0

736,000

6.2

Benih

225,000

2.3

75,000

0.6

75,000

0.6

Ongkos total

9,751,500

100.0

12,297,500

100.0

11,841,500

100.0

Dari uraian diatas terlihat bahwa sistem tanam jajar legowo memberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sistem tanam biasa. Pada varietas IR 66 (VUG) sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 memberikan tingkat pendapatan 14% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanaman biasa. Sedangkan pada varietas Inpari 12 (VUSG) sistem tanam jajar legowo memberikan tingkat pendapatan petani 12% dan 11% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Hasil padi sawah di Bayang Pesisir Selatan MT 2010 menggunakan varietas IR 66 (genjah) dengan sistem tanam biasa sebesar 5,2 t/ha sedangkan dengan varietas Inpari 12 (sangat genjah) sebesar 5,4 t/ha.
  2. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1  dan 4 : 1  pada IR 66 (genjah) meningkatkan hasil gabah sebesar 35% dan 31% dan pada Inpari 12 (sangat genjah)  sebesar 33% dan 28% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.
  3. Sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 pada varietas IR 66 (genjah) meningkatkan  pendapatan petani 14% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanaman biasa, sedangkan pada Inpari 12 (sangat genjah) meningkatkan pendapatan petani 12 dan 11% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.
  4. Sistem tanaman legowo 2:1 dengan jumlah populasi tanaman sebesar 333.333 rumpun/ha memberikan hasil gabah dan tambahan pendapatan tertinggi pada pada inovasi PTT padi sawah di Sumatera Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. B., Soewito. T dan B. Kustianto. 2002. Status perkembangan pemuliaan padi type baru di Indonesia. Makalah disampaikan pada Lokakarya Penelitian Litkaji dan Pemuliaan Partisipatif, tanggal 22-25 Juli 2002 di Balitpa Sukamandi.

Buharman, B., Burbey, dan I. Manti. 2004. Pertumbuhan produksi di Sumatera Barat : Kendala dan Peluang Peningkatannya. Hlm. 378-405 Z. Dalam Z. Lamid, Buharman, B., M. Boer, N. Hosen, I. Manti, R. Febriamansyah, dan R. Mayerni (Eds). Seminar Nasional Penerapan Agro Inovasi Mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

BPS, 2008. Pesisir Selatan dalam Angka 2008. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesisir Selatan.

Fagi, A. M. 2000. Strategi Perluasan dan Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi untuk Meningkatkan Pendapatan Petani dan Meraih Kembali Swasembada Beras. Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Lahan, Buku I, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Las, I., A. K. Makarim, M. H. Toha, A. Gani, H. Pane, dan S. Abdulrachman. 2003. Panduan Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian, Jakarta, 30 hlm.

Las, I., H. Syahbuddin, E. Surmaini, dan Ahmad M. Fagi. 2008. Iklim dan Tanaman Padi: Tantangan dan Peluang. Dalam Suyamto et al. (Eds). Buku Padi, Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.151-189.

Mulyanti, N. dan Yulia Pujiharti. 2011. Pengaruh Sitem tanaman Legowo terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Padi Sawah di Tulang Bawang Lampung. Hlm. 893-899 Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Pujiharti, Y. dan N. Mulyanti. 2012. Efisiensi Suistem Tanam Legowo di Kampung Pulung Kencana, Provinsi Lampung. Hlm. 1391-1400 Dalam Abdulrachman, S., B. Kusbiantoro, I.P. Wardana, Z. Susanti, G.R. Pratiwi, dan M.J. Mejaya (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2011. “Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Cekaman Lingkungan Biotik dan Abiotik” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Kementerian Pertanian.

