JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Notice: Undefined property: Joomla\CMS\Categories\CategoryNode::$introtext in /var/vhosts/sumbar/public/plugins/content/extravote/extravote.php on line 190

Karya Ilmiah Peneliti dan Penyuluh

ABSTRAK

Pencanangan kegiatan M-KRPL di Sumatera Barat dilakukan   Menteri Pertanian RI tanggal 17 Desember 2011 di Kelurahan Tarantang Kota Padang. Pencanangan ini mewakili 3 lokasi kelurahan masing-masing Tarantang Kota Padang, Talawi Mudik Kota Sawahlunto dan Payobasung Kota Payakumbuh.  Kegiatan M-KRPL pada ketiga kelurahan ini dimulai bulan November 2011 dan telah berjalan selama 10 bulan sampai Agustus 2012. Dua diantara tiga lokasi tersebut berkembang baik, hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah rumah tangga peserta dan dukungan dari Pemko setempat. M-KRPL Tarantang dengan peserta awal 15 rumahtangga, meningkat menjadi 47 peserta akhir Agustus 2012. Selain itu, replikasi sudah dilakukan oleh Pemko Padang masing-masing untuk Kelurahan Batipuh Panjang dan Batu Gadang,   didahului oleh sosialisasi dan pelatihan peserta oleh BPTP Sumatera Barat.  Sosialisasi juga telah dilakukan terhadap empat organisasi masyarakat, yaitu: (i) Anggota TP PKK Kota Padang; (ii) Pengurus wilayah Salimah se Sumatera Barat; (iii) Anggota TP PKK Kelurahan Batu Gadang; dan (iv) Masyarakat binaan Dinas KB dan Pemberdayaan Perempuan.  Selain itu, setelah Wako Padang menerima penghargaan dari Mentan terkait dukungan Pemko dalam mendukung kegiatan M-KRPL pada waktu HKP 41 di Kemtan, telah pula diintruksikan kepada semua SKPD lingkup pertanian terkait untuk menata dan memanfaatkan lahan pekarangan perkantoran dengan konsep KRPL. Di Kelurahan Talawi Mudik KWT Lansek Manih dari 15 rumahtangga awal meningkat menjadi 30 rumahtangga. Walikota Sawahlunto menginstruksikan Dinas Pertanian dan Perkebunan membangun KBD  untuk 37 kelurahan di Kota Sawahlunto. Strata pekarangan kedua lokasi tergolong lahan sempit dengan komoditas utama adalah sayuran, toga, dan tanaman buah. Khusus untuk sayuran, dalam 2 kali musim tanam selain hasilnya dikonsumsi sendiri, sehingga   menekan pengeluran juga bisa dijual. Kedua lokasi menjadi objek kunjungan dan studi banding oleh TP PKK setempat, KWT atau Dasawisma peserta M-KRPL lainnya di Sumatera Barat. Respon tersebut diharapkan menjadi komitmen yang segera direalisasikan, sehingga dapat menjadi motivasi stakeholder lainnya dalam mendukung pengembangan M-KRPL masing-masing daerah.

 

Kata kunci: M-KRPL, replikasi, pengembangan.

 

PENDAHULUAN

Awal tahun 2011, Kementerian Pertanian merancang  sebuah konsep yang dinamakan ”Model Kawasan Rumah Pangan Lestari” disingkat M-KRPL.  Prinsipnya adalah penataan pekarangan dengan berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, tanaman obat, maupun ternak/ikan dan unggas. Hal ini berpatokan kepada potensi luas lahan pekarangan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal yang luasnya di seluruh tanah air mencapai 10,3 juta hektar, setara 14% luas lahan pertanian (BBP2TP, 2011)..

Secara umum KRPL bertujuan untuk: (i) memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari; (ii) meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan di perkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan serta diversifikasi pangan; (iii) mengembangkan sumber benih/bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan dan melakukan pelestarian tanaman pangan lokal untuk masa depan; dan (iv) mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri (BBP2TP, 2011).

Di Sumatera Barat, percontohan M-KRPL akhir tahun 2011 dimulai pada tiga lokasi dalam tiga kota, yaitu di Kelurahan Tarantang Kota Padang, Kelurahan Payobasung Kota Payakumbuh dan Kelurahan Talawi Mudik Kota Sawahlunto. Launching M-KRPL untuk ketiga lokasi dilakukan di Kelurahan Tarantang oleh Menteri Pertanian RI  tanggal 17 Desember 2011. Sesuai dengan kebijakan Badan Litbang Pertanian, tahun 2012 ini model percontohan KRPL ini lokasinya diperluas yang dilakukan oleh semua BPTP termasuk Sumatera Barat. Menteri Pertanian bahkan menginginkan agar semua kabupaten/kota melaksanakan M-KRPL, yang kemudian dapat direplikasi secara luas.  Potensi lahan pekarangan di Sumatera Barat sekitar 84.000 ha (Bappeda Sumbar 2010), apabila dalam waktu dekat dapat digunakan 10-15%,   luasnya berkisar  8.400-12.600 ha.

Secara kelembagaan, rumahtangga sasaran sebagai pelaksana kegiatan harus berkelompok baik kelompok yang sudah ada sebelumnya, ataupun membentuk kelompok baru, sehingga pengorganisasian dan pendampingan dapat lebih mudah dilaksanakan.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk melihat secara kualitatif sejauhmana respon pemerintah daerah (SKPD terkait) dalam mendukung pelaksanaan/atau implementasi dan perkembangan M-KRPL di kedua lokasi untuk dapat dijadikan pembanding  bagi daerah lain yang melaksanakan program serupa.

METODE PELAKSANAAN

Lingkup Kegiatan

Sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan M-KRPL, khususnya tentang tahapan pelaksanaan dan tata kelola kegiatan,   kegiatan pengembangan secara sekuensial mencakup tahapan (BBP2TP, 2011):

  1. Persiapan: (i) Pengumpulan informasi awal tentang potensi sumberdaya, lokasi dan kelompok sasaran, (ii) Pertemuan dengan dinas (SKPD) terkait untuk mencari kesepakatan dalam penentuan calon kelompok sasaran dan lokasi, (iii) Koordinasi dengan Dinas Pertanian dan dinas terkait lainnya di kabupaten/kota, (iv) Memilih pendamping yang menguasai teknik pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan.
  2. Pembentukan Kelompok: Kelompok sasaran adalah rumahtangga atau kelompok rumahtangga dalam satu RT, RW atau satu dusun/kampong.  Pendekatan yang digunakan adalah partisipatif, dengan melibatkan kelompok sasaran, tokoh masyarakat, dan perangkat desa.  Kelompok dibentuk dari, oleh, dan untuk kepentingan para anggota kelompok itu sendiri.  Dengan cara berkelompok akan tumbuh kekuatan berinisiatif dari para anggota dengan prinsip keserasian, kebersamaan dan kepemimpinan dari mereka sendiri.
  3. Sosialisasi:  Menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan dan membuat kesepakatan awal untuk rencana tindak lanjut yang akan dilakukan.  Kegiatan sosialisasi dilakukan pada kelompok sasaran dan pemuka masyarakat serta petugas pelaksana dari instansi terkait.
  4. Penguatan Kelembagaan Kelompok: Dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kelompok: (i) Mengambil keputusan bersama melalui musyawarah, (ii) Mentaati keputusan yang telah ditetapkan bersama, (iii) memperoleh dan memanfaatkan informasi, (iv) Bekerjasama dalam kelompok (sifat kegotong-royongan), dan (v) Bekerja dengan aparat maupun dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya.
  5. Perencanaan Kegiatan:  Melakukan perencanaan/rancang bangun pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanam berbagai tanaman pangan, sayuran dan obat keluarga, ikan dan ternak, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, pelestarian tanaman pangan untuk masa depan, kebun bibit desa, serta pengelolaan limbah rumah tangga.  Selain itu, dilakukan juga penyusunan rencana kerja untuk satu tahun.  Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan kelompok dan dinas/instansi terkait.
  6. f. Pelatihan: Pelatihan dilakukan sebelum pelaksanaan di lapang. Jenis pelatihan yang dilakukan diantaranya: teknik budidaya tanaman pangan, buah dan sayuran, toga, teknik budidaya ikan dan ternak, perbenihan dan pembibitan, pengolaha hasil dan pemasaran serta teknologi pengelolaan limbah rumahtangga. Jenis pelatihan lainnya adalah tentang penguatan kelembagaan.
  7. g. Pelaksanaan/Implementasi: Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh kelompok dengan pengawalan teknologi oleh peneliti dan pendampingan antara lain oleh Penyuluh dan Petani Andalan.  Secara bertahap, pelaksanaan kegiatan ini diarahkan untuk menuju pada pencapaian kemandirian pangan rumahtangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, konservasi tanaman pangan untuk masa depan, pengelolaan kebun bibit desa, dan peningkatan kesejahteraan.
  8. Pembiayaan: Bersumber dari kelompok, masyarakat, partisipasi Pemerintah Daerah dan Pusat, Perguruan Tinggi, LSM, Swasta dan dana lain yang tidak mengikat.
  9. Monitoring dan Evaluasi: Dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan kawasan, dan menilai kesesuaian kegiatan yang telah dilaksanakan dengan perencanaan. Evaluator dapat dibentuk oleh kelompok. Evaluator dapat juga berfungsi sebagai monivator bagi pengurus, anggota kelompok dalam meningkatkan pemahaman yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya yang tersedia di lingkungannya agar berlangsung lestari.

 

Indikator Respon Stakeholders

Terkait dengan monitoring dan evaluasi sejalan tahapan di atas, guna mengetahui perkembangan pelaksanaan secara kualitatif digunakan dua variabel sebagai indikator yaitu:

  1. Perkembangan jumlah rumahtangga peserta (awal dan periode berikutnya)
  2. Dukungan dana, fisik, kegiatan, atau kebijakan dalam pengembangan M-KRPL di daerah tersebut

 

Waktu dan Tempat

Sampai akhir Oktober 2012, implementasi M-KRPL telah berjalan satu tahun. Monitoring/observasi terhadap perkembangan rumahtangga peserta dan dukungan pemerintah daerah pada kedua lokasi dilakukan berurut sampai bulan Oktober 2012.

 

Metode Pengumpulkan Data

Data kualitatif berupa jumlah rumahtangga peserta awal dan akhir tahun berjalan dan dukungan berbagai SKPD terkait baik pendanaan ataupun fisik dalam kegiatan M-KRPL dicatat secara lengkap.

 

Model Analisis

Analisis data bersifat deskriptif dalam bentuk statistik sederhana sesuai data/informasi yang ditampilkan misalnya prosentase, nilai, dan fisik dari variabel yang dianalisis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lokasi M-KRPL  di Sumatera Barat

Tahun 2012, BPTP Sumatera Barat mengembangkan lokasi M-KRPL  pada 13 kab/kota (Tabel 1).  sebaran lokasi dan cakupan rumahtangga peserta masih sangat terbatas.  Namun demikian, dukungan dan sinergi program dari berbagai SKPD tetap diharapkan, sehingga upaya replikasi dan pengembangan dapat diwujudkan dengan segera. Dukungan  SKPD terkait dari dua kota (Padang dan Sawahlunto) yang memulai kegiatan TA 2011 terhadap implementasi M-KRPL dengan berbagai bentuk kegiatan diharapkan juga menjadi dorongan bagi pemerintah kab/kota lainnya untuk menyikapinya secara lebih positif.

 

Tabel 1.  Lokasi,  kelompok pelaksana dan jumlah rumahtangga awal  M-KRPL Sumatera Barat, 2012.

Kota/

kabupaten

Kecamatan

Nagari/

kelurahan

Kelompok/

KWT

Anggota (keluarga)

Kota Padang

 

Payakumbuh

Sawahlunto

Solok

Bukittinggi

Padang Panjang

Pariaman

Kab. Solok

Tanah Datar

Padang Pariaman

Sijunjung

Dharmasraya

Pesisir Selatan

Lubuk  Kilangan

Koto Tangah

Pyk. Timur

Talawi

Tanjung Harapan

Parik Antang

Pd. Pjg Timur

Pariaman Utara

Kubung

Padang Ganting

Nan Sabaris

IV Nagari

Pulau Punjung

XI Koto Tarusan

Tarantang

Batipuh Panjang

Payobasung

Talawi Mudik

Tanjung Paku

Birugo

Koto Panjang

Cubadak Air

Gantung Ciri

Padang Ganting

Sungai Laban

Muaro Bodi

Tebing Tinggi

Duku

P2WKSS

5 KWT*)

KWT Koto Saiyo

KWT Lansek Manih

Dasawisma Nangka 2

KWT Permata Bunda

KWT Lebah Madu

Tampunik

KWT Anggrek Baru 1

KWT Sederhana

Sungai Laban

KWT Dusun Tuo Saiyo

KWT Maju Bersama

KWT Sejahtera

15

95

15

15

15

23

24

19

15

15

15

15

12

20

*)Lima KWT tersebut adalah  KWT Mawar (21 orang), KWT Dahlia (19 orang), KWT Anggrek

(18 orang),   KWT Melati (19  orang), dan KWT Cempaka (18 orang).

 

Walaupun diawali dengan lokasi dan rumahtangga peserta yang terbatas, model ini dapat dikembangkan dalam skala luas dalam waktu dekat. Manfaat pengembangan M-KRPL antara lain: (i) memenuhi kebutuhan keluarga secara mandiri dari budidaya yang dihasilkan, (ii) efisiensi dalam konsumsi dalam arti dapat dipanen sesuai kebutuhan, (iii) pelestarian sumberdaya genetik spesifik lokasi, (iv) produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi dan dalam bentuk segar, dan (v) meningkatkan hubungan sosial antara rumahtangga peserta.

 

M-KRPL Kota Padang

Karakteristik Lokasi

Kegiatan M-KRPL Kota Padang berlokasi di Kelurahan Tarantang Kecamatan Lubuk Kilangan.  Luas kelurahan 866,85 ha terdiri dari 2 RW dan 10 RT.  Luas lahan pemukiman dan pekarangan 281,35 ha (32,5%). Penduduk berjumlah 583 KK atau 2.576 orang, sebagian besar (60%) diantaranya hidup dari sektor pertanian. Pada awalnya peserta M-KRPL Tarantang sebanyak 15 KK dari 80 KK anggota P2WKSS. Sebanyak 86,7% KK mempunyai pekarangan sempit (<120 m2), dan 13,3% pekarangan sedang (120-400 m2).  Sebelum kegiatan dilaksanakan, peserta dibekali dengan inonasi teknologi melalui Sekolah Lapang (SL), kemudian secara rutin dilakukan pendampingan oleh peneliti/penyuluh dari BPTP.

Sesuai strata luas pekarangan, maka budidaya yang dilakukan lebih banyak menggunakan vertikultur model rak, pot/polibag dan bedengan.  Rak terbuat dari bermacam-macam jenis bahan tergantung kesanggupan anggota, seperti talang air, kayu, bambu dan batang pinang.  Jenis tanaman yang diintroduksikan adalah: sayuran seperti ayam, kangkung, caisin, seledri, cabe, tomat, terong, bawang daun, mentimun, kacang panjang, cabe rawit dan bawang merah yang sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat (Puslitbanghor, 2010), toga (sirih merah), bumbu (jahe, jeruk kesturi dan jeruk purut), serta tanaman buah (sirsak ratu, jambu biji merah, dan papaya).

M-KRPL   Kota Padang  yang dimulai  awal November 2011 berlanjut sampai sekarang dan direplikasi oleh  Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kota Padang melalui Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) ke Kelurahan Batipuh Panjang Kecamatan Koto Tangah (BPTP Sumbar 2012).

Koordinasi dan Sosialisasi

Koordinasi dan sosialisasi di Kota Padang telah dilakukan dengan berbagai pihak terkait, mulai dari tingkat kota sampai ke penyuluh lapangan. Koordinasi dan sosialisasi diawali kepada pejabat tingkat Pemerintahan Kota Padang yaitu kepada Wakil Wali Kota Padang, Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan (Dipernakbunhut) Kota Padang, dan  KKP Kota Padang.

Berdasarkan koordinasi dengan KKP Kota Padang dan BKP Provinsi,   disepakati bahwa KKP Kota Padang akan mereplikasi M-KRPL ke Kelurahan Batipuh Panjang, yang melibatkan 5 Kelompok Wanita Tani (KWT). BPTP Sumbar berperan sebagai pendamping teknologi dan memberikan bantuan  bibit buah-buahan unggul dan bibit sayuran yang dibutuhkan masyarakat. Selanjutnya sosialisasi dilakukan kepada  peserta  kegiatan M-KRPL Kelurahan Batipuh Panjang   tanggal 28 Maret 2012, dihadiri oleh Kepala Dipernakbunhut Kota Padang, KKP   Kota Padang, Camat Koto Tangah, Lurah Batipuh Panjang, UPTD Dipernakbunhut Kecamatan Koto Tangah, Penyuluh Lapangan dan sebanyak 95 orang calon peserta KRPL Batipuh Panjang.

Sosialisasi pada peserta baru di Kelurahan Tarantang juga telah dilakukan tanggal 19 April 2012 yang dihadiri oleh Lurah Tarantang, Penyuluh Lapangan dan 32 orang calon peserta baru M-KRPL Tarantang. Selain itu, sosialisasi M-KRPL juga telah dilakukan terhadap empat organisasi masyarakat, yaitu: (i) Anggota Tim Penggerak PKK Kota Padang,  7 Maret 2012, (ii) Pengurus Wilayah Persaudaraan Muslimah (Salimah) se Sumatera Barat, 14 April 2012, (iii) Anggota Tim Penggerak PKK   Batu Gadang Kecamatan Lubuk Kilangan,  4 Mei 2012 dan (iv) Masyarakat binaan Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan    Kota Padang, 13 Juni 2012

Perkembangan Peserta  M-KRPL Kota Padang

Awalnya,  peserta M-KRPL Kelurahan Tarantang Kota Padang berjumlah 15 KK dari 80 orang anggota kelompok P2WKSS. Perkembangan pemanfaatan pekarangan peserta M-KRPL Tarantang cukup baik, manimbulkan motivasi kepada masyarakat lainnya, sehingga  akhir Juni  2012 jumlah peserta M-KRPL Kelurahan Tarantang berkembang menjadi  47 orang.

