JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peluang Dan Tantangan Pengembangan Komoditas Buah Andalan Rakyat Di Sumatera Barat

Pendahuluan

Pengembangan buah  di suatu wilayah tergantung potensi yang dimiliki dan kendala yang dihadapi.  Potensi wilayah terutama ketersediaan sumberdaya pertanian, keragaman sistem usahatani yang ada dan infrastruktur serta ketersediaan teknologi pendukung. Peranan teknologi sangat menentukan dalam memanfaatkan potensi tersebut terutama dalam memecahkan masalah teknis.  Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan daya hasil dan daya guna dari setiap sumberdaya untuk menghasilkan output yang diharapkan agar mampu secara bertahap memperbaiki tingkat kesejahteraan, khususnya masyarakat tani dan pendapatan daerah serta nasional.

Potensi sumberdaya lahan di Sumatera Barat cukup besar. Luas provinsi Sumatera Barat ± 42.226,64 km2 dan telah dimanfaatkan untuk lahan pertanian sekitar 20,0%, sisanya sebagian besar merupakan hutan yang masih berpeluang untuk pengembangan sektor pertanian (Bappeda Sumbar, 2009).  Posisi Sumatera Barat sangat strategis, terletak di tengah dan bagian barat pulau Sumatera. Dari segi iklim, cukup mendukung pengembangan sektor pertanian khususnya buah-buahan rakyat diantaranya: pisang, manggis, sawo, alpukat, jeruk dan markisa manis. Secara ekonomi Sumatera Barat mempunyai akses pasar ke provinsi tetangga terutama Jambi, Riau dan Sumatera Utara dan beberapa negara tetangga (Malaysia dan Singapura).

Usaha pertanian merupakan lapangan kerja utama bagi sebagian besar penduduk Sumatera Barat.  Jumlah rumah tangga yang berusaha di sektor pertanian tersebut mencapai 58,5%.  Namun demikian, sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB masih rendah, terutama sektor tanaman pangan.  Secara absolut sumbangan sektor pertanian menaik dari tahun ke tahun dan pada tahun 2008 sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Sumatera Barat sebesar 24,2% (Bappeda, 2009).  Akan tetapi, secara relatif terhadap sektor lainnya pertumbuhan sektor pertanian relatif lambat. Keadaan tersebut perlu disikapi karena kebijakan Pemerintah Daerah ke depan adalah mendorong ekspor non migas, dan kecukupan pangan daerah mendukung swasembada pangan nasional dan peningkatan pendapatan petani melalui program Pensejahteraan Petani (GPP) sebesar  Rp. 2,0 juta/bulan.  Diharapkan melalui pengembangan buah-buahan yang sudah biasa diusahakan oleh  masyarakat,  peningkatan pendapatan petani  bisa tercapai.

Pengembangan sektor pertanian harus berbasis komoditas unggulan rakyat.  Dalam hal ini pada subsektor tanaman pangan dan hortikultura adalah beberapa jenis buah-buahan andalan rakyat. Peluang pengembangan komoditas unggulan secara umum ditentukan oleh seberapa kuat daya saing yang dimiliki oleh produk tersebut.  Bila daya saing cukup tinggi, maka komoditas tersebut mempunyai peluang pengembangan yang cukup besar untuk dapat masuk dan  bertahan di pasaran.  Demikian pula sebaliknya bila daya saing suatu komoditas ternyata rendah, muncul kendala dalam pemasaran.  Karena itu, pengembangan komoditas unggulan harus memperhatikan potensi dan kendala yang dihadapi dalam berbagai aspek.

KONSEPSI PENGEMBANGAN BUAH  POTENSIAL

Terwujudnya pengembangan suatu komoditas unggulan sangat ditentukan oleh berbagai faktor.  Secara teknis faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain, karena itu bentuk hubungannya merupakan hubungan fungsional (Gambar 1).  Faktor-faktor tersebut secara umum dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok parameter antara lain:  (1) Sumberdaya yang terdiri dari sumberdaya alam  (ketersediaan lahan pertanian, iklim dan air) dan sumberdaya manusia; (2) Faktor ekonomi, sosial, kelembagaan dan budaya diantaranya pendapatan usahatani, pendapatan keluarga, pasar, sikap masyarakat, status lahan, penyuluhan dan lain-lain; (3) Profil komoditas; (4) Kelembagaan; (5) Jaminan pasar; (6)  Infrastruktur: prasarana dan sarana transportasi, wisata, listrik, komunikasi dan lain-lain; (7) Kebijaksanaan dan peran pemerintah: provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan nagari. Setiap kelompok parameter tersebut dapat dipecah menjadi parameter-parameter yang lebih tajam, sehingga jelas permasalahan  apa  yang lebih dominan menentukan pengembangan komoditas unggulan di Sumatera Barat pada suatu kawasan secara berkelanjutan

KOMODITAS UNGGULAN BUAH

Meskipun aneka komoditas buah-buahan diusahakan oleh petani, namun di antaranya ada yang diandalkan oleh petani dan bahkan oleh Pemerintah Daerah.  Komoditas yang diunggulkan oleh petani artinya adalah komoditas tersebut memberikan kontribusi dalam struktur pendapatan keluarga dan dari segi aspek sosial terkait dengan keamanan pangan keluarga (Hosen et al., 2004).