Sumijan dan S. Jauhari, 2011. Peluang peningkatan produktivitas padi melalui teknologi PTT pada lahan sawah Semi Intensif di KabupatenWonogiri Jawa Tengah. Hlm. 901-909. Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Simamarta, T., dan Y. Yuwariah. 2008. Teknologi intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) untuk mempercepat kemandirian dan ketahanan pangan. Dalam. B. Suprihatno et al. (Eds) Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Prosiding Seminar CallSend SMSAdd to SkypeYou'll need Skype CreditFree via Skype

ABSTRAK

Sistem usahatani terpadu memberikan peluang besar dalam meningkatkan dan memantapkan ketahanan pangan serta pendapatan petani, karena  sistem usahatani terpadu dirancang untuk saling terkait antar usaha yang bersifat mutualistis. Keterkaitan antar jenis usaha tersebut memberikan manfaat, baik secara ekonomi, teknis dan lingkungan. Tujuan penelitian adalah (i) Mengidentifikasi potensi dan kendala pengembangan sistem sahatani terpadu dari aspek teknis, ekonomi dan sosial;  (ii)  Merumuskan strategi kebijakan mendukung pengembangan sistem usahatani terpadu ke depan. Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi pengembangan sistem usahatani terpadu cukup besar, dimana ketersediaan aneka jenis usaha pertanian yang dapat saling berintegrasi seperti ternak dan ikan di tingkat petani. Akan tetapi kondisi sekarang konsep intergrasi usaha belum dilaksanakan dengan baik.  Secara teknis potensi lahan cukup mendukung pengembangan berbagai usaha termasuk ternak sapi. Status pemilikan ternak sapi dominan dalam bentuk sistem bagi hasil, hal ini merupakan tantangan keberlanjutan usaha ternak ke depan. Dukungan faktor eksternal cukup baik seperti adanya program SPSS (satu sapi satu petani) yang mengarah pada pengembangan ternak, pada gilirannya mendukung penerapan sistem usahatani terpadu oleh petani. Infrastruktur relatif baik sehingga akses ke luar lancar. Berbagai faktor pembatas di tingkat petani:  (i) penguasaan teknologi masih lemah, akibatnya pendapatan usahatni relatif rendah; (ii) Penguasaan lahan relatif sempit, sawah 0,3-0,4 ha/KK dan lahan kering 0,25-0,30 ha/KK; (iii) Terbatasnya modal untuk pengembangan usaha terutama untuk pengadaan ternak sapi atau unggas. Disarankan kepada pengambil kebijakan diantaranya (i) Meningkatkan kapasitas IPTEK petani dan penyuluh tentang teknologi baik teknologi budidaya maupun pengolahan limbah guna percepatan pengembangan sistem usahatani terpadu. (ii) Optimasi pemanfaatan sumberdaya pertanian yang dimiliki petani (lahan dan tenaga kerja) dan penataan kombinasi komoditas menuju pola usahatani terpadu yang optimal dengan pendekatan LEISA atau tanpa limbah (zero  waste); (iii)   Mengarahkan prioritas pembiayaan yang ada di wilayah Nagari seperti LKM-A, koperasi, Kredit Mikro Nagari (KMN) dan LKM lainnya untuk pegembangan ternak, serta mendorong pemanfaatan KUR, KUPS  oleh masyarakat tani/peternak.

Kata kunci: Sistem usahatani terpadu, teknologi, modal, pendapatan

 