Pelatihan

Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan telah dilakukan pelatihan, baik  di Kelurahan Tarantang maupun di Kelurahan Batipuh Panjang. Materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan peserta, yaitu: teknologi budidaya sayuran dan buah  di  pekarangan.

Pemanfaatan  KBK

Kebun Bibit Kelurahan (KBK) Kelurahan Tarantang ditempatkan di rumah ketua kelompok   seluas  160 m2. Untuk penyiapan bibit dibangun rumah pembibitan dengan ukuran 3x6 m2 yang tiangnya terbuat dari bambu, atap plastik dan rak-rak dari bambu dan kayu. Kegiatan pembibitan telah terlaksana dengan lancar, dan setiap peserta dan peserta tambahan telah mendapatkan bibit dari KBK.  Pembibitan dilaksanakan secara gotong royong oleh peserta M-KRPL, sedangkan pemeliharaannya dilakukan oleh pengelola.

KBK  Tarantang telah menjadi objek studi banding dan tempat pembelajaran bagi Pemda dan masyarakat dari daerah lain. M-KRPL Tarantang telah dikunjungi oleh TP PKK Kota Padang, Pengurus dan Pembina PKK Kota Payakumbuh, PPL Koto Tangah, petani Batipuh Panjang, masyarakat Kuranji, TP PKK Batu Gadang, peneliti BPTP Kalteng, dan lain-lain yang datang secara perorangan.

Implementasi M-KRPL

Pada Lokasi M-KRPL Tarantang telah dilakukan penyerahan rak vertikultur sebanyak 15 buah kepada 15 KK yang lahan pekarangannya sangat sempit. Selain itu juga telah diberikan bantuan polibag, bibit buah-buahan dan bibit sayuran, kompos, tanah humus, serta pupuk NPK. hampir semua pekarangan peserta telah  ditanami dengan sayuran (bayam, kangkung, caisin, selada,  cabe, terung, tomat dan seledri). Di Kelurahan Batipuh Panjang bantuan sarana produksi dilakukan melalui bansos dari KKP Kota Padang, saat ini dana bantuan telah dimanfaatkan anggota kelompok untuk membuat rak, pengadaan polibag,  dan bibit sayuran.  Penanaman sayuran dalam polibag dan penanaman   toga   langsung di tanah sudah dilakukan dan secara rutin pendampingan teknologi juga dilakukan (Puslitbanghor, 2011).

Meningkatnya jumlah rumahtangga peserta dan bertambahnya kelompok yang melakukan kegiatan M-KRPL sebagai refleksi atas dukungan berbagai pihak termasuk organisasi masyarakat dapat  dinilai sebagai salah satu indikator keberhasilan.  Atas keberhasilan ini, dalam acara pucak HKP ke 41 tahun 2012 di Jakarta, Menteri Pertanian RI memberi penghargaan kepada Wali Kota Padang  yang mendukung terlaksananya M-KRPL di Kota Padang, bersama  9 bupati/wali kota lainnya di tanah air.

 

Respon Stakeholders

Selama 1 tahun pelaksanaan kegiatan M-KRPL di Kelurahan Tarantang Kota Padang dari 15 rumah tangga  meningkat  menjadi 47 rumahtangga peserta.  Selain itu, M-KRPL juga direplikasi oleh Kantor Ketahanan Pangan Kota Padang di Kelurahan Batipuh Panjang terhadap 5 KWT (95 peserta), dan Kelurahan Batu Gadang.  Perkembangan tersebut tidak terlepas dari dukungan SKPD terkait yang dilakukan dalam bentuk: workshop, bantuan bibit, dan bentuk pengembangan lainnya, sebagai berikut:

a)      Fasilitasi workshop Pemko terhadap M-KRPL Padang:

  1. Workshop M-KRPL tingkat kota Padang yang dihadiri oleh Wawako dan SKPD terkait yang pelaksanaaannya didanai oleh Dispernakbunhut Kota Padang.
  2. Sosialisasi kepada anggota Tim Penggerak PKK Batu Gadang Kecamatan Lubuk Kilangan, 4 Mei 2012 yang difasilitasi oleh Kantor Pemberdayaan Masyarakat Kota Padang
  3. Sosialisasi kepada kader UPPKS Kota Padang, 13 Juni 2012, difasilitasi oleh Kantor Pemberdayaan Masyarakat.

b)      Bantuan Bibit:

  1. Bibit sukun untuk peserta M-KRPL Tarantang dari Dipernakbunhut Kota Padang
  2. Bantuan bibit ikan kepada 13 peserta yang memiliki kolam M-KRPL Tarantang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang

c)      Perkembangan M-KRPL:

  1. Membuat M-KRPL di pekarangan Gedung Pertemuan (Palanta) Rumah Dinas Walikota Padang
  2. Menganjurkan kepada semua SKPD di Kota Padang untuk membuat Model RPL di pekarangan kantor masing-masing
  3. Menganggarkan pada APBN Perubahan sebesar Rp 50 juta, untuk membuat Model RPL di rumah dinas Wawako dan Kantor Dipernakbunhut Kota Padang.

 

M-KRPL Kota Sawahlunto

Karakteristik Lokasi

Pengembangan M-KRPL di Kota Sawahlunto pada tahun 2011 dilaksanakan di Desa Talawi Mudik Kecamatan Talawi yang merupakan salah satu dari tujuh desa di Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto. Luas kelurahan mencapai 876 ha, terdiri dari 4 Rukun Warga (RW).  Luas lahan pemukiman mencapai 15% dari luas kelurahan. Penduduk berjumlah 2.587 orang atau 75 KK.   Kegiatan M-KRPL di Kota Sawahlunto disinkronkan dengan kegiatan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kota melalui kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP)  dan Kegiatan Pemerintah Kota Sawahlunto Sapu Bersih Kemiskinan.

Rangkaian kegiatan M-KRPL diawali dengan kegiatan sosialisasi, penetapan kelompok sasaran, identifikasi potensi lahan pekarangan, perencanaan pemanfaatan, implementasi teknologi sesuai strata lahan, pendampingan, monitoring dan evaluasi, serta pengembangan (replikasi). Koordinasi dan sosialisasi telah dilakukan dengan berbagai pihak terkait dari tingkat kota sampai ke penyuluh lapangan. Diawali dengan koordinasi dan sosialisasi pada  pejabat tingkat Kota Sawahlunto yang dihadiri oleh Dinas Pertanian, Kabid Ketahanan Pangan, Koordinator Penyuluh dan Penyuluh di lokasi calon M-KRPL.

Sama seperti fasilitasi yang diberikan untuk M-KRPL Tarantang Kota Padang, untuk  15 rumahtangga peserta (40% lahan sempit, 20% sedang, dan 40% luas) juga diberikan bibit sayuran, bibit buah-buahn, dan bibit toga, beserta media tumbuh berupa rak vertikultur, polibag dan pot serta pupuk kandang. Selain itu juga dipersiapkan 1 unit  bangungan KBD sampai berfungsi.

Pada semester 2 tahun 2012, hasil kegiatan ini kembali direspon masyarakat, hal ini ditunjukkan dengan direplikasinya oleh 14 KK yang  berada di sekitar kawasan M-KRPL KWT Lansek Manih. Untuk kelancaran serta menambah wawasan anggota baru mengenai tujuan dan sasaran program M-KRPL,   dilakukan lagi sosialisasi kegiatan pada bulan Agustus. Sosialisasi dihadiri oleh Camat Kecamatan Talawi, Dinas Pertanian, perangkat kecamatan dan Perangkat Desa Talawi, Penyuluh dan calon peserta pengembangan M-KRPL,   dan tim M-KRPL Kota Sawahlunto. Implementasi lapangan untuk daerah pengembangan atau replikasi ditindaklanjuti  bulan September 2012,  dengan memberikan bantuan rak vertikultur serta polibag sebagai media tumbuh berbagai tanaman sayuran.  Bantuan ini selain diberikan pada setiap anggota baru, juga diberikan kepada Kantor Kecamatan serta penyuluh lapang agar masyarakat di sekitarnya lebih termotivasi lagi.

Selain bantuan fisik berupa benih/bibit, pelatihan kelompok sasaran juga dilakukan oleh BPTP Sumbar. Materi pelatihan yang diberikan tidak hanya mencakup teknis pembibitan dan budidaya tanaman pada media vertikultur, polibag/plot atau langsung di tanah, tetapi juga dengan materi pengolahan hasil   berbahan baku ubijalar ungu yang dihasilkan sendiri oleh KWT Lansek Manih. Aneka produk yang dihasilkan adalah stik ubijalar, kue mangkok, dan es krem.  Peragaan proses pengolahan hasil dari ubijalar tersebut tidak hanya diikuti oleh anggota KWT Lansek Manis semata, tetapi juga warga sekitar yang tertarik dan calon peserta untuk daerah pengembangan M-KRPL Kota Sawahlunto.

Berdasarkan konsep “Model Kawasan” serta persetujuan Ketua LPM Desa Talawi Mudik, selain untuk rumah-rumah peserta M-KRPL, bantuan pertanaman sayuran dalam polibag dikembangkan lebih luas lagi.  Pertengahan bulan September, pertanaman juga akan ditempatkan sepanjang jalan utama Dusun Sago, dimana 29 anggota M-KRPL berada, sehingga pada akhir tahun 2012 Kawasan Rumah Pangan Lestari diharapkan telah terbentuk di Dusun Sago.

Keberhasilan pelaksanaan program M-KRPL di Desa Talawi Mudik telah diekspos oleh Camat Talawi di Balai Kota Sawahlunto pada pertengahan bulan Agustus 2012.  Dilaporkan pula, selain menjadi pelaksana program M-KRPL, desa ini juga dijadikan sebagai objek kunjungan dari kelompok  pelaksana program M-KRPL kabupaten/kota lainnya (Sijunjung, Kota Solok, Kab. Solok,   Tanah Datar, dan  Payakumbuh) dan kelompok wanita lain di Kota Sawahlunto.

Respon Stakeholders

  1. Membangun replikasi KBD pada KWT Lansek Manih oleh Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan.
  2. Membangun KBD pada 37 kelurahan

Walikota Sawahlunto merespon dengan positif serta memutuskan untuk memberikan bantuan kepada seluruh desa di Kota Sawahlunto (37 desa/kelurahan) masing-masing sebesar Rp. 5.000.000,- untuk pembuatan KBD, sehingga diharapkan seluruh desa pada wilayah Kota Sawahlunto bisa mereplikasi program M-KRPL yang sudah berjalan di Desa Talawi Mudik.  Untuk pelaksanaan program bantuan tersebut, maka Dinas Pertanian Kota Sawahlunto akan berkoordinasi dengan BPTP Sumbar pada waktu dekat ini. Pada saat direalisasikan, maka kebutuhan benih/bibit, media tumbuh serta keterlibatan rumahtangga peserta pada 37 kelurahan tersebut membutuhkan perhatian yang besar dalam impelementasi dan pendampingan. Manajemen pengelolaannya harus mendapat perhatian, agar bisa berfungsi secara baik dalam waktu lama (Sudarmadji, 2012).

 

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Implementasi M-KRPL di Sumatera Barat TA 2012 tersebar pada 13 kabupaten/kota. Tiga lokasi diantaranya yaitu: Kelurahan Tarantang Kota Padang, Talawi Mudik Kota Sawahlunto dan Payobasung Kota Payakumbuh dimulai bulan November 2011.
  2. Respon positif stakeholders dalam jajaran Pemerintah kota merupakan faktor pendukung dalam mencapai keberhasilan dan pengembangan kegiatan M-KRPL di wilayahnya. Hal ini terlihat dari berkembangnya jumlah rumahtangga peserta, dan dukungan dana/kegiatan dari  SKPD terkait.
  3. Sosialisasi dengan melibatkan semua SKPD terkait menjadi langkah awal yang menentukan. Melalui sosialisasi, diharapkan terlaksana koordinasi, sinkronisasi dan sinergi program/kegiatan serta komitmen bersama dalam implementasi M-KRPL di lapang
  4. Realisasi dan tindaklanjut komitmen dukungan kedua pemerintah kota dalam mendukung pengembangan M-KRPL akan menjadi motivasi dan perbandingan bagi pemerintah kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2011. Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Bappeda Sumbar 2011. Sumatera Barat Dalam Angka. Kerjasama Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Barat.

BPTP Sumbar. 2012. Laporan Kemajuan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) Provinsi Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.

Puslitbanghor. 2011. Petunjuk Teknis Budidaya Aneka Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.

Sudarmadji. 2012. Panduan operasional kebun bibit/benih inti (KBI) dan pengelolaan kebun bibit desa. Makalah workshop konsolidasi M-KRPL 2012, Jakarta 25-27 April 2012. Badan Litbang Pertanian

 

ABSTRAK

Pemanfaatan teknologi pakan berbahan baku lokal merupakan salah satu upaya meningkatkan produktivitas sapi potong untuk mensukseskan PSDS/K 2014. Tahun 2009, populasi ternak sapi potong di Sumatera Barat 492.272 ekor dengan laju pertumbuhan periode 2005 – 2009 sebesar 6,1% dan jumlah pemotongan 86.028 ekor dengan laju pertumbuhan 11,0%. Laju pertumbuhan populasi jauh di bawah target PSDS/K 2014 sebesar 12,5%. Sumber pakan selain rumput lapangan dan HMT adalah hasil ikutan atau limbah agroindustri yang potensinya cukup besar. Secara kuantitatif, potensi daya dukung ternak dari limbah hasil pertanian utama berupa jerami padi, jagung, ubikayu, pelepah daun kelapa sawit, lumpur sawit, bungkil inti sawit; limbah kulit kakao dan kulit buah kopi sebanyak 1,75 - 2,1 juta satuan ternak (ST). Bahan pakan ini dapat diolah menjadi pakan tambahan yang bermutu tinggi melalui teknologi tepat guna. Peran kelembagaan seperti LM3 dan SMD dapat dioptimalkan dalam penyediaan pakan tambahan berbahan baku lokal, baik untuk memenuhi konsumsi ternak kelompok binaan maupun untuk tujuan komersial.

Kata kunci: Teknologi pakan, hasil ikutan pertanian, sapi potong

ABSTRACT

The use of Feed Technology of Local Based Source to Support
the productivity of Beef Cattle in West Sumatra

The use of feed technology of local based sources to support beef cattle productivity is the key of the successful PSDS/K program in 2014. In 2009, the cattle population in West Sumatra was about 492,272 heads, and the population growth during 2005 – 2009 was about 6.1 percent per year, the growth of cattle slaughtered for local consumption was around 11.0 percent or about 86,028 heads/year. The rate of population growth is much lower than native the target of PSDS/K 2014 which around 12.5 percent. The source of feed stuffs come from native grass and by product of agro-industry. These agro-industry by product has a big potential for feed such as rice, maize, cassava, palm oil, cacao, coffee by product which account for supporting 1.75 to 2.1 million animal unit. These by-products mostly used for feed supplement by simple process technology. The role of institution like LM3 and SMD can be optimized to support local feed supply which available on location either for local cattle consumption or for commercial use.

Key words: Technology, feed, agricultural byproduct, beef cattle

pendahuluan

Sampai sekarang permintaan daging sapi belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Salah satu kendala dalam usaha ternak sapi potong adalah produktivitas ternak yang rendah, karena pakan yang diberikan berkualitas rendah. Disisi lain, potensi bahan baku pakan lokal belum dimanfaatkan secara optimal (Wahyono dan Hardianto, 2004). Tahun 2008, rata-rata konsumsi daging sapi di tanah air baru 0,89 kg/kapita/tahun. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat 2 – 3 kali pada tahun 2020 (Diwyanto, dalam Sayed, 2009). Permintaan yang terus meningkat tersebut merupakan tantangan dan peluang agribisnis yang besar bagi peternak dalam memacu peningkatan populasi dan produksi daging secara berkelanjutan. Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2010 belum tercapai sesuai sasaran. Namun, pemerintah tetap bertekad untuk mewujudkan swasembada daging sapi dan kerbau secara berkelanjutan melalui PSDS/K 2014. Program ini akan diwujudkan berbasis sumberdaya lokal dan didukung teknologi inovatif tepat guna, agar produk yang dihasilkan mempunyai daya saing tinggi (Diwyanto et al., 2010). Secara nasional, dua sasaran utama PSDS/K 2014 adalah: (i) meningkatnya populasi sapi potong menjadi 14,2 juta ekor pada tahun 2014 atau rata-rata pertumbuhan 12,5%/tahun, dan (ii) meningkatnya produksi daging dalam negeri sebesar 420,3 ribu ton tahun 2014 atau meningkat sebesar 10,4% (Mentan, 2010).

Provinsi Sumatera Barat termasuk salah satu dari 18 provinsi yang diberi tugas dalam mensukseskan PSDS/K 2014. Hal ini dimungkinkan karena potensi pengembangan ternak sapi potong cukup menjanjikan pada semua kabupaten/kota, dengan populasi maksimal dapat mencapai dua juta satuan ternak (ST). Sementara populasi sekitar 400.000 ST yang diusahakan oleh 177.033 KK peternak (Edwardi, 2009).

Salah satu kriteria dalam menentukan populasi maksimal adalah dengan mengukur potensi ketersediaan pakan. Sapi potong membutuhkan pakan dalam jumlah yang banyak, oleh sebab itu, penyediaan pakan mutlak diperlukan. Ilham (2006), mengemukakan bahwa ketersediaan pakan sangat menentukan usaha peternakan pada suatu wilayah. Di Indonesia sumber pakan ruminansia cukup banyak variasinya, antara lain: (i) limbah pertanian a.l jerami padi, (ii) limbah industri pertanian a.l onggok singkong, dedak padi atau bungkil sawit, (iii) tanaman pakan ternak (TPT), dan (iv) padang pengembalaan. Khusus untuk budidaya TPT dan padang penggembalaan sering menghadapi masalah karena bersaing dengan tanaman pangan dalam penggunaan lahan.