Dengan berlakunya undang-undang otonomi daerah, masing-masing  kabupaten/kota juga mempunyai komoditas unggulan.  Komoditas unggulan daerah tersebut secara otomatis termasuk unggulan nasional/propinsi dan komoditas spesifik.  Pengembangan komoditas unggulan daerah diarahkan untuk peningkatan pendapatan petani,  produksi, pendapatan daerah serta mendukung agroindustri didaerah, sehingga meningkatan kesempatan kerja.

Seleksi komoditas unggulan menggunakan beberapa indikator yaitu: (i) Indek LQ (Location Quotient) dengan  menganalisis data sekunder 5 tahun terakhir (2004-2009) (Bappeda Sumbar, 2004-2009). Indek LQ komoditas tingkat propinsi merupakan perbandingan antara pangsa relatif produksi komoditas ke-i terhadap total produksi tingkat propinsi dengan pangsa relatif produksi komoditas ke-i  terhadap total produksi tingkat nasional.  Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk mengukur keunggulan komoditas tingkat kabupaten/kota. Bila suatu komoditas mempunyai indek LQ >1; artinya adalah komoditas tersebut memiliki keunggulan komparatif.  Bila indek LQ=1, artinya  komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan  dan produksinya hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal;  Bila indek LQ<1 artinya  komoditas tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri, sehingga perlu pasokan dari luar (DIPTI, 1997; Hamdewi, 2003). Parameter lainnya adalah (ii) Tingkat kesesuaian agroekologi yang tinggi dan potensi pengembangan. Komoditas tersebut memang sesuai dengan kondisi agroekologi potensial di propinsi serta potensi pengembangan cukup luas. Penilaian dilakukan secara relatif berdasarkan pengamatan di lapang dan survai AEZ  dengan kriteria: tinggi=1, sedang=2 dan kurang/tidak ada=3; (iii)  Kelayakan finansial dan ekonomi komoditas untuk diusahakan di suatu wilayah yang ditunjukkan oleh nilai B/C. Nilai B/C diperoleh berdasarkan beberapa survai secara terpisah dalam 5 tahun terakhir terhadap beberapa komoditas.  Penilaian dengan memberi skor 1 untuk  indek B/C tertinggi, skor 2 untuk B/C berikutnya dan seterusnya.; (iv) Dapat menciptakan nilai tambah dan kesempatan kerja yang ditunjukkan oleh tingkat pendapatan dan dapat juga nilai produksi yang dihasilkan di suatu wilayah. Pemberian skor sama dengan butir 2 di atas, nilai produksi tertinggi diberi skor 1 dan seterusnya. Total produksi  dan harga merupakan rata-rata selama 5 tahun terakhir; (v) Komoditas yang telah diusahakan banyak oleh masyarakat setempat yang ditunjukkan oleh jumlah petani yang terlibat (%).  Pemberian skor sama dengan butir 2 di atas, jumlah petani terbanyak diberi skor 1 dan seterusnya; (vi) Mempunyai orientasi pasar yang jelas (daerah/lokal, antar daerah dan ekspor).  Untuk komoditas ekspor dapat ditunjukkan dengan besar nilai ekspor (US$). Sistem penilaian bila ada nilai ekspor diberi nilai 1, bila dipasarkan ke luar propinsi/antar pulau diberi nilai 2 dan hanya pasar lokal dinilai  3; (vii) Ketersediaan teknologi merupakan indikator peluang intervensi teknologi yang diadaptasikan dan dirakit sesuai agroekosistem setempat serta akan dikembangkan dalam skala ekonomi.  Penilaian adalah bila banyak teknologi tersedia dengan peluang intervensi tinggi dinilai 1, bila teknologi tersedia sedang, dinilai 2 dan teknologi sangat terbatas/kurang dan bahkan tidak ada dinilai 3.

Prioritas komoditas unggulan ditetapkan apabila jumlah skor paling rendah menjadi prioritas pertama (1), dan seterusnya untuk komoditas dengan jumlah skor tertinggi prioritasnya rendah. Penentuan prioritas komoditas dilakukan pada kelompok komoditas untuk setiap subsektor. Hasil analisis dikemukakan pada tabel 1 dan 2.

Tabel  1. Beberapa komoditas buah unggulan dan prioritas menurut nilai indikator yang dapat dikembangkan di Sumatera Barat

 

Jenis buah

LQ

Kesesuai-

an/Potensi pengemba

ngan

R/C

Nilai Produksi (Rp.M)

Jumlah

Petani (%)

Pasar/nilai ekspor (US$ Jt)

Keterse-

diaan teknologi

 

 

1. Jeruk

2. Sawo

3. Advokat

4. Markisa

5. Pisang

6. Manggis

 

2,52

1,72

1,53

8,29

3,50

7,50

 

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

 

2,10

>1,0

>1,0

2,26

>1,0

>1,0

 

111,6

4,6

11,0

4,0

-

-

 

0,75

0,78

1,98

0,45

0,60

50,0

 

Lokal

Lokal

Lokal

Lokal

Ekspor

Lokal

 

Cukup

Kurang

Kurang

Sedang

Sedang

Cukup

 

Tabel  2. Distribusi pengembangan  komoditas buah-buahan unggulan menurut wilayah  kabupaten/kota di Sumatera Barat.