PENDAHULUAN

Sistem usahatani terpadu memberikan peluang besar dalam meningkatkan dan memantapkan ketahanan pangan serta pendapatan petani. Lebih lanjut apabila dalam suatu sistem usahatani terpadu dirancang keterkaitan yang mutualistis antar jenis usahatani, akan lebih menguntungkan, baik secara ekonomi, teknis dan lingkungan. Sistem usahatani terpadu dapat mengurangi risiko kegagalan panen, karena ketergantungan pada satu komoditi dapat dihindari, dan hemat ongkos produksi (Hamdani, 2008). Untuk menerapkan sistem usahatani terpadu tersebut diperlukan teknologi yang mencakup penyediaan teknologi varietas unggul berbagai komoditas bernilai ekonomi relatif menguntungkan seperti tanaman pangan, hortikultura, jenis ternak dan ikan serta teknologi pengolahan limbah. Untuk mendapatkan nilai tambah bagi keluarga tani antara lain dapat dilakukan pengolahan hasil yang diusahakan oleh rumahtangga petani. Sistem usahatani terpadu selain dapat memperluas sumber-sumber pendapatan, sistem usahatani terpadu juga merupakan strategi untuk memperkecil risiko kegagalan usaha. Sebagai salah satu strategi dalam pembangunan pertanian, sistem usahatani terpadu perlu didukung oleh faktor-faktor penunjang seperti infrastruktur yang baik, komunikasi lancar, ketersediaan modal, pasar terjamin dan kebijakan pemerintah (Hamdani, 2008 dan Kusnadi, 2007).

Salah satu contoh dalam pelaksanaan sistem usahatani terpadu adalah sistem integrasi  tanaman dan ternak, dimana sistem ini menciptakan kondisi yang secara ekologis saling mempengaruhi, limbah tanaman menjadi pakan ternak, sebaliknya ternak dapat menghasilkan pupuk kandang, kompos dan tenaga untuk budidaya tanaman. Beberapa keuntungan dalam pelaksanaan sistem usahatani tanaman dan ternak adalah: (1) diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi,(2) mengurangi terjadinya risiko, (3) efisiensi penggunaan tenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan komponen produksi, (5) mengurangi ketergantungan energi kimia dan energi biologi serta masukan sumberdaya lainnya dari luar, (6) sistem ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polusi sehingga melindungi lingkungan hidup, (7) meningkatkan output dan pendapatan; dan (8) mengembangkan rumah tangga petani menjadi lebih stabil (Diwyanto, et.al. 2001; Kariyasa, 2005).

Perencanaan pembangunan lima tahun pada tingkat provinsi Sumatera Barat telah disusun dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2010-2015. RPJMD tersebut berisikan 10 prioritas  pembangunan daerah jangka menengah, salah satunya adalah pengembangan pertanian berbasis kawasan dan komoditi unggulan, dan percepatan penurunan tingkat kemiskinan. Gubernur Sumatera Barat sudah mencanangkan Gerakan Terpadu Pensejahteraan Petani (GPP) dan bantuan satu sapi untuk satu keluarga petani (SPSS) (Bappeda, 2009).  Program tersebut meruapan factor pendukung yang kuat menuju pengembangan system usahatani terpadu di Sumatera Barat.

Penelitian ini bertujuan : (i) Mengidentifikasi potensi dan kendala pengembangan sistem sahatani terpadu dari aspek teknis, ekonomi dan sosial;  (ii)  Merumuskan strategi kebijakan mendukung pengembangan sistem usahatani terpadu ke depan.

METODOLOGI

Lokasi pengkajian adalah Kabupaten Agam dengan memilih lokasi contoh yaotu Kecamatan IV Angkat dan Kecamatan Baso. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan April sampai dengan November tahun 2011.  Metode pengkajian dilakukan secara bertahap: (a) Desk Study; (b) Survai petani dan PRA/FGD (Irawan, 2006; Driyamedia, 1996;  Badan Litbangtan, 1999).

Desk study bertujuan untuk  mengkompilasi data sekunder tentang potensi biofisik, luas areal tanam, populasi ternak, kelembagaan, dan aspek sosial. Disamping itu juga menghimpun hasil-hasil penelitian yang relevan dan teknologi yang telah dihasilkan mendukung pengembangan sistem usahatani terpadu. Parameter utama dari petani contoh diantaranya data input-output usahatani, penguasaan sumberdaya pertanian, skala usaha, keragaman sistem usahatani, hasil, pendapatan, status teknologi dan kendala yang dihadapi. Pengumpulan data dilakukan melalaui wawancara dengan petani dan menggunakan kuessioner. Pengambilan petani contoh dilakukan secara acak sederhana berjumlah 60 orang.  Analisis data dilakukan secara deskriptif, tabulasi (%, nisbah, rata-rata), analisa usahatani (Sukartawi, 2002) dan analisa SWOT (Badan Litbang Pertanian, 2000).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1. Potensi sumberdaya lahan