Salah satu sumber pakan yang potensial adalah jerami padi. Tahun 2009 tercatat produksi gabah di wilayah Sumatera Barat sebesar 2,1 juta ton gabah kering panen (GKP). Jumlah ini sebanding dengan potensi jerami padi sebagai pakan (Wirdahayati dan Bamualim, 2006; Bamualim et al., 2006). Dengan kebutuhan jerami setiap ekor sapi sebanyak 3,6 ton/tahun, maka potensi pakan tersedia untuk 572 ribu ST sapi potong, sementara populasi sapi pada saat ini baru memanfaatkan sebesar 46,9% dari potensi jerami padi sebagai sumber pakan. Pada beberapa daerah peternak sudah melakukan fermentasi jerami untuk pakan ternak. Sumber pakan lain yang juga sangat potensial adalah limbah perkebunan, a.l 120.750 ton kulit kakao serta 1,07 juta ton pelepah sawit dan 18.195 ton bungkil inti sawit yang diperhitungkan dari luas areal perkebunan kakao dan kelapa sawit.

Atas pertimbangan tersebut, Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi yang ditugasi untuk mendukung pengembangan sapi potong dan mensukseskan pelaksanaan PSDS/K 2014, posisinya perlu diketahui berbagai pihak terkait. Beberapa aspek tentang sapi potong, seperti tren produksi dan kontribusinya, tantangan dalam upaya mencapai swasembada daging sapi, potensi sumberdaya pakan lokal, inovasi teknologi pakan lokal spesifik lokasi, dan kelembagaan mendukung pengembangan teknologi pakan dikemukakan dalam naskah ini.

KONTRIBUSI SAPI POTONG PENGHASIL DAGING SUMATERA BARAT

Budidaya ternak ruminansia besar dan kecil, yaitu, sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, dan domba telah berkembang di Sumatera Barat. Pada periode 2005 – 2009, rata-rata laju pertumbuhan populasi sapi potong sebesar 6,1%/tahun dengan jumlah populasi sebanyak 492.272 ekor di tahun 2009. Pada saat yang sama, laju pertumbuhan ternak kerbau dan kambing sebesar 3,4 dan 7,2% masing-masing dengan jumlah populasi 202.997 dan 254.449 ekor di tahun 2009. Populasi ternak lainnya relatif kecil, yakni sapi perah (826 ekor) dan domba (4.523 ekor) seperti tercantum pada Tabel 1.

Sejalan dengan perkembangan populasi sapi potong yang dominan, maka kontribusinya sebagai penghasil daging untuk konsumsi juga meningkat. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah pemotongan dan banyaknya daging yang dihasilkan. Total produksi daging empat jenis ternak ruminansia besar dan kecil tahun 2009 adalah 23.375,8 ton (Tabel 2). Khusus untuk sapi potong, laju pertumbuhan pemotongan 11,0% dan laju produksi daging 8,8%/tahun dengan jumlah pemotongan 86.028 ekor, serta produksi daging sebanyak 18.322 ton di tahun 2009 atau 78,4% dari total produksi daging ruminansia. Perkembangan populasi dan jumlah pemotongan ternak sapi potong di Sumatera Barat disajikan pada Gambar 1.

 

Tabel 1. Perkembangan populasi ternak ruminansia di Sumatera Barat, tahun 2005 – 2009

Jenis ternak ruminansia

Populasi (ekor)

2005

2006

2007

2008

2009

Sapi potong

Kerbau

Sapi perah

Kambing

Domba

419.352

201.421

714

210.532

6.052

440.641

211.531

608

223.334

6.806

450.823

190.015

688

221.276

5.874

469.859

196.854

768

227.561

5.335

492.272

202.997

826

254.449

4.523

Sumber: Bappeda Sumbar (2010)

 

Tabel 2. Perkembangan produksi daging ternak ruminansia di Sumatera Barat, tahun 2005 – 2009

Jenis ternak ruminansia

Produksi (ton)

2005

2006

2007

2008

2009

Sapi potong

Kerbau

Kambing

Domba

14.715,6

3.067,2

1.251,7

14,0

15.561,7

2.922,6

935,4

43,7

16.367,9

2.828,5

2.168,5

21,2

17.609,4

2.649,8

2.589,3

48,7

18.322,3

3.134,7

1.901,5

17,3

Sumber: BAPPEDA Sumbar (2010)

 

 

Jumlah (ekor)

Gambar 1. Tren populasi dan pemotongan ternak sapi potong di Sumatera Barat, tahun 2005 – 2009

 


TANTANGAN DALAM UPAYA MENCAPAI SWASEMBADA DAGING SAPI

Dalam waktu singkat swasembada daging sapi sulit dilakukan. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, antara lain: (i) perdagangan yang semakin terbuka (pasar global) tidak mungkin menghambat masuknya produk impor tanpa alasan yang kuat, (ii) industri sapi potong yang sudah berjalan sekarang masih tergantung pada sapi bakalan impor, (iii) industri sapi yang menggunakan bahan baku lokal selama ini tidak mampu mencukupi permintaan konsumen dalam negeri (Ilham, 2006). Selanjutnya, Diwyanto dan Martindah (2006) menyatakan bahwa penurunan populasi sapi, termasuk sapi potong antara lain disebabkan karena eksploitasi atau pengurasan dan pemotongan ternak produktif secara berlebihan, disamping adanya masalah teknis seperti penurunan produktivitas akibat faktor genetik dan gangguan penyakit hewan.

Khusus untuk wilayah Sumatera Barat, Edwardi (2009) mengemukakan bahwa secara garis besar terdapat tujuh permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sapi potong, yaitu: (i) Penurunan populasi ternak sapi potong karena kurangnya ketersediaan betina produktif sebagai akibat dari: (a) peningkatan pemotongan dan pengeluaran betina produktif, (b) gangguan/kegagalan reproduksi, (c) tingginya permintaan ternak dan daging dari dalam dan luar daerah. (ii) Penurunan produktivitas dan reproduktivitas ternak sapi, akibat: (a) kurangnya pengelolaan dan penanganan pakan ternak, (b) penanganan ternak lokal yang masih dikelola secara tradisional yang berdampak terhadap penurunan performans (berat, tinggi, efisiensi reproduksi), (c) belum intensifnya penanganan reproduksi ternak. (iii) Mewabahnya penyakit hewan menular akibat penyebaran melalui: (a) lalu lintas ternak, (b) impor daging ternak yang terkontaminasi, (c) endemik (SE, Rabies, dan Jembrana). (iv) Lemahnya infrastruktur peternakan sehingga tidak mampu mendukung perkembangan subsektor peternakan, seperti: (a) Pos Keswan dan fasilitasnya, (b) Pos IB beserta fasilitasnya, (c) alat dan mesin peternakan, (d) padang pengembalaan dan kebun HMT, (e) penanganan sumber air, (f) jalan sebagai sarana transportasi di kawasan peternakan. (v) Rendahnya skala usaha yaitu 1 – 5 ekor/KK, terutama karena terbatasnya modal. (vi) Tataniaga ternak belum berpihak pada peternak, dan (vii) Penanganan pascapanen belum ditangani secara maksimal, sehingga kebutuhan daging untuk hotel dan waralaba masih didatangkan dari luar daerah. RPH yang ada sudah banyak yang rusak akibat bencana alam dan kurang penanganan serta belum memenuhi standar.

Tantangan dan permasalahan yang sama juga berlaku pada daerah lain pada umumnya. Inounu et al. (2006) mengemukakan bahwa upaya peningkatan produksi untuk mencapai kecukupan daging sapi harus dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain: (i) meningkatkan produksi dan produktivitas secara berkelanjutan yang berbasis pada pemanfaatan sumberdaya lokal, serta (ii) meningkatkan daya saing melalui pengembangan dan aplikasi teknologi inovatif, dan kebijakan pembangunan yang kondusif mengarah kepada peningkatan kesejahteraan peternak.

Untuk menjawab permasalahan dan tantangan di atas, Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat, menetapkan kebijakan percepatan swasembada daging sapi dalam bentuk: (i) penyediaan kredit bunga rendah dalam rangka peningkatan usaha, (ii) memacu kegiatan IB melalui optimalisasi akseptor, (iii) penjaringan dan penyelamatan betina produktif, (iv) penanganan gangguan reproduksi dan kesehatan hewan, (v) perbaikan kawin alam melalui distribusi pejantan unggul dan sertifikasi pejantan pemacek, (vi) pengembangan dan pemanfaatan pakan lokal, (vii) pengembangan SDM dan kelembagaan, (viii) penyediaan bibit melalui impor atau menjaring sapi betina produktif eks impor, (ix) penjaringan dan distribusi bibit sapi lokal, (x) memfasilitasi pemasaran melalui informasi pasar dan penataan pasar ternak, dan (xi) penanganan pasca panen melalui pembangunan dan perbaikan RPH yang repesentatif.

POTENSI SUMBERDAYA PAKAN LOKAL

Pembangunan subsektor peternakan berkaitan langsung dengan pengembangan subsektor tanaman pangan dan subsektor perkebunan. Kaitan tersebut terutama dilihat dari meningkatnya potensi suplai pakan yang berasal dari kedua subsektor tersebut, berupa jerami, dedak, limbah kakao, sawit, kopi, bungkil kelapa dan sebagainya. Tahun 2009, di Sumbar tercatat luas areal panen padi, jagung, ubi kayu, kedelai, dan kacang tanah masing-masing 439.542 ha; 70.882 ha; 5.020 ha; 1.882 ha; dan 7.722 ha. Luas areal tanaman perkebunan, yaitu kelapa sawit 170.092 ha; kelapa 91.367 ha; kakao 82.450 ha; dan kopi 46.792 ha. Secara umum, luas areal tersebut cenderung meningkat setiap tahun. Sebaliknya, terjadi pengurangan (trade off) dengan potensi lahan untuk rumput lapangan dan kebun HMT (Ilham, 2006). Trade off juga terjadi untuk kebutuhan pakan ternak sapi potong terhadap pakan herbivora lainnya, serta kompos untuk mendukung pertanian organik. Untuk pertanian organik, bahan organik berupa pupuk kandang bisa dihasilkan dari kotoran ternak secara terintegrasi.

Secara umum, pemanfaatan bahan pakan lokal asal biomas pertanian menghadapi kendala jaminan keseragaman mutu dan kontinuitas produksi. Hal ini disebabkan karena bahan pakan asal biomas pertanian ini diproduksi dengan skala kecil dan lokasinya terpencar. Dengan demikian, pemanfaatan bahan pakan lokal asal biomas pertanian perlu memperhatikan beberapa hal antara lain; ketersediaan bahan, kadar gizi, harga, faktor pembatas seperti zat racun atau anti nutrisi serta perlu tidaknya bahan diolah sebelum digunakan.

Tanpa pakan tambahan, pemberian hijauan segar saja sebagai pakan ternak sapi sebenarnya tidak efisien. Meskipun volume pakan hijauan diberikan banyak, tetapi jumlah nutrisi yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan bila diberikan secara tunggal. Akibatnya, target pertumbuhan berat badan harian sulit tercapai, sehingga usaha peternakan menjadi tidak ekonomis. Oleh sebab itu, untuk memacu produksi diperlukan penggunaan bahan pakan lain sebagai suplemen. Bahan pakan lokal dari agroindustri pertanian yang potensial di Sumatera Barat terdiri dari: dedak padi, jagung, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, ampas tahu dan kulit buah kakao. Sedangkan, pakan serat yang berasal dari limbah pertanian adalah: jerami padi, batang jagung, pelepah daun sawit, jerami kacang-kacangan dan hijauan ubikayu.

Komposisi nutrisi yang perlu menjadi pertimbangan dalam memproduksi pakan tambahan untuk ternak sapi potong adalah: 12% protein kasar, 60 – 75% karbohidrat, 3 – 5% lemak kasar, serta mineral dan vitamin (Hendri et al., 2010). Kandungan nutrisi dan komposisi hasil ikutan atau limbah agroindustri sebagai bahan baku pakan ternak dikemukakan pada Tabel 3, 4, dan 5.

Pengembangan sapi potong perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Salah satu kendala dalam usaha ternak sapi potong adalah produktivitas ternak rendah, karena pakan yang diberikan berkualitas rendah. Di sisi lain, potensi bahan baku lokal seperti limbah pertanian dan perkebunan belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar, pupuk organik atau bahan baku industri (Mayulu et al., 2010). Potensi hasil ikutan dan limbah beberapa komoditas pertanian pangan utama (padi, jagung, dan ubikayu) dan komoditas perkebunan (kelapa sawit, kokao, dan kopi) sebagai sumber pakan ternak ruminansia di Sumatera Barat dikemukakan pada Tabel 6. Namun demikian, keterbatasan pemanfaatan hasil ikutan tanaman

 

Tabel 3. Kandungan nutrisi hasil ikutan tanaman pangan untuk sapi potong

Hasil ikutan tanaman pangan

Bahan kering (%)

Persentase dari bahan kering (%)

Protein kasar

Serat kasar

Abu

Lemak

Jerami padi

Jerami jagung

Jerami kedelai

Jerami kacang. tanah

Daun ubikayu

39,8

38,9

84,8

19,2

20,4

5,5

7,6

7,7

10,1

9,0

28,1

24,4

42,2

25,2

30,9

23,8

10,6

8,6

12,3

10,7

0,9

1,7

1,8

1,0

1,5

Sumber: Marsetyo (2008)

Tabel 4. Jenis dan komposisi kimia limbah agroindustri sebagai pakan ternak

Limbah agro industri

BK (%)

Abu (%)

PK (%)

NDF (%)

Energi (MJ/kg BK)

Ca (%)

P (%)

Onggok kering

Kulit inti kakao

Kulit buah kakao

Dedak padi

Ampas tahu

Bungkil kelapa

Bungkil sawit

82,4

68,4

17,0

86,4

15,8

85,6

87,9

-

6,6

12,2

11,2

-

6,2

4,2

2,2

16,6

7,2

20,2

18,6

24,3

17,1

17,3

-

66,3

52,9

46,8

54,9

67,4

15,6

19,3

14,9

19,2

19,4

-

-

0,3

0,4

2,0

0,3

0,4

-

-

-

0,5

0,2

1,0

0,2

-

-

BK: Bahan kering; PK: Protein kasar; NDF: Neutral detergent fiber; Ca: Kalsium; P: Fosfor

Sumber: Marsetyo (2008)

Tabel 5. Kandungan nutrisi pelepah daun sawit, lumpur sawit, dan bungkil inti sawit

Nutrisi

Kandungan nutrisi bagian kelapa sawit (%)

Pelepah daun sawit

Lumpur sawit

Bungkil inti sawit

Bahan kering

Protein kasar

Lemak kasar

Serat kasar

Abu

TDN

30,0

6,5

4,5

32,5

14,4

56,0

10,0

13,2

13,0

16,0

13,9

79,0

91,1

15,4

7,7

10,5

5,2

81,0

Sumber: Sayed (2009)

 


pertanian dan perkebunan sebagai sumber pakan ternak seperti adanya anti nutrisi theobromin pada kulit buah kakao, juga perlu dipertimbangkan (Mariyono dan Krishna, 2009).

Potensi hasil ikutan dan limbah komoditas pertanian tersebut, apabila dikalkulasi, maka dapat mendukung sebagai sumber pakan 1,7 – 2,1 juta ST ternak sapi di Sumatera Barat. Dari enam komoditas yang diperhitungkan, maka potensi sebagai sumber pakan dasar seperti jerami padi dapat mendukung 572.343 ST, setara dengan pelepah daun kelapa sawit. Sedangkan potensi jerami jagung dapat mendukung ternak sebanyak 194.950 ST. Hasil ikutan dari limbah kulit kakao relatif kecil yaitu 66.164 ST, tetapi ke depan potensinya cenderung meningkat sejalan dengan perluasan areal tanam yang terus dipacu melalui Gerakan Nasional Kakao.

INOVASI TEKNOLOGI PAKAN LOKAL SPESIFIK LOKASI SUMATERA BARAT

Sejumlah teknologi pakan peternakan sapi mulai dari pakan sapi betina tidak bunting dan bunting, pakan anak sapi prasapih dan sapih, serta pakan penggemukan sapi potong telah dihasilkan oleh BPTP Sumatera Barat dan telah disosialisasikan kepada pengguna (stakeholders). Rangkuman beberapa teknologi

 

Tabel 6. Hasil ikutan limbah tanaman pangan dan perkebunan serta potensi daya dukung ternak di Sumatera Barat, tahun 2009

Komoditas

Luas panen (ha)

Produksi (ton)

Potensi pakan hasil ikutan (ton)

Potensi daya dukung ternak (ST)*

Padi

439.542

2.105.700

- 2,1 juta ton jerami setara gabah kering panen (GKP)
- 112.866 – 225.310 ton dedak kasar (8 – 16% dari GKG)
- 42.325 - 41.08242.325 - 41.082 ton dedak halus (3 – 10% dari GKG)

572.343
154.711 – 3 12.930
58.785 – 195.94758.785 – 195.947

Jagung

70.882

404.795

- 283.528 – 354.410 ton jerami jagung (4 – 5 t/ha)

155.358 – 194.197

Ubi kayu

5.020

115.492

- 17.324 ton kulit umbi (15% dari umbi)
- 5.775 – 17.3245.775 – 17.324 ton onggok (5 – 15% dari umbi)

24.061
8.021 – 24.061

Kelapa
sawit

170.092

363.904

- 1.071.579 ton pelepah daun (6,3 t/ha/tahun)
- 36.390 – 54.58636.390 – 54.586 ton lumpur sawit 2 – 3 ton/ton minyak sawit
- 18.195 ton bungkil inti sawit (5% dari TBS)

595.322
50.542 – 75.81450.542 – 75.814
25.271

Kakao

82.450

40.250

-120.750 ton limbah kulit kakao

66.164

Kopi

46.792

32.554

- 14.649 ton kulit kopi (45% dari kopi biji)

20.067

Potensi total bahan pakan

1.753.645 – 2.129.168







*ST = Satuan ternak bervariasi sesuai  umur setara 1 ekor sapi dewasa; Konsumsi harian ternak masing-masing bahan pakan diasumsikan sebanyak 10 kg jerami padi, 5 kg jerami jagung, 2 kg dedak kasar atau dedak halus, 2 kg kulit ubikayu, 2 kg onggok, 5 kg pelepah sawit, 2 kg lumpur sawit, 1 kg bungkil inti sawit, 2 kg limbah kulit kakao dan 2 kulit kopi/ekor/hari yang terpisah satu sama lain

 

 

pembuatan pakan berbahan baku lokal yang berkaitan dengan usaha perbaikan kualitas produksi dan reproduksi ternak sapi dikemukakan di bawah ini.