 

Kabupaten/

kota

Jeruk

Sawo

Alpukat

Manggis

Markisa manis

Pisang

Pesisir Selatan

Solok

Solok Selatan

Sijunjung

Dharmasraya

Tanah Datar

Pdg. Pariaman

Agam

50-Kota

Pasaman

Pasaman Barat

Pariaman

Padang

-

√

√

-

-

-

-

√

√

-

-

-

-

-

√

-

-

-

√

-

-

-

-

-

-

-

-

√

-

-

-

√

-

-

-

-

-

-

-

√

-

-

√

-

√

√

-

√

-

-

-

√

-

√

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

√

√

√

√

√

-

√

-

√=adalah wilayah pengembangan buah-buahan unggulan rakyat

 

PELUANG DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN

  1. 1. Peluang

1.1 Ketersediaan Lahan dan Dukungan Agroklimat

Secara geografis Sumatera Barat memiliki sumberdaya alam yang cukup potensial untuk pengembangan komoditas pertanian yang berorientasi agribisnis, baik ditinjau dari segi agroklimat maupun dari potensi lahan. Kondisi biofisik wilayah yang komplek, mulai dataran rendah sampai dataran tinggi dengan berbagai tipe iklim dan jenis tanah, sangat memungkinkan untuk pengembangan berbagai komoditas, baik komoditas unggulan wilayah maupun komoditas potensial (prospektif).

Dinas Pertanian Provinsi Sumbar (2002), mengidentifikasi luas lahan pertanian di Sumatera Barat mencapai 1.327.294 ha yang tersebar pada setiap kabupaten/kota.  Potensi  pertanian terbesar dari sisi luas lahan adalah Kabupaten Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat dan Agam. Distribusi penggunaan lahan di Sumatera Barat disajikan pada Tabel 3. Luas lahan sawah adalah 238.949 ha dan lahan kering seluas 590.455 ha yang dimanfaatkan untuk pekarangan (110.559 ha); tegalan/kebun (319.373 ha); dan ladang/huma (160.563 ha), dengan total wilayah Sumatera Barat 4.229.750 ha.

Tabel 3.  Distribusi penggunaan tanah menurut kabupaten/kota yang memiliki lahan  dataran tinggi di Sumatera Barat, 2007 (ha).

 

Kabupaten/ kota

Pemu-

kiman

Pertanian

Padang rumput

Semak alang2

Hutan

Tanah

rawa

Lahan lainnya

Solok

4.427,9

60.620,6

-

47,0

281.935,5

26.778,0

-

Tanah Datar

12.007,0

46.890,0

-

1.881,0

35.726,0

7.054,0

143,0

Agam

23.335,4

119.965,2

6.827,4

-

61.348,7

11.753,0

-

50-Kota

7.367,8

88.448,5

-

-

217.492,0

22.121,7

-

Pd. Panjang

340,1

340,1

9,1

35,2

314,4

59,4

95,9

Bukittinggi

1.003,9

1.196,5

-

11,2

249,0

-

63,5

Jumlah

48.480,7

317.460

6.836,5

1.974,6

597.066

266.861

302,4

Sumber: Bappeda Sumbar, 2009

Berdasarkan kemiringan lahan, 27,5% dari wilayah Sumbar berada pada kemiringan 0-20 ; 15,4% kemiringan 2-150; 15,6% kemiringan 15-400; dan 41,5% >400 tersebar mulai dari dataran rendah pantai barat Sumbar sampai gugusan pergunungan bukit barisan sebelah timur.

Sebaran jenis tanah utama, secara garis besar dibagi tiga bagian seperti, pembagian fisiografi dan ketinggian dari muka laut, yaitu: (i) wilayah bagian barat, (ii) wilayah bagian tengah, dan (iii) wilayah bagian timur. Wilayah bagian barat (Kabupaten Pasaman, Agam, Padang Pariaman, dan Pesisir Selatan), umumnya adalah tanah Latosol, Kompleks Podzolik, Andosol, Regosol dan sepanjang daerah aliran sungai didapatkan tanah Aluvial, sedangkan arah ke pantai adalah tanah Organosol yang sebagian besar masih tertutup hutan rawa. Wilayah bagian tengah (Pasaman, Agam, Limapuluh Kota, Tanah Datar dan Solok), jenis tanah umumnya Andosol, Kompleks Podzolik, Latosol, Regosol, Litosol, dan Aluvial sepanjang aliran sungai.  Wilayah bagian timur (Pasaman, Limapuluh Kota, Tanah Datar, Sawahlunto/Sijunjung), umumnya Podzolik Merah Kuning dan Latosol, pada cekungan ditemukan sedikit Glay Humus serta sepanjang aliran sungai dan lembah adalah tanah Aluvial.  Prosentase luas masing-masing jenis adalah: Organosol  5,79%; Aluvial 6,41%; Regosol 3,26%; Andosol 6,90%, Latosol 22,11%; Podzolik Merah Kunig 18,09% dan sisanya 37,42%.

Oldeman et al., (1979), curah hujan bervariasi 3.000-5.000 mm/thn, dengan hari hujan 100-230 hh/thn, serta jarang terjadi bulan kering.  Tipe iklim pada umumnya termasuk tipe A (Schmidt and Ferguson) dan tipe Alfa (Kopper).

1.2.  Sumberdaya Manusia

Potensi sumberdaya manusia dapat dilihat dari besarnya angkatan kerja produktif yang bekerja di sekor pertanian, ataupun kualitas sumberdaya yang dimiliki.  Kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki dicerminkan oleh tingkat pendidikan.  Kecenderungan di Sumatera Barat adalah kurangnya minat tenaga berpendidikan untuk terlibat langsung dalam kegiatan agribisnis atau usahatani.  Dengan œsistem matrilinial mereka cenderung bekerja di luar daerah sebagai perantau baik bekerja di sektor formal ataupun informal.  Kurangnya minat angkatan kerja bekerja di sektor pertanian tersebut menyebabkan tingkat upah menjadi lebih tinggi, skala usaha kecil dan pada gilirannya biaya produksi produk yang dihasilkan secara linear juga meningkat.

Tahun 2008, total jumlah penduduk Sumatera Barat sekitar  4,5 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan 1,7%/tahun.  Dari jumlah itu, 53,4% adalah angkatan kerja (umur 10 tahun), dan besarnya angkatan kerja yang bekerja adalah 50,1%.  Angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian 50,3%, berarti  jumlah angkatan kerja yang bekerja pada lapangan usaha utama sektor pertanian adalah 859.327 orang.  Jumlah  tersebut tersebar pada semua kegiatan mulai dari pengolahan tanah sampai panen atau pasca panen dalam subsistem produksi, baik pertanian pangan ataupun usaha perkebunan.  Bilamana semua kegiatan usahatani menggunakan tenaga kerja manusia, potensi tenaga kerja yang ada sangat tidak seimbang.  Sebagai contoh, dengan luas panen padi sawah 406.758 ha/tahun, serta jumlah tenaga kerja 859.327 orang, maka untuk setiap hektar sawah dalam satu musim hanya tersedia tenaga 2,11 orang.  Dengan kondisi yang tidak seimbang itu, kemungkinan salah satu alasan kenapa pengelolaan usahatani tidak dilakukan secara intensif, dalam arti melibatkan tenaga kerja orang lebih banyak. Oleh sebab itu untuk meningkatkan pendapatan perlu dikembangkan buah-buhan, karena dalam pengelolaannya tidak membutuhkan curahan tenaga kerja yang relatif banyak.

 

1.3 Infrastruktur

Kondisi infrastruktur di Sumbar relatif baik, sehingga asessibilitas masyarakat antar desa ke ibu kecamatan, ibu kabupaten ataupun pusat-pusat pelayanan masyarakat lainnya termasuk lancar. Sumatera Barat terletak di bagian tengah dan barat pulau Sumatera serta dilalui oleh jalan Lintas Sumatera.  Karena itu daerah ini termasuk wilayah strategis. Pada bagian timur berbatas dengan Provinsi Riau dan Jambi, Selatan dengan Bengkulu, dan bagian utara dengan Sumatera Utara. Prasarana jalan yang menghubungkan provinsi tetangga tersebut cukup baik.  Dengan demikian, transportasi keluar masuknya produk pertanian dari dan ke luar daerah provinsi tetangga menjadi lebih mudah, seperti ke provinsi Riau, Sumatera Utara, Jambi ataupun pulau Jawa.  Selain prasarana jalan, Sumatera Barat mempunyai pelabuhan laut (Teluk Bayur) dan pelabuhan udara (Bandara Internasional Minangkabau-BIM), yang sangat potensial mendukung ekspor hasil-hasil pertanian, terutama ke negara tetangga (Singapura, Brunai dan Malaysia).

 

1.4 Kelembagaan

Kelembagaan merupakan faktor penting dalam pengembangan usahatani.  Kelembagaan utama yang terkait dengan sistem produksi adalah Kelompok Tani (Pokatn). Pada setiap desa atau nagari ada beberapa Poktan  dan pada setiap Poktan terdiri dari sejumlah anggota.  Tidak semua petani pada suatu wilayah (nagari) menjadi anggota Poktan. Namun kemajuan manajemen Poktan yang aktif dalam mengadopsi inovasi teknologi diharapkan akan berdampak pada petani lainnya yang bukan anggota.  Kelembagaan sarana produksi usahatani berupa kios sarana produksi  juga tersedia pada pasar desa atau pasar kecamatan terdekat, sehingga untuk pengadaan sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan cukup lancar pada keadaan normal.  Kecuali bila terjadi gangguan pasokan, terutama yang sering terjadi pada pupuk.  Kelembagaan pasar juga tidak masalah, hal ini didukung oleh sarana dan prasarana transportasi yang lancar. Pedagang untuk komoditas pangan maupun produk perkebunan umumnya ada pada desa atau desa tetangga yang tidak jauh dari lokasi petani. Bahkan untuk padi, umumnya petani didatangi oleh pedagang pengumpul pada waktu panen.

Lembaga keuangan seperti Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sudah mulai berkembang sebagai sumber pembiayaan bagi petani dalam mengembangan usaha pertanian mereka. Keberadaan LKM-A ini akan sangat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan, khususnya usaha agribisnis skala kecil (Hosen et al. 2009).

1.5 Dukungan Teknologi

Beberapa paket teknologi buah (markisa, pisang, manggis, jeruk) baik budidaya, pengendalihan hama/penyakit  maupun pascapanen hasil penelitian/pengkajian BPTP Sumatera Barat yang telah disosialisasikan dan di diseminasikan ke pengguna atau stakeholders dikemukakan  dibawah ini.

Jeruk

Penyakit CVPD dan beberapa  penyakit lainnya menyerang  pertanaman jeruk saat ini.  Oleh sebab itu, bibit yang akan ditanam harus bebas dari patogen sistemik penyebab penyakit (bakteri, virus dan atau viroid), yaitu: Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), Citrus Tristeza Virus (CTM), Citrus Vein Enation Virus (CVEV), Citrus Exocortis Viroid (CEV), Citrus Psorosis Virus (CPsV), Citrus Tatter Leaf Virus (CTLV) dan Citrus Cachexia Virus (CcaV).  Perbanyakan bibit jeruk bebas penyakit dilakukan oleh penangkar bibit untuk diteruskan kepada petani, melalui okulasi atau okulasi cangkok, menggunakan entris yang berasal dari Block Pondasi Mata Tempel.  Untuk menghindari penggunaan bibit yang terinfeksi penyakit, penggunaan bibit jeruk yang tidak jelas asal usulnya harus dihindari.

Selain itu, aspek pemeliharaan tanaman juga perlu mendapat perhatian, mencakup: (i) pemupukan (fase vegetatif dan generatif); (ii) pengairan dan drainase; (iii) sanitasi kebun; (iv) pemangkasan; (v) penjarangan buah; (vi) dan pengendalian OPT yang kesemuanya termasuk dalam Pengelolaan Kebun Jeruk Sehat (PKJS).

Teknologi degreening buah jeruk menggunakan gas asetilen dimaksudkan untuk mendapatkan agar warna buah  menjadi seragam menyamai penampilan buah jeruk impor.  Dengan cara ini kulit buah jeruk dapat berubah menjadi kuning seragam dalam 6-7 hari, tanpa mengurangi susut bobot.

Markisa Manis

BPTP Sumbar telah melepas dua varietas unggul markisa manis, yakni Super Solinda dan Gumanti.  Dibanding varietas lokal bunga warna ungu biasa yang berkembang luas, kedua varietas unggul ini mempunyai keunggulan daya hasil lebih tinggi, ukuran buah lebih besar, harga jual lebih tinggi.  Rasa buah lebih manis dengan kandungan gula 10,1%, sari buah lebih banyak, dan total padat terlarut 15,6%.  Selain itu kulit buah lebih tebal dan aman untuk transportasi jarak jauh (Buharman et al., 2004).

Walaupun buah markisa diutamakan dikonsumsi segar sebagai buah meja, markisa juga bisa diolah menjadi sirup dan jus.  Campuran 70% markisa manis dengan 30%  terung belanda menghasilkan jus atau sirup mix terung belanda yang tahan lama, yaitu 10 bulan dalam ruang penyimpanan (Iswari dan Buharman, 2009).

Manggis

Tahun 2006 produksi manggis Sumbar sebanyak 18.000 ton. Dari jumlah tersebut sekitar 10% diekspor,  sementara sisanya (kualitas BS) di pasarkan dalam daerah yang harga jualnya jauh lebih rendah. Untuk meningkatkan nilai tambah, buah manggis BS dapat diolah menjadi sirup, jus, puree dan  xanthones. Menurut Iswari et al., (2007) sirup dan jus terbuat dari buah manggis asli, tanpa pewarna sintetis, tanpa pengawet dan tahan disimpan 10 bulan pada suhu dingin. Berbeda dengan puree manggis sebagai bahan setengah jadi yang tidak tahan disimpan pada suhu ruang (harus disimpan pada suhu 5-7oC).  Produk olahan yang terbuat dari ekstrak kulit buah manggis yang selama ini tidak dimanfaatkan, ternyata punya nilai ekonomi dan nilai kesehatan yang tinggi untuk dikonsumsi. Xanthones yang bahan bakunya dari kulit manggis dapat berfungsi sebagai obat anti kanker, kolesterol, darah tinggi, gula dan sakit perut. Teknologi pengolahan manggis ini telah dikerjasamakan dengan Pemerintah Kabupaten Sijunjung melalui Dinas Pertanian setempat (Badan Litbang Pertanian 2008).

 

 

Pisang

Dalam dua dekade terakhir, di berbagai daerah pertanaman pisang mengalami serangan berat oleh penyakit laju Fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum dan penyakit layu bakteri disebabkan oleh Pseudomanas solanacearum dengan tingkat serangan mencapai 24%. Kedua penyakit ini tidak mudah dikendalikan karena sifat patogennya menyebar secara sistemik dalam jaringan tanaman. Nurdin dan Hermanto (2009) mengemukakan beberapa cara teknik pengendalian penyakit fusarium dan penyakit layu bakteri pada pisang, dengan cara: (i) penggunaan bibit bebas penyakit; (ii) aplikasi agens hayati; (iii) aplikasi pupuk organik; (iv) eradikasi rumpun sakit; (v) penggunaan alat steril; (vi) penggerondongan tandan dan pemotongan jantung; (vii) pencegahan patogen terbawa kaki; (viii) pengapuran; dan (ix) penanaman varietas tahan.

Untuk mendapatkan penampilan buah  pisang yang mulus dan menarik terbebas dari serangan burik dilakukan pengerondongan pada tandan buah menggunakan plastik biru segera setelah jantung pisang keluar.  Dengan teknologi ini buah pisang yang dihasilkan mempunyai kulit yang mulus.  Disamping itu pengerodongan dapat mencegah serangan hama Trips dan mencegah penularan penyakit layu bakteri oleh serangga vektor.