 

Rata-rata pengusaan lahan dan usaha  pertanian, ternak dan ikan relatif sempit. Rata-rata luas garapan padi sawah 0,32 ha/KK dengan variasi 0,30-0,40 ha/KK. Penguasaan lahan kering juga relative sempit dibanding lahan sawah. Oleh karena itu, pengembangan system usahatani terpadu menjadi keharusan untuk dikembangkan. Ada potensi komonen usaha mendukung system usahatani terpadu yaitu sebagian besar petani sudah meingusahakan ternak 1-3 ekor per keluarga. Bahkan sebagian kecil petani sudah mempunyai kolam ikan (Tabel 1).

Sebagian besar irigasi persawahan masih terbatas dengan tipe pengairan desa dan sederhana. Karena itu untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sawah dapat dilakukan dengan pengaturan polatanam antara padi dengan palawija/sayuran setelah padi, sesuai dengan pola ketersediaan air pengairan dan pola curah hujan setempat. Pengaturan polatanam tanaman pangan di lahan sawah merupakan srategi peningkatan indeks pertanaman (IP) guna mampu meningkaktan pendapatan petani. Diharapkan petani tidak hanya tergantung pada padi sawah, akan tetapi teknologi cukup tersedia untuk mengusahakan sawah selain dengan padi di luar musim tanam padi seperti penanaman jagung atau ubijalar dan kacang tanah setelah padi sawah. Perbaikan polatanam lahan sawah tersebut sekaligus mendukung pengembangan system usahatani terpadu.

Tabel 1. Rata-rata penguasaan sumberdaya lahan dan jumlah pemilikan usaha ekonomi lainnya pada dua lokasi contoh di Kabupaten Agam, Sumatera Barat , 2011

Sumberdaya lahan

IV Angkat

Baso

Rata-rata

-    Padi sawah  (ha)

0,40

0,30

0,32

-    Lahan kering (ha)

0,25

0,30

0,27

-    Ternak sapi (ekor)

1,35

3,00

2,00

-    Ikan (m2)

20

30

24

  1. 2. Potensi usaha pertanian

Usaha pertanian utama adalah padi sawah, palawija adalah jagung dan ubi jalar.  Usaha pertanian tersebut merupakan potensi dalam pengembangan sitem usahatani terpadu, dimana limbah tanaman tersebut dapat dijadikan pakan bagi ternak. Produksi  padi sawah di Kecamatan IV Angkat 15.020 ton, dan di Kecamatan Baso 19.936 ton mampu memberikan limbah setara dengan jumlah produksi gabah gtersebut. Begitu juga limbah dari tanaman jagung yang jumlahnya cukup besar (Tabel 2). Sebagian petani sesuai kebiasaan memanen jagung muda, dan sekaligus batang dan daun jagung dapat dijadikan pakan ternak.

Tabel 2.  Luas tanam dan produksi beberapa tanaman potensial mendukung sistem usahatani   terpadu di Kabupaten Agam Agam, Sumatera Barat, 2010.

Komoditi

Luas tanam (ha)

Produksi (t)

Potensi limbah (t)

IV Angkat

Baso

IV Angkat

Baso

IV Angkat

Baso

-    Padi

2.791

2.650

15.020

19.936

15.020

19.936

-    Jagung

794

178

5.558

1.079

5.558

1.079

-   Ubijalar

559

206

15.736

7.603

7.868

8.802

Sumber: Kantor Penyuluhan Kecamatan, setiap kecamatan lokasi contoh, 2010

 

Jenis ternak yang dominan adalah ternak besar (sapi dan kerbau), dan unggas adalah ayam (buras/petelur dan pedaging).  Jumlah ternak sapi di Kecamatan IV Angkat 2.731 ekor dan Kecamatan Baso 3.053,0 ekor, dengan rata-rata pemilikan 2 ekor per petani (Tabel 3). Usaha ikan kolam sudah merakyat, hal ini karena ke dua lokasi jauh dari pantai sebagai sumber ikan laut. Sebagian besar kolam tersebut adalah kolam tanah hujan, kecuali kolam-kolam yang berada dipinggir persawahan dimana air pengairan cukup tersedia.