Teknologi pakan sapi betina tidak bunting

Pakan berkualitas nutrisi rendah akan menunda terjadinya berahi, sedangkan pakan berkualitas nutrisi baik akan memperpendek dan merangsang berahi pada ternak betina. Keterlambatan terjadinya berahi setelah melahirkan banyak dialami oleh sapi-sapi betina dengan kondisi jelek dan kurus (Hendri et al., 2010). Introduksi teknologi adalah memberikan pakan tambahan untuk sapi betina yang 4 bulan setelah melahirkan tidak kembali birahi dengan target timbul birahi setelah 2 bulan pemberian pakan tambahan. Kandungan nutrisi ransum yaitu PK ≥ 12%, SK ≤ 10%, TDN ≥ 60%. Komposisi pakan tambahan yang utama terdiri dari: 50% dedak halus, 10% bungkil inti sawit, 10% kulit kakao fermentasi dan 20% jagung.

Pemberian pakan terdiri dari 2 kelompok yaitu: kelompok 1 pemberian pakan jerami padi fermentasi sebanyak 2% BB ditambah rumput segar 5% BB ditambah 2,5 kg pakan tambahan. Sedangkan kelompok 2, yaitu pemberian pakan jerami padi fermentasi sebanyak 5% BB ditambah 2,5 kg pakan tambahan. Hasil menunjukkan bahwa sapi betina yang menggunakan kedua jenis pakan tersebut, memperlihatkan tanda-tanda birahi antara 35 – 58 hari setelah pemberian ransum (Manti et al., 2006).


Teknologi pakan sapi betina bunting

Induk sapi yang sedang bunting diberi pakan tambahan pada saat dua bulan sebelum dan dua bulan sesudah melahirkan. Pakan tambahan utama terdiri dari: 45% dedak halus, 20% bungkil kelapa, 20% jagung halus, tepung ikan, dan mineral secukupnya. Pemberian pakan tambahan sebanyak 2 – 3 kg/ekor/hari. Rumput diberikan sebanyak 10% BB.

Introduksi teknologi pakan tambahan bertujuan memperbaiki kondisi induk, sehingga berat lahir anak lebih tinggi, produksi susu cukup dan pertumbuhan anak akan maksimal, dan juga waktu kembali berahi setelah melahirkan (estrus postpartum) akan lebih cepat. Hasil pengkajian memperlihatkan bahwa pertambahan berat badan harian cukup tinggi yakni 0,36 – 0,61 kg/ekor/hari (Manti et al., 2006).

Dampak langsung akan terlihat dengan terjadinya suatu sistem pemeliharaan ternak sapi betina penghasil sapi bakalan yang lebih efisien dan ekonomis, antara lain: (a) Terjadinya percepatan berahi setelah melahirkan (post-partum) sehingga akan memperpendek jarak beranak (calving interval), dari sapi induk yang umumnya beranak 2 kali dalam 3 tahun menjadi beranak satu kali beranak setiap tahun, dan (b) Anak yang dilahirkan akan mempunyai berat lahir yang lebih tinggi, dan juga tingkat pertumbuhan yang lebih cepat pada saat disapih pada umur 6 bulan, dibanding dengan induk yang tidak diberi pakan tambahan. Hendri dan Azwardi (2006), menambahkan bahwa pemberian pakan tambahan dapat
meningkatkan produksi sapi betina tidak bunting, maupun penambahan berat badan. Demikian juga penampilan reproduksi, dimana awalnya sapi betina yang 4 bulan setelah melahirkan tidak berahi, 46 – 49 hari setelah diberi pakan tambahan cenderung menunjukkan tanda-tanda berahi.

Dengan demikian, strategi penerapan teknologi pakan sapi betina penyedia bakalan akan berdampak pada kuantitas dan kualitas produksi yang dihasilkan. Pendapatan peternak dapat meningkat sebesar 20 – 25% per tahun, sekaligus akan meningkatkan ketersediaan ternak penghasil daging (Manti et al., 2006).

Teknologi pakan anak sapi prasapih

Perkembangan anak sapi berumur 2,5 – 3 bulan sangat tergantung dari jenis bahan pakan yang dikonsumsi. Pada periode tersebut anak sapi sudah bisa diberikan bahan pakan starter yang agak lunak berupa biji-bijian sebagai pakan tambahan. Dengan demikian, anak sapi yang tadinya hanya diberikan 100% susu cair, konsumsinya semakin meningkat dan membantu fungsi kerja rumen. Pakan jerami fermentasi dan pakan rumput diharapkan mampu dimanfaatkan untuk anak sapi prasapih (Hendri et al., 2010).

Pemberian hijauan kepada pedet yang masih menyusu hanya untuk diperkenalkan saja guna merangsang pertumbuhan rumen. Hijauan tersebut sebenarnya belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam memasok zat makanan. Sebaiknya diberikan hay/rumput sejak pedet berumur 2 – 3 minggu. Rumput yang diberikan harus yang berkualitas baik dan bertekstur halus. Silase pada pedet tidak diperbolehkan, karena pedet belum bisa memanfaatkan asam dan NPN yang banyak terdapat dalam silase. Konsumsi hijauan harus mulai banyak setelah memasuki fase penyapihan (Kumar, 2001).

Introduksi teknologi pemberian pakan fermentasi jerami untuk anak sapi lokal jantan berumur 3 bulan sampai masa disapih (6 – 7 bulan). Fermentasi jerami dilakukan selama 14 hari menggunakan urea dan starbio/probiotik masing-masing 2,5 kg untuk setiap 1 ton jerami (Boer et al., 2004). Ransum pakan terdiri dari fermentasi jerami ad-libitum (1 – 3% BB/ekor/hari), konsentrat (1% BB/ekor/hari) dengan kandungan PK ≥ 12%, SK ≤ 10%, TDN ≥ 65%. Formulasi konsentrat yang dominan terdiri dari: 35% dedak halus, 30% bungkil inti sawit, 20% kulit kakao fermentasi plus bungkil kedelai, tepung ikan, dan mineral. Pertambahan berat badan anak sapi prasapih dengan ransum tersebut mencapai 0,64 kg/ekor/hari. (Boer et al., 2004; Hendri et al., 2010).

Introduksi teknologi pemberian pakan rumput diberikan untuk anak sapi berumur  3 bulan sampai masa disapih. Ransum pakan rumput dimaksudkan adalah pemberian rumput ad-libitum sebanyak 10% BB/ekor/hari dan konsentrat (1% BB/ekor/hari) dengan kandungan PK ≥ 12%, SK ≤ 10%dan TDN ≥ 65%. Formula konsentrat terdiri dari: 35% dedak halus, 30% bungkil inti sawit, 20% kulit kakao fermentasi (KKF), ditambah tepung ikan, mineral dan garam. Pemakaian ransum tersebut menghasilkan pertumbuhan sebesar 0,47 kg/ekor/hari (Boer et al., 2004; Hendri et al., 2010).

Teknologi pakan anak sapi lepas sapih

Anak sapi dengan sistem pemeliharaan konvensional dibiarkan terus menyusu pada induknya, walaupun telah berumur lebih 6 bulan. Padahal anak sapi tersebut telah mampu mengkonsumsi dan memanfaatkan pakan kasar. Sistem pemeliharaan anak sapi tersebut menyebabkan pertumbuhan anak sapi dan penampilan reproduksi induk sapi tidak optimal. Introduksi teknologi pakan anak sapi lepas sapih dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan harian. Pemberian pakan terdiri dari rumput (10% berat badan) dan pakan tambahan (2 kg/ekor/hari) dengan kandungan PK ≥ 12%, SK ≤ 10%, TDN ≥ 65%. Formula pakan tambahan terdiri dari: 45% dedak halus, 22,5% jagung, 20% bungkil kelapa, plus tepung ikan dan mineral. Pertambahan berat badan harian mencapai 0,63 kg/ekor /hari (Boer dan Sadar., 2004; Boer et al., 2004).

Teknologi Pakan Penggemukan
Sapi Potong

Pakan bahan pelepah sawit

Usaha penggemukan sapi masih didominasi oleh peternakan rakyat yang dicirikan oleh teknologi yang belum efisien, tingkat pertumbuhan sapi rendah dan waktu pemeliharaan relatif lama (1 – 2 tahun). Penerapan teknologi pakan yang terjamin kualitas dan kuantitasnya akan memperpendek waktu pemeliharaan serta meningkatkan efisiensi usaha penggemukan sapi potong. Pakan sapi dapat berupa hijauan yang berasal dari rumput alam atau yang dibudidaya dan pemanfaatan pakan alternatif sisa hasil pertanian.

Salah satu introduksi teknologi yang diterapkan adalah pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan alternatif dalam penggemukan sapi lokal (berat badan < 300 kg). Dalam hal ini harus diperhatikan agar kandungan nutrisi ransum yang digunakan mencukupi kebutuhan tubuh ternak, yaitu PK ≥ 13%, SK ≤ 10%, TDN ≥ 60%.

Formula ransum yang digunakan terdiri dari rumput sebanyak 10% BB + 4 kg pelepah sawit + 2 kg pakan tambahan. Formula pakan tambahan terdiri dari: 40% dedak halus, 14% jagung halus, 30% bungkil inti sawit, 7% bungkil kedelai serta tepung ikan dan mineral secukupnya. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa formula ransum seperti di atas yang diberikan pada sapi lokal menghasilkan pertambahan berat badan sebesar 0,54 kg/ekor/hari (Manti et al., 2006).

Pakan dengan kulit kakao fermentasi (KKF)

Introduksi teknologi yang potensial di Sumatera Barat adalah penggunaan kulit kakao fermentasi (KKF) sebagai pakan alternatif penggemukan sapi Simental (Berat badan < 500 kg). Kandungan nutrisi ransum, yaitu: PK ≥ 13%; SK ≤ 10%; dan TDN ≥ 60%. Formula ransum terdiri dari rumput 10% BB + 4 kg KKF + 3 kg pakan tambahan. Bahan pakan tambahan utama terdiri dari: 55% dedak halus, 20% jagung halus, 15% bungkil kelapa, serta tepung ikan dan mineral secukupnya. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa sapi Simental yang diberi fermentasi kulit kakao ditambah pakan tambahan sebagaimana formula ransum di atas menghasilkan pertambahan berat badan sebesar 1,05 kg/ekor/hari (Manti et al., 2006).

Bahan pakan daun gamal

Gamal (Gliricidia sepium) merupakan salah satu jenis leguminosa pohon yang banyak ditanam sebagai tanaman pagar, pelindung dan pencegah erosi. Kayu dari pohon gamal dipakai sebagai kayu bakar dan daunnya bisa digunakan sebagai pakan ternak sapi potong. Pemberian pakan campuran daun gamal dengan rumput, sebagai pengganti (substitusi) rumput sebanyak 20% dan konsentrat berupa dedak halus, jagung, dan bungkil kelapa (2 : 1 : 1), terhadap sapi PO umur 1,5 – 2 tahun sebanyak 1% BB/ekor/hari menghasilkan pertambahan berat badan 0,63 kg/ekor/hari (Kanwil Sumbar, 2000).

Bahan pakan kulit ubikayu

Penggunaan kulit ubikayu sebagai pakan penggemukan sapi terhadap 15 ekor persilangan Simental umur 1,5 – 2 tahun menghasilkan pertambahan berat badan tertinggi sebesar 1,67 kg/ekor/hari. Formula pakan yang diberikan terdiri dari: 40% dedak halus, 40% kulit ubikayu, 5% konsentrat 511, 12% bungkil kelapa, serta mineral dan garam secukupnya.

Alternatif dengan komposisi bahan pakan yang berbeda terhadap sapi Simental umur 2 – 2,5 tahun menghasilkan pertumbuhan sebesar 1,3 kg/ekor/hari. Komposisi pakan alternatif ini terdiri dari 20% kulit ubikayu (limbah kerupuk sanjai) dan 80% lainnya merupakan campuran dedak, bungkil kelapa dan jagung dengan perbandingan 2 : 1 : 1, ditambahkan mineral 1 – 2%. Pakan tambahan ini diberikan sebanyak 1% BB (Kanwil Sumbar, 2000).

Bahan pakan onggok

Pengujian formulasi pakan tambahan dengan beberapa tingkat penggunaan onggok dalam ransum terhadap pertambahan bobot badan sapi untuk 15 ekor sapi bakalan umur 1,5 – 2 tahun dengan berat 250 – 300 kg juga telah dilakukan. Perlakuan terdiri dari: 0% (R0); 15% (R1); dan 20% (R2) pakan tambahan onggok dengan komposisi protein sama. Berat badan awal sapi untuk R0; R1 dan R2 adalah: 261,6 kg; 258,6 kg dan 259,6 kg bertambah menjadi 314,1; 319,4; dan 303 kg pada akhir pencatatan. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan onggok sebagai substitusi jagung dalam ransum sapi penggemukan sebanyak 15% menghasilkan pertambahan sebesar 0,51 kg/ekor/hari. Selain dapat digunakan sebagai bahan pakan, onggok sebagai limbah industri topioka yang selama ini terbuang percuma dapat dimanfaatkan dan pencemaran lingkungan dapat dihindari (Boer dan Sadar., 2004).

Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak (SITT)

Integrasi jagung dan ternak sapi

Konsep Sistem Integrasi Jagung dan Ternak (SIJT) merupakan suatu aktivitas yang saling mendukung dan saling mengisi antara kegiatan usahatani jagung dengan ternak sapi, sehingga dapat memberikan hasil dan nilai tambah yang optimal. Ada tiga komponen teknologi utama dalam SIJT, yaitu: (i) teknologi budidaya ternak, (ii) teknologi budidaya jagung, dan (iii) teknologi pembuatan kompos dan pengolahan limbah tanaman menjadi pakan ternak. Hasil kajian SIJT terhadap sapi lokal Pesisir ternyata keuntungan usahatani terpadu sapi Pesisir dan jagung secara nyata memberikan tingkat keuntungan lebih tinggi dari total keuntungan masing-masing usaha ternak dan jagung. Besarnya keuntungan tersebut adalah Rp 11.060.600 dari jagung dan ternak secara parsial dibanding Rp 11.685.600 secara terpadu dalam model SIJT (Kanwil Sumbar, 2004; Munir, 2004).

Integrasi kakao dan ternak sapi

Formula pakan berbahan baku kulit kakao fermentasi dengan komposisi 50% dedak, 15% tepung KKF, 20% bungkil kelapa, 5% jagung, 5% tepung ikan, 4% mineral dan 1% garam yang diberikan kepada sapi Bali selama 5 bulan menghasilkan tambahan berat badan rata-rata 0,43 kg/ekor/hari. Tambahan berat badan dengan formula ransum ini jauh lebih besar dibanding pemakaian pakan pabrik. Pakan pabrik dengan komposisi 40% tongkol jagung, 28,5% dedak, 30% bungkil kelapa dan 1,5% mineral + pribiotik + urea + garam hanya mampu memberikan tambahan berat badan rata-rata 0,29 kg/ekor/hari selama 5 bulan, sementara cara petani menggunakan rumput tanpa konsentrat hanya menghasilkan 0,19 kg/ekor/hari dalam waktu yang sama (Manti et al., 2010).

Pakan tambahan penggemukan sapi Simental

Unit Pengelola Farmer Managed Extention Activity (UP FMA) Maju Bersama Lubuk Gadang Selatan Kabupaten Solok Selatan tahun 2009 melaksanakan demonstrasi dan uji coba pakan tambahan untuk penggemukan sapi Simental. Formulasi pakan terdiri dari: 50% dedak, 22% jagung halus, 20% bungkil kelapa, 5% tepung ikan, 2% ultra mineral, dan 1% garam. Konsentrat diberikan sebanyak 1% dari berat badan selama 3 bulan dan menghasilkan tambahan berat badan hingga 1,1 kg/ekor/hari. Apabila pemberian konsentrat ini ditambah dengan ampas tahu sebanyak 2 kg dan konsentrat sebanyak 2,5 kg/ekor/hari mampu menghasilkan tambahan berat badan teringgi 1,36 kg/ekor/hari (Surya et al., 2009).

Di luar komponen dan paket teknologi di atas, pada beberapa lokasi juga telah berkembang Sistem Integrasi Padi – Ternak (SIPT), dimana jerami padi diproses sebagai pakan ternak untuk menghasilkan sapi bakalan/bibit, sedangkan kotoran ternak dalam bentuk kompos digunakan sebagai pupuk pada lahan sawah (Haryanto et al., 2002). Integrasi ternak dengan kelapa sawit juga telah berkembang di beberapa usaha perkebunan kelapa sawit di Bengkulu. Integrasi kelapa sawit dengan sapi Bali merupakan dua komponen yang saling membutuhkan. Keberadaan sapi di perkebunan sawit akan memanfaatkan limbah yang berada di lahan kebun kelapa sawit berupa daun, pelepah, tandan kosong, atau gulma dapat digunakan sebagai pakan ternak. Sedangkan limbah pabrik dimanfaatkan sebagai konsentrat pakan ternak (Sitompul, 2003). Selain itu, sapi sangat berperan dalam hal peningkatan efisiensi tenaga kerja untuk pengangkutan tandan buah segar (TBS) dari pohon ke tempat pengumpulan hasil, disamping berfungsi sebagai penghasil pupuk organik dan biogas (Suharto, 2003).

KELEMBAGAAN MENDUKUNG PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PAKAN

Kuantitas, kualitas dan sebaran potensi sumberdaya pakan lokal baik hijauan maupun pakan tambahan yang dihubungkan dengan kebutuhan pakan di wilayah Sumatera Barat dapat dipetakan. Demikian juga dengan inovasi teknologi tepat guna berbasis pakan lokal dapat diakses oleh para petani/peternak baik secara parsial maupun terintegrasi. Di lain pihak, sudah terbentuk berbagai kelembagaan yang mampu memfasilitasi dan mewadahi berbagai kegiatan untuk meningkatkan kapasitas SDM petani/peternak dalam mempercepat adopsi inovasi teknologi yang dibutuhkan.

Khusus untuk ternak sapi, pemerintah telah memfasilitasi kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD) dan Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3). Pada tahun 2008, di Sumatera Barat terdapat 29 lokasi penggemukan dan pembibitan sapi potong yang dialokasikan melalui SMD dengan jumlah ternak penggemukan bervariasi 16 – 25 ekor/lokasi. Tahun 2009, jumlah SMD meningkat sebanyak 66 orang, 31 orang di antaranya bertugas membina usaha peternakan sapi potong. Demikian juga, untuk LM3 pada 10 lokasi dengan jumlah 2 – 36 ekor/lokasi (Edwardi, 2009). Tugas Sarjana dalam kegiatan SMD adalah mendampingi kelompok ternak untuk mengembangkan usahanya menuju skala ekonomi. SMD akan mengatur manajemen usaha pembibitan yang terpadu dengan penggemukan sapi, budidaya hijauan makanan ternak, manajemen pemanfaatan limbah, manajemen usaha dan pemasaran, serta penyelesaian masalah sosial. Pembinaan yang dilakukan oleh SMD tidak hanya dalam teknis budidaya, tetapi juga pembinaan keterampilan (life skill) untuk anggota, keluarga dan komunitasnya.

Kelembagaan dalam bentuk LM3 maupun kelompok peternak yang dibina oleh SMD dapat dijadikan unit usaha dalam implementasi inovasi teknologi pakan, baik untuk kebutuhan pakan ternak yang mereka kelola, ataupun memproduksi pakan berbahan baku lokal untuk tujuan komersial (scalling up) di luar kelompok yang dibina. Adanya jaringan kerjasama antara SMD atau LM3 di setiap lokasi dapat memudahkan dalam penyediaan bahan baku pakan yang potensial di masing-masing daerah. Walaupun sumber bahan baku tersebar, jaringan kerjasama dan kemitraan dengan perusahaan/fabrikan memungkinkan diperolehnya harga bahan baku dan biaya pokok produksi pakan yang lebih murah dibandingkan dengan harga pasar.

Pada daerah sentra produksi kelapa sawit di Sumatera Barat terdapat 23 unit perusahan pengolahan kelapa sawit menjadi CPO dan inti sawit dengan kapasitas produksi 30 – 120 ton/jam. Pabrik pengolahan tersebut berlokasi di Kabupaten Agam (3 unit), Pesisir Selatan (2 unit), Pasaman Barat (8 unit), Sijunjung (2 unit), Dharmasraya (8 unit), Padang Pariaman dan Kota Padang masing-masing 1 unit (Buharman et. al., 2009). Artinya bahan baku pakan dari lumpur sawit dan bungkil inti sawit akan terkonsentrasi di lokasi pengolahan, sementara pelepah daun sawit menyebar di sekitar lokasi kebun, baik di kebun rakyat maupun di perkebunan besar.

Saat ini, Pemerintah Daerah Sumatera Barat telah mengembangkan tanaman kakao secara besar-besaran dengan tujuan menjadikan Sumatera Barat sebagai sentra produksi kakao di Kawasan Indonesia Barat (KIB). Program ini dicanangkan oleh Wakil Presiden RI pada tahun 2006 di Kabupaten Padang Pariaman. Sentra produksi kakao Sumatera Barat adalah Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Limapuluh Kota, Pesisir Selatan dan Kota Sawahlunto. Areal perkebunan kakao pada tahun-tahun terakhir telah berkembang dari 59.821 ha tahun 2008 menjadi 82.450 ha tahun 2009 (Bappeda Sumbar, 2010). Perkembangan areal yang pesat ini tidak hanya berdampak terhadap peningkatan produksi buah kakao, tetapi secara linear akan meningkatkan ketersediaan pakan ternak dari limbah kulit buah kakao.

Terkait dengan itu, suatu hal yang menarik adalah meningkatnya animo masyarakat peternak dalam pengembangan agribisnis ternak sapi potong menggunakan limbah kulit kakao. Indikasi ini salah satunya terlihat dari banyaknya usulan proposal Unit Pengelola Farmer Manage Extention Activity (UPFMA) tahun 2009 dalam kegiatan Farmer Empowerment Agricultural Technology Information (FEATI). Contohnya, untuk Kabupaten Limapuluh Kota sebagai salah satu dari lima kabupaten yang mengikuti kegiatan FEATI di Sumatera Barat, sebanyak 17 dari 35 proposal yang diajukan oleh semua UP FMA materinya adalah pakan dan pemeliharaan ternak sapi (Bapelluh Kabupaten Limapuluh Kota, 2009). Salah satu demonstrasi dan uji coba pakan tambahan berbasis bahan pakan lokal tahun 2009 di Kelompok Tani Bangun Rejo UP FMA Maju Bersama yang berlokasi di Kabupaten Solok Selatan terhadap sapi Simental berumur 1,5 – 2 tahun menghasilkan tambahan berat badan 0,8 – 1,1 kg/ekor/hari. Komposisi pakan tambahan yang diberikan terdiri dari: 50% dedak, 22% jagung halus, 20% bungkil kelapa, serta tambahan tepung ikan dan mineral. Pakan tambahan sebagai konsentrat ini diberikan sebanyak 1% dari berat badan. Apabila pemberian konsentrat tersebut ditambahkan lagi dengan ampas tahu sebanyak 2 kg/ekor/hari dan konsentrat komersil sebanyak 2,5 kg/ekor/hari mampu menghasilkan tambahan berat badan 0,9 kg/ekor/hari dalam waktu pemeliharaan 90 hari. Secara kasar nilai ekonomi pakan tambahan ialah Rp. 4.450/ekor/hari, sementara nilai tambahan berat hidup sapi
Rp. 22.500/ekor/hari. Berarti terdapat kelebihan hasil sebesar Rp 18.050/ekor/hari. Dengan kata lain, tanpa memperhitungkan biaya investasi selain pakan, menghasilkan Marginal Value Product (MVP) lebih besar dari Marginal Factor Cost (MFC), yaitu 5,05. Bilamana investasi di luar pakan diperhitungkan maka nilai rasio MVP/MFC masih tetap > 1 (Priyanti et al., 2009).

Menggunakan patokan kebutuhan pakan tambahan sebagai konsentrat sebanyak 2,5 kg/ekor/hari, maka dalam satu periode penggemukan selama 3 bulan membutuhkan konsentrat sebanyak 225 kg/ekor. Apabila setiap SMD, LM3, atau kelompok peternak lainnya memelihara sapi potong untuk penggemukan sebanyak 100 ekor, berarti dibutuhkan 22,5 ton pakan tambahan. Dengan demikian dapat diperkirakan jumlah kebutuhan bahan baku seperti dedak, bungkil kelapa, bungkil inti sawit, jagung, KKF, dan sebagainya sesuai formula pakan yang dipakai dengan selalu mempertimbangkan komposisi kandungan nutrisi pakan.

Ali dan Buharman (2005) melakukan analisis finansial terhadap usaha sapi bibit penghasil sapi bakalan di sentra produksi Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Pada skala usaha sebanyak 3 ekor sapi induk yang dipelihara secara semi intensif, maka dalam jangka waktu 5 tahun menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 19.897.570; B/C 1,91; dan IRR 27%. Seterusnya, usaha penggemukan untuk sapi potong di sentra produksi Kecamatan Baso, Kabupaten Agam yang dipelihara secara intensif dengan jumlah ternak dan jangka waktu yang sama menghasilkan NPV sebesar Rp 15.190.063; B/C 1,23; dan IRR 22%. Kedua bentuk usaha ternak sapi skala petani ini layak secara finansial, sehingga dukungan permodalan menggunakan dana bank dengan suku bunga komersial bisa dilakukan. Keuntungan tersebut akan lebih besar lagi jika jumlah ternak yang dipelihara lebih banyak, karena biaya persatuan output bisa berkurang (economis of scale). Pengembangan skala usaha ini memerlukan dukungan investasi dari pihak luar yang aksesibilitasnya sudah semakin terbuka, seperti kredit investasi KKP-E, KUPS, dan KUR dengan suku bunga disubsidi, serta kemitraan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) oleh BUMN.

KESIMPULAN

Ternak sapi potong menempati peringkat pertama dari semua ternak ruminansia di Sumatera Barat. Periode 2005-2009, laju pertumbuhan populasi sebesar 6,1%/tahun dengan jumlah populasi 492.272 ekor di tahun 2009. Kontribusi sapi potong sebagai penghasil daging mencapai 78,4% dari total produksi daging ruminansia dengan laju pertumbuhan pemotongan 11,0% dan laju produksi daging 8,8%/tahun.

Sumber pakan selain hijauan rumput adalah hasil ikutan atau limbah agroindustri yang potensinya semakin besar sejalan dengan berkembangnya areal pertanian, baik pangan maupun perkebunan. Total potensi daya dukung ternak dari hasil ikutan dan limbah sebagai sumber bahan pakan lokal dimaksud setara 1,7 – 2,1 juta ST/tahun.

Teknologi pengolahan pakan mulai dari teknologi pakan untuk anak sapi prasapih, anak sapi lepas sapih, sapi betina tidak bunting dan bunting, serta teknologi pakan penggemukan menggunakan bahan pakan lokal, maupun sistem integrasi tanaman ternak terutama sapi dengan jagung dan kakao sudah tersedia dan telah disosialisasikan kepada peternak maupun stakeholder.

Keberadaan kelembagaan seperti LM3 dan SMD dapat difungsikan secara optimal dalam penyediaan pakan tambahan berbahan baku lokal, baik untuk konsumsi ternak pada kelompok yang dibina maupun dengan tujuan komersial untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak ruminansia umumnya dan pakan sapi potong khususnya.

Jaringan antar kelompok peternak melalui SMD atau LM3 dan kemitraan dengan pabrik pengolahan yang menghasilkan limbah untuk bahan pakan perlu dibangun, sehingga bahan baku dan produk pakan yang dihasilkan bisa bersaing dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. dan B. Buharman. 2005. Kelayakan finansial usaha ternak potong skala petani. Jurnal Ilmiah TAMBUA IV(2): 158 – 164.

Bappeda Sumbar. 2010. Sumatera Barat dalam Angka. Laporan Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dengan Badan Pusat Statistik Sumatera Barat. Padang, Sumatera Barat.

Bamualim, A., Wirdahayati dan Marak Ali. 2006. Profil Peternakan Sapi dan Kerbau di Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.

Boer, M., M. Ali dan Sadar. 2004. Spesifikasi usaha dalam agribisnis sapi potong di Sumatera Barat. Pros. Seminar Sistem dan Kelembagaan Usahatani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian.

Boer, M., Adrizal, P.B., Zainir dan Hamdi. 2004. Kajian pakan tambahan untuk anak sapi lepas sapih. Pros. Seminar Nasional Kontribusi Hasil-hasil Penelitian/ Pengkajian Spesifik Lokasi Mendukung Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. hlm 247 – 250.

Buharman, B., K. Azwir, N. Hasan, Z. Irfan dan M. Ali. 2009. Kajian Sistem Produksi dan Distribusi Bibit Kelapa Sawit Usaha Perkebunan Rakyat di Sumatera Barat. Laporan Akhir Tahun Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. 48 hlm.

Bapelluh Kabupaten Limapuluh Kota. 2009. Rekapitulasi Proposal FMA Kabupaten Limapuluh Kota Tahun 2009. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kabupaten Limapuluh Kota.

 

Diwyanto, K. dan E. Martindah. 2006. Aplikasi inseminasi buatan dalam pembibitan sapi dan kerbau. Pros. Seminar Nasional Peternakan. Kerjasama BPTP Sumatera Barat dengan Fakultas Peternakan Unand, BPTU Padang Manggatas dan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat. hlm. 17 – 26.

Diwyanto, K., S. Rusdiana dan B. Wibowo. 2010. Pengembangan agribisnis sapi potong dalam suatu sistem usahatani kelapa terpadu. Wartazoa 10(1): 31 – 42.

Edwardi. 2009. Program dan Kegiatan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat. Makalah disampaikan pada Forum SKPD Provinsi Sumatera Barat, Padang.

Haryanto., I. Inounu, B. Arsana dan K. Diwyanto. 2002. Sistem Integrasi Padi-Ternak. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian.

Hendri, Y. dan D. Azwardi. 2006. Pengaruh penggunaan pakan tambahan pada sapi betina terhadap pertambahan berat badan dan lama timbulnya berahi. Pros. Seminar Nasional Peternakan. Kerjasama BPTP Sumbar dengan Fakultas Peternakan Unand, BPTU Padang Mangatas dan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat. hlm. 128 – 132.

Hendri, Y., P.Yufdy dan Azwir, K. 2010. Beternak Sapi dengan Pakan Lokal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. 51 hlm.

Ilham, N. 2006. Analisis sosial ekonomi dan strategi pencapaian swasembada daging 2010. Makalah Pertemuan Koordinasi Teknis Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, Ditjen Peternakan, Bogor 27 April 2006.

Inounu, I., Y. Sani dan A. Priyanti. 2006. Arah kebijakan penelitian peternakan sapi dan kerbau di lahan basah. Pros. Seminar Nasional Peternakan. Kerjasama BPTP Sumbar dengan Fakultas Peternakan Unand, BPTU Padang Mangatas dan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat. hlm. 3 – 16.

Kanwil Sumbar. 2000. Rekomendasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi SK. Nomor KP.160/4178/Kpts/ 2000k; tanggal 1 Desember 2000 Kantor Wilayah Departemen Pertanian Provinsi Sumatera Barat.

Kanwil Sumbar. 2004. Rekomendasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi SK. Nomor KP.074/316a/SK/VIII/ 2004; tanggal 29 Agustus 2004. Kantor Wilayah Departemen Pertanian Provinsi Sumatera Barat.

Kumar, S.A. 2001. Technical Efficiency and Costs Competitiveness of Milk Production by Dairy Farm in Main Milk Production. National Dairy Research Institut, Kamal, India.

Mayulu, H., Sunarso, C. I. Sutrisno dan Sumarsono. 2010. Kebijakan pengembangan peternakan sapi potong di Indonesia. J. Litbang Pertanian 29(1): 34 – 41.

 

Manti, I., F. Nurdin, S. Abdullah, I. Rusli, E. Afdi dan Syafril. 2006. Review Teknologi Pertanian Hasil Pengkajian BPTP Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.

Manti, I., Syafril, Harmaini, Ermidias dan Mulyatri. 2010. Diseminasi Sistem Integrasi Sapi-Kakao dengan Formula Ransum Berbiaya Murah (< Rp 5.000/ekor/hari) untuk Sapi Pedaging. Laporan Akhir Tahun 2010. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. 14 hlm.

Mariyono dan N. H. Krishna. 2009. Pemanfaatan dan keterbatasan hasil ikutan pertanian dan perkebunan serta strategi pemberian pakan. Wartazoa 19(1): 31 – 42.

Marsetiyo. 2008. Strategi pemenuhan kebutuhan pakan untuk peningkatan produktivitas dan populasi sapi potong. Pros. Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong untuk Mendukung Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2008 – 2010. hlm. 94 – 103.

Mentan. 2010. Pedoman Umum Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Kemtan/OT.140/2/2010; 5 Februari 2010.

Munir, R. 2004. Sistem usahatani tanaman pangan dan ternak sapi Pesisir. Pros. Seminar Nasional Penerapan Agro Inovasi mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. hlm. 621 – 628.

Priyanti, A., S. Nurtini dan A. Firman. 2009. Analisis ekonomi dan aspek sosial usaha sapi perah. dalam Santosa, K.A., K. Diwyanto dan T. Toharmat (Eds.). Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 347 – 394.

Sayed, U. 2009. Potensi Perkebunan Kepala Sawit Sebagai Pusat Pengembangan Sapi Potong Dalam Merevitalisasi Dan Mengakselerasi Pembangunan Peternakan Berkelanjutan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara, 12 Desember 2009. 26 hlm.

Sitompul, D. 2003. Design pembangunan kebun dengan sistem usahatani terpadu ternak sapi Bali. Pros. Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit – Sapi, Bengkulu 9 – 10 September 2003. hlm. 81 – 87.

Suharto. 2003. Pengalaman pembangunan usaha sistem integrasi sapi-kelapa sawit di Riau. Pros. Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit – Sapi, Bengkulu 9 – 10 September 2003. hlm. 57 – 66.

Surya, H., Agusviwarman, Nirwansyah, Ermidias, Asmak, dan Nasril. 2009. Demonstrasi dan Ujicoba Teknologi Pakan Sapi Potong Mendukung Kegiatan FMA. Laporan Akhir Tahun 2009. BPTP Sumatera Barat. 48 hlm.

Wahyono dan Hardianto. 2004. Pemanfaatan sumberdaya pakan lokal untuk pengembangan usaha sapi potong. Pros. Lokakarya Nasional Sapi Potong. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 66 – 76.

Wirdahayati, R.B. dan A. Bamualim. 2006. Profil peternakan sapi dan kerbau di Provinsi Sumatera Barat. Pros. Seminar Nasional Peternakan. Kerjasama BPTP Sumbar, Fakultas Peternakan Universitas Andalas, BPTU Padang Mangatas dan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat. hlm. 71 – 76.