Alpokat

Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbutrop), telah menghasilkan tiga varietas unggul alpokat yang pohon induknya diekplorasi  dari Kabupaten Solok Sumatera Barat.  Ketiga varietas unggul tersebut masing-masing adalah (i) Mega Gagauan; (ii) Mega Murapi; dan (iii) Mega Paninggahan. Hasil masing-masing varietas ialah: 880-1.000 buah setara 300-350 kg/pohon/tahun untuk Mega Gagauan, 350-450 buah (180-225 kg/pohon/tahun) untuk Mega Murapi, dan 880-1.000 buah (300-350 kg/pohon/tahun) untuk Mega Paninggahan. Ketiganya mempunyai rasa manis pulen, kering, lembut dengan warna daging buah kuning mentega (Puslitbanghor 2003).

1.6 Aspek Sosial dan Budaya

Peluang dari aspek sosial budaya dapat direfleksikan melalui tingkat kesadaran masyarakat sebagai konsumen yang memahami arti penting dari mengkonsumsi buah sebagai sumber mineral dalam menu sehari-hari. Promosi untuk pemahaman ini dilakukan sangat intensif sejak dini mulai dari anak balita bahkan dimulai dari ibu hamil.  Bahkan bagi sebagian golongan masyarakat tertentu, mereka lebih mengutamakan mengkonsumsi buah dibanding sumber karbohidrat

  1. 2. Tantangan

2.1 Aspek Teknis

Jenis buah yang disebutkan diatas pernah menempati urutan luas panen dan produksi melebihi jenis komoditas lainnya. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, posisi tersebut menjadi terbalik.  Jenis komoditas buah andalan rakyat seperti markisa manis, pisang, jeruk, dan alpokat perkembangannya dikemukakan di bawah ini.

Pada tahun 1990, luas tanaman markisa di Kabupaten Solok baru sekitar 600 ha.  Enam tahun berikutnya, luas areal markisa  mencapat  4.136 ha, yang tersebar di Kecamatan Lembang Jaya seluas 2.272 ha, Lembah Gumanti 1.712 ha dan sisanya di kecamatan tetangga, seperti Gunung Talang dan Pantai Cermin. Berdasarkan data tersebut, selama 6 tahun telah terjadi peningkatan areal tanam yang sangat tajam mencapai 638,6%.  Hal ini tidak lain karena nilai ekonomi usahatani markisa mempunyai daya saing (komparatif dan kompetitif) yang tinggi.  Berkembangnya agribisnis berbasis markisa di Kabupaten Solok antara lain didukung oleh potensi sumberdaya lahan yang cocok, ditemukannya varietas unggul markisa (Super Solinda dan Gumanti), permintaan pasar yang makin meningkat, ketersediaan teknologi, dan besarnya keuntungan usahatani yang diterima petani.  Disamping itu tidak kalah pentingnya adanya dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam komponen dan sistem antara lain kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dan lembaga penelitian serta instansi terkait yang secara bersama-sama bergerak dalam kegiatan pengembangan agribisnis markisa (Buharman et al, 2004a).

Dibanding tahun 1996, luas areal markisa saat ini jauh berkurang. Terdapat beberapa kemungkinan alasan anjloknya luas areal markisa di Kabupaten Solok, yaitu:  (i) Eksplosif areal tanam markisa pada tahun 1996, terutama diusahakan pada lahan bukaan baru yang relatif subur (hutan sekunder dan hutan lindung); (ii) Menurunnya produksi markisa di Kabupaten Solok akhir-akhir ini sejalan dengan berkurangnya areal  tanaman produktif, terbatasnya peremajaan dan tidak adanya penanaman baru; (iii) Pada kawasan atau areal tertentu, usahatani markisa kalah bersaing dibanding usahatani sayuran; (iv) Lahan pengembangan tidak tersedia (bukaan baru hutan sekunder yang subur, sehingga tidak perlu pemupukan); (v) Modal sarana produksi (tiang, kawat, dsb) mahal; dan (vi) Budidaya dan pemeliharaan masih sederhana.

Luas areal panen yang cenderung berkurang juga terdapat pada tanaman pisang, jeruk, dan alpokat (Gambar 2).  Terlihat bahwa penurunan areal tanaman pisang bersifat linear (negatif), tetapi tidak demikian dengan jeruk dan alpokat. Kecenderungan ini diduga karena peran tanaman buah tersebut sebagai sumber pendapatan dalam usahatani keluarga semakin menurun, sejalan dengan merosotnya produktivitas. Gangguan hama/penyakit yang belum mampu dikendalikan sepenuhnya oleh petani menjadi penyebab utama di lapangan. Keadaaan ini menyebabkan petani beralih ke jenis komoditas lain yang nilai ekonominya lebih baik, seperti di Kabupaten Pasaman Barat yang awalnya menjadi sentra penghasil jeruk siam, petani tidak melakukan peremajaan atau perluasan areal, tetapi beralih ke tanaman perkebunan (kelapa sawit dan kakao). Begitu juga untuk tanaman pisang di Tanah Datar, petani mengganti dengan tanaman pangan (jagung) yang lebih ekonomis.

