Peranan Gapoktan Dalam Mendorong Percepatan Adopsi Teknologi Adaptif Padi Sawah Di Sumatera Barat

Parent Category: Publikasi Written by Nasrul Hosen Hits: 3140

PENDAHULUAN

Dari dahulu sampai sekarang padi masih tetap merupakan komoditas andalan bagi petani. Artinya adalah bahwa padi adalah menjadi usaha utama bagi petani dengan tujuan ketahanan pangan keluarga. Bagi petani di Sumatera Barat, padi mempunyai nilai sosial disamping nilai ekonomi. Perkembangan usahatani padi sawah dari sisi luas tanam dan produktifitas relativ tidak  dipengruhi oleh harga gabah. Akan tetapi harga pupuk, benih bermutu dan upah tenaga kerja menentukan kualitas budidaya, dan pada gilrannya mempengaruhi produktifitas.

Tantangan internal pembangunan tanaman pangan khususnya padi sawah yang patut menjadi perhatