JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Notice: Undefined property: Joomla\CMS\Categories\CategoryNode::$introtext in /var/vhosts/sumbar/public/plugins/content/extravote/extravote.php on line 190

Karya Ilmiah Peneliti dan Penyuluh

Produksi cabai merah di Indonesia masih rendah. Rata-rata produktivitas nasio-nal hanya 6,7 t/ha (Sumarni dan Muharam, 2005), sedangkan di Sumatera Barat rata-ratanya hanya 4,56 t/ha, jauh lebih rendah dari potensi hasil yang dapat dicapai yaitu 12-20 t/ha apabila tanaman cabai dipeliha-ra secara intensif (Duriat, 2004). Salah satu faktor penyebab rendahnya produksi cabai adalah penerapan teknologi budidaya yang kurang tepat sehingga pertumbuhan tanam-an tidak optimal serta tingginya serangan hama dan penyakit.(selengkapnya..)

Markisa adalah salah satu komoditas buah unggulan Sumatera Barat se-lain jeruk, pepaya dan pisang, khususnya di Kabupaten Solok. Produksi markisa di Kabupaten Solok pada tahun 2003 ada-lah 30.951 ton dan mengalami pening-katan tahun 2004 menjadi 102.110 ton per tahun (Bappeda Kab. Solok, 2004). Ada tiga kecamatan yang menjadi sentra produksi markisa di Kabupaten Solok yai-tu Kecamatan Lembah Gumanti, Lem-bang Jaya, dan Gunung Talang. Menurut data Balai Pengkajian Teknologi Perta-nian Sumatera Barat, luas areal tanaman markisa saat ini diperkirakan sudah me-lebihi 4000 hektar. (selengkapnya)

PENDAHULUAN
Produksi komoditas sayuran di Sumatera Barat masih tegolong rendah. Pada ta-hun 2003, produksi cabai di Sumatera Barat adalah 39.731 ton, kentang 24.126 ton, ba-wang merah 12.757 ton, tomat 14.481 ton, dan kubis 16.251 ton dengan produktivitas masing-masing 5,14; 16,92; 7,89; 7,80; dan 32,67 t/ha (Bappeda Sumbar, 2003). Ren-dahnya produksi komoditas sayuran ini di-sebabkan penggunaan bibit bermutu ren-dah, pemupukan yang tidak tepat takaran dan waktu pemberian, serta tingginya se-rangan hama dan penyakit (Nurdin et al., 1997). Keadaan ini jelas terlihat pada usa-hatani kentang di daerah sentra produksi Kabupaten Solok dan Kabupaten Agam.
Penggunaan pupuk yang tidak tepat dan cenderung melebihi dosis anjuran menye-babkan biaya produksi meningkat dan keun-tungan yang diperoleh petani relatif rendah dan bahkan kadang-kadang tidak memberi-kan keuntungan. Sementara itu, pengguna-an pestisida kimia untuk pengendalian ha-ma dan penyakit sayuran oleh petani di Su-matera Barat sangat intensif. Sebagai con-toh, dalam satu kali musim tanam jumlah pestisida kimia yang diaplikasikan pada ta-naman kentang sebanyak 48,7 l/ha, pada bawang merah 68,9 l/ha, dan pada kubis 46,2 l/ha (Ali et al., 1997). Hasil survai pa-da tahun 1999 menunjukkan bahwa di Ke-camatan Lembah Gumanti, Kabupaten So-lok ditemukan 12 merek dagang insektisida dan 8 merek dagang fungisida yang diguna-kan oleh petani kubis. Masing-masing peta-ni menggunakan pestisida lebih dari 10 kali dalam satu musim tanam (Rusli, 2002). Pe-makaian pestisida kimia yang berlebihan di-duga sebagai penyebab munculnya hama baru, seperti penggorok daun kentang (Li-riomyza huidobrensis), yang menyerang kentang dan buncis (Nurdin et al., 1997; Shepard et al., 1996).
Menyikapi permasalahan tersebut maka dilakukan pengkajian dengan tujuan untuk menguji paket teknologi introduksi dalam budidaya tanaman kentang yang mengguna-kan sarana produksi lebih rendah dari ke-biasaan petani setempat. Paket teknologi introduksi ini diharapkan dapat meningkat-kan produksi kentang yang akhirnya me-ningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
BAHAN DAN METODE
Pengkajian dilaksanakan di lahan kering dataran tinggi masing-masing seluas 0,5 ha pada tanah petani di Batagak, Kabupaten Agam dan di Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Di Batagak, kentang varietas Cingka-riang ditanam pada bulan Juni 2006 dan di Alahan Panjang varietas Granola ditanam pada bulan Juli 2006. Komponen teknologi introduksi dan teknologi petani yang diuji, baik di Batagak maupun di Alahan Panjang, disajikan pada Tabel 1.
Pengendalian hama dan penyakit dila-kukan menggunakan agensia hayati dan pestisida nabati sekali seminggu dimulai pada umur 15 hari setelah tanam (HST). Bi-la populasi atau serangan hama dan penya-kit di atas ambang kendali maka digunakan pestisida kimia.
Pengamatan dilakukan terhadap per-tumbuhan tinggi tanaman, populasi dan in-tensitas serangan hama dan penyakit uta-ma, serta hasil umbi. Tinggi tanaman di-amati mulai umur 15 HST, pengamatan ber-ikutnya dilakukan setiap 15 hari sampai 4 kali pengamatan (umur tanaman 60 HST). Pengamatan tinggi tanaman dilakukan ter-hadap tanaman sampel (sebanyak 20 ta-naman) yang diambil secara acak. Hasil umbi diamati pada waktu panen. Populasi hama utama diamati pada umur 15 HST dan pengamatan berikutnya pada umur 30, 45, dan 60 HST. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah hama utama pada ta-naman sampel (tanaman yang sama dengan sampel tinggi tanaman). Selanjutnya, in-tensitas serangan hama dan penyakit uta-ma diamati terhadap tanaman sampel se-tiap 15 hari, dimulai pada umur 15 HST. Pengamatan dilakukan dengan sistem skoring sebagai berikut:
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman
Pada kedua lokasi pengkajian, Batagak dan Alahan Panjang, pertumbuhan tanaman pada paket teknologi introduksi lebih baik daripada paket teknologi petani (Gambar 1). Pada setiap pengamatan, tinggi tanam-an pada paket teknologi introduksi selalu lebih tinggi daripada paket teknologi peta-ni. Pada akhir pengamatan, tinggi tanaman kentang varietas Cingkariang di Batagak rata-rata 46,24 cm, sedangkan di Alahan Panjang tinggi tanaman kentang varietas Granola hanya 26,17 cm.
Pada kedua lokasi pengkajian, penggan-tian pupuk anorganik dengan 50 kg arang sekam dan 10 ton pupuk kandang per hek-tar dapat memberikan pertumbuhan ta-naman kentang yang lebih baik. Arang se-kam memiliki berbagai unsur makro seperti N, P, K dan sejumlah unsur mikro seperti Si, Mg, Ca serta unsur lainnya yang diper-lukan oleh tanaman. Di samping itu, arang sekam berfungsi sebagai bahan pengikat air sehingga dapat menjaga kelembaban ta-nah. Hasil analisis Japanese Society for Examining Fertilizer and Fodders (Wurya-ningsih dan Darliah, 1994) menunjukkan bahwa arang sekam mengandung senyawa SiO2 sebanyak 52%, unsur C sebanyak 31% serta unsur lainnya seperti Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO, dan Cu. Selanjutnya, me-nurut Suyekti (1993) dalam Wuryaningsih dan Darliah (1994), arang sekam mengan-dung N 0,32%, P 0,15%, K 0,31%, Ca 0,96%, Fe 180 ppm, Mn 80,4 ppm, Zn 14,10 ppm, dan pH 6,8.
Pada paket teknologi introduksi, mulsa plastik digunakan sebagai penutup guludan, sehingga kelembaban tanah dapat diperta-hankan. Dengan kelembaban tanah yang cukup, serapan unsur hara oleh tanaman berlangsung baik, sehingga pertumbuhan tanaman lebih bagus. Menurut Gosselin dan Trudel dalam Rosliani et al. (1998), serap-an N dipengaruhi oleh suhu dan kelembab-an tanah.