2.2 Kemampuan IPTEK

Keberadaan lembaga penelitian baik yang berada dibawah jajaran Badan Litbang Pertanian maupun Perguruan Tinggi, pada dasarnya  dimaksudkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi petani, terutama dalam aspek inovasi teknologi. Untuk mempercepat diseminasi inovasi teknologi, perakitan komponen/paket teknologi dan pengembangannya dilakukan dengan melibatkan petani koperator secara aktif.  Selain itu, beberapa media diseminasi akhir-kahir ini juga dipacu pengembangannya.  Dengan demikian, respon yang terlambat dalam menjawab permasalahan di lapang dapat diatasi. Pada waktu bersamaan, secara simultan kemampuan SDM petani dalam mengakses Iptek melalui website secara kelembagaan juga terus ditingkatkan.

2.3 Aspek Ekonomi

Dari aspek ekonomi, pengembangan suatu komoditas pada agroekosistem yang sama sangat ditentukan oleh tingkat keuntungan usaha yang dihasilkan. Artinya petani sebagai produsen bebas memilih jenis komoditas yang akan diusahakan sesuai dengan kemampuan (lahan, tenaga kerja, dan modal) yang mereka miliki. Sebagai tanaman tahunan yang berumur panjang, tanaman buah tidak mudah diganti satu sama lain dalam waktu pendek.  Oleh sebab itu pemeliharaan baik sebelum menghasilkan maupun pada kondisi tanaman produktif perlu dilakukan secara intensif. Pemupukan, pengendalian OPT, serta perawatan tanaman lainnya membutuhkan biaya cukup besar. Hal ini seringkali kurang mendapat perhatian, sehingga produktivitas dan keuntungan usahatani jadi rendah.

Dalam bidang pemasaran, kompetisi dengan buah lain, baik yang dihasilkan dari Sumatera Barat ataupun buah sejenis asal impor akhir-akhir ini semakin nyata.  Untuk buah jeruk di pasaran banyak dijual jeruk madu asal Sumatera Utara dan Jeruk Mandarin dan sunkis asal China, sementara jeruk lokal Sumatera Barat sudah jarang didapatkan di pasaran.  Berbeda  dengan beras sebagai sumber karbohidrat, untuk saat ini posisinya sebagai pangan utama tidak bisa digantikan oleh bahan pangan sumber karbohidrat lainnya. Komoditas buah  satu sama lainya bersifat substitusi. Konsumen dengan mudah beralih dari satu jenis buah ke jenis buah yang lain sesuai dengan musim dan ketersediaannya di pasaran. Fleksibilitas permintaan seperti ini akan sangat berbeda dengan permintaan untuk industri. Artinya apabila jenis buah diproduksi sebagai bahan baku industri, maka ketergantungan industri tersebut terhadap bahan baku jenis buah tertentu

2.4 Kelembagaan/diseminasi

Penguatan kelembagaan petani seperti Poktan dan Gapoktan mendapat perhatian khusus akhir-akhir ini. Hal ini dimaksudkan agar aksesibilitas petani terhadap informasi, teknologi, permodalan, dan pasar yang selama ini menjadi kendala bagi petani dalam pengembangan usaha dapat teratasi.  Dalam konteks agribisnis, khususnya subsistem pemasaran kelembagaan diharapkan mampu membangun kemitraan usaha guna meningkatkan kemampuan posisi tawar bargaining positionterhadap produk yang dihasilkan secara berkelanjutan

Sejak tahun 2008, di Sumatera Barat telah dilaksanakan Program Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), yang salah satu tujuannya adalah mengatasi persoalan permodalan, akses pasar, dan teknologi bagi masyarakat miskin di perdesaan. Program PUAP dikelola oleh Gapoktan dan setiap gapoktan diberi bantuan langsung masyarakat yang dikelola melalui Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A). Selama dua tahun pelaksanaan PUAP di Sumatera Barat, telah terbentuk sebanyak 533 Gapoktan dengan anggota 45.192 petani (Tabel 5).  Melalui kelembagaan ini memungkinkan petani lebih mudah akses terhadap modal, pasar, dan teknologi dalam upaya mengembangkan komoditas buah sepanjang persyaratannya dapat dipenuhi.

Hal ini dapat dimulai dari kegiatan pembibitan pada lokasi-lokasi yang memungkinkan didukung oleh ketersediaan Block Pondasi Mata Tempel, misalnya  untuk tanaman jeruk. Pengalaman selama ini dalam pengembangan komoditas jeruk pada suatu kawasan terkendala oleh tidak tersedianya benih yang cukup. Oleh sebab itu, pembinaan dan pengawasan terhadap produsen atau penangkar benih dan distribusinya perlu dilakukan intensif.

Tabel 5.  Sebaran banyak Gapoktan, LKM-A dan jumlah petani pelaksana PUAP di  Sumatera Barat, 2008-2009.

