JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Notice: Undefined property: Joomla\CMS\Categories\CategoryNode::$introtext in /var/vhosts/sumbar/public/plugins/content/extravote/extravote.php on line 190

Karya Ilmiah Peneliti dan Penyuluh


Stabilitas ketahanan pangan nasional terganggu dan terancam akibat fluktuasi produksi beras/padi dari tahun ke tahun sehingga pemerintah bertekad untuk mempercepat upaya peningkatan produksi padi nasional dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Salah satu upaya adalah melalui program Peningkatan Produksi Beras

Nasional (P2BN) dengan target peningkatan produksi beras/padi > 5% setiap tahun. Salah satu strategi yang diterapkan dalam program P2BN adalah peningkatan produktivitas padi melalui penerapan inovasi teknologi padi. Khusus untuk inovasi teknologi padi yang mampu meningkatkan produksi, telah banyak ditemukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, diantaranya varietas unggul baru (VUB) yang sebagian telah dikembangkan oleh petani. Selain itu, juga telah dihasilkan dan dikembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah yang ternyata mampu meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi input produksi sehingga sangat berpeluang untuk meningkatkan pendapatan petani. Diharapkan inovasi teknologi padi ini akan mampu menopang program P2BN dalam rangka menunjang program ketahanan pangan.

PTT merupakan suatu pendekatan inovatif untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi sawah melalui perbaikan sistem/pendekatan berupa perakitan paket teknologi produksi padi sawah yang sinergis antar komponen-komponen teknologi budidaya, dilakukan secara partisipatif oleh petani, dan bersifat spesifik lokasi. Sistem PTT diawali dengan penerapan komponen-komponen teknologi budidaya dalam bentuk demonstrasi plot (demplot) dan uji coba paket teknologi. Selanjutnya, diikuti dengan implementasi PTT padi sawah dalam skala yang lebih luas. Kegiatan demplot dan uji coba bertujuan untuk melihat keragaan dan sekaligus mensosialisasikan penerapan sistem PTT padi sawah baik untuk petani maupun penyuluh dan pengambil kebijakan.

Berkaitan dengan hal di atas, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat yang merupakan unit kerja Badan Litbang Pertanian di daerah, mempunyai tugas untuk mempersiapkan perakitan komponen-komponen teknologi melalui pendekatan PTT spesifik lokasi dan melakukan pendampingan serta pengawalan dalam penerapan teknologi PTT di tingkat usahatani. Melalui Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP), BPTP Sumatera Barat telah melaksanakan kegiatan demplot dan uji coba PTT padi sawah pada lima lokasi P3TIP di Sumatera Barat, yaitu: Kabupaten Solok, Kabupaten Padang/Pariaman, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kabupaten Solok Selatan.