 

Tabel 3.  Potensi peternakan  pada dua lokasi contoh di Kabupaten  Agam, Sumatera Barat, 2010.

 

Komoditi

Jumlah ternak dan luas kolam ikan

IV Angkat

Baso

-    Sapi potong (ekor)

2.731

3.053

-    Kerbau (ekor)

2.588

698

-  Kambing (ekor)

910

1.298

-  Ayam buras (ekor)

13.581

67.523

-    Ayam petelur (ekor)

10.500

5.000

-  Itik (ekor)

3.002

10.752

-    Ikan (ha)

7

18

Sumber: Kantor Penyuluhan Kecamatan, setiap kecamatan lokasi contoh, 2010

  1. 3. Keragaman Sistem Usahatani

Sistem usahatani tingkat petani relatif beragam, namun ada beberapa yang dominan. Pada lahan sawah ada beberapa polatanam: (i) polatanam monokultur padi-padi, (ii) polatanam padi-palawija-padi; (iii) polatanam padi-sayuran.  Pada lahan kering sistem usahataninya adalah : (i) Sistem usahatani campuran (perkebunan + ternak, (ii) Tanaman perkebunan/palawija + ternak + ikan. Polatanam dominan di lahan sawah adalah padi-padi dan dilahan kering yaitu usahatani campuran+ternak (Tabel 4).

Tabel 4.  Keragaman sistem usahatani, jumlah petani penerap dan pendapatan, pada dua lokasi contoh di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 2011.

 

Jenis lahan

Luas garapan (ha)

Sistem Usahatani

Jumlah petani (%)

Pendapatan (Rp.000)

R/C

Lahan Sawah

0.32

1.  Padi-padi

2.  Padi-jagung-padi

3.  Padi-padi-ubi jalar

4.  Padi-cabe/terung

40,0

33,0

10,0

17,0

5.690

8.900

9.500

7.200

1,57

1,85

1,95

1,62

Lahan Kering

0,27

5.  Tanaman campuran

6.  Tanaman campuran+ 2 ekor sapi

7.  Tanaman campuran+ 2 ekor ternak+ 24 m2 kolam ikan

50,0

35,0

 

15,0

1.000

4.220

 

5.000

3,0

1,06

 

1,15

 

  1. 4. Analisis SWOT

 

