JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Notice: Undefined property: Joomla\CMS\Categories\CategoryNode::$introtext in /var/vhosts/sumbar/public/plugins/content/extravote/extravote.php on line 190

Karya Ilmiah Peneliti dan Penyuluh

PENDAHULUAN

Jeruk merupakan salah satu komoditas buah-buahan penting di Indonesia. Di samping sebagai sumber vitamin dan mine-ral, jeruk mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Di Indonesia banyak daerah pengha-sil jeruk, seperti Pontianak, Garut, Indra-mayu dan Sumatera Barat. Amir (1990) me-laporkan bahwa produksi jeruk Indonesia menempati urutan kedua setelah pisang, yaitu 644.052 ton/tahun (BPS, 2000).
Bagi Sumatera Barat, jeruk merupakan salah satu komoditas unggulan, karena ta-naman ini relatif cepat menghasilkan dan dapat berkembang dengan baik (Buharman et al., 1997). Daerah penghasil jeruk di Su-matera Barat diantaranya Kabupaten Pa-saman, Agam, Solok, Pesisir Selatan, dan Padang Pariaman.
Pada musim produksi buah jeruk me-limpah, harga jatuh. Oleh karena itu perlu teknologi pengolahan buah jeruk dikem-bangkan. Ngakan et al. (1997) menyatakan bahwa pengolahan jeruk menjadi produk olahan masih terbatas, umumnya buah je-ruk diolah menjadi sirup dan sari buah (juice). Ganida et al. (2000) melaporkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi mutu sirup, diantaranya jenis dan dosis penstabil.
Jenis penstabil dalam pembuatan sirup jeruk yang banyak terdapat di pasar adalah carboxil methyl cellulose (CMC) yang bersi-fat kimiawi. Dalam jangka waktu lama pen-stabil kimiawi beresiko karena memberikan efek samping yang berbahaya bagi kese-hatan manusia. Di lain pihak, jenis pensta-bil alami masih terbatas, diantaranya yang mempunyai prospek untuk dikembangkan adalah karagenan dan pektin. Karagenan adalah penstabil yang bersumber dari rum-put laut (Indriani dan Sumiarsih, 2003), se-dangkan pektin bersumber dari tumbuh-tumbuhan seperti kulit buah jeruk, apel dan pepaya (Muhidin, 2001).
Fungsi penstabil dalam pembuatan si-rup adalah sebagai bahan pembuat emulsi, pengental, bahan pengisi, dan bahan pem-buat gel (Indriani dan Sumiarsih, 2003). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis penstabil pektin dan carboxil methyl cellulosa terhadap mu-tu sirup jeruk.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di Laborato-rium Teknologi pascapanen Balai Pengka-jian Teknologi Pertanian Sumatera Barat dari Desember 2004 sampai Februari 2005. Bahan yang digunakan adalah buah jeruk yang dibeli dari petani di Ketaping, Kabu-paten Padang Pariaman, dengan tingkat ke-matangan yang sama (kematangan opti-mal). Buah jeruk yang digunakan adalah yang berukuran kecil dengan diameter 11-14 mm. Buah jeruk tersebut diolah menjadi sirup dengan cara mengikuti diagram alir berikut (Gambar 1). Buah jeruk  Pencucian  Dibelah  Diperas  Sari jeruk kotor  Disaring • Asam sitrat  • Na Benzoat Sari jeruk bersih • Penstabil pektin  dan CMC Didihkan (700C/menit) • Gula  Pembotolan  Sterilisasi (15 menit)  Pendinginan  Tutup botol  Inkubasi  Sirup Gambar 1. Diagram alir pembuatan sirup jeruk (BPTP Sukarami, 2001). Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok dua faktor dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari: faktor A adalah jenis penstabil (A1 = kontrol, A2 = penstabil pec-tin, A3 = penstabil CMC, sedangkan faktor B adalah dosis penstabil (B1 = 0%, B2 = 0,5%, B3 = 1,0%, dan B4 = 1,5%). Pengamat-an dilakukan terhadap rendemen, vitamin C menggunakan metode titrasi, total asam menggunakan metode titrasi, total padatan terlarut (PTT) menggunakan brix hand re-fractometer, kadar gula menggunakan me-tode luff, dan uji organoleptik mengguna-kan metode Soekarto (1990).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Buah Jeruk Kandungan buah jeruk tertinggi adalah vitamin C (Tabel 1). Vitamin C ini berguna bagi tubuh untuk meningkatkan daya ta-han, menurunkan kadar kolesterol, dan se-bagai anti oxidan (Setright, 1993). Gaman dan Sherrington (1992) menyatakan bahwa vitamin C diperlukan untuk pembentukan semua jaringan tubuh. Oleh karena vitamin C tidak dapat disimpan di dalam tubuh, maka konsumsi yang teratur sangat diper-lukan. Produk olahan jeruk merupakan sa-lah satu sumber vitamin C yang potensial. Tabel 1. Komposisi kandungan buah jeruk. Komposisi Kandungan rata-rata Vitamin C (mg/100 g) 28,0 Total asam (%) 0,5 PTT (%) 8,10 Kadar gula (%) 19,3 Analisis Produk Olahan (Sirup) Jeruk Ada lima jenis analisis yang dilakukan terhadap sirup jeruk yang diperoleh dengan jenis dan dosis penstabil yang berbeda pa-da penelitian ini, yaitu: rendemen, vitamin C, total asam, total padatan terlarut, dan kadar gula. Hasil pengamatannya disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rendemen, vitamin C, total asam, total padatan terlarut (PTT), dan kadar gula sirup jeruk dengan jenis dan dosis penstabil berbeda. Perlakuan Rendemen Vitamin C (mg/100 g) Total asam (%) PTT (%) Kadar gula (%) Kontrol (tanpa penstabil) 40 25,0 1,35 5,3 18,8 Penstabil pectin (%): 0,5 53 a 24,5 a 0,91 a 4,8 a 16,35 a 1,0 63 b 21,0 a 0,80 b 5,1 ab 17,85 b 1,5 73 c 20,5 a 0,81 b 4,6 abc 16,90 ac Penstabil CMC (%): 0,5 57 a 24,0 a 0,78 bc 5,0 ab 16,90 ac 1,0 67 b 20,5 a 0,70 c 4,0 d 16,60 ac 1,5 75 c 21,0 a 0,70 c 4,2 dc 17,45 bc Angka-angka yang tidak diikuti huruf sama berbeda nyata berdasarkan DNMRT pada taraf nyata 5%. Catatan: 1 kg jeruk = 17 buah = + 500 ml sari. Setiap peningkatan 0,5% penstabil diperlukan air 150-200 ml untuk mengencerkannya. Pada Tabel 2 terlihat bahwa rendemen sirup jeruk dengan jenis dan dosis penstabil berbeda berkisar 40-75%. Rendemen ter-tinggi terdapat pada jenis penstabil CMC, namun tidak jauh berbeda dengan rende-men penstabil pektin (Tabel 2). Makin tinggi dosis penstabil, makin tinggi pula rendemen, baik pada pektin maupun CMC. Hal ini disebabkan karena se-tiap peningkatan 0,5% penstabil membu-tuhkan air 150-200 ml untuk pengenceran supaya penstabil berdifusi secara homogen dengan sirup. Kandungan vitamin C sirup jeruk dengan jenis dan dosis penstabil berbeda berkisar 20,5-25,0 mg/100 g sampel (Tabel 2). Kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol. Antara jenis pen-stabil tidak terlihat perbedaan kandungan vitamin C, namun ada kecenderungan ma-kin tinggi dosis penstabil semakin rendah kandungan vitamin C, baik pada penstabil pektin maupun CMC. Hal ini disebabkan ka-rena volume sirup bertambah dengan se-makin tinggi dosis penstabil, sehingga pada volume yang sama kandungan vitamin C-nya akan berkurang. Hasil pengamatan total asam sirup je-ruk dengan jenis dan dosis penstabil berbe-da berkisar 0,70-1,35%. Total asam pada perlakuan kontrol lebih tinggi dari total asam sirup yang menggunakan penstabil. Total asam sirup yang menggunakan pen-stabil pektin lebih tinggi daripada penstabil CMC (Tabel 2). Makin tinggi dosis pensta-bil, ada kecenderungan makin rendah total asam, baik pada penstabil pektin maupun CMC, sejalan dengan kandungan vitamin C. Winarno (1992) melaporkan bahwa ada ko-relasi antara total asam dengan vitamin C, makin tinggi total asam makin tinggi pula kandungan vitamin C pada buah jeruk asam. Total padatan terlarut (TPT) sirup jeruk dengan jenis dan dosis penstabil berbeda berkisar 4,0-5,2%. Terlihat perbedaan TPT dengan jenis penstabil berbeda, dan pen-stabil pektin menghasilkan TPT lebih tinggi dari CMC (Tabel 2). Makin tinggi dosis penstabil, ada kecen-derungan makin rendah TPT. Hal ini dise-babkan karena penambahan air untuk pengenceran penstabil dan penambahan volume penstabil itu sendiri. Sifat penstabil akan mengembang bila diberi air dan berdifusi secara homogen dengan sirup. Bi-la dibanding dengan perlakuan kontrol, TPT perlakuan kontrol adalah tertinggi, karena perlakuan ini tidak diberi penstabil dan air. Kadar gula sirup jeruk dengan jenis dan dosis penstabil berbeda berkisar 16,35-18,8% (Tabel 2). Penstabil pektin mengha-silkan kadar gula tertinggi, namun tidak jauh berbeda dengan kadar gula yang me-makai penstabil CMC. Perlakuan kontrol menghasilkan kadar gula tertinggi. Hal ini erat hubungannya dengan sifat penstabil dan penambahan air untuk pengencer pen-stabil. Uji Organoleptik Hasil uji organoleptik dengan jenis dan dosis penstabil berbeda disajikan pada Ta-bel 3. Warna sirup ABC lebih disukai panelis dibandingkan dengan sirup pada perlakuan kontrol dan dengan menggunakan pensta-bil, demikian juga halnya dengan aroma dan rasa. Namun demikian, penggunaan penstabil pektin dengan dosis 0,5-1,0% da-pat mendekati mutu organoleptik sirup ABC, baik warna, aroma, dan rasa maupun kekentalan. Penstabil pektin menghasilkan sirup dengan mutu organoleptik lebih baik dari CMC. Walaupun harga penstabil pektin lebih mahal dari CMC, penggunaan pensta-bil pektin perlu dikembangkan karena pektin merupakan penstabil alami sedang-kan CMC adalah penstabil kimia. Sunarnani dan Soedibyo (1991) mela-porkan bahwa penambahan pektin 0,25-0,50% ke dalam jem dari jeruk dapat men-jadikan rasanya lebih disukai panelis diban-dingkan dengan kontrol. Tingkat kekentalan sirup yang disukai panelis adalah sedang (agak kental). Ter-nyata sirup yang dihasilkan dengan meng-gunakan penstabil pektin 0,5% dan CMC 0,5% mempunyai kekentalan yang sedang dan tidak berbeda dengan kekentalan sirup ABC.
ANALISIS EKONOMI
Hasil analisis ekonomi produksi sirup je-ruk dengan jenis dan dosis penstabil ber-beda dapat dilihat pada Tabel 4. Dari Tabel 4 terlihat bahwa perkiraan keuntungan tertinggi diperoleh dari sirup jeruk menggunakan penstabil CMC 1,5% yaitu Rp.3.700,- untuk setiap botol. Hal ini disebabkan karena volume sirup yang diha-silkan lebih banyak. Secara keseluruhan, walaupun penggunaan penstabil CMC lebih menguntungkan dari pektin, tetapi mutu penggunaan pektin lebih baik. Disamping itu, pektin adalah penstabil alami yang ba-han bakunya dari tumbuh-tumbuhan, se-dangkan CMC adalah penstabil kimiawi. Tabel 3. Hasil pengamatan uji organoleptik sirup jeruk dengan jenis dan dosis penstabil berbeda. Perlakuan Skor Kekentalan Warna Aroma Rasa Kontrol (tanpa penstabil) 7,0 7,0 6,0 Kurang kental Penstabil pectin (%): 0,5 7,0 7,0 6,5 Agak kental 1,0 7,0 6,5 7,0 Agak kental 1,5 6,0 6,0 6,0 Kental Penstabil CMC (%): 0,5 7,0 6,6 6,0 Agak kental 1,0 7,0 6,0 6,0 Kental 1,5 6,0 6,0 6,0 Kental Sirup ABC 7,0 7,0 7,0 Agak kental Keterangan: 8 = sangat suka, 7 = suka, 6 = agak suka, dan 5 = tidak suka. Tabel 4. Analisis ekonomi usaha pengelohan buah jeruk menjadi sirup menggunakan berbagai takaran pektin dan CMC. Perlakuan Beli jeruk/ 3 kg ** (Rp.) Gula/ kg (Rp.) Pektin/ CMC (Rp.) Upah packing, bahan bakar, transpor, dll (Rp.) Total input (pembu-latan Rp.) Volume sirup (ml) Jumlah botol Harga jual* (Rp.) Perkiraan keuntungan (Rp.) Per botol (Rp.) Kontrol 4.500 5.000 0 3.000 12.500 2.100 3,3 23.000 10.500 3.180 Pectin 0,5 (7,5 g) 4.500 5.000 1.312,5 3.000 14.000 2.300 3,6 25.500 11.500 3.190 1,0 (15 g) 4.500 5.000 2.625,0 3.000 15.000 2.450 3,8 27.200 12.200 3.200 1,5 (22,5 g) 4.500 5.000 3.937,5 3.000 16.500 2.600 4,1 28.900 12.400 3.020 CMC 0,5 (7,5 g) 4.500 5.000 450 3.000 13.000 2.350 3,7 26.000 13.000 3.500 1,0 (15 g) 4.500 5.000 900 3.000 13.500 2.500 3,9 27.750 14.250 3.650 1,5 (22,5 g) 4.500 5.000 1.350 3.000 14.000 2.630 4,1 29.200 15.200 3.700 * Harga standar sirup ABC = Rp.7.000,-/botol (630 ml) 1 ml sirup ABC = Rp.11,1. 2100 ml sirup = 2100 x Rp.11,1 = 23.333 dibulatkan menjadi 23.000. ** 3 kg buah jeruk = 1500 ml sari. 2300 ml sirup = 2300 x Rp.11,1 = 25.530 dibulatkan menjadi 25.500, dan seterusnya.
KESIMPULAN
1. Penggunaan pektin 0,5% sebagai pen-stabil dalam pembuatan sirup jeruk memberikan mutu sirup yang tidak jauh berbeda dengan penggunaan penstabil Carboxil Methyl Cellulosa (CMC).
2. Walaupun secara ekonomis penggunaan CMC lebih menguntungkan, namun penggunaan penstabil pektin lebih di-anjurkan karena berasal dari tumbuh-tumbuhan (kulit jeruk, pepaya, dan apel). Ada kemungkinan efek samping CMC pada kesehatan bila dikonsumsi se-cara kontinyu dalam waktu yang lama, sedangkan penggunaan pektin tidak memberikan efek samping.(Azman)
PENDAHULUAN
Luas kawasan Air Dingin sebagai bagian dari Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok adalah 126,4 km2. Sebagian besar arealnya merupakan kawasan hutan dengan topografi berbukit dan bergelombang. Kawasan budidaya yang luasnya terbatas (1.772,4 ha), agar dapat memberikan hasil, pengelolaannya harus berwawasan konservasi. Jenis tanaman tahunan yang umum diusahakan petani saat ini adalah markisa, alpokad dan kopi, sedangkan tanaman semusimnya adalah sayuran (kentang, kubis, cabe, dan tomat). Dengan sistem tumpangsari, kombinasi antara tanaman tahunan dan tanaman semusim dapat dilakukan pada lahan yang sama secara bersamaan. Hadian et al. (2005) menyebutkan bahwa pengelolaan usahatani di kawasan ini masih relatif sederhana, menggunakan input rendah dan tanpa menghiraukan kaidah konservasi. Bersama tanaman lainnya, kopi sangat potensial untuk dikembangkan di kawasan ini.

Bawang merah termasuk komoditas sayuran utama di Sumatera Barat di samping cabai, kubis, dan kentang. Luas pertanaman bawang merah di propinsi ini pada tahun 2007 tercatat 2.134 ha dengan produksi 18.170 t (produktivitas 8,52 t/ha). Sebagian besar pertanaman bawang merah di Sumatera Barat berada pada daerah dataran tinggi, terutama di Kabupaten Solok. Akhir-akhir ini, akibat pertanaman yang terus menerus, bawang merah di dataran tinggi sering terserang hama Spodoptera exiqua dan pathogen xanthomonas axonopides pv.Allii yang menyebabkan penyakit hawar. Sebagian besar petani bawang merah masih mengandalkan pengunaan perstisida untuk mengendalikan hama dan penyakit ini.
Dalam upaya diversifikasi daerah penghasil bawang merah, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat mengusahakan perluasan pertanaman ke dataran rendah. Penggunaan varietas yang berdaya hasl tinggi dan adaptif terhadap kondisi lingkungan pertanaman (kesuburan tanah, tekanan hama dan penyakit) akan sagat menunjang keberhasilan upaya ini. Penanaman varietas yang toleran kondisi tanah dan tahan tekanan hama dan penyakit dapat mengurangi kebutuhan input eksternal dan menjamin keberlangsungan usahatan, sesuai dengan konsep LEISA (Low external input sustainable agriculture)
Pada tahun 2009, BPTP Sumbar melakukan pengkajian adaptasi varietas bawang merah dI lahan sawah dataran rendah Nagari Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman. Pengkajian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) tiga ulangan; sebagai perlakuan adalah 4 varietas unggul (Katumi, Sembrani, Bima, Maja yang berasal dari Balitsa Lembang) dan varietas lokal Alahan Panjang. Luas petak pengkajian untuk masing-masing varietas adalah 1,6 X 4 meter persegi, jarak tanam 20 X 20 cm, pemupukan Urea 120, ZA 300, TSP 150, KCL 100 Kg/ha + Pupuk kandang kotoran ayam 10 ton/ha.
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman, populasi hama utama, serangan hama dan penyakit, hasil, dan komponen hasil. Data dianalisis dengan menggunakan Analisa varian, yang diuji lanjut dengan Uji DMRT.
Hasil Pengujian
Serangan hama dan penyakit
Tidak terlihat serangan hama dan penyakit pada semua varietas yang diuji. Hal ini adalah karena tempat pengujian merupakan daerah yang sebelumnya tidak merupakan daerah pertanaman bawang merah, sehingga hama dan penyakitnya belum berkembang. Hasil ini menunjukkan perlunya pergilran daerah pertanaman bawang merah untuk mengurangi atau menghindari tekanan hama dan penyakit.
Pertumbuhan tanaman dan hasil
Secara umum terlihat bahwa varietas sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil bawang di dataran rendah, dari hasil pengkajian terlihat bahwa Varietas terbaik adalah Lokal Alahan Panjang dikuti oleh Katumi, Maja, Sembrani dan Bima (Tabel 1)
Tabel 1. Tinggi tanaman saat panen, jumlah tunas per tanaman, jumlah umbi per tanaman, bobot umbi kering per plot dan per hektar pada pengujian adaptasi varietas bawang merah di dataran rendah Sumatera Barat. Pakandangan, Padang Pariaman, 2009.
Varietas Tinggi
(cm)
Jumlah
tunas
Jumlah
umbi
Umbi kering
Per plot (kg)
Umbi kering Per ha (ton)
Katumi 34.30 b 7.87 ab 12.53 a 7,00 a 11,20 a
Sembrani 37.67 b 5.27 c 5.13 c 5,74 b 9,18 b
Bima 35.73 b 9.13 a 9.40 ab 6,25 b 10,00 b
Maja 39.73 a 5.77 bc 7.87 bc 7,05 ab 11, 28 ab
Lokal A.
Panjang
39.47 a 8.80 a 11.80 ab 7,55 a 12,08 a
KK (%) 6,1 7.35 17,19 12,6 12,85
Tinggi tanaman.
Tanaman tertinggi didapat pada varietas Maja dan lokal Alahan Panjang (39,47 dan 39,73 cm ), tanaman terendah didapat pada Varietas Katumi, tetapi tidak berbeda dengan Varietas Bima dan Sembrani.

Jumlah tunas
Pertumbuhan jumlah tunas juga dipengaruhi oleh Varietas yang diuji, tunas terbanyak didapat dari varietas Bima dan Lokal Alahan Panjang, sedangkan yang kecil didapat dari varietas Sembrani.
Jumlah Umbi
Jumlah umbi per rumpun juga dipengaruhi oleh varietas yang diuji, rata-rata umbi terbanyak di dapat dari varietas ; Katumi, lokal Alahan Panjang dan Bima (11,73, 11,23, dan 10,97 buah), sedangkan yang terendah didapat pada varietas Sembrani (5,1 buah) sedikitnya jumlah umbi pada varietas umbi Sembrani disebabkan pada varietas ini mempunyai ukuran umbi lebih besar.
Berat umbi kering
Berat umbi kering per plot juga dipengaruhi oleh varietas yang diuji, rata-rata umbi terberat didapat pada Varietas Lokal Alahan Panjang, Katumi dan Maja (7,55, 7,00 dan 7,05 kg/plot), sedangkan terendah didapat pada varietas Sembrani yaitu 5,68 kg/plot.
Hasil bawang merah didataran rendah dipengaruhi oleh varietas yang kita uji, varietas yang memberikan hasil tertinggi adalah; Lokal Alahan Panjang, Katumi, dan Maja (12,08, 11,28 dan 11,20 ton/ha), sedangkan yang terendah didapat pada varietas Bima dan Sembrani (10.0 dan 9,18 t/ha). Tingginya hasil varietas lokal Alahan Panjang di lokasi pengujian ini cukup menarik, mengingat varietas ini berasal dari daerah dataran tingggi. Pengembangan varietas ini untuk daerah dataran rendah cukup menjanjikan dan patut dipertimbangkan. (Len bahri, Khairul Zen, Djanifah Djamaan dan Aguswarman)

PENDAHULUAN

Pertanian organik merupakan suatu sis-tem pertanian tanpa bahan-bahan an-organik sintetis dengan tujuan menghasil-kan bahan pangan yang tidak terkontami-nasi dengan unsur-unsur kimia berbahaya, sehingga relatif aman untuk dikonsumsi dan lingkungan lestari. Pada saat ini, usaha pertanian organik murni belum dapat dilak-sanakan secara penuh. Oleh sebab itu di-perlukan penelitian yang mengkombinasi-kan pemakaian pupuk organik dan pupuk kimia secara terpadu untuk mendukung pengembangan sistem usahatani input ren-dah LEISA (Low External Input for Sus-tainable Agriculture). Sistem ini lebih rea-listis daripada pertanian organik, karena selain menggunakan input alami dan hayati masih diperbolehkan menggunakan input kimia buatan, seperti pupuk dan pestisida dalam jumlah terbatas selama produk yang dihasilkan aman dan sehat (Budianto, 2002). Dimyati (2002) menyatakan bahwa komoditas yang permintaannya tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun un-tuk diekspor, dapat dibudidayakan dengan sistem pertanian LEISA. Untuk komoditas kubis, bit, lobak, bawang merah, cabe dan kentang, sebagian input luar dapat diganti-kan dengan bahan alami mikroba berguna, bio-pestisida dan agensia hayati, asalkan produknya masih dikategorikan aman.
Produksi sayuran di Sumatera Barat cukup berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumen lokal dan untuk mengisi sebagian permintaan konsumen luar daerah. Jenis sayuran utama (kubis, cabe, kentang dan tomat) sebagian besar dihasilkan dari wila-yah dataran tinggi Kabupaten Solok, Kabu-paten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, dan Kota Padang Panjang. Pa-da tahun 2005, produksi kubis, cabe me-rah, kentang dan tomat di Sumatera Barat berturut-turut adalah 75.612 ton, 13.458 ton, 33.774 ton, dan 11.826 ton. Selain sa-yuran tersebut di atas juga telah berkem-bang secara komersial beberapa jenis sa-yuran lain, seperti: bawang merah, buncis, brocoli, wortel, salad, dan bawang daun yang diusahakan oleh petani di berbagai daerah (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar, 2004).
Tanaman sayuran tersebut di atas sela-ma ini dibudidayakan secara intensif dengan memakai input berlebihan, sehing-ga kurang ekonomis dan tidak kompetitif, terutama akibat fluktuasi harga yang tinggi dan harga agro input yang terus naik dari waktu ke waktu. Variasi harga sayuran di tingkat produsen di Sungai Puar Kabupaten Agam, misalnya, kubis 28,1%, cabe 39,4%, dan tomat 24,3% dengan harga rata-rata Rp. 1.106,-; Rp. 9.798,-; dan Rp. 2.740,- per kg.
Produk sayuran organik diminati konsu-men kelas menengah ke atas yang bersedia membayar lebih mahal karena lebih sehat dan aman. Apabila sebagian areal sayuran anorganik dapat dikonversi menjadi kawas-an sayuran organik, maka kompetisi pasar konvensional dapat dihindari, karena pang-sa pasar produk sayuran organik berbeda. Sayuran organik dapat diekspor ke Malaysia atau Singapura atau pasar swalayan di da-lam negeri.
Dalam jangka pendek, kemampuan pe-tani untuk mengubah sistem pertanian kon-vensional menjadi pertanian organik sulit dilakuan. Penyebabnya antara lain karena pertanian organik: (i) lingkungan produksi-nya harus bebas dari cemaran bahan kimia berbahaya (pupuk dan obat-obatan); (ii) hasil per satuan luas relatif rendah, sehing-ga pendapatan usahatani berkurang; (iii) belum ada insentif harga yang memadai se-bagai kompensasi diterapkannya pertanian organik; dan (iv) umumnya konsumen lokal belum berorientasi produk organik.
Beberapa konsepsi mendasar yang di-uraikan dalam tulisan ini dirangkum dari beberapa referensi yang relevan dengan kebijakan pengembangan sayuran organik, khususnya tentang teknologi yang dapat di-aplikasikan di lapangan. Dengan tersedia-nya dukungan informasi tentang pertanian organik dan teknologi yang dibutuhkan, maka program pengembangan sayuran or-ganik di Sumatera Barat diharapkan akan bisa diaktualisasikan.
PERTANIAN ORGANIK
Gaya hidup sehat dengan slogan back to nature telah menjadi pola hidup baru, meninggalkan pola hidup lama yang meng-gunakan bahan kimia seperti pupuk, pesti-sida kimia sintetis dan hormon tumbuh da-lam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan perta-nian organik. Pertanian organik adalah te-knik budidaya pertanian yang mengandal-kan bahan-bahan alami tanpa mengguna-kan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyedia-kan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan, yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak me-rusak lingkungan. Gaya hidup sehat demi-kian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsum-si (food safety attributes), kandungan nu-trisi tinggi (nutritional attributes), dan ra-mah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebab-kan permintaan akan produk pertanian or-ganik dunia meningkat pesat. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20%/ tahun. Oleh karena itu, pengembangan bu-didaya pertanian organik perlu diproritas-kan pada tanaman bernilai ekonomi tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domes-tik dan ekspor (Badan Litbang Pertanian, 2002).
Untuk melaksanakan pertanian organik, perlu adanya suatu acuan mulai dari tahap budidaya sampai diperolehnya produk yang sesuai ketentuan dan memenuhi persyarat-an sebagai produk pertanian organik (Wi-naryo, 2002). Prinsip pertanian organik yang perlu dipertimbangkan dalam meran-cang suatu kawasan atau teknologi adalah: (i) Lahan untuk budidaya organik harus be-bas dari pencemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida. Lahan dapat berupa lahan pertanian yang baru dibuka atau la-han pertanian intensif yang telah dikonver-si menjadi lahan pertanian organik. Lama-nya masa konversi tergantung pada sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida, dan jenis tanaman; (ii) Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetik atau genetically modified organism (GMO). Sebaiknya benih harus berasal dari kebun pertanian or-ganik; (iii) Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum; (iv) Menghindari penggu-naan pestisida kimia sintetis, pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, bio-pestisida, agen hayati, dan rotasi tanaman; (v) Menghin-dari penggunaan hormon tumbuh dan ba-han aditif sintetis pada pakan ternak dan secara tidak langsung pada pupuk kandang; dan (vi) Penanganan pascapanen dan peng-awetan bahan pangan menggunakan cara-cara alami (Badan Litbang Pertanian, 2005).
TEKNOLOGI PENDUKUNG PERTANIAN ORGANIK
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura dengan Balai Penelitian Sayur-an (Balitsa) Lembang dan beberapa BPTP sebagai UPT Badan Litbang Pertanian di daerah telah melakukan berbagai kegiatan penelitian/pengkajian untuk mendukung program pertanian organik sejalan dengan pencanganan pertanian organik 2010. Dim-yati (2002) menguraikan beberapa hasil pe-nelitian yang dapat dimanfaatkan dalam budidaya tanaman hortikultura, khususnya sayuran, yaitu:
1. Teknologi Budidaya LEISA
Teknologi ini merupakan cara pengelo-laan produksi tanaman yang menyeluruh dengan menggunakan input luar yang ren-dah, sehingga dapat menjamin produk yang bersih. Bahan agrokimia sintetis masih di-gunakan dalam jumlah yang terbatas, se-hingga tidak menimbulkan residu melebihi ambang batas yang diizinkan, tetapi belum memenuhi kriteria untuk disertifikasi se-bagai pertanian organik. Komponen tekno-logi LEISA terdiri dari: pengolahan tanah dalam, sanitasi, penggunaan mulsa plastik hitam perak, penggunaan pupuk kandang 30 t/ha dan NPK 1 t/ha, serta penggunaan pestisida bergilir antara agonal (biologis, nabati) dan insektisida sintetis.
2. Pembenah Tanah Hayati
Selain pupuk kandang yang merupakan bahan pembenah tanah, beberapa mikroba dapat berperan sebagai agensia yang dapat membantu peningkatan kesuburan tanah melalui fungsi-fungsi tertentu. Salah satu dari mikroba itu adalah cendawan mikoriza yang hidup di dalam atau di luar sistem perakaran. Fungsi utama dari cendawan adalah meningkatkan daya serap akar ta-naman terhadap hara. Beberapa jenis mi-kroba, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat mempercepat proses pelapuk-an bahan organik, sehingga dapat segera memperbaiki porsi bahan organik di dalam tanah dan segera mengurangi efek samping dari limbah pertanian.
3. Pestisida Hayati
Ada beberapa macam pestisida yang di-kembangkan dari senyawa beracun yang berasal dari bahan tanaman, binatang atau mikroba, namun yang paling sederhana adalah pestisida yang dibuat dari: (i) Ba-gian tertentu dari berbagai jenis tumbuh-an, misalnya agonal yang dibuat dari cam-puran perasan daun nimba, rimpang leng-kuas, dan serai wangi. Ekstrak daun Aglalia odorata dan biji sirsak juga dapat dijadi-kan insektisida berspektrum cukup luas; (ii) Garnulosis virus (GV), diketahui bersifat ra-cun perut yang dapat mengendalikan popu-lasi penggerek umbi kentang (Phytho-primaea operculella Zell). Virus tersebut telah dikemas dalam bentuk tepung dengan nama BiaRIV-1 yang efektif mengu-rangi kerusakan umbi dan menekan popu-lasi hama sampai 90%. Virus yang lain ada-lah Nuclear Polyhedrosis virus pada Spo-doptera exigua yang disingkat SeNPV dengan konsentrasi 4,8 x 1010 PIB/g dan dosis 1 kg/ha dapat menurunkan populasi ulat grayak dan mengurangi kerusakan daun pada bawang merah. Bahkan ulat gra-yak yang telah menunjukkan resistensi ter-hadap insektisida kimia tertentu masih dapat ditekan oleh SeNPV. SeNPV dikemas dengan nama BiaRIV-2 dan juga bersifat racun perut. Untuk pengendalian penyakit Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada cabe dan tomat dapat digunakan rantai RNA no-mor 5 yang berasosiasi dengan CMV terse-but. Bahan ini dikenal dengan nama CARNA-5 (CMV Associated RNA-5) dapat berfungsi membatasi perbanyakan CMV, se-hingga tingkat kerusakan yang ditimbulkan-nya tidak sampai merugikan. Cabe dan to-mat yang diberi perlakuan CARNA-5 mampu bertahan terhadap serangan CMV dan tetap memberikan hasil seperti tanaman yang sehat. CARNA-5 dikemas dengan nama BiaRIV-3. Bahan toksik yang menyerang sis-tem syaraf pada serangga dikeluarkan oleh jenis laba-laba tertentu; (iii) Bahan yang disebut sebagai novel venom toxic dapat diisolasi, dipurifikasi dan dilarutkan dalam zat pelarut oganik tertentu sebagai carrier untuk digunakan sebagai pestisida yang efektif untuk mengendalikan hama Heli-cobverva armigera pada tomat dan kubis.
BPTP NAD (2005) mendefenisikan bah-wa pestisida nabati adalah pestisida yang berbahan baku tanaman, relatif mudah di-buat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami, maka jenis pestisida ini bersi-fat mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat pukul dan lari (hit and run), artinya apabila diaplikasikan akan membu-nuh hama pada waktu itu dan setelah ha-manya terbunuh residunya cepat hilang. Cara kerja dari pestisida nabati dapat be-rupa pencegah makan (antifeedant), racun (biotoxin) atau sebagai penolak makan (repellent). Kebanyakan dari senyawa bio-toksin merupakan senyawa metabolit se-kunder spesies tanaman dari famili Anno-naceae (nenas, sirsak, buah nona, sarika-ya), Asteraceae (pyrethrum, wedusan), Canellaceae, Labiateae, Meliaceae (nimba, mindi), Piperaceae (Citurs spp), dan Rutaceae.
Bahan yang digunakan dalam pembuat-an pestisida nabati berasal dari beberapa bagian tumbuhan seperti daun, biji/buah, dan akar. Dalam aplikasinya dapat berupa serbuk atau larutan yang disemprotkan langsung ke tanaman. Beberapa tumbuhan yang telah dikenal dan dipakai sebagai ba-han baku pestisida nabati, antara lain: (1) Nimba (Azadiracha indica), ekstraknya ter-nyata memiliki daya racun terhadap hama kubis (Plutella xylostella) apabila diperla-kukan dengan cara olesan dan pencelupan. Selain itu juga dapat menekan laju proses penetasan telur dan mampu menekan in-fektifitas larva nematoda bintil akar (Meloidogyne spp), efektif untuk mengen-dalikan berbagai hama Phaedonia inclusa, Crocidolomia binotalis (hama kacang-kacangan), bahkan jamur Rhizoctonia sola-ni; (2) Lantana (Lantana camara), serbuk keringnya apabila ditaburkan merata di atas umbi kentang, ternyata mampu meno-lak kehadiran hama penggerek umbi (Phy-thoprimaeae operculella); (3) Buah nona (Annona reticulata), merupakan racun kon-tak yang dapat mengendalikan hama kubis (Plutella xylostella) dan ulat grayak (Spo-doptera litura); (4) Srikaya (Annona squamosa), merupakan racun kontak yang dapat mengendalikan wereng coklat (Nila-parvata lugens), nyamuk Aedes aegeypti, hama kubis, dan tikus sawah; (5) Sereh dan sereh wangi (Cymbopogon citratus dan C. nardus), dapat menekan perkembangan ku-tu daun jeruk, penggorok daun jeruk, ke-pik, lalat buah dan tungau; (6) Cengkeh (S. aromaticum), biotoksinnya mampu me-ngendalikan jamur Phytophthora capsici, P. palmivora, layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), penyakit layu (Fusarium oxysporum) dan jamur pada tanaman ken-tang (Rhizoctonia solani). Apabila pestisida tersebut di atas dapat digunakan secara praktis oleh petani, maka dampak negatif aplikasi pestisida sintetis dapat dihindari. Dalam 5 tahun terakhir Ballitro telah menghasilkan pula formula dan produk pestisida nabati dari tanaman piretrum, cengkeh (Mitol 25 EC dan Natpes), nimba, atraktan nabati, selasih (Ocimol) dan mela-leuca (Melanol). Sebagian di antara produk tersebut telah diadopsi oleh petani (Rizal et al., 2006).
4. Tanaman, Alat dan Bahan Perangkap Hama
Hama tertentu tertarik pada aroma atau warna tertentu. Beberapa jenis tanaman ternyata mengandung aroma yang dapat menarik dan menjadi inang yang baik bagi hama tertentu, sehingga bila ditanam bersamaan dengan tanaman budidaya dapat mengurangi serangan hama pada tanaman utama. Pagetes erecta dapat menarik hama Helicoverpa armigera dan Spodoptera litura yang menyerang cabe, tomat, bawang daun dan tanaman dari jenis kubis-kubisan dan dapat menjadi perangkap untuk Myzus persicae yang menyerang kentang, dan Brassica juncea dapat menjadi perangkap hama Crocidolomia dan Plutella pada kubis. Tanaman yang menolak hama antara lain bawang daun yang menolak Trips dan tomat menolak oviposisi Crocidolomia, keduanya adalah hama penting pada kubis.
Hama pengorok daun Lyriomiza huidobrensis yang menyerang berbagai jenis tanaman tertarik pada warna kuning. Fenomena ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan alat perangkap sebagai cara memonitor populasi hama tersebut dan bahkan mengurangi tingkat serangannya pada tanaman. Serangga jantan dari beberapa jenis hama tertarik oleh feromon atau bahan yang menyerupainya seperti methyl eugenol. Methyl eugenol dapat digunakan sebagai bahan penarik serangga jantan lalat buah. Khusus pengendalian Lyriomiza huidobrensis yang menjadi hama utama tanaman kentang, Komisi Teknologi Perta-nian Sumatera Barat telah merekomendasi-kan paket pengendaliannya melalui Surat Keputusan nomor: KP.160/1125/Kpts/98k tanggal 26 Oktober 1998. Teknis pengenda-lian yang direkomendasikan oleh BPTP Sumbar (2002) terdiri dari beberapa tahap-an, yaitu: (i) Menciptakan tanaman sehat dengan jalan menggunakan bibit sehat, pengolahan tanah, pemupukan dan pem-bumbunan yang baik, serta pemilihan wak-tu dan jarak tanam yang tepat; (ii) Sanitasi lahan, membersihkan lahan dari sisa ta-naman kentang, buncis, bawang merah, kubis serta inang utama seperti Biden pilosa, Ageratum conyzoides, Sonchus oleraceous, Physalis angulata, dan Gynora crepidiodes; (iii) Penggunaan perangkap; dan (iv) Penggunaan insektisida biologi seperti abamectin, cyosine, dan khlour-fluazuron, terutama bila populasi lalat mencapai ambang kendali (2 ekor larva/ helai daun).
5. Pupuk Hayati
Pupuk-pupuk hayati dikembangkan dengan memanfaatkan mikroorganisme yang hidup secara simbiotik maupun bebas (non-simbiotik). Kelompoknya adalah: (1) Penambat Nitrogen Simbiotik, memanfaat-kan mikroorganisme Rhizobium, Bradyrhi-zobium, Azorhizobium, Sinorhizobium, Mersorhizobium (sistem simbiosis legume), Anabaena azollae (simbiosis azolla) dan Frankia sp (simbiosis non legum); (2) Pe-nambat Nitrogen Non Simbiotik, antara lain Azotobacter, Azospirillum, Clostridium, Klebsiella, dan Ganggang biru-hijau (sistem hidup bebas); (3) Jamur Mikoriza, seperti Acaulospora, Entrophospora, Gigaspora, Glomus, Selerocystis, dan Scutellospora (sistem simbiosis berbagai endomikoriza tanaman); serta (4) Mikroorganisme Pela-rut Fosfat, antara lain: bakteri Bacillus, Pseudomonas, jamur Aspergillus, Peni-cillium, dan Aktinomiset Sterptomyces (sistem hidup bebas).
Beberapa jenis pupuk hayati yang telah dikembangkan adalah: pupuk mikroba multiguna Rhizo-plus, Biofosfat, dan Bioles-tari. Rhizo-plus dapat meningkatkan efi-siensi unsur hara N dan P pada tanaman kedelai, Biofosfat dapat meningkatkan ke-tersediaan unsur hara P, sedangkan Bioles-tari merupakan perbaikan dari Rhizo-plus. Pupuk hayati lainnya adalah Mikofosfat yang dapat meningkatkan serapan hara P pada tanah-tanah kahat P serta unsur hara Zn dan S. Pupuk ini juga dapat menghindari cekaman kekeringan dan meningkatkan ke-tahanan tanaman terhadap penyakit dalam tanah. Telah dikembangkan pula Bioaktiva-tor Perombak Limbah Pertanian (ORLATAN) yang bermanfaat sebagai pemicu proses dekomposisi limbah pertanian (Partohar-djono, 2002).
6. Pemanfaatan Trichoderma harzianum sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos jerami sudah direkomendasikan oleh BPTP Sumbar tahun 2000. Keunggulan-nya adalah: kompos sudah matang dalam waktu 3 minggu, bahan bersifat insitu, starter bisa diperbanyak oleh petani sen-diri, setiap ton kompos mengandung hara makro N 11%; P2O5 0,64%; K2O 7-9,9%; Ca 4,2%; Mg 0,52% serta hara mikro Cu 20 ppm, Zn 144 ppm, dan Mn 684 ppm.
Husnain et al. (2004) menyimpulkan bahwa sistem budidaya pertanian organik yang didukung oleh pemberian bahan orga-nik baik berupa kompos, pupuk organik maupun bahan organik segar dapat mem-perbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Perubahan sifat fisik dan kimia ta-nah terutama tekstur, pH, C-organik, N-to-tal, C/N, P tersedia, KTK, dan beberapa kation basa. Rata-rata nilai beberapa para-meter penting untuk menilai kesuburan ta-nah pada sistem pertanian organik adalah: pH (5,80-5,94), C-organik (2,30-3,43%), P Bray II (9-47 me/100 g), K-total (28,13-160,12 me/100 g), Ca-dd (8,25-18,43 me/ 100 g), dan Mg-dd (1,15-3,94 me/100 g), sedangkan pada sistem pertanian konven-sional (non organik) adalah: pH (5,18), C-organik (1,84%), P Bray II (5,33-29,15 me/ 100 g), K-total (20,11-100,14 me/100 g), Ca-dd (1,89-6,62 mg/100 g), dan Mg-dd (0,10-1,11 me/100 g). Kandungan mikroba tanah terdiri atas: Azotobacter, Actinomy-cetes, Rhizobium, dan Penicillium yang menunjukkan populasi lebih tinggi pada sistem pertanian organik dibanding pertanian konvensional.
KESIMPULAN
Produk sayuran yang dihasilkan di Su-matera Barat selama ini diusahakan secara intensif dengan memakai agro input kimia yang berlebihan, sehingga kurang ekonomis dan tidak kompetitif, terutama akibat fluktuasi harga yang relatif tinggi dan harga agro input yang cenderung semakin naik dari waktu ke waktu. Gaya hidup sehat dengan slogan back to nature telah menjadi pola hidup baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Dalam kondisi ini, konsumen menghendaki produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes), dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang aman bagi konsumen dan lingkungan lestari. Beberapa hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan dalam budidaya sayuran yang aman bagi konsumen dan ramah lingkungan adalah: (1) Teknologi budidaya LEISA; (2) Pembenah tanah hayati; (3) Pestisida hayati; (4) Tanaman, alat dan bahan perangkap; (5) Pupuk hayati; dan (6) Trichoderma harzianum sebagai dekomposer untuk pembuatan kompos jerami.(Buharman B dan Irmansyah Rusli)
Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya produksi padi, jagung, kedelai dan kacang tanah. Pada tahun 2010 produksi padi ditargetkan 65,1 juta ton atau meningkat 5%, produksi jagung 19.8 juta ton, dan produksi kedelai 1,1 juta ton dengan target swasembada pada tahun 2014.

Untuk mencapai peningkatan produktivitas padi, jagung, kedelai dan kacang tanah, Deptan melaksanakan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT), yaitu salah satu strategi yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan produksi padi, jagung, kedelai dan kacang tanah nasional.

Di Sumatera Barat kegiatan Sekolah Lapang (SL) padi sawah telah mulai dilaksanakan pada tahun 2008 dengan menggunakan teknologi PTS. Untuk tahun 2010 dilaksanakan SL-PTT yang terdiri dari SL-PTT padi sawah sebanyak 3.280 unit (82.000 ha) pada 17 kabupaten/kota, SL-PTT padi lahan kering sebanyak 400 unit (10.000 ha) pada 7 kabupaten, SL-PTT jagung hibrida sebanyak 138 unit (2.070 ha) dan kedelai sebanyak 100 unit (1.000 ha) masing-masing pada 5 kabupaten, dan SL-PTT kacang tanah sebanyak 400 unit (4.000 ha) dilaksanakan pada 6 kabupaten. Pengawalan teknologi pelaksanaan SL-PTT tersebut dilaksanakan oleh BPTP Sumatera Barat, mulai dari pra panen sampai pasca panen.

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. PTT dikembangkan berdasarkan pengalaman implementasi pada beberapa lokasi di Indonesia. Penerapan PTT padi sawah dengan menggunakan varietas unggul pada beberapa daerah dan tingkat usahatani telah menunjukkan terjadinya peningkatan produksi padi sebesar 37 % pada skala penelitian, 27 % pada skala pengkajian dan 16 % pada tingkat petani. Di Sumbar, ujicoba PTT padi sawah yang dilaksanakan sejak tahun 2001-2008 pada hampir semua daerah sentra produksi padi yaitu Kabupaten Solok, Padang Pariaman, Tanah Datar, Agam, Sijunjung, Limapuluh Kota, Solok Selatan, Pesisir Selatan dan Kota Padang telah memberikan peningkatan produksi yang tinggi, yaitu sebesar 9,8 – 56,6 %.

Prinsip utama penerapan PTT adalah: (1) Partisipatif, petani berperan aktif dalam pemilihan dan pengujian teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, serta meningkatkan kemampuan petani melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapangan (LL); (2) Spesifik Lokasi, memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial-budaya dan ekonomi petani setempat, (3) Terpadu, dalam implementasinya di lapangan, PTT mengintegrasikan sumberdaya tanaman, tanah, air, Organisasi Pengganggu Tanaman (OPT) dan iklim dengan baik dan terpadu untuk mendukung peningkatan produktivitas lahan dan tanaman sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani, (4) Sinergis, pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan keterkaitan antar komponen teknologi yang saling mendukung, dan (5) Dinamis, PTT bersifat dinamis karena selalu mengikuti perkembangan teknologi dan penerapannya disesuaikan dengan keinginan dan pilihan petani. Oleh karena itu, PTT selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan IPTEK serta kondisi sosial-ekonomi setempat.