CallSend SMSAdd to SkypeYou'll need Skype CreditFree via Skype

Abstract

Recommendation of P and K fertilization on lawland rice based on omission plot in Agam regency. The experiment was conducted on eight locations of lowland rice field in Agam regency of West Sumatera (such as;  Matur sub district, IV Koto, Banuhampu Sungai Puar, IV Angkek Candung, Tajung Mutiara, Bungo Koto Tuo, Baso, Palupuh, dan Kampeh, Baso). Thus location were classified as high status  of P and K content in the soil, (such as; Matur, IV Koto, IV Angkek dan Banuhampu Sungai Puar); Medium status of P and K content in the soil, (such as; Salo, Baso dan Tanjung Mutiara), and Low  status of P and K content in the soil, (such as;Palupuh dan Kampeh Baso). The experiment using  omission plot method with 4 treatments such as; (1) Without N, fertilized with P and K, (2) Without P, fertilized with N and K, (3)  Without K, fertilized with N and P, and (4) fertilized with N,P,K. Results of the experiment showed that to achieve the grain yield target as much 4.0; 5.0; and 6 t/ha on low status of P content were needed P fertilizer as much 40-50 kg/ha,  60-100 kg/ha, and 100-150 kg/ha of SP-36 fertilizer respectively. Meanwhile on medium status of P content in the soil were needed P fertilizer as much 40 kg/ha,  50-60 kg/ha, and 80-100 kg/ha of SP-36 fertilizer respectively. And to achieved the grain yield as much 7.0 t/ha on high status of P content in the soil were needed P fertilizer as much 80-100 kg/ha of SP-36. On the treatments without application of straw composting showed that to achieved the grain yield as much 4.0; 5.0; and 6 t/ha on low status of K content were needed K fertilizer as much 50-75 kg/ha,  100-125 kg/ha, and 150-175 kg/ha of KCl fertilizer respectively. Meanwhile to achieved grain yield target as much 6.0 and 7.0 t/ha on medium status of K content were needed K fertilizer as much  75-100 kg/ha, and 125-150 kg/ha of KCl fertilizer respectively. And needed as much 100-125 and 125-150 kg/ha of KCl fertilizer respectively on  high status of K content in the soil. With application 5.0 t/ha of straw composting to achieved grain yield as much 5.0; 6.0 and 7.0 t/ha were needed K fertilizer as much 50, 100, 1nd 150 kg/ha of KCl fertilizer respectively on low status of K content. Meanwhile to achieved grain yield as much 6.0 t/ha and 7.0 t/ha were needed 50 kg/ha and 100 kg/ha respectively of KCl fertilizer on medium status of K content, and as much 20 kg/ha and 60 kg/ha og KCl fertilizer on high status of K in the soil.

Key words: fertilization, omission plot, lowland rice.

Abstrak

Rekomendasi pemupukan P dan K pada padi sawah berdasarkan petak omisi di Kabupaten Agam. Penelitian dilakukan di delapan lokasi lahan sawah kabupaten Agam (Kecamatan Matur, IV Koto, Banuhampu Sungai Puar, IV Angkek Candung, Tajung Mutiara, Bungo Koto Tuo, Baso, Palupuh, dan Kampeh, Baso) Sumatera Barat. Lokasi penelitian diklasifikasikan atas  lahan sawah berstatus P dan K tinggi (di Matur, IV Koto, IV Angkek dan Banuhampu Sungai Puar), berstatus P dan K sedang (di Salo, Baso dan Tanjung Mutiara) dan berstatus P dan K rendah (di Palupuh dan Kampeh Baso). Penelitian menggunakan metode petak omisi dengan 4 (empat perlakuan) : 1). Tanpa N, dipupuk P dan K, 2). Tanpa P, dipupuk N dan K, 3). Tanpa K, dipupuk N dan P, dan 4). Dipupuk N,P,K.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mendapatkan target hasil 5 dan 6 t GKP/ha pada lahan sawah berstatus P rendah diperlukan pupuk P 100 dan 60 kg SP-36/ha, pada tanah berstatus P sedang untuk mendapatkan hasil 6-7 t GKP/ha diperlukan pupuk P sebesar 100 dan 70 SP-36 kg/ha, sedagkan untuk mencapai hasil 7 t/ha pada lahan sawah berstatus P tinggi dibutuhkan 80 kg/ha pupuk SP-36. Rekomendasi pemupukan P dengan pemberian 2 t/ha pupuk kandang pada lahan sawah berstatus P rendah untuk mendapatkan hasil 5-6 t/ha diperlukan pupuk P 60 dan 100 kg SP-36/ha, pada lahan sawah berstatus P sedang untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha diperlukan pupuk P 70 dan 100 kg SP-36/ha, sedangkan pada lahan sawah berstatus P tinggi diperlukan pupuk P 70-80 kg SP-36/ha. Rekomendasi pemupukan K pada lahan sawah berstatus K rendah untuk mendapatkan target hasil 5-6 t/ha diperlukan pupuk K 100 dan 150 kg KCl/ha, pada lahan sawah berstatus K sedang untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha dibutuhkan pupuk K 125-175 kg KCl/ha, sedangkan pada lahan sawah berstatus K tinggi untuk mendapatkan hasil 7 t/ha diperlukan pupuk K 150 kg KCl/ha. Rekomendasi pemupukan K dengan pemberian 5 t/ha kompos jerami pada lahan sawah berstatus K rendah untuk mendapatkan hasil 5-6 t/ha  diperlukan pupuk K 50-100 kg KCl/ha, pada lahan sawah berstatus K sedang untuk mendapatkan hasil 6-7 t/ha diperlukan pupuk K 50-100 kg KCl/ha, sedangkan pada lahan sawah berstatus K tinggi untuk mendapatkan hasil 7 t/ha diperlukan pupuk K 60 kg KCl/ha.

Kata Kunci: Pemupukan, petak omisi, padi sawah

PENDAHULUAN

Pupuk merupakan salah satu sarana yang sangat penting untuk meningkatkan produksi tanaman. Rekomendasi pupuk yang rasional dan berimbang harus memperhatikan kadar hara di dalam tanah, jenis dan mutu pupuk, keadaan iklim dan mempertimbangkan unsur hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi optimum. Pendekatan ini dapat dilaksanakan dengan baik dan menguntungkan jika perhitungan kebutuhan pupuk (rekomendasi pemupukan) dilandasi oleh kegiatan uji tanah berdasarkan metodologi yang tepat dan teruji.

Beberapa metode pendekatan yang digunakan dalam kaitannya dengan penyusunan rekomendasi pemupukan pada perinsipnya bertitik tolak kepada metode uji tanah dan tanaman. Uji tanah sudah lama diketahui dan digunakan untuk menilai status kesuburan lahan, ada tidaknya kendala kimia tanah, kebutuhan pupuk dan amelioran. Metode ekstraksi yang awalnya hanya ditujukan untuk mengukur konsentrasi satu macam hara tanah tertentu (Bray 1, 2, Olsen, NC atau double acids) kemudian berkembang menjadi metode Mehlich-Bowling dan Mehlich 3. Sama halnya dengan cara Cate dan Nelson, persamaan matematik linier atau berganda (Mobiela et al. 1981), linear plateu, kurva Mitscherlich, dan modeling (Dobermann et al., 1996, Makarim et al., 1999, Dobermann and White, 1999).

Selain berdasarkan uji tanah, penetapan kebutuhan pupuk pada tanaman padi juga dapat dilakukan dengan uji tanaman. Uji tanaman biasa digunakan untuk mengestimasi kebutuhan pupuk antara lain dengan metode Kjeldahl (Bremner and Mulvaney, 1982) dan Refleksi Inframerah Spektroskopi (Cassman and Pingali, 1994).

Keakuratan hasil uji baik pada uji tanah maupun pada uji tanaman sangat ditentukan oleh alat yang digunakan dan keterampilan serta pengalaman pengujinya. Petani sebagai pengguna tentu sangat kecil mempunyai kesempatan atau bahkan hampir dipastikan tidak mungkin dapat terlibat langsung dalam banyak kegiatan pengujian yang dilakukan di laboratorium. Di samping itu, aplikasi hasil uji dilapangan sering kali dilaporkan kurang memuaskan. Karena dalam implementasi hasil uji laboratorium masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti varietas padi yang di tanam, teknik budidaya yang digunakan dan iklim.

Bertolak dari pengalaman tersebut maka akhir-akhir ini telah difikirkan suatu cara penentuan kebutuhan pupuk (khusus P dan K) yang lebih mudah, murah dan lebih praktis serta melibatkan partisipasi penyuluh dan petani. Cara yang dimaksud ini dikenal dengan metode ”Petak Omisi” (Omission Plot).

Omission plot diartikan sebagai plot atau petak kecil yang ditanami padi tanpa dilakukan pemupukan P atau K tetapi dengan pengelolaan tanaman dan penambahan unsur hara lain yang optimal. Sehingga hasil panen yang diperoleh dari petak omission akan sangat tergantung hanya pada hara P atau K yang berasal dari dalam tanah saja bukan dari pupuk. Dengan demikian hasil panen yang diperoleh diharapkan benar-benar dapat mencerminkan tingkat kemampuan tanah setempat dalam mensuplai P atau K yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penetapan kebutuhan pupuk. IRRI bersama beberapa lembaga teknis pertanian di beberapa negara, termasuk Indonesia telah mengembangkan suatu model melelui penelitian secara empiris yang dapat digunakan untuk menduga kebutuhan pupuk untuk tanaman padi melalui bantuan petak omisi (Abdulrachman, Witt, dan Fairhurst (2002).

Pendekatan petak omisi dirancang untuk memastikan dan menyempurnakan dosis rekeomendasi yang ada berdasarkan status hara tanah, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi terhadap ketersediaan unsur hara alami. Konsep dasar dari pendekatan petak omisi adalah menentukan rekomendasi pemupukan dengan terlebih dahulu mengetahui kemampuan tanah secara alami dalam menyediakan unsur hara melalui pembuatan petak omisi.

Penelitian bertujuan untuk menentukan rekomendasi pupuk P dan K pada lahan sawah Kabupaten Agam berdasarkan petak omisi.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah kabupaten Agam dengan penempatan lokasi penelitian berdasarkan peta status hara P dan K lahan sawah Kabupaten Agam skala 1:50.000 (Burbey, et al. 2005). Lokasi penelitian adalah kecamatan Matur, IV Koto, Banuhampu/Sungai Puar, dan IV Angkek Candung untuk lahan sawah berstatus P-tinggi; Tanjung Mutiara, Bungo Koto Tuo (Baso), Palupuh, dan Kampeh (Baso) untuk lahan sawah berstatus P-sedang sampai rendah. Pemilihan lokasi harus memenuhi persyaratan antara lain hamparan cukup mewakili, datar, dekat dengan saluran pengairan, dan mudah terawasi.

Penelitian menggunakan metode petak omisi dengan 4 (empat) perlakuan pemupukan NPK, yaitu : 1). Tanpa N, dipupuk P dan K, 2). Tanpa P, dipupuk N dan K, 3). Tanpa K, dipupuk N dan P, dan 4). Dipupuk NPK. Masing-masing perlakuan dikombinasikan tanpa pemberian bahan organik (A), pemberian pupuk kandang 2 t/ha (B), dan pemberian 5 t/ha kompos jerami. Masing-masing perlakuan ditempatkan pada petak percobaan berukuran 5 x 5 meter.

Pengolahan tanah pertama atau pembajakan dilakukan sebelum dipetak, hal ini untuk memudahkan dalam pembuatan galengan pemisah petak satu dengan lainnya. Pengolahan tanah kedua dilakukan setelah terbentuk petakan. Pengolahan tanah harus dilakukan sehomogen mungkin agar diperoleh kondisi optimal untuk pertumbuhan tanaman. Galengan pemisah petakan dibuat yang baik sehingga kontaminasi air dari perlakuan atau petak lainnya dapat dihindari. Tanah untuk pembuatan galengan diambil tanah sub soil, dimana tanah top soilnya dipinggirkan terlebih dahulu kemudian dikembalikan lagi setelah pemetakan selesai dilakukan.

Pengamatan dilakukan terhadap hasil gabah kering panen (GKP) pada setiap petak perlakuan. Tanaman dipanen menggunakan sabit, dan setelah panen dilakukan perontokan gabah dengan cara mengirik (iles), kemudian gabah bernas dan hampa dipisahkan. Gabah yang bernas ditimbang, sehingga didapat bobot gabah per petak. Bobot gabah per petak dikonversi menjadi hasil gabah per hektar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil petak omisi P, pada lahan sawah berstatus P rendah  hasil tanpa pemupukan P berkisar dari 3,5-4,0 t/h, pada lahan sawah berstatus P sedang, hasil tanpa pupuk P sebesar 4,0-4,5 t/ha, sedangkan pada lahan sawah berstatus P tinggi, tanpa pemupukan P memberikan hasil sebesar 5,8-6,2 t/ha (Tabel 1).

Tabel  1. Pengaruh pemupukan N,P,K dan bahan organik terhadap hasil GKP padi sawah pada beberapa status P dan K tinggi di Kabupaten Agam, MT 2006.

Perlakuan*)

Hasil GKP (t/ha)/L o k a s i

Matur

IV Koto

IV Angkek

Banuhampu

Salo, Baso

Tjg Mutiara

Palupuh

Kampeh, Baso

Tanpa pemberian bahan organik

- N

5,0

5,4

5,0

5,2

4,3

3,7

3,3

3,5

- P

5,9

6,2

5,8

6,0

4,5

4,0

3,5

4,0

- K

6,2

6,1

6,0

6,3

5,0

4,5

3,5

4,0

NPK

6,4

6,5

6,4

6,6

5,4

5,3

5,0

5,1

Dengan pemberian 2 t/ha kompos pupuk kandang

- N

4,9

5,6

5,0

6,3

4,4

3,7

3,5

4,3

- P

6,0

6,8

6,0

6,9

4,5

4,5

3,8

4,2

- K

6,4

6,3

6,5

6,2

4,9

4,8

4,8

4,7

NPK

6,5

6,6

6,5

6,6

5,4

5,2

5,0

5,2

Dengan pemberian 5 t/ha kompos jerami

- N

5,8

5,7

5,9

5,7

4,6

3,9

3,5

4,3

- P

6,4

6,4

6,5

6,4

5,0

5,0

4,6

4,4

- K

6,5

6,5

6,4

6,4

5,2

5,0

4,4

4,6

NPK

6,5

6,4

6,4

6,4

5,5

5,0

5,1

5,3

P-tanah

T

T

T

T

S

S

R

R

K-tanah

T

T

T

T

S

S

R

R

*)Keterangan : PK = Kompos pupuk kandang; KP = Kompos jerami; T = Status P dan K tanah tinggi; S = Status P dan K tanah sedang; R = Status P dan K tanah rendah,

Berdasarkan Tabel rekomendasi pemupukan P, maka pada lahan sawah berstatus P rendah untuk mendapatkan hasil sebesar 3,5-4,0 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 40 kg SP-36/ha (untuk pengganti unsur P yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan P tanah), untuk mendapatkan target  hasil menjadi 5  t/ha diperlukan pemupukan P sebesar 60 kg SP-36/ha, sedangkan untuk meningkatkan hasil menjadi 6 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak  100 kg SP-36/ha (Tabel 2).

 

 

Tabel  2. Rekomendasi pemupukan P sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai berdasarkan  hasil petak omisi P tanpa pemberian pupuk kandang di Kabupaten Agam, MT 2006.

Hasil petak omisi P

Target hasil yang ingin dicapai (t/ha)

4

5

6

7

Status P

(t/ha)

Rekomendasi pupuk  SP-36 (kg/ha)

- Rendah

3,5 - 4,0

40

60

100

 

- Sedang

4,0 - 4,5

 

50

70

100

- Tinggi

5,8 - 6,2

 

 

60

80

Pada lahan sawah  berstatus P sedang, untuk mendapatkan hasil pada tanpa P sebesar 4,0-4,5 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak  50 kg SP-36/ha (untuk pengganti unsur P yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan P tanah), untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha diperlukan pupuk P sebanyak 70 dan 100 kg SP-36/ha. Pada lahan sawah berstatus P tinggi, tanpa P memberikan hasil gabah sebesar 5,8-6,2 t/ha (untuk pengganti unsur P yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan P tanah) dibutuhkan pupuk P sebanyak 60 kg SP-36/ha, untuk mendapatkan target hasil menjadi 7 t/ha diperlukan pupuk P sebanyak 80 kg SP-36/ha (Tabe 2).

Berdasarkan kombinasi petak omisi dengan pemberian 2 t/ha pupuk kandang, maka pada lahan sawah berstatus P rendah untuk mendapatkan hasil sebesar 3,8-4,2 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 40 kg SP-36/ha (untuk pengganti unsur P yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan P tanah), sedangkan untuk meningkat hasil menjadi 5 dan 6  t/ha diperlukan pemupukan P sebesar 60 dan 100 kg SP-36/ha (Tabel 3). Pada lahan sawah  berstatus P sedang, untuk mendapatkan hasil pada tanpa P sebesar 4,5 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak  50 kg SP-36/ha (untuk pengganti unsur P yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan P tanah), untuk meningkatkan hasil menjadi 6 dan 7 t/ha, masing-masing diperlukan pupuk P sebanyak 70 dan 100 kg SP-36/ha. Pada lahan sawah berstatus P tinggi, tanpa P sudah memberikan hasil gabah sebesar 6,0-6,9 t/ha (untuk pengganti unsur P yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan P tanah) dibutuhkan pupuk P sebanyak 60-70 kg SP-36/ha (Tabel 3).

Tabel  3. Rekomendasi pemupukan P sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai berdasarkan  hasil petak omisi P dengan pemberian pupuk kandang di Kabupaten Agam, MT 2006.

Hasil petak omisi P

Target hasil yang ingin dicapai (t/ha)

4

5

6

7

Status P

(t/ha)

Rekomendasi pupuk  SP-36 (kg/ha)

- Rendah

3,8-4,2

40

60

100

 

- Sedang

4,5

 

50

70

100

- Tinggi

6,0-6,9

 

 

60

80-70

Berdasarkan hasil petak omisi K, pada lahan sawah berstatus K rendah  hasil tanpa pemupukan K sebesar 3,5-4,0 t/ha, pada lahan sawah berstatus K sedang sebesar 4,4-5,0 t/ha, sedangkan pada lahan sawah berstatus K tinggi tanpa pemupukan K memberikan hasil sebesar 6,0-6,3 t/ha (Tabel 1 dan 4). Berdasarkan Tabel rekomendasi pemupukan K, pada lahan sawah berstatus K rendah untuk mendapatkan hasil 3,5-4,0 t/ha dibutuhkan pemupukan K sebesar  50 kg KCl/ha (untuk pengganti unsur K yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan K tanah). Guna untuk mendapatkan hasil menjadi 5 t/ha diperlukan pupuk K sebesar 100 kg KCl/ha, dan peningkatan hasil menjadi 6 t/ha diperlukan pupuk K sebesar 150 kg KCl/ha.