Kabupaten/kota

Tahun 2008

Tahun 2009

Jumlah petani (orang)

Gapoktan

LKM-A

Gapoktan

LKM-A

  1. Dharmasraya
  2. Pesisir Selatan
  3. Sijunjung
  4. Agam
  5. Pasaman
  6. Pasaman Barat
  7. Limapuluh Kota
  8. Solok Selatan
  9. Solok

10.  Pdg. Pariaman

11.  Tanah Datar

12.  Ko. Padang

13.  Ko. Pariaman

14.  Ko.Payakumbuh

10

30

27

10

12

10

42

11

17

22

13

-

-

-

10

30

27

10

12

10

42

11

17

22

13

-

-

-

15

30

20

32

15

32

32

18

21

26

25

19

26

8

15

30

20

32

15

32

32

18

21

26

25

19

26

8

1.902

5.675

4.509

3.235

2.037

2.797

7.000

2.462

5.868

3.302

2.821

1.178

1.846

560

Jumlah

204

204

329

329

45.192

Sumber: Hosen et al., 2010.

 

PENUTUP

Periode dua sampai tiga dawawarsa yang lalu beberapa jenis buah seperti markisa manis, pisang dan jeruk menjadi komoditas andalan rakyat di Sumatera Barat.  Hal ini terutama dapat dilihat dari indek LQ dan beberapa variabel ekonomi lainnya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan yang terjadi sekarang. Berkurangnya daya saing komoditas tersebut, secara teknis terutama disebabkan petani belum sepenuhnya mampu  mengendalikan penyakit utama seperti jamur Fusarium dan CPVD pada tanaman pisang dan jeruk.  Berbeda dengan tanaman markisa, pengembangannya terkendala dengan tidak tersedia  lahan bukaan baru, sementara peremajaan pada lahan yang ada tidak dilakukan akibat  kalah bersaing dengan tanaman sayuran.

Pengembangan komoditas buah andalan rakyat ke depan sangat tergantung dari intervensi, dukungan dan fasilitasi berbagai pihak terkait. Pada satu sisi, dalam kondisi sekarang daya saing komoditas tersebut di kawasan sentra sebelumnya kemungkinan sudah jauh berkurang dan komoditas alternatif sudah berkembang secara mapan. Sebaliknya pada sisi lain, perannya tetap diharapkan baik sebagai diversifikasi sumber pendapatan dan kesempatan kerja maupun ketersediaan buah lokal dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Prinsip keunggulan komparatif pada kawasan-kawasan yang agoekosistemnya sesuai menjadi prioritas pengembangan komoditas selanjutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Litbang Pertanian. 2008. Limapuluh Teknologi Unggulan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Peneltian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Bappeda Sumbar. 1998- 2002. Sumatera Barat dalam Angka.  Kerjasama Bappeda Propinsi Sumatera Barat dengan Biro Pusat Statistik Sumatera Barat. Padang.

Bappeda Sumbar. 2009.  Sumatera Barat dalam Angka.  Kerjasama Bappeda Propinsi Sumatera Barat dengan Biro Pusat Statistik Sumatera Barat. Padang.

Buharman, B., Y. Mala, dan E. Afdi. 2004. Perspektif Pengembangan Agribisnis Markisa di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. JPPTP Vol. 7(1):54-68.

Buharman B., Yanti Mala, dan Edial Afdi. 2004a. Sistem usahatani markisa manis di lahan kering dataran tinggi Solok. Success Story Pengembangan Teknologi Inovatif. Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif (PAATP).  Buku 1. hal 32-43

DIPTI.  1997.  Analisis komoditi unggulan Propinsi Sumatera Barat.  Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri (DIPTI) Sumatera Barat.  Padang.

Dinas Pertanian Provinsi Sumbar.  1998-2002.  Perkembangan tanaman pangan di Sumatera Barat.  Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Barat.  Padang.

Handewi P.S. Rachman. 2003. Dasar penetapan komoditas unggulan nasional. Makalah Lokakarya Sinkronisasi Program Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, Puslitbang Sosek Pertanian, Bogor 5-6 Mei 2003.

Hosen, N, Syahrial A, Buharman B., dan Zainal Lamid. 2004. Sintesis komoditas unggulan di Sumatera Barat.  Dalam Abdullah M, dkk Prosiding Seminar Nasional Kontribusi Hasil-Hasil Penelitian/Pengkajian Spesifik Lokasi Mendukung Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor. Hal 57-69.

Hosen, N., Nirwansyah, Harmaini, dan Nurnayetti. 2010.  Keragaan 2 tahun pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Sumatera Barat. Labor Diseminasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, Padang 9 April 2010.

Iswari, K. Harnel, E. Afdi, F. Artati, dan Azman. 2007. Pengembangan teknologi pengolahan manggis skala rumah tangga di sentra produksi manggis Sumbar. Workshop Pengembangan Produk Manggis. Kerja sama BPTP Sumatera Barat dengan Bappeda Sumbar, Padang 10 April 2007.

Iswari, K dan Buharman B., 2009. Kajian dan pengembangan teknologi pengolahan sirup mix Arosuka: Campuran markisa manis dengan terung belanda. Prosiding Seminar Nasional Membangun Sistem Inovasi di Perdesaan.  Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Hal  306-313

Nurdin, F., C. Hermanto. 2009. Pengendalian penyakit layu pada tanaman pisang. Balai Pengkajian Teknologi  Pertanian Sumatera Barat dan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

Oldeman, L.R., Darwis, S. N., Las, I. An agroclimate Map of Sumatra. Contr. Centr. Res. Inst. for Agriculture No. 52. Bogor 1979.

Puslitbanghor. 2003. Katalog Teknologi Unggulan Hortikultura, Tanaman Sayuran, Tanaman Buah, dan Tanaman Hias. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.