Komponen teknologi terpadu yang diperagakan dalam kegiatan demplot/uji coba tersebut berupa paket teknologi dengan pendekatan PTT padi sawah. Komponen teknologi yang telah terbukti berkontribusi dalam meningkatkan hasil padi sawah tersebut antara lain: (1) Penggunaan varietas unggul yang dianjurkan atau varietas yang bernilai ekonomi tinggi; (2) Penggunaan benih berkualitas (benih bersertifikat dengan mutu vigor benih tinggi); (3) Penggunaan pupuk berimbang spesifik lokasi (aplikasi pupuk N berdasarkan Bagan Warna Daun –BWD-, aplikasi pupuk P dan K berdasarkan status hara dari hasil analisis tanah); (4) Penggunaan bahan organik (pupuk kandang) atau pengembalian jerami padi ke lahan sawah sebagai sumber pupuk; (5) Pengelolaan bibit dan tanaman sehat, melalui pengaturan populasi tanaman dengan sistem tanam legowo atau tegel, penanaman bibit umur muda (15-18 hari setelah semai) dengan jumlah bibit 1-3 bibit per lubang tanam, pengaturan pengairan, dan pengendalian gulma; dan (6) Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu –PHT-. Berdasarkan komponen-komponen teknologi tersebut, diterapkan beberapa alternatif paket teknologi PTT padi sawah yang dibedakan sebagai berikut:
1. Paket Teknologi Model PTT-A, yaitu: umur bibit muda (15-18 hari), jumlah bibit 1-3 batang per rumpun, sistem tanam    legowo, pemupukan spesifik lokasi, dan pemberian bahan organik;
2. Paket Teknologi Model PTT-B, yaitu: umur bibit muda (15-18 hari), jumlah bibit 1 batang per rumpun, sistem tanam  legowo, pemupukan spesifik lokasi, dan pemberian bahan organik;
3. Paket Teknologi Model PTT-C, yaitu: umur bibit muda (15-18 hari), jumlah bibit 1-3 batang per rumpun, sistem tanam tegel, pemupukan spesifik lokasi, dan pemberian bahan organik; dan
4. Paket/Cara Petani, yaitu: umur bibit > 21 hari, jumlah bibit 5-8 batang per rumpun, sistem tanam dan pemupukan sesuai dengan cara petani di lokasi kegiatan.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan paket teknologi Model PTT padi sawah mampu memberikan hasil dan keuntungan yang lebih tinggi dibanding dengan penerapan teknologi Paket/Cara petani di Sumatera Barat. Penerapan paket teknologi Model PTT-A dapat meningkatkan hasil dan keuntungan dibanding Paket/Cara petani, berturut-turut sebesar: 28,9% dan 27,6% di Situjuh Banda Dalam (Kabupaten Lima Puluh Kota); 23,6% dan 34,1% di Lubuk Pandan (Kabupaten Padang Pariaman); 10,8% dan 15,4% di Talang (Kabupaten Solok); 20,0% dan 25,4% di Pakan Rabaa Tangah (Kabupaten Solok Selatan); serta 24,1% dan 33,9% di Pasar Baru (Kabupaten Pesisir Selatan). Sedangkan, penerapan paket teknologi Model PTT-B mampu meningkatkan hasil dan keuntungan dibanding Paket/Cara petani, berturut-turut sebesar: 19,4% dan 38,1% di Situjuh Banda Dalam (Kabupaten Lima Puluh Kota); 19,3% dan 28,6% di Lubuk Pandan (Kabupaten Padang Pariaman); 20,7% dan 27,8% di Talang (Kabupaten Solok); 17,1% dan 20,1% di Pakan Rabaa Tangah (Kabupaten Solok Selatan); serta 17,2% dan 19,2% di Pasar Baru (Kabupaten Pesisir Selatan). Sementara itu, penerapan paket teknologi Model PTT-C juga dapat meningkatkan hasil dan keuntungan dibanding Paket/Cara petani, berturut-turut sebesar: 18,0% dan 26,1% di Situjuh Banda Dalam (Kabupaten Lima Puluh Kota); 16,9% dan 23,4% di Lubuk Pandan (Kabupaten Padang Pariaman); 7,9% dan 11,4% di Talang (Kabupaten Solok); 15,7% dan 18,0% di Pakan Rabaa Tangah (Kabupaten Solok Selatan); serta 9,7% dan 9,8% di Pasar Baru (Kabupaten Pesisir Selatan).

Data di atas menyimpulkan bahwa di Kabupaten Lima Puluh Kota, peningkatan hasil dan keuntungan tertinggi berturut-turut pada paket teknologi Model PTT-A (28,9%) dan Model PTT-B (38,1%). Di Kabupaten Padang Pariaman, didapatkan pada paket teknologi Model PTT-A, berturut-turut 23,6% dan 34,1%. Di Kabupaten Solok, didapatkan pada paket teknologi Model PTT-B, berturut-turut 20,7% dan 27,8%. Di Kabupaten Solok Selatan, didapatkan pada paket teknologi Model PTT-A, berturut-turut 20,0% dan 25,4%. Sedangkan di Kabupaten Pesisir Selatan, juga didapatkan pada paket teknologi Model PTT-A, berturut-turut 24,1% dan 33,9%. Hal di atas membuktikan bahwa untuk meningkatkan hasil dan keuntungan harus menerapkan paket teknologi Model PTT padi sawah spesifik lokasi.

Agar keragaan paket teknologi Model PTT ini dapat diketahui dan diadopsi petani dan pengambil kebijakan, maka dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pada kelompok tani pelaksana demplot PTT, yaitu: Mitra Lestari di Kabupaten Lima Puluh Kota, Lapai Saiyo di Kabupaten Padang/Pariaman, Usaha Sepakat di Kabupaten Solok, Usaha Saiyo di Kabupaten Solok Selatan, dan Kayu Gadih Indah di Kabupaten Pesisir Selatan. Kegiatan tersebut berupa:
1. Sosialisasi kegiatan demplot dan uji coba serta penjelasan dan penetapan paket teknologi Model PTT yang dilakukan sebelum demplot dan uji coba dilaksanakan di lapangan pada seluruh kelompok tani pelaksana demplot;
2. Pelatihan tentang komponen/paket teknologi Model PTT. Kegiatan ini dilakukan mulai dari pengolahan tanah sampai panen dan prosesing hasil pada seluruh petani pelaksana demplot; dan Temu lapang dan sosialisasi hasil kegiatan demplot dan uji coba yang dilaksanakan saat panen di Pakan Rabaa Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) Kabupaten Solok Selatan. (Syahrial Abdullah)

Setiap daerah mengembangkan bermacam komoditas pertanian dengan luas yang beragam, ada yang dominan dan memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan serta kehidupan keluarga sehingga menjadi komoditas unggulan di daerah tersebut. Namun karena adanya beberapa masalah, komoditas tersebut kadang kurang memberikan kesejahteraan kepada masyarakat yang mengusahakannya. Untuk mengetahui apa masalah dan bagaimana pemecahannya, beberapa waktu lalu BPTP Sumatera Barat telah melakukan FSA (Farming System Analysis atau Analisis Sistem Usahatani) pada lima kabupaten pelaksana FEATI (Farmer Empowerment through Agriculture Technology and Information atau Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi Pertanian) di Sumatera Barat. Daerah FEATI tersebut adalah: Kabupaten Solok, Solok Selatan, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, dan Limapuluh Kota yang terdiri dari 190 nagari/desa. Pada masing-masing kabupaten diambil 3 nagari sebagai sampel, yaitu nagari yang dijadikan model dalam pelaksanaan FEATI.

Dari 15 nagari sasaran pelaksanaan FSA, semua nagari mengembangkan padi sawah sebagai komoditas unggulan. Berbagai masalah ditemui dalam usahatani padi sawah, antara lain: (1) Serangan hama dan penyakit, seperti tungro, blas, keong mas, kepinding tanah, dan tikus yang belum dapat dikendalikan oleh petani sehingga menjadi salah satu kendala dalam peningkatan produktivitas padi; (2) Benih adalah benih turunan yang diproduksi sendiri, umur bibit umumnya 20-30 hari dengan jumlah bibit 5-7 batang/rumpun; (3) Jarak tanam jarang dan tidak teratur; serta (4) Pupuk tidak berimbang yang disebabkan oleh langka dan tingginya harga pupuk. Sebagian petani masih membakar jerami dan belum banyak yang memanfaatkannya, baik sebagai kompos maupun sebagai pakan. Untuk mengatasi masalah tersebut dianjurkan melakukan pembinaan petani sebagai penangkar benih, penanaman bibit umur muda (umur < 21 hari setelah semai) dengan jumlah bibit 1-3 batang per rumpun, penerapan teknologi sistem tanam legowo (4:1 atau 2:1) untuk meningkatkan populasi tanaman dan penerapan teknologi PHT untuk pengendalian hama dan penyakit. Masalah langka dan tingginya harga pupuk dapat diatasi dengan mengembalikan jerami ke lahan setelah diolah menjadi kompos serta pemupukan sesuai kebutuhan tanaman (tepat waktu dan tepat takaran) dengan menggunakan alat ukur Bagan Warna Daun (BWD) untuk pemupukan N (Urea) dan pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah dengan menggunakan alat Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).

Cabe merupakan komoditas unggulan di Nagari Batang Lolo, Pekonina dan Pincuran Tujuh Kab. Solok Selatan; Koto Barapak dan Koto Salapan Hilir Kab. Pesisir Selatan; Paninggahan dan Talang Babungo Kab. Solok; serta Batu Balang dan Mungka Kab. Limapuluh Kota. Cabe termasuk salah satu komoditas sayuran yang bernilai ekonomis tinggi namun juga mempunyai resiko tinggi. Masalahnya adalah serangan virus kuning dan virus keriting serta harga yang sangat berfluktuasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani harus menerapkan teknologi budidaya cabe secara utuh mulai dari penggunaan varietas tahan, penanganan benih, pengerudungan persemaian, imunisasi bibit, penggunaan MPHP, pemupukan berimbang, sanitasi lingkungan, penanaman jagung dan tagetes sebagai pagar pembatas, tumpang sari dengan kubis, serta pengendalian menggunakan perangkap kuning, predator dan insektisida nabati. Sedangkan fuktuasi harga yang sangat tinggi dapat disiasati dengan mengatur jadwal tanam berdasarkan informasi kebutuhan pasar dan pengalaman turun naiknya harga.

Pisang banyak dikembangkan pada hampir semua daerah, namun yang dominan di Nagari Pekonina dan Pincuran Tujuh Kab. Solok Selatan; Nagari Kudu Ganting dan Gadur Kab. Padang Pariaman; Nagari Talang Babungo Kab. Solok dan Mungka Kab. Limapuluh Kota. Masalahnya adalah adanya serangan penyakit layu Fusarium yang hampir memusnahkan tanaman pisang petani. Untuk itu dianjurkan melakukan pencegahan dengan menggunakan pestisida nabati seperti perendaman bibit dengan Pseudomonas fluresense (PF) dan pemberian Trichoderma harzianum pada lubang tanam. Selain itu alat panen yang digunakan harus steril, sebelum dan sesudah digunakan direndam dalam larutan kaporit. Tanaman yang telah terserang harus dimusnahkan dengan jalan dibakar. Permasalahan lain adalah rendahnya harga jual buah pisang di tingkat petani. Dibutuhkan teknologi pengolahan pisang menjadi aneka jenis makanan olahan yang dapat memberikan nilai tambah, seperti: keripik pisang aneka rasa, pisang sale, dodol, dll.

Komoditas perkebunan yang menjadi unggulan pada beberapa daerah adalah kakao, karet dan cengkeh. Masalah yang ditemui pada tanaman kakao adalah sebagian petani masih menggunakan bibit sapuan, pemangkasan belum dilakukan secara benar bahkan ada petani yang tidak melakukan pemangkasan, pemupukan juga belum dilakukan, serta adanya serangan hama tupai, kepik pengisap buah (Helopeltis sp), hama penggerek buah kakao/PBK (Conopomorpha cramerella ), dan jamur. Fermentasi biji kakao juga belum dilakukan oleh semua petani. Petani kurang termotivasi untuk melakukan fermentasi karena perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao fermentasi dengan yang tidak fermentasi. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut dibutuhkan pembinaan penangkar bibit, teknologi pemangkasan, dan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi. Selain itu perlu dijalin kemitraan (contract farming) yang saling menguntungkan antara petani dengan pedagang/ekpsortir, sehingga adanya jaminan pasar dengan harga yang menguntungkan. Masalah hama PBK dapat diatasi dengan sanitasi buah, panen buah sering, pemangkasan bentuk, penggunaan insektisida golongan sintetik piretroid, penggunaan minyak serei wangi, penyelubungan buah ukuran 8-10 cm dengan kantong plastik, dan pengendalian secara hayati dengan menggunakan semut hitam. Hama Helopeltis juga dapat dikendalikan dengan minyak serei wangi. Hama tupai dapat dikendalikan dengan mengoleskan campuran daging buah durian dengan insektisida berbahan aktif carbofuran pada batang tanaman kakao.

Tanaman karet dikembangkan petani pada tiga nagari di Kab. Solok Selatan, yaitu Nagari Batang Lolo, Pekonina dan Pincuran Tujuh. Masalahnya adalah bibit karet yang digunakan masih bibit lokal, serangan jamur akar putih dan pemupukan yang belum optimal. Untuk itu perlu dilakukan introduksi bibit unggul, rekomendasi pemupukan dan pengendalian jamur akar putih (JAP) dengan konsep PHT.