SL-PTT adalah bentuk sekolah yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilakukan di lapangan. Hamparan sawah milik petani peserta program penerapan PTT disebut hamparan SL-PTT, sedangkan hamparan sawah tempat praktek sekolah lapang disebut Laboratorium Lapang (LL). Satu unit SL-PTT padi sawah dilaksanakan pada hamparan lahan sawah seluas 25 ha, 24 ha diantaranya untuk SL-PTT dan 1 ha untuk LL. Sekolah lapang seolah-olah menjadikan petani peserta sebagai murid dan pemandu lapang (PL I atau PL II) sebagai guru. Namun sebenarnya pada sekolah lapang tidak dibedakan antara guru dan murid, karena aspek kekeluargaan lebih diutamakan, sehingga antara “guru dan murid ” saling memberi pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman.

Dalam pelaksanaan SL-PTT, model dukungan Badan Litbang Pertanian yang dilakukan adalah dengan mensinergikan dan mengintegrasikan berbagai kegiatan Unit Kerja atau Unit Pelaksana Teknis (UK/UPT) yang mempunyai tupoksi penyediaan inovasi teknologi tanaman pangan dalam upaya peningkatan dan percepatan produktivitas padi, jagung, kedelai dan kacang tanah seperti: Puslitbangtan, BBSDL, BB Padi, BBP2TP, Balit Kabi, dan Balit Sereal.

BPTP Sumbar dalam pendampingan pelaksanaan SL-PTT di Sumatera Barat selain melakukan pengawalan teknologi, juga melaksanakan demplot pada setiap lokasi Laboratorium Lapangan SL-PTT. Pada tahun 2010 akan dilaksanakan 1.920 unit demplot varietas unggul padi sawah inbrida pada 16 kabupaten/kota, 80 unit demplot varietas unggul jagung hibrida pada 5 kabupaten, 60 unit demplot varietas unggul kedelai pada 5 kabupaten dan 120 unit demplot varietas unggul kacang tanah pada 6 kabupaten. Setiap unit demplot PTT padi sawah inbrida dilaksanakan pada luasan 0,25 ha dengan menguji 4 varietas unggul nasional dan unggul lokal sesuai dengan keinginan dari Pemda kabupaten/kota. Untuk PTT jagung setiap unitnya dilaksanakan dengan luasan 0,2 ha dengan menguji 3 varietas jagung hibrida, PTT kedelai dilaksanakan pada luasan 0,1 ha dengan menguji 3 varietas unggul kedelai serta untuk kacang tanah dilaksanakan dengan luasan 0,1 ha dengan menguji 3 varietas unggul nasional serta varietas lokal Sumbar.

Tugas BPTP Sumatera Barat dalam pendampingan SL-PTT adalah: (1) Melaksanakan sosialisasi dan koordinasi kegiatan SL-PTT dengan Dinas terkait dan Pemda kabupaten/kota; (2) Mendistribusikan benih ke lokasi SL-PTT untuk demplot di lokasi LL sesuai musim tanam setempat; (3) Melakukan pengawalan dan pengamatan pada kegiatan demplot uji varietas pada LL dan IP 400 serta melaporkan perkembangannya ke BBP2TP; (4) Menyiapkan, mencetak, mendistribusikan materi pelatihan yang berupa bahan cetakan kepada seluruh BPP, Penyuluh Pendamping dan Gapoktan di lokasi SLPTT; (5) Melakukan pelatihan internal tenaga pendamping (peneliti, penyuluh, teknisi, dan tenaga lain yang direkrut oleh BPTP Sumatera Barat); (6) Menjadi nara sumber dalam setiap pertemuan kelompok SL, termasuk di dalamnya melakukan pelatihan PTT.

Untuk melaksanakan kegiatan pendampingan SLPTT tersebut maka strategi yang akan dijalankan BPTP Sumbar adalah: (1) Membangun sinergisme dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota, Bakorluh Provinsi dan Bapelluh Kabupaten/Kota, KCD/BPP di tingkat kecamatan untuk menggerakkan PPL/THL, (2) Membentuk LO (Liason Office) di tiap Kabupaten/Kota dan menunjuk peneliti/penyuluh BPTP Sumbar sebagai tenaga LO dengan POSKO di Kantor Dinas Pertanian atau Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota, (3) Membentuk Tim Pelaksana SLPTT dan POSKO di BPTP Sumatera Barat, serta (4) Mengintegrasikan pelaksanaan kegiatan PUAP dan FEATI dengan SL-PTT. Adapun tugas LO antara lain: (1) Melakukan koordinasi dengan Pemda dalam pelaksanaan SL-PTT (CP/CL, KKP, Waktu Tanam, dll); (2) Melakukan introduksi inovasi teknologi ke GAPOKTAN dalam penyusunan RUB berdasarkan potensi analisis wilayah; (2) Berkoordinasi secara berkelanjutan dengan PMT, PPL, PHP dan GAPOKTAN dalam pelaksanaan demplot; (3) Mendistribusikan materi diseminasi untuk BPP, GAPOKTAN, dan lainnya; (4) Sebagai narasumber inovasi teknologi dan inovasi lainnya sesuai yang dibutuhkan oleh GAPOKTAN; (5) Mengkoordinir semua kegiatan lapangan pelaksanaan SL-PTT di kabupaten/kota bersangkutan; (6) Mencatat dan melaporkan semua aktifitas demplot di LL dan atau lokasi SL-PTT; (6) Di dalam pelaksanaan tugas LO dibantu oleh beberapa orang peneliti/penyuluh BPTP, PPL dan PMT di lokasi demplot. Sedangkan tugas Tim Pelaksana SL-PTT adalah: (1) Merancang, merencanakan, mengarahkan dan melaksanakan pengendalian dalam pelaksanaan SL-PTT; (2) Menyusun petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan SL-PTT spesifik lokasi; (3) Melakukan sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan SL-PTT dengan Dinas terkait tingkat provinsi dan kabupaten/kota; (4) Membantu mekanisme distribusi benih dari BB Padi/Balit lingkup Puslitbangtan ke lokasi pelaksanaan SL-PTT. Suksesnya pelaksanaan SL-PTT yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan yang sekaligus juga meningkatkan pendapatan petani, sangat tergantung pada dukungan semua pihak, termasuk pemangku kepentingan baik di hulu, onfarm, maupun hilir, serta pelaksanaan yang terkoordinasi secara sinkron dan sinergis di setiap tingkat. (Nusyirwan Hasan dan Rifda Roswita)