Hama Utama
Hama utama yang ditemukan pada lo-kasi pengkajian adalah lalat korok daun (Li-riomyza sp.) dan ulat perusak daun (Tabel 2). Hama lalat korok daun hanya ditemui di Alahan Panjang pada tanaman berumur 30 dan 45 HST. Ulat perusak daun ditemui pa-da tanaman berumur 45 dan 60 HST di Alahan Panjang, tetapi pada perlakuan pa-ket teknologi petani ulat daun hanya dite-mukan pada umur 45 HST. Di Batagak, ha-ma utama adalah ulat perusak daun yang ditemukan pada tanaman berumur 45 HST pada perlakuan paket teknologi introduksi, sedangkan pada paket teknologi petani ti-dak ditemukan ulat perusak daun sampai tanaman berumur 60 HST.
1. Lalat korok daun Liriomyza sp.
Lalat korok daun hanya ditemukan pada pertanaman kentang di Alahan Panjang dan tidak ditemukan di Batagak. Populasinya maksimal pada pengamatan kedua (30 HST), setelah itu populasi menurun bahkan mencapai nol pada pengamatan keempat (60 HST) (Gambar 2). Populasi lalat korok daun pada pengamatan kedua 0,24 ekor/ rumpun pada tanaman yang mendapat per-lakukan paket teknologi introduksi, sedang-kan pada paket teknologi petani populasi lalat korok daun lebih rendah lagi yaitu 0,16 ekor/rumpun.
Padatan populasi lalat korok daun terli-hat lebih besar pada tanaman yang menda-pat perlakuan paket teknologi introduksi. Kenyataan ini diduga karena pertumbuhan tanaman lebih baik dibanding tanaman pa-da perlakuan paket teknologi petani. Me-nurut Aziz et al. (2001), pertumbuhan ta-naman yang lebih aktif terutama pertum-buhan daun akan meningkatkan populasi hama lalat korok daun.
2. Ulat daun
Pada kedua lokasi pengkajian, ulat daun ditemukan dengan kepadatan popula-si rendah yaitu 0,14-0,49 ekor/rumpun pa-da pengamatan ketiga (45 HST). Di Alahan Panjang populasi ulat daun mulai terlihat pada tanaman berumur 45-60 HST, masing-masing 0,14 ekor/rumpun dengan intensitas kerusakan masing-masing 1,28% dan 3,55% pada tanaman yang mendapat perlakuan paket teknologi introduksi. Pada paket tek-nologi petani, populasi ulat daun hanya ter-lihat pada pengamatan ketiga (45 HST) dengan kepadatan populasi 0,49 ekor/rum-pun serta intensitas kerusakan 1,64%; pa-datan populasi 0,14% pada pengamatan ke-empat (60 HST) (Gambar 3). Di Batagak, ulat perusak daun hanya ditemukan pada tanaman yang mendapat perlakuan paket teknologi introduksi pada pengamatan ke-tiga (45 HST) dengan padatan populasi 0,40 ekor/rumpun dan intensitas kerusakan ta-naman 0,43%.
Di Alahan Panjang, populasi ulat daun lebih tinggi pada tanaman yang mendapat perlakuan paket teknologi petani dibanding paket teknologi introduksi. Keadaan ini di-duga karena paket teknologi petani meng-gunakan pestisida kimia dengan frekuensi penyemprotan yang banyak (8-9 kali dalam satu musim tanam), sehingga pada waktu pengamatan terlihat populasi ulat rendah.
Penyakit Utama Di Batagak ditemukan penyakit lanas (Phytophtora infestan) pada tanaman ber-umur 45-60 HST dan penyakit virus (Tabel 3). Intensitas penyakit lanas tertinggi 100% ditemukan pada pengamatan keempat (60 HST) tanaman yang mendapat perlakuan paket teknologi petani. Sedangkan intensi-tas penyakit virus tertinggi (5,25%) didapati pada tanaman yang mendapat perlakuan paket teknologi introduksi. Gejala penyakit lanas dengan intensitas serangan 50,90% pada tanaman yang men-dapat perlakuan paket teknologi introduksi ditemukan pada pengamatan keempat di Alahan Panjang. Sedangkan di Batagak ge-jala penyakit ini terlihat mulai pengamatan ketiga (45 HST) dengan intensitas serangan tertinggi pada pengamatan keempat (60 HST) pada paket teknologi petani (Tabel 3 dan Gambar 4).