Berbagai faktor pembatas ditingkat petani:  (i) penguasaan teknologi sistem usahatani terpadu masih lemah; (ii) Skala usaha pertanian, dan ternak masih kecil (budidaya tanaman seperti padi, jagung, ubi jalar dan  cabe, skala usaha 0,30-0,40 ha; ternak sapi 1-3 ekor, (iii) Terbatasnya modal untuk pengembangan usaha terutama ternak sapi. Untuk melihat peluang, potensi serta kendala dalam pengembangan sistem usahatani terpadu, dilakukan dengan menggunakan analisa SWOT.  Unit analisis adalah petani  dan kawasan dimana petani berada. Hasil identifikasi dan diskusi dengan petani (FGD) diperoleh informasi bahwa petani mempunyai sejumlah factor yang menjadi kekuatan (S) dalam mendukung penerapan sistem usahatani terpadu yaitu: (i) Petani berpengalaman beternak sapi dan unggas; (ii) Petani juga sudah memahami pakan yang baik untuk ternak; (iii) Petani sudah mengenal teknologi budidaya dan pengolahan limbah; (iv) Hijauan makanan ternak dan limbah tanaman seperti jerami padi, sisa tanaman jagung, dan limbah tanaman lainnya yang bisa dijadikan bahan pakan tersedia di tingkat petani atau di sekitar petani; (v) Tenaga kerja keluarga tersedia baik dari segi jumlah maupun jam kerja efektif; (vi) Petani umumnya tergabung dalam kelembagaan tani yang cukup aktif seperti kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Disamping ada kekuatan yang dimiliki petani, mereka juga punya kelemahan yang harus diperbaiki.  Kelemahan (W) tersebut di antaranya adalah: (i) Status kepemilikan ternak umumnya dalam bentuk bagi hasil (50:50). Dengan sistem bagi hasil demikian usaha ternak petani tidak berkemmbang, dan kebutuan uang mendesak seperti keperluan sekolah anak, sapi bagian petani selalu dijual dan jumlah penguasaan ternak selalu tetap 1-2 ekor milik mitra usaha; (ii) Modal petani sangat lemah untuk pengadaan sapi.  Hal inilah yang membuat petani terperangkap dalam sistem bagi hasil; (iii) Pengolahan limbah untuk pakan belum dilaksanakan secara maksimal, karena pemahaman tekologi masih rendah. (iv) Pemilikan Lahan terbatas (sawah <0,32 ha dan Lahan kering < 0,27 ha), mengakibatkan pendapatan petani dari sistem usahartani sekarang rendah.

Dari sisi faktor eksternal ada sejumlah peluang yang bisa diraih petani untuk meminimalkan kelemahan yang ada, dan ada pula tantangan yang dihadapi. Beberapa faktor eksternal yang memberikan peluang memaksimumkan pemanfaatan kekuatan yang ada dan mengurangi kelemahan yang dimiliki petani diantaranya adalah: (i) Infrastruktur dan akses ke luar daerah cukup baik. Potensi ini memberikan peluang bagi petani memasarkan produk pertaniannya tidak hanya tergantung pada pasar lokal, akan tetapi mudah menjangkau potensi pasar di luar seperti kota-kota dalam provinsi atau luar provinsi terutama Provinsi Riau; (ii) Kelembagaan penyuluhan cukup berperan. Petani harus proaktif untuk memanfaatkan penyuluh dalam memberikan bimbingan teknis pengembangan usahanya, termasuk mencarikan teknologi adaptif dalam upaya peningkatan produktivitas, mutu hasil dan efisiensi usaha; (iii)  Adanya program Pemda untuk piningkatan pendapatan yaitu : GPP (gerakan pensejahteraan petani) dan SPSS (satu petani satu sapi), merupakan  sebuah peluang yang bisa diraih petani untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya yang dimiliki.  Implementasi program GPP, SPSS sebenarnya sudah mengarah pada penerapaan sistem usahatani terpadu; (iv) Ditambah dengan adanya Dukungan perbankan: KUR, KUPS, dan LKM-A yang ada di setiap Nagari dengan dorongan Pemda diharapkan petani mampu memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut; (vi) Sejumlah teknologi adaptif tersedia mendukung pengembangan usaha petani.  Hal ini bukti dukungan lembaga Riset (Balitbang, Perguruan Tinggi) yang ada di Sumatera Barat: teknologi/alat pengolahan limbah, teknologi pembuatan pakan, dan teknik budidaya tanaman, teknologi varietas tersedia; (vii) Biaya sumber energy semakin mahal (BBM dan gas) dan energy terbarukan menjadi penting ke depan.

Tabel 5.  Matrik SWOT (penyusunan strategi alternatif) untuk peningkatan efektifitas penerapan

sistem usahatani terpadu

 

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Kekuatan (S)

-    Petani berpengalaman mengusahakan termak sapi

-    Petani sudah mengenal konsentrat untuk pakan ternak

-    Petani sudah mengenal teknologi pengolahan limbah untuk pupuk oraganik dan tahu manfaatnya,

-    HMT dan limbah tanaman  tersedia untuk pakan,

-    Tenaga kerja keluarga tersedia 2-3 org/KK,

 

Kelemahan (W)

-    Status kepemilikan ternak system bagi hasil,

-    Jumah pemilikan ternak rata-rata 2 ekor

-    Modal sendiri sangat lemah untuk pengadaan sapi,

-    Pengolahan limbah untuk pakan belum dilaksanakan secara maksimal,

-    Pemilikan Lahan terbatas (sawah <0,32 ha dan Lahan kering < 0,27 ha),

-    Biaya sumber energi semakin mahal (BBM dan gas)

Peluang (O)

- Infrastruktur dan akses ke luar daerah cukup baik

- Kelembagaan penyuluhan baik

-  Pasar tersedia,

- Program Pemda  pengembangan ternak : SPSS, GPP,

-  Dukungan perbankan: KUR, KUPS, LKM-A

- Dukungan lembaga Riset (Balitbang, PT): teknologi/alat pengolahan limbah tersedia,

- Biaya sumber energy semakin mahal (BBM dan gas)

Strategi SO

Dengan memanfaatkan dukungan program Pemda GPP dan SPSS, potensi penerapan sistem ushatani terpadu cukup besar di ke dua lokasi  dan dapat dijadikan model percontohan ke depan.

Strategi WO

Dukungan program Pemda GPP dan SPSS diikuti dengan pelatihan penerapan teknologi adaptif, akan merubah status kepemilikan ternak menjadi milik sendiri dan meningkatkan skala usaha guna memperbaiki pendapatan dan meningkatkan pangan.

Tantangan (T)

- Sistem bagi hasil terputus (pemilik menjual ternak)

- Semakin mahalnya pakan tambahan

- Pembinaan/bantuan pemerintah kurang tuntas, seperti untuk biogas dan pengolahan pupuk organik

Strategi ST

 

Memaksimalkan potensi yang dimiliki petani melalui peningkatan kapasitas SDM petani secara berkelanjutan guna mengurangi ke tergantungan dengan bantuan pihak luar

 

 

 

Strategi WT

 

Menjalin hubungan kemitraan  yang baik dengan pemodal (swasta) mengarah ke sistem saling menguntungkan.

 

Tantangan  yang dihadapi petani diluar kemampuannya adalah (i) Sistem bagi hasil terputus (pemilik menjual ternak), akibatnya petani akan kehilangan usaha.  Oleh karena itu keharmonisan antara petani dengan mitra (pemilik ternak sapi perlu dijaga dengan prinsip saling menguntungkan yang proporsional; (ii) Semakin mahalnya pakan tambahan merupakan tantangan bagi peternak sapi potong.

Oleh kartena itu tantangan ini perlu dieleminir dengan memanfaatkan peluang adanya Litbang yang ada di daerah untuk mampu menghasilkan teknologi pengolahan pakan yang murah, dan mudah membuatnya di tingkat petani; (iv) Pembinaan/bantuan pemerintah kurang tuntas, seperti untuk biogas dan pengolahan pupuk organik, salah satu faktor penyebab kurang dan bahkan tidak berkembang suatu teknologi yang dialihkan ke petani.  Untuk itu disarankan ke depan bahwa pendampingan teknologi semakin ditingkatkan, agar penerapan teknologi oleh petani dapat dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan kekuatan (S) dan kelemahan (W) internal petani dan peluang (O) serta tantangan (T) yang berada di luar petani (eksternal) dapat disusun strategi alternatif  agar  penerapan sistem usahatani terpadu menjadi efektif (Tabel 5).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.  Potensi pengembangan sistem usahatani terpadu di tingkat petani cukup besar ditunjukkan dengan keragaman sistem usahatani yang diterapkan petani di lapangan.  Akan tetapi sistem  integrasi belum dilaksanakan dengan baik, sehingga pendapatan petani relatif rendah.  Berbagai faktor pembatas ditingkat petani:  (i) penguasaan teknologi masih lemah; (ii) Skala usaha pertanian, ternak dan ikan masih kecil (budidaya tanaman seperti padi, jagung, ubi jalar dan cabe, skala usaha 0,30-0,40 ha/KK; ternak sapi 1-3 ekor, ayam 3000-5000 ekor, kolam ikan relatif sempit); (iii) Terbatasnya modal untuk pengembangan usaha terutama ternak sapi atau unggas.