Di sub sektor petenakan, sapi merupakan komoditas unggulan pada hampir semua nagari kecuali Nagari Kota Salapan Hilir Kab. Pesisir Selatan yang mengembangkan ayam buras. Nagari Gadur Kab. Padang Pariaman dan Nagari Mungka Kab. Limapuluh Kota mengembangkan ternak kambing. Usaha ternak sapi belum dilakukan secara intensif, pemberian pakan belum optimal karena ketidaktahuan petani akan komposisi ransum pakan ternak dan cara pemanfaatan pakan alternatif. Sistem pemeliharaan semi intensif, malam dikandangkan dan pada siang hari ditambatkan di padang pengembalaan. Pakan yang diberikan hanya hijauan yang berasal dari lahan-lahan di sekitarnya. Padahal sumber pakan alternatif cukup tersedia, seperti kulit buah kakao, jerami padi, batang jagung, batang pisang dan ampas tahu. Kalaupun ada petani yang telah menggunakan sumber pakan alternatif, namun komposisinya tidak tepat. Akibatnya pertumbuhan ternak sangat lamban dan masa pemeliharaan menjadi relatif lama, sehingga keuntungan yang diperoleh petani dari usaha ternak sapi masih rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pengenalan sumber pakan alternatif dan cara pemanfaatannya serta komposisi pakan (susunan ransum) yang sesuai untuk pertambahan berat ternak.

Sedangkan usaha ternak kambing telah dilakukan secara intensif, tetapi sama halnya dengan peternak sapi, peternak kambing juga belum mengetahui komposisi pakan (susunan ransum) kambing yang tepat yang sesuai dengan perkembangan ternak.

Sesuai dengan tujuan FSA yaitu untuk mendapatkan model-model sistem usahatani yang potensial untuk dikembangkan di suatu wilayah, maka sistem usahatani yang dianjurkan untuk dikembangkan pada nagari yang dijadikan sasaran pelaksanaan FSA (model dalam pelaksanaan FEATI) adalah sistem usahatani terpadu yaitu Integrasi Tanaman dan Ternak, dimana sisa tanaman seperti jerami atau kulit kakao dimanfaatkan sebagai kompos atau pakan ternak dan sebaliknya kotoran ternak dapat diolah untuk dijadikan pupuk bagi tanaman.


Indonesia sebagai negara agraris harus memperhatikan sumberdaya alam sebagai aset yang sangat berharga dan harus diperhatikan kelestariannya. Pada dekade terakhir, sumber daya alam tersebut menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin kuat. Alih fungsi lahan setiap tahun sering mengarah pada lahan pertanian yang produktif. Lahan yang telah dialih fungsikan berkisar antara 20.000-22.637 ha/tahun di Jawa dan 13.400-27.633 ha/tahun di Jawa dan Bali. Hal yang sama juga terjadi di tempat-tempat lain dengan porsi peruntukkan lahan yang berbeda.

Daerah Kabupaten Solok dan Kota Solok merupakan penghasil beras utama dan bermutu tinggi  dengan rasa nasi pera. Beras Solok dikenal masyarakat Sumatera Barat dan daerah tetangga seperti Propinsi Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Riau dan bahkan sampai ke ibukota negara Jakarta. Setra penghasil beras/padi di Kabupaten Solok dan Kota Solok pada tahun 2006 mencapai luas panen masing-masing 52.553 hektar dan 3.157 hektar dengan tingkat produktivitas rata-rata berturut-turut 4,7 t/ha dan 4,5 t/ha  Luas pertanaman varietas lokal pada tahun 2005 mencapai 4.325 ha.

ImagePasaman Barat merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pasaman sejak tahun 2005. Sebelum tahun 1990-an, daerah ini dulunya termasuk salah satu kawasan  yang dikenal sebagai sentra produksi pangan, khususnya padi sawah dan kedelai di Sumatera Barat.