Pada kedua lokasi pengkajian terlihat serangan penyakit lanas pada tanaman yang telah berumur 45 HST sampai panen dengan intensitas yang cukup tinggi. Inten-sitas serangan penyakit lanas di Batagak lebih tinggi dibanding di Alahan Panjang, diduga karena perbedaan iklim dan varietas yang digunakan. Di Batagak pada waktu pengkajian sering turun hujan, cuaca ber-kabut, dan kelembaban udara tinggi. Menu-rut Semangun (1991), konidium jamur P. infestan, penyebab penyakit lanas, berke-cambah sangat dipengaruhi oleh kelembab-an. Lebih lagi, di Alahan Panjang dipakai varietas Granola yang lebih tahan terhadap penyakit dibanding varietas Cingkariang yang digunakan di Batagak.
Penyakit virus hanya ditemukan pada tanaman kentang varietas Cingkariang ber-umur 15-30 HST di Batagak, terutama pada tanaman yang mendapat perlakuan paket teknologi petani (Tabel 3). Akan tetapi, in-tensitas serangan tertinggi (5,25%) ditemu-kan pada tanaman dengan paket teknologi introduksi. Pada pengamatan ketiga (45 HST) dan keempat (60 HST), gejala serang-an virus tidak terlihat lagi (Tabel 3 dan Gambar 5).
Terjadinya gejala penyakit virus pada tanaman kentang varietas Cingkariang di Batagak disebabkan karena benih yang digunakan berasal dari petani. Virus diduga terbawa oleh umbi, sehingga gejala terlihat pada tanaman muda (15 HST dan 30 HST) dan hilang pada waktu tanaman sudah tua. Pada tanaman kentang secara umum banyak ditemukan penyakit virus seperti Vein banding, Mosaik laten (PVX), Mosaik lemas (LVS), Mosaik lunak (PVX), dan Mosaik menggulung (PVM), semuanya memperlihatkan gejala belang. Penyakit virus biasanya ditularkan oleh serangga vektor atau melalui sentuhan dari tanaman sakit ke tanaman sehat (Semangun, 1991). Di Alahan Panjang, gejala penyakit virus tidak ditemukan sama sekali, karena varietas yang digunakan adalah varietas Granola G3 dengan tingkat kesehatan dan kemurnian yang cukup baik. Di samping itu, Granola termasuk varietas kentang yang tahan terhadap penyakit virus mosaik.
Hasil Umbi
Tanaman kentang dengan paket teknologi introduksi menghasilkan produksi umbi yang lebih tinggi dibanding paket teknologi petani. Di Alahan Panjang, varietas Granola G3 menghasilkan umbi 9.574 kg/ha pada paket teknologi introduksi dan 8.690 kg/ha pada paket teknologi petani. Sedangkan di Batagak, kentang varietas Cingkariang menghasilkan umbi 8.770 kg/ha pada paket teknologi introduksi dan hanya 4.981 kg/ha pada paket teknologi petani (Gambar 6). Tingginya hasil umbi yang diperoleh dari paket teknologi introduksi disebabkan penggunaan arang sekam yang dapat mempertahankan kelembaban tanah sehingga meningkatkan penyerapan unsur hara terutama N dan tersedianya sejumlah unsur hara mikro yang memungkinkan pertumbuhan tanaman lebih baik.
Menurut Rosliani et al. (1998), pertumbuhan tanaman kentang yang baik akan memberikan hasil umbi yang baik pula. Gambar 6. Berat umbi kentang (kg/ha) dari lokasi pengkajian di Alahan Pan-jang (atas) dan Batagak (ba-wah), MT. 2006.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 1. Budidaya tanaman kentang dengan pa-ket teknologi introduksi memberikan pertumbuhan tanaman dan hasil umbi yang lebih baik daripada paket tekno-logi petani. Di Batagak, Kabupaten Agam, kentang varietas Cingkariang menghasilkan umbi 8.770 kg/ha pada paket teknologi introduksi, sedangkan dengan teknologi petani hanya meng-hasilkan umbi 4.981 kg/ha. Di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, kentang va-rietas Granola menghasilkan umbi 9.574 kg/ha pada paket teknologi introduksi dan 8.690 kg/ha pada paket teknologi petani.