2.  Secara teknis potensi lahan cukup mendukung pengembangan ternak sapi, bila pemanfaatan lahan dilakukan secara optimal untuk HMT dengan kualitas yang baik didukung dengan pemanfaatan potensi limbah yang ada.

3.  Status pemilikan ternak sapi dominan dalam bentuk bagi hasil.

4.  Dukungan faktor eksternal cukup baik seperti adanya program yang mengarah pada pengembangan ternak yang berpotesi mendukung penerapan sistem usahatani terpadu oleh petani, infrastruktur relatif baik sehingga akses ke luar lancar.

Saran

  1. Peningkatan kapasitas IPTEK petani dan penyuluh tentang teknologi pengolahan limbah guna percepatan pengembangan sistem usahatani terpadu.
  2. Optimasi pemanfaatan sumberdaya pertanian yang dimiliki petani (lahan dan tenaga kerja) dan penataan kombinasi komoditas menuju system usahatani terpadu yang optimal  dengan pendekatan LEISA atau tanpa limbah (zero  waste).
  3. Mengarahkan prioritas pembiayaan yang ada di Nagari seperti LKM-A, koperasi, KMN dan LKM lainnya untuk pegembangan ternak, serta mendorong pemanfaatan KUR, KUPS  oleh masyarakat tani/peternak.
  4. Meninjau kembali sistem kemitraan usaha, bagi hasil pemeliharaan  ternak sapi antara petani/peternak dengan mitra usaha  menuju sistem yang adil.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2000. Pemahaman analisis SWOT. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.  Jakarta

Badan Litbang Pertanian. 1999. Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta

Bappeda, 2009. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2010-2015 Sumatera Barat. Bappeda Provinsi Sumatera Barat.

Diwyanto, K. Bambang, RP. Dan Darwinsyah, L. 2001. Integrasi Tanaman Ternak Dalam Pengembangan Agribisnis Yang Berdaya Saing Berkelanjutan Dan Berkerakyatan. Disampaikan Pada Seminar Nasional teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Bogor.

Driyamedia.  1996. Berbuat bersama berperan setara. ”Acuan penerapan Participatory Rural Appraisal (PRA). Bandung.

Hamdani, M. 2008. Sistem Pertaninan Terpadu untuk peningkatan produktivitas lahan dan kesejahteraan petani. Makalah. Workshop Teknologi unutuk Masyarakat. Gedung KORPRI Serang-Banten, 24 Desember 008.

Irawan. B. 2006. Pelaksanaan PRA dan Rancang Bangun Agibisnis  Materi disampaikan pada Workshop Prima Tani di  Ciloto tanggal 19-22 September 2006. BBP2TP. Bogor.

Kariyasa, K. 2005. Sistem Integrasi Tanaman-Ternak dalam perspektif reorientasi kebijakan subsidi pupuk dan peningkatan pendapatan petani. Analisis Kebiajkan Pangan. Vol 3 No. 1, Maret 2005.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.  Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

Kusnadi, U. 2007. Inovasi Teknologi Peternakan Dalam Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak (SITT) Untuk Menunjang Swasembada Daging Tahun 2010. Orasi pengukuhan profesor riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Soekartawi. 2002.  Analisis Usahatani. Universitas Indonersia Press. Hal 85-87.