Tabel  4. Rekomendasi pemupukan K sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai berdasarkan  hasil petak omisi K tanpa pemberian kompos jerami di Kabupaten Agam, MT 2006.

Hasil petak omisi K

Target hasil yang ingin dicapai (t/ha)

4

5

6

7

Status K

(t/ha)

Rekomendasi pupuk KCl (kg/ha)

- Rendah

3,5 – 4,0

50

100

150

 

- Sedang

4,5 – 5,0

 

75

125

175

- Tinggi

6,0-6,3

 

 

100

150

 

Pada lahan sawah berstatus K sedang, untuk mendapatkan hasil 4,4-5,0 t/ha dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 75 kg/ha (untuk pengganti unsur K yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan K tanah). Untuk mendapatkan hasil menjadi 6,0 dan 7,0 t/ha diperlukan pupuk KCl sebanyak 125 dan 175 kg KCl/ha. Pada lahan sawah berstatus K tinggi, untuk mendapatkan hasil sebesar 6,0-6,3 t/ha diperlukan pupuk K sebanyak 100 kg KCl/ha (untuk pengganti unsur K yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan K tanah), peningkatan hasil menjadi 7 t/ha diperlukan pupuk K sebanyak 150 kg KCl/ha (Tabel 4).

Berdasarkan rekomendasi pemupukan K dengan pemberian kompos jerami menunjukkan pula bahwa pada lahan dengan status K rendah, untuk mendapatkan hasil 4,4-4,6 t/ha tidak dibutuhkan penambahan pupuk KCl (untuk pengganti unsur K yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan K tanah) dan untuk mendapatkan hasil 5,0 t/ha dibutuhkan  50 kg KCl/ha, sedangkan peningkatkan hasil menjadi 6,0 dan 7,0 t/ha dibutuhkan pupuk K  sebanyak 100 kg KCl/ha dan 150 kg KCl/ha. Pada lahan sawah berstatus K sedang, untuk mendapatkan hasil 5,0-5,2 t/ha tidak dibutuhkan penambahan pupuk KCl (untuk pengganti unsur K yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan K tanah), peningkatan hasil menjadi 6,0 dan 7,0 t/ha dibutuhkan  50 dan 100 kg KCl/ha. Pada lahan sawah berstatus K tinggi, untuk mendapatkan hasil 6,4-6,5 t/ha tidak dibutuhkan penambahan pupuk KCl (untuk pengganti unsur K yang terbawa tanaman atau untuk mempertahankan kandungan K tanah) dan untuk mendapatkan hasil 7,0 t/ha dibutuhkan pupuk K sebanyak 40 kg KCl/ha (Tabel 5).

Tabel  5. Rekomendasi pemupukan K sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai berdasarkan  hasil petak omisi P dengan pemberian kompos jerami di Kabupaten Agam, MT 2006.

Hasil petak omisi K

Target hasil yang ingin dicapai (t/ha)

4

5

6

7

Status K

(t/ha)

Rekomendasi pupuk KCl (kg/ha)

- Rendah

4,4-4,6

0

50

100

150

- Sedang

5,0-5,2

 

0

50

100

- Tinggi

6,4-6,5

 

 

0

60

Berdasarkan uraian di atas rekomendasi pemupukan P untuk mendapatkan hasil gabah sampai 6,0 t/ha pada lahan sawah berstatus P rendah (produktivitas < 4 t GKP/ha) dibutuhkan 100-150 kg SP-36/ha, pada lahan sawah berstatus P sedang (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) dibutuhkan 60-100 kg SP-36/ha, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (produktivitas 6,0 t GKP/ha) dibutuhkan sebanyak 60 kg SP-36/ha, untuk meningkatkan hasil sampai 7 t/ha diperlukan pupuk sebanyak 80 kg SP-36/ha.

Rekomendasi pemupukan P dengan pemberian pupuk kandang sebanyak 2 t/ha untuk mendapatkan target hasil 5-6 t GKP/ha pada lahan sawah berstatus P rendah (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) dibutuhkan sebanyak 60-100 kg SP-36/ha. Pada lahan sawah berstatus P sedang (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 6-7 t GKP/ha diperlukan pupuk P sebanyak 70-100 kg SP-36/ha, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (produktivitas < 7 t GKP/ha) dibutuhkan pupuk P sebanyak 70-80 kg SP-36/ha.

Rekomendasi pemupukan K  untuk mendapatkan target hasil 5-6 t/ha pada lahan sawah berstatus K rendah (produktivitas < 4,0 t GKP/ha) diperlukan 100-150 kg KCl/ha, dan pada lahan sawah berstatus K sedang (produktivitas < 5,0 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha dibutuhkan pupuk sebanyak 125-175 kg/ha pupuk KCl. Sedangkan pada lahan sawah berstatus K tinggi (produktivitas > 6,0 t GKP/ha) untuk mendapatkan hasil sebesar 7 t/ha dibutuhkan pupuk K sebanyak 150 kg KCl/ha.

Rekomendasi pemupukan K dengan pemberian kompos jerami 5 t/ha pada lahan sawah dengan status K rendah (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan hasil 6-7 t GKP/ha dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 100-150 kg/ha, dan sebanyak 50-100 kg/ha pada lahan sawah berstatus K sedang (produktivitas 5 t/ha), sedangkan pada lahan sawah dengan status K tinggi (produktivitas > 6,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan hasil 7 t GKP/ha dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 40 kg/ha.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rekomendasi pemupukan P dan K berdasarkan petak omisi di kabupaten Agam adalah sebagai berikut :

Rekomendasi pemupukan P untuk mendapatkan target hasil 5 dan 6 t/ha pada lahan sawah berstatus P rendah (produktivitas < 4 t GKP/ha) dibutuhkan 100 dan 60 kg/ha SP-36, dan pada lahan sawah berstatus P sedang (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan hasil 6-7 t/ha dibutuhkan pupuk P 100 dan 70 kg SP-36/ha, sedangkan  pada lahan sawah berstatus P tinggi (produktivitas 6,0 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha direkomendasikan sebanyak 80 kg/ha pupuk SP-36.

Rekomendasi pemupukan P dengan pemberian pupuk kandang sebanyak 2 t/ha, untuk mendapatkan target hasil 5 dan 6 t/ha pada lahan sawah berstatus P rendah (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) diperlukan pupuk 60 dan 100 kg/ha SP-36, dan pada lahan sawah berstatus P sedang (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha dibutuhkan 70 dan 100 kg/ha SP-36, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (produktivitas < 7 t GKP/ha) diperlukan pupuk P sebanyak 70-80 kg/ha SP-36.

Rekomendasi pumupukan K untuk mendapatkan target hasil gabah 5,0-6,0 t/ha pada lahan sawah berstatus K rendah (produktivitas < 4,0 t GKP/ha) sebesar  100-150 kg/ha KCl, dan pada lahan sawah berstatus K sedang (produktivitas < 5,0 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha dibutuhkan pupuk sebanyak 125-175 kg/ha KCL, sedangkan  pada lahan sawah berstatus K tinggi (produktivitas > 6,0 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha diperlukan pupuk KCl sebanyak 150 kg/ha pupuk.

Rekomendasi pemupukan K dengan pemberian kompos jerami 5,0 t/ha pada lahan sawah dengan status K rendah (produktivitas < 4,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 5-6 t/ha dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 50-100 kg/ha. Pada lahan sawah berstatus K sedang (produktivitas 5 t/ha) untuk mendapatkan target hasil 6-7 t/ha dibutuhkan pupuk K sebanyak 50-100 KCl/ha, sedangkan  pada lahan sawah berstatus K tinggi (produktivitas > 6,5 t GKP/ha) untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha diperlukan pupuk K sebanyak 60 kg/ha pupuk KCl.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrachman, S., C. Witt, dan T. Fairhurst. 2002. Petunjuk Teknis Pemupukan Spesifik Lokasi. Implementasi Omission Plot Padi. Potash and Phosphate Institute (ESEAP). International Rica Research Institute (IRRI) dan Balai Penelitian Tanaman Padi.

Burbey, A. Sahar, Dj. Djamaan, A. Dt. Tambijo, E. Mawardi, A. Izmi, Azizar dan Irman. 2003. Rekomendasi Pemupukan P dan K Padi Sawah di Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Laporan Akhir Kegiatan Pengkajian BPTP Sumatera Barat, 57 hlm (tidak dipublikasikan).

_______, A. Sahar, Z. Kari, Aguswarman, Adrizal, Misran, Azizar dan Irman, 2004. Pengkajian Pemupukan P dan K Spesifik Lokasi. Laporan Akhir Pengkajian BPTP Sumatera Barat, 59 hlm (Tidak dipublikasikan).

 

_______, Z. Kari, Adrizal, Azizar, Misran, A. Izmi. 2005. Pemetaan status hara P dan K lahan sawah Kabupaten Agam. Laporan Hasil Penelitian Kerjasama BPTP Sumatera Barat dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Agam.

Bremner,J.M. and C.S. Mulvaney. 1982. Nitrogen-total. P.595-624. In: A.L. Page et al. (Ed.) Method of soil analysis. Part 2. 2nd ed. Agron. Monogr. ASA and SSSA. Madison, W.I.

Cassmman, K.G. and P.L. Pingali. 1994. Extrapolating trends from long term experiments to farmers fields: The case of irrigated rice systems in Asia. In: Batrnett et al. (Ed.) Agricultural sustainability in economic, environmental and statistical terms. Jhon Wiley & Son, Ltd., London. (inpress).

Disperbunhut Agam, 2005. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA-SKPD) tahun 2006-2010. Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Agam, 58 hlm.

Dobermann, A., K.G Cassman, S. Peng, Pham Sy Tan, Cao Vhan Phung, P.C. Sta Cruz, J. B. Bajit, M.A.A. Adviento, and D.C. Olk. 1996. Precision nutrient management in intensive irrigated rice systems. Proc. Int. Sym. Maximizing Sustainable Rice Yield Through Improved Soil and Environmental Management. Khon Kaen, Thailand. P. 133-154.

Dobermann, A. and P.F. White. 1999. Strategies for nutrient management in irrigated and rainfed lowland rice systems. Nutrients Kluwer Academic Publ. IRRI. 1-26.

Makarim, A.K., Irsal Las, A.M. Djulin, and Sutoro. 1999. Penentuan takaran pupuk untuk tanaman padi berdasarkan analisis sistem dan model simulasi. Agronomika I(I):32-39.

Mombiela, F.J.J. Nicholaides and I.A. Nelson. 1981. A method to determine the appropriate mathematical form for incorporating soil test levels in fertilizer response models for recommendation purposes. Agron J. 73: 937-941.

Di terbitkan pada: Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Padi Nasional 2011 Balai Besar Penelitian Padi 2011. Buku 2. Hlm. 1091-1100 Isbn 978-979-540-057-8

PENDAHULUAN

Untuk mencapai kebutuhan beras pada tahun 2025, maka rata-rata produktivitas padi harus mencapai 7,2 t/ha GKG, pada hal saat ini produktivitas baru mencapai 4,7 t/ha GKG dengan hasil maksimum 6,5 t/ha GKG (Las et al. 2008; Simamarta dan Yuwariyah, 2008). Pemerintah telah mencanangkan gerakan peningkatan produksi beras nasional (P2BN), yang bertujuan untuk meningkatkan produksi padi hingga mampu memenuhi kebutuhan pangan utama masyarakat. Program P2BN menargetkan peningkatan produksi padi sebesar 2 juta ton pada tahun 2007 dan sebesar 5% pada tahun 2008-2009 (Purwanto, 2008). Dalam upaya mencapai sasaran P2BN beberapa strategi yang perlu dilakukan adalah, 1). peningkatan produktivitas, melalui pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) yang dicapai dengan cara sinergitas komponen teknologi, seperti perbaikan mutu benih dan penggunaan varietas unggul baru (VUB), pemupukan berimbang dan rasional, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pengelolaan air serta pemakaian pupuk organik  (Abdurachman et al. 2001 dan Purwanto. 2008).

Eksploitasi lahan sawah secara intensif dan terus-menerus dan telah berlangsung bertahun-tahun, mengakibatkan menurunnya kesuburan dan sifat fisik tanah. Terabaikannya penggunaan bahan organik, dan intensifnya pemakaian pupuk kimia untuk mengejar hasil yang tinggi pada lahan sawah, telah menyebabkan kandungan bahan organik tanah menurun, baik jumlah maupun kualitasnya. Kondisi demikian menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan dan melepaskan hara dan air bagi tanaman, sehingga mengurangi efisiensi penggunaan pupuk dan air irigasi, serta menurunkan produktivitas lahan (Cassman et al. 1993 dan Kundu et al. 1995 Dalam Price dan Balasubramanian, 1996).

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman terus menerus dan dilaksanakan secara intensif serta semua hasil panen diangkut keluar lahan akan mengakibatkan sebahagian besar lahan sawah berkadar bahan organik rendah (C-organik < 2%). Menurut Syarifuddin (1994) sekitar 60% dari lahan sawah yang terdapat di pulau Jawa sudah mempunyai kandungan bahan organik (C-organik) yang sangat rendah. Rendahnya kandungan C-organik di dalam tanah sawah akan memberikan pengaruh negatif terhadap produktivitas padi sawah. Menurut Adiningsih dan Rochayati (1988) terdapat korelasi positif antara kandungan C-organik tanah dengan produktivitas padi sawah, dimana semakin rendah kandungan C-organik tanah semakin rendah produktivitas tanaman padi sawah. Hasil-hasil penelitian menunjukkan, bila kandungan C-organik tanah besar dari 2%, maka tanpa pupuk anorganik hasil panenan padi sawah sudah dapat mencapai lebih dari empat ton per hektar. Akan tetapi bila kandungan C-organik tanah kurang dari satu persen, untuk memperoleh hasil panen yang sama dibutuhkan tambahan pupuk anorganik lengkap (Urea, TSP, dan KCl) dengan takaran yang cukup tinggi (Sugito dan Nuraini, 2000).

Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian untuk melihat sejauh mana pengaruh pemberian bahan organik terhadap peningkatan produksi pada inovasi PTT padi sawah di Sumatera Barat.

BAHAN DAN METODE

Pengkajian dilaksanakan pada MT 2011, di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Lokasi pengkajian adalah lahan sawah beririgasi teknis. Lahan yang digunakan seluas 1 ha dengan melibatkan 3 orang petani menggunakan varietas Inpari 12. Lahan sawah dibagi empat  masing-masing seluas 0,25 ha. Setiap bagian lahan sawah ditanami dengan perlakuan sebagai berikut :

  1. Tanaman biasa (Sistem pertanaman yang biasa dilakukan petani/kontrol)
  2. PTT padi sawah tanpa pemberian bahan organik (kompos pupuk kandang)
  3. PTT padi sawah dengan pemberian 2 t/ha kompos pupuk kandang
  4. PTT padi sawah dengan pemberian 4 t/ha kompos pupuk kandang, komponen teknologi PTT dan Non PTT padi sawah disajikan pada Tabel 1.

Pengamatan hasil dilakukan dengan cara mengambil ubinan dengan ukuran 5 x 5 meter pada setiap perlakuan. Hasil panen setelah dibersihkan ditimbang untuk menetapkan bobot gabah kering panen (GKP). Hasil ubinan ini kita koreksi dengan faktor koreksi sebesar 20% dari hasil.

Model Analisis

Analisis anggaran biaya

Untuk membedakan antara varietas yang diuji dilakukan analisis anggaran biaya usahatani. Analisis anggaran usahatani meliputi masukan-hasil serta nilai nominalnya, yakni jumlah, harga, dan upah  sarana produksi yang digunakan (benih, pupuk, obat-obatan), tenaga kerja (pengolahan tanah, pesemaian, tanam, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, dan panen) dan perolehan hasil serta  harga gabah saat menjual hasil dalam penerapan teknologi intensifikasi dan non intensifikasi.

Analisis Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR)

Dalam menjawab pertanyaan apakah teknologi PTT lebih menguntungkan dibanding teknologi petani non PTT bisa dari nilai MBCR, yaitu: (Banta and Jarasuriya, 1984).

Selisih Penerimaan antara teknologi baru dengan teknologi petani (∆B)

MBCR = ---------------------------------------------------------------------------------------

Selisih biaya antara teknologi baru dengan teknologi petani (∆C)

Tabel 1.  Teknologi pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) dan non PTT padi sawah irigasi di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Komponen Taknologi

Sistem Tanam

PTT

Non PTT

Pengolahan tanah

Bajak singkal 1 kali + rotary 1 kali dan diratakan

Sederhana, sistem rotary  1 kali dan diratakan

Varietas

Inpari 12

Inpari 12

Bibit

10 kg/ha

>30 kg/ha

Persemaian

10 kg benih/100 m2

>30 kg benih/100 m2

Umur bibit

10 hari setelah tebar (HST)

21 hari setelah tebar (HST)

Jumlah bibit

1      batang/rumpun

3-5 batang/rumpun

Jarak tanam

20 x 20 cm

Tidak beraturan

Sistem Tanaman

Legowo 4:1

Tanam biasa

Cara dan takaran pemberian pupuk.

  1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
  2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
  3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).

 

  1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
  2. Pemupukan P sebanyak 75 kg SP-36/ha

Pupuk kandang

1. Tanpa Pupuk Kandang

2.  Diberi Pupuk Kandang 2 t/ha

3.  Diberi Pupuk Kndang 4 t/ha

Pupuk Kandang diberikan secara tebar rata pada saat pengolahan tanah kedua

Tanpa pupuk kandang

Pengendalian gulma

Secara manual 35 HST

Secara manual 35 HST

Pengelolaan air

Lahan sawah dikering saat tanam sampai 10 HST, kemudian diairi setinggi 5-10 cm selama 1 minggu dan dikeringkan lagi (membiarkan lahan sawah kering sendiri) dan diairi lagi dan dikeringkan lagi sampai fase pembungaan. Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi dengan tinggi air sekitar 5 cm, dan 10 hari menjelang panen lahan dikeringkan.