2. Hama utama tanaman kentang yang di-temukan pada kedua lokasi pengkajian adalah lalat korok daun (Liriomyza sp.) dan ulat perusak daun. Lalat korok daun hanya ditemukan di Alahan Pan-jang dengan tingkat populasi rendah. Ulat perusak daun ditemukan pada ke-dua lokasi pengkajian. Intensitas keru-sakan tanaman oleh ulat perusak daun di Alahan Panjang mencapai 3,55%, sedangkan di Batagak hanya 0,43%.
3. Penyakit utama yang menyerang tanam-an kentang di kedua lokasi adalah penyakit lanas yang disebabkan oleh ja-mur Phytophtora infestan dan virus. Di Batagak, intensitas serangan penyakit lanas mencapai 77,95% pada paket tek-nologi introduksi dan bahkan pada pa-ket teknologi petani mencapai 100%. Di Alahan Panjang, intensitas serangan penyakit lanas 50,90% pada paket tek-nologi introduksi dan 23,89% pada paket teknologi petani. Penyakit virus hanya terdapat pada kentang varietas Cingka-riang di Batagak dengan intensitas keru-sakan hanya 5,25%.
Saran
Dari hasil pengkajian ini maka untuk budidaya tanaman kentang disarankan se-bagai berikut: 1. Untuk budidaya tanaman kentang di Alahan Panjang, Kabupaten Solok dan di Batagak, Kabupaten Agam disarankan memakai arang sekam sebanyak 100-200 kg/ha. 2. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kentang dapat menggunakan pestisida botani sebagai pengganti pes-tisida kimia, jika tingkat kerusakan dan populasi hama masih di bawah ambang kerusakan.(Irmansyah Rusli)

Markisa adalah salah satu komoditas buah unggulan Sumatera Barat se-lain jeruk, pepaya dan pisang, khususnya di Kabupaten Solok. Produksi markisa di Kabupaten Solok pada tahun 2003 ada-lah 30.951 ton dan mengalami pening-katan tahun 2004 menjadi 102.110 ton per tahun (Bappeda Kab. Solok, 2004). Ada tiga kecamatan yang menjadi sentra produksi markisa di Kabupaten Solok yai-tu Kecamatan Lembah Gumanti, Lem-bang Jaya, dan Gunung Talang. Menurut data Balai Pengkajian Teknologi Perta-nian Sumatera Barat, luas areal tanaman markisa saat ini diperkirakan sudah me-lebihi 4000 hektar.(selengkapnya)

PENDAHULUAN
Permintaan pasar terhadap buah jeruk semakin meningkat dari tahun ke ta-hun. Hal ini disebabkan karena meningkat-nya jumlah penduduk dan kesadaran ma-syarakat untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi tinggi, terutama di perkotaan (Tirtosoekotjo, 1990). Manusia dewasa dianjurkan mengkonsumsi 100 gram buah-buahan segar per hari untuk memenu-hi kebutuhan vitamin dan mineral (Hardian-syah dan Briawan, 1994). Jeruk merupakan salah satu sumber vitamin yang penting, karena kandungan vitamin C-nya yang cu-kup tinggi yaitu 31-50 mg per 100 g bagian buah jeruk dapat dimakan (Muhilal et al., 1993).
Jeruk lokal tidak kalah dibandingkan dengan jeruk impor dalam cita rasa mau-pun kandungan gizinya (Soedibyo, 1989). Akan tetapi penampilan jeruk impor lebih menarik dari jeruk lokal, dengan warna yang seragam yaitu kuning orange. Untuk memperoleh warna jeruk yang seragam perlu proses penguningan (degreening).
Sumatera Barat merupakan salah satu daerah sentra produksi jeruk di Indonesia. Buah jeruk dijumpai di beberapa daerah seperti jeruk Kacang di Kabupaten Solok, jeruk Kamang di Bukittinggi, jeruk Pasaman di Kabupaten Pasaman, jeruk Gunung Omeh di Limapuluh Kota, dan jeruk Keta-ping di Kabupaten Padang Pariaman.
Telah diperoleh hasil penelitian pengu-ningan (degreening) jeruk lokal di Sumate-ra Barat dengan warna kuning orange yang seragam. Akan tetapi, keseragaman warna-nya tidak bertahan lama, hanya 2 sampai 3 hari saja (Afdi, 2000). Kemudian warna ku-lit luar jeruk mulai berubah menjadi kuning kecoklatan dan akhirnya membusuk.
Perkembangan teknologi kemasan begi-tu pesat. Telah tersedia berbagai jenis ke-masan seperti plastik poly ethilen (PE), poly celonium (PC), poly venyl (PV), dan plastik wrap (wrapping plastic) (Afdi dan Azman, 2002). Fungsi kemasan di samping membuat buah mempunyai daya tarik dan melindungi buah dari kerusakan, juga da-pat memperpanjang masa simpan buah. Tujuan penelitian ini untuk menguji penga-ruh kemasan wrap dan poly ethilen terha-dap mutu jeruk pasca penguningan.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan dari Oktober 2004 sampai Februari 2005 di Laboratorium Teknologi Hasil Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Bahan yang di-gunakan adalah buah jeruk yang dibeli dari kebun petani di Ketaping, Kabupaten Pa-dang Pariaman, dengan tingkat kematangan yang sama (masak optimal), yang ditandai dengan kulit halus, licin, dan bercahaya. Kondisi demikian diperoleh pada umur pe-tik 28-36 minggu sejak bunga mekar. Jum-lah sampel yang digunakan 36 kg.
Setelah buah jeruk dipanen dilakukan proses penguningan (degreening) menggu-nakan gas acethylen sampai keseragaman warna tercapai, yaitu kuning orange. Sete-lah itu jeruk disimpan sesuai perlakuan.
Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok dua faktor. Faktor pertama ada-lah jenis kemasan, terdiri dari A1 = kontrol (tanpa kemasan), A2 = plastik wrap, dan A3 = plastik poly ethilen (PE). Faktor B adalah lama penyimpanan, terdiri dari B1 = 0 hari, B2 = 5 hari, B3 = 10 hari, dan B4 = 15 hari. Buah jeruk diletakkan di atas baki styro-foam, masing-masing baki diisi dengan 6 buah jeruk, dan dilakukan ulangan 3 kali.
Pengamatan dilakukan terhadap per-sentase kerusakan, susut bobot, dan vita-min C menggunakan metode titrasi, total asam menggunakan metode titrasi, total padatan terlarut (TPT) menggunakan Brix’s hamd refractometer, dan uji organoleptik menggunakan metode Soekarto (1990).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Fisik
Tingkat kerusakan dan susut bobot buah jeruk pasca penguningan dengan jenis ke-masan dan lama penyimpanan yang berbe-da tersaji pada Tabel 1.
Dari Tabel 1 terlihat bahwa tingkat ke-rusakan jeruk pasca penguningan dari ke-masan dan lama penyimpanan yang berbe-da berkisar 0-50%. Tingkat kerusakan te-rendah pada kemasan plastik wrap setelah 15 hari penyimpanan yaitu 4,16%. Hal ini disebabkan karena plastik wrap yang flek-sibel dan mudah dirancang sedemikian rupa mempunyai pori-pori yang sangat kecil un-tuk mengatur uap air dan respirasi buah (Tseng, 1994).
Makin lama buah jeruk pasca pengu-ningan disimpan, makin tinggi tingkat keru-sakannya, baik pada kontrol maupun pada kemasan. Hal ini disebabkan karena selama penyimpanan proses metabolisme terus berlangsung yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik dan komposisi.
Susut bobot buah jeruk pasca pengu-ningan dari kemasan dan lama penyimpan-an yang berbeda berkisar 0,15-12,03%. Su-sut bobot yang terendah terdapat pada ke-masan plastik wrap dan yang tertinggi ter-dapat pada perlakuan kontrol (tanpa ke-masan) (Tabel 1). Hal ini disebabkan kare-na penyimpanan pada kontrol (tanpa ke-masan) proses penguapan air dan respirasi berlangsung lebih cepat daripada yang di-simpan dalam kemasan. Keadaan demikian menyebabkan berat buah berkurang. Pan-tastico (1989) melaporkan bahwa buah yang disimpan dalam ruangan terbuka penguapan air buah dan respirasi tidak da-pat dihambat, sedangkan pada plastik PE hanya sebagian air yang dapat menguap.
Terlihat bahwa makin lama buah jeruk pasca penguningan disimpan, makin tinggi pengurangan berat buah (susut bobot), baik pada perlakuan kontrol maupun pada ke-masan. Hal ini disebabkan karena selama penyimpanan aktivitas metabolisme tetap berlangsung serta penguapan air dan respi-rasi tidak dapat dihambat. Maka makin la-ma buah jeruk disimpan makin banyak penguapan air, sehingga susut bobot makin tinggi.