Tergenang terus menerus dari tanam sampai 10 hari sebelum panen

Pengendalian hama dan penyakit

Menggunakan metode PHT

Menggunakan metode PHT

Panen

Panen dilakukan menggunakan tresher

Panen dilakukan  menggunakan tresher

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tanggap Hasil

Tanggap hasil padi sawah terhadap pemberian bahan organik (kompos pupuk kandang) dengan dan tanpa pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah irigasi di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman menunjukkan bahwa Non PTT (Teknologi petani) memberikan hasil sebesar 5,000 kg/ha, dengan PTT hasil gabah meningkat menjadi 6,400 kg/ha, sedangkan dengan penambahan 2 dan 4 t/h pupuk kandang meningkatkan hasil sebesar 7,500 dan 7,700 kg/ha (Tabel 2).

Tabel 2.  Tanggap hasil padi sawah varietas Inpari 12 terhadap pemberian bahan organik dengan  PTT  dan Non PTT padi sawah irigasi di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Teknologi

Hasil GKP (kg/ha)

Peningkatan hasil (%)

Non PTT (kontrol)

5,000

0

PTT + Tanpa Bahan Organik

6,400

28

PTT + 2 t/ha Bahan Organik

7,500

50

PTT + 4 t/ha Bahan Organik

7,700

54

Disini terlihat bahwa pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah dapat meningkatkan hasil 28% lebih tinggi dibandingkan non PTT. Hal ini disebabkan dengan PTT padi sawah bibit yang digunakan bibit muda (10 hst) yang ditanam secara jajar legowo 4:1 dengan jumlah bibit 1 batang per rumpun. Hasil ini sesuai dengan hasil-hasil penelitian terdahulu dimana petani PTT padi sawah memperoleh hasil 20% lebih tinggi dibandingkan dengan Non PTT (Zaini dan Las, 2004). Lebih lanjut Hastini et al, (2011) melaporkan pula bahwa penerapan PTT padi sawah di Desa Wanasari Kecamatan Winayasa Kabupaten Purwakarta mampu meningkatkan produktivitas sebesar 54,02% selama beberapa musim tanam. Hasil penelitian Sumijan dan Jauhari (2011) di Desa Sumberejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri menunjukkan bahwa penerapan PTT (VUB, perlakuan benih, dan pemupukan) mampu meningkatkan produktivitas sebasar 23,8% lebih tinggi dibandingkan teknologi petani. Penerapan teknologi PTT dengan sistem tanam 1-3 bibit/lobang tanaman memberikan peningkatan produktivitas lebih tinggi sebesar 33,7%, sedangkan penerapan teknologi PTT dengan komponen teknologi tanam bibit 1-3 batang/rumpun tanaman dan sitem tanam legowo mampu memberikan peningkatan produktivitas yang paling tinggi mencapai 75,8% dibandingkan dengan teknologi petani.

Penambahan 2 dan 4 ton pupuk kandang per hektar pada PTT padi sawah mampu meningkatkan hasil menjadi 50 dan 54% lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi non PTT serta sebesar 17% dan 20% lebih tinggi dibandingkan teknologi PTT tanpa pupuk kandang. Terjadinya peningkatan hasil ini akibat pemberian pupuk kandang kemungkinan disebabkan rendahnya kandungan bahan organik tanah, sehingga pemberiannya dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk. Menurut Adiningsih dan Rochayati (1988) tujuan pemberian bahan organik ke dalam tanah untuk meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk dan memperbaiki kondisi tanah menjadi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Naidu (1981), menunjukkan bahwa pemberian bahan organik berupa pupuk kandang dan pupuk hijau dapat menggantikan pupuk anorganik, karena memberikan hasil panen yang sama dengan pemberian pupuk anorganik. IRRI (1984) melaporkan pemakaian bahan organik pupuk kandang pada padi sawah meningkatkan bobot kering tanaman dan total serapan N dan akhirnya meningkatkan hasil gabah per hektar. Lebih lanjut menurut Helmi (2003) pemberian bahan organik (kompos jerami dan pupuk kandang sapi) meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah sawah. Kandungan P dan K yang cukup akibat pemberian kompos pupuk kandang dan jerami akan memberikan dampak terhadap peningkatan jumlah malai, jumlah gabah per malai dan hasil gabah.

Analisis Usahatani

Berdasarkan hasil analisis usahatani (Tabel 3)  terlihat bahwa pada sistem tanam biasa (Non PTT) tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 20,250,000 dengan ongkos total sebesar Rp. 9,523,000,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 10,727,000,-. dengan nilai R/C ratio 2,13, sehingga usahatani petani ini memberikan keuntungan 113% dari total investasi yang dikeluarkan petani. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,050,-, diperoleh break even yield 2,351,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,905,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,145,-.

Tabel 3. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas Inpari 12 terhadap pemberian bahan organik dengan  PTT  dan Non PTT padi sawah di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Indikator ekonomi

Satuan

Non PTT

PTT + Pupuk Kandang

Tanpa BO

Pukan 2 t/ha

Pukan 4 t/ha

Hasil gabah

Kg

5,000

6,400

7,500

7,700

Penjualan gabah

Rp.

20,250,000

25,920,000

30,375,000

31,185,000

Ongkos total

Rp.

9,523,000

11,833,600

13,195,500

13,901,300

Keuntungan bersih

Rp.

10,727,000

14,086,400

17,179,500

17,283,700

Breakeven yield

Kg/Ha

2,351

2,922

3,258

3,432

Ongkos per kg gabah

Rp./kg

1,905

1,849

1,759

1,805

Keuntungan/kg gabah

Rp./kg

2,145

2,201

2,291

2,245

R/C

 

2.13

2.19

2.30

2.24

Tenaga (selain traktor dan panen)

HOK

42

50

51

52

Partisi ongkos

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Upah tenaga

6,165,000

64.7

7,665,600

64.8

8,527,500

64.6

8,733,300

62.8

Kontrak/sewa lahan

1,500,000

15.8

1,500,000

12.7

1,500,000

11.4

1,500,000

10.8

Total upah dan sewa

7,665,000

80.5

9,165,600

77.5

10,027,500

76.0

10,233,300

73.6

Ongkos pupuk

630,000

6.6

1,590,000

13.4

1,590,000

12.0

1,590,000

11.4

Bahan organik

0

0.0

0

0.0

500,000

3.8

1,000,000

7.2

Pestisida

1,003,000

10.5

1,003,000

8.5

1,003,000

7.6

1,003,000

7.2

Benih

225,000

2.4

75,000

0.6

75,000

0.6

75,000

0.5

Ongkos total

9,523,000

100

11,833,600

100

13,195,500

100

13,901,300

100












Dengan PTT padi sawah dimana masuknya komponen-komponen PTT seperti penggunaan bibit berumur muda (10 hari setelah tebar) yang ditanam 1 batang per rumpun tanaman secara jajar legowo 4:1, pemupukan dilakukan berdasarkan kandungan hara P dan K tanah, serta pengaturan sistem drainase basah kering (intermitten drynage) memberikan tingkatan pendapatan petani sebesar Rp. 25.920.00025.920.000 ,- dengan ongkos total Rp. 11,833,600,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 14,046,400,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,19, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  119% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,050,-/kg, break even yield sebesar Rp. 2,922,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,849- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,201,-.

Penambahan bahan organik pupuk kandang sebanyak 2 t/ha pada PTT padi sawah tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 30,375,000,- dengan ongkos total Rp. 13,195,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 17,179,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,30, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  130% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,050,-/kg, break even yield sebesar Rp. 3,258,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,759,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,291,-/kg gabah, sedangkan dengan penambahan bahan organik menjadi 4 t/ha pupuk kandang pada PTT padi sawah tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 31,185,000,- dengan ongkos total Rp. 13,901,300,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 17,283,700,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,24, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  124% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,050,-/kg, break even yield sebesar Rp. 3,432,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,805,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,245,-/kg gabah.

Dari Uraian di atas terlihat bahwa inovasi PTT padi sawah meningkatkan pendapatan petani dari 113% pada non PTT menjadi 119% pada PTT padi sawah dengan peningkatan sebesar 6%, sedangkan penambahan 2 dan 4 t pupuk kandang/ha mampu meningkatkan pendapatan petani dari 119% (tanpa pemberian pupuk kandang) menjadi 130% (pemberian 2 t/ha pukan) serta 124% (pemberian 4 t/ha pukan) dengan peningkatan sebesar 11% dan 5% dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk kandang. Lebih rendahnya tingkat pendapatan petani dengan pemberian 4 t/ha pupuk kandang disebabkan tingginya biaya pupuk kandang sehingga tidak sebanding dengan peningkatan hasil.

Pada Tabel 4 disajikan perhitungan analisis Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR) sebagai salah satu ukuran untuk mengetahui perbandingan keuntungan antara biaya dan penerimaan  dari teknologi petani (Non PTT) dibandingkan dengan PTT  serta PTT plus pupuk kandang 2-4 t/ha. PTT padi sawah tanpa pemberian pupuk kandang memberikan nilai MBCR sebesar 2,45, sedangkan PTT padi sawah ditambah 2 atau 4 t/ha pupuk kandang memberikan nilai MBCR sebesar 2,76 dan 2,50. Disini terlihat bahwa nilai MBCR tertinggi (2,76) diperoleh dengan PTT padi sawah yang diberi 2 t/ha pupuk kandang. Ini menunjukkan bahwa dengan tambahan biaya sebesar Rp. 3,672,500/ha, menghasilkan tambahan penerimaan sebesar 10,125,000/ha. Penambahan pupuk kandang sampai 4 t/ha memberikan tambahan penerimaan yang lebih tinggi (Rp. 10,935,000) dibandingkan pemberian pupuk kandang 2 t/ha, akan tetapi dengan tingginya takaran pupuk kandang menyebabkan meningkat pula tambahan biaya menjadi (Rp. 4,378,300). Dengan kriteria MBCR terlihat meskipun pemberian pupuk kandang 4t/ha menghasilkan gabah lebih tinggi dibanding pemberian 2 t/ha, secara ekonomi bagi petani takaran 2 t/ha lebih menguntungkan. Apalagi untuk mendapatkan pupuk kandang 4 t/ha tidak tersedia setiap saat.

Tabel 4. Nilai Marginal Benefit Cost Ratio Implementasi Teknologi Bahan Organik (Pupuk Kandang) pada PTT  dan Non PTT padi sawah di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Biaya dan Penerimaan

Non PTT

PTT

Tanpa Pukan

Pukan  2 t/ha

Pukan  4 t/ha

Biaya (Rp.)

9,523,000

11,833,600

13,195,500

13,901,300

Penerimaan (Rp.)

20,250,000

25,920,000

30,375,000

31,185,000

Biaya Marginal (Rp.)

-

2,310,600

3,672,500

4,378,300

Penerimaan Marginal (Rp.)

 

5,670,000

10,125,000

10,935,000

MBCR

 

2,45

2,76

2,50

Dari uraian diatas terlihat bahwa pemberian kompos pupuk kandang dapat meningkatkan hasil gabah. Peningkatan ini disebabkan meningkatnya efisiensi pemakaian pupuk, dimana bahan organik tersebut dapat menggantikan peranan pupuk P dan K. Menurut Adiningsih dan Rochayati (1988) terdapat korelasi positif antara kandungan C-organik tanah dengan produktivitas padi sawah, dimana semakin rendah kandungan C-organik tanah semakin rendah produktivitas padi sawah. Hasil-hasil penelitian menunjukkan, bila kandungan C-organik tanah besar dari 2%, maka tanpa pupuk anorganik hasil panenan padi sawah sudah dapat mencapai lebih dari empat ton per hektar. Akan tetapi bila kandungan C-organik tanah kurang dari satu persen, untuk memperoleh hasil panen yang sama dibutuhkan tambahan pupuk anorganik lengkap (Urea, TSP, dan KCl) dengan takaran yang cukup tinggi (Sugito dan Nuraini, 2000). Hasil penelitian Martini, et al. (2000) menunjukkan pula penggunaan pupuk organik pada padi sawah dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik. Lebih lanjut Naidu (1981), menyatakan pula bahwa pemberian bahan organik berupa pupuk kandang dan pupuk hijau dapat menggantikan pupuk anorganik, karena memberikan hasil panen yang sama dengan pemberian pupuk anorganik.

Pada lahan sawah berstatus P tinggi di Kabupaten Agam, kombinasi pemberian pupuk NPK dengan pemberian bahan organik berupa 2 t/ha pupuk kandang/ha atau pemberian 5 t/ha kompos jerami berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, total serapan N, P dan K tanaman, komponen hasil dan hasil padi sawah (Burbey, .

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Pengelolaan tanaman berdasarkan inovasi PTT padi sawah varietas Inpari 12 di Kelurahan Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011 mampu meningkatkan hasil gabah sebesar 28% lebih tinggi dibandingkan teknologi petani (Non PTT).
  2. Penambahan 2 dan 4 ton pupuk kandang per hektar pada inovasi PTT padi sawah mampu meningkatkan hasil 50% dan 54% lebih tinggi dibandingkan teknologi petani (Non PTT) serta 17% dan 20% lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk kandang.
  3. Inovasi PTT padi sawah meningkatkan pendapatan petani sebesar 6% lebih tinggi dibandingkan non PTT., sedangkan penambahan 2 dan 4 t pupuk kandang/ha mampu meningkatkan pendapatan petani sebesar 11% dan 5% dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk kandang.
  4. Pemberian 2 t/ha pupuk kandang memberikan tambahan biaya sebesar Rp. 3,672,500/ha dan menghasilkan tambahan penerimaan sebesar 10,125,000/ha dengan  nilai MBCR tertinggi sebesar 2,76.

DAFTAR BACAAN

Abduracman, A., Irsal Las, A. Hidayat, dan E. Pasandaran, 2001. Optimalisasi suberdaya lahan dan air untuk pembangunan pertanian tanaman pangan. Dalam. A. Makarim, K. (Eds). Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Pangan. Puslitbangtan, Badan Litbang Pertanian, p. 28-44.

Adiningsih, J. S., dan  Sri Rochayati. 1988. Peranan bahan organik dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan produktivitas tanah. Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Pupuk. Pusat Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Banta, G. R. and S. K. Jayasuriya. 1984. Economic Analysis of New Technologies. Basic Procedures For Agronomic Research. IRRI Los Banos, Philippines: pp 133-142.

Hastini, Tri, K. Permadi, dan S. Putra. 2011. Dampak penerapan PTT padi sawah terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi, dan pendapatan petani pada program Prima Tani Kabupaten Purwakarta. Hlm. 727-734. Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Helmi. 2003. Pemberian kompos jerami dan pupuk kandang pada padi sawah. Hal. 425-431 Dalam Suprihatno, B., A.K. Makarim, I.N. Widiarta, Hermanto, dan A.S. Yahya (Editor). Buku Dua. Kebijakan Perberasan dan Inovasi Teknologi Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Depatan.

IRRI (International Rice Research Institute). 1984. Organic Matter and Rice. IRRI Los Banos. Laguna, Philippines.

Las, I., H. Syahbuddin, E. Surmaini, dan Ahmad M. Fagi. 2008. Iklim dan Tanaman Padi: Tantangan dan Peluang. Dalam Suyamto et al. (Eds). Buku Padi, Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.151-189.

Martini, Y. Sugito dan T. Sumarni. 2000. Pengaruh pupuk organik ”Bhokasih” dan pupuk Anorganik  terhadap pertumbuhan dan hasil padi. Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya.

Naidu. 1981. Studies on tha Apppropriate Proportion of Organic and Chemical Fertilizers. Thesis. Tannil Nadiu Agric. Univ. Coimbatre.

Purwanto, S., 2008. Iplementasi kebijakan untuk pencapaian P2BN. Dalam. B. Suprihatno et al. (Eds) Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Prosiding Seminar Apresiasi (Buku I), Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.9-37.

Price, L.M.L. and V. Balasubramanian. 1996. Securing the future of intensive rice system: a knowledge-intensive resource management and technology approach. p: 193-203  In Sustainability of Rice in the Global Food System (N.G. Dowling, S.M. Greenfield, and K.S. Fischer Eds.). Davis, Calif. (USA): Pasific Basin Study Center, and Manila (Philippines): International Rice Research Institute. 404 p.

Simamarta, T., dan Y. Yuwariah. 2008. Teknologi intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) untuk mempercepat kemandirian dan ketahanan pangan. Dalam. B. Suprihatno et al. (Eds) Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Prosiding Seminar Apresiasi (Buku I), Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.127-145

Sugito, Y., dan Y. Nuraini. 2000. Sistem Pertanian Organik. Hlm: 14-24 Dalam Soetjipto, P.H, C. Mahfud, dan A. Yusron (Eds). Seminar Hasil Penelitian/Pengkajian Teknologi Pertanian Mendukung Ketahanan Pangan Berwawasan Agribisnis.

Sumijan dan S. Jauhari, 2011. Peluang peningkatan produktivitas padi melalui teknologi PTT pada lahan sawah Semi Intensif di KabupatenWonogiri Jawa Tengah. Hlm. 901-909. Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Zaini, Z. and I. Las. 2004. Development of integrated corp and resource management options for higher yield and profit in rice farming in Indonesia. P.252-257. Proc. APEC-ATC Working Group in Training Workshop on Agricultural Technology Transfer and Training. Bandung-Indonesia, 18-22 July 2004. Indonesia Agency for Agricultural Research and Development, Jakarta.

CallSend SMSAdd to SkypeYou'll need Skype CreditFree via Skype

Tinggi rendahnya hasil yang diperoleh, di samping dipengaruhi oleh jumlah umbi/ tanaman dan bobot umbi, juga oleh inten-sitas serangan penyakit busuk daun. Makin tinggi serangan penyakit busuk daun, ma-kin rendah hasil. Download selengkapnya