Komposisi Kimia
Komposisi kimia buah jeruk pasca penguningan dengan jenis kemasan dan lama penyimpanan berbeda tersaji pada Tabel 2
. Pada Tabel 2 terlihat bahwa vitamin C buah jeruk pasca penguningan dari bebera-pa kemasan dan lama penyimpanan yang berbeda berkisar 20,50-28,00 mg/100 g bahan. Makin lama buah jeruk pasca penguningan disimpan, ada kecenderungan makin rendah kandungan vitamin C. Apandi (1984) melaporkan bahwa vitamin C akan menurun selama penyimpanan, baik disim-pan pada ruangan terbuka maupun dalam kemasan. Nilma (1995) menyatakan bahwa terjadi penurunan kandungan vitamin C je-ruk selama 4 hari penyimpanan dari 21 mg menjadi 16,7 mg/100 g berat bahan.
Total asam buah jeruk pasca pengu-ningan dari kemasan dan lama penyimpan-an yang berbeda berkisar 0,4-0,72% (Tabel 2). Kandungan total asam tertinggi terda-pat pada perlakuan kontrol (tanpa kemas-an) yaitu 0,61%. Hal ini disebabkan karena pada tanpa kemasan aktivitas metabolisme berlangsung lebih cepat dibanding dalam kemasan, karena cepatnya laju penguapan air dan respirasi dari buah.
Makin lama buah jeruk pasca pengu-ningan disimpan ada kecenderungan, makin tinggi total asam, baik pada perlakukan kontrol maupun pada kemasan plastik wrap dan plastik PE. Adinegoro (1998) melapor-kan bahwa selama penyimpanan buah ter-jadi perubahan karbohidrat menjadi gula selanjutnya menjadi asam.
Total padatan terlarut berkisar 8,35-9,20%, TPT tertinggi terdapat pada kemas-an plastik wrap yaitu 9,20%. Chandler dalam Sumarni dan Soedibyo (1991) menya-takan bahwa mutu jeruk untuk buah meja terbaik harus mengandung total padatan terlarut 10%. Dalam hal ini, total padatan terlarut buah jeruk pasca penguningan yang dikemas dalam plastik wrap mende-kati persyaratan mutu buah jeruk untuk buah meja yang baik.
Makin lama buah jeruk pasca pengu-ningan disimpan terlihat adanya peningkat-an total padatan terlarut, baik pada perla-kuan kontrol maupun pada kemasan plastik wrap dan plastik PE. Belum diketahui penyebabnya dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan penguapan air. Hal ini terlihat dari meningkatnya susut bobot buah jeruk pasca penguningan selama penyimpanan akibat penguapan air, keada-an tersebut bisa menyebabkan total padat-an terlarut meningkat.
Nilai Organoleptik
Hasil uji organoleptik yang terhadap buah jeruk pasca penguningan dari kemas-an dan lama penyimpanan yang berbeda tersaji pada Tabel 3.
Pada Tabel 3 terlihat penurunan tingkat kesukaan panelis terhadap buah jeruk pas-ca penguningan baik terhadap warna, aro-ma maupun rasa dari kemasan yang berbeda setelah 15 hari penyimpanan, pe-nurunan tingkat kesukaan yang terkecil, terdapat padakemasan plastik wrap. Hal ini disebabkan oleh karena kemasan plastik wrap sudah dirancang sedemikian rupa, fleksibel, mempunyai rongga –rongga udara yang sangat kecil (tidak terlihat oleh mata) untuk mengatur penguapan air dan respira-si, keadaan demikian menyebabkan adanya keseimbangan suhu dan kelembaban dalam kemasan, sesuai dengan pendapat Tseng (1994).
KESIMPULAN
Mutu buah jeruk pasca penguningan yang disimpan menggunakan kemasan plas-tik wrap (wrapping plastic) dengan alas (baki) styrofoam, memberikan hasil yang terbaik setelah 15 hari penyimpanan. Dima-na tingkat kerusakan, susut bobot dan pe-nurunan vitamin C lebih rendah serta ting-kat kesukaan secara organoleptik baik ter-hadap warna, aroma maupun rasa lebih baik daripada menggunakan kemasan plas-tik polyethilen (PE).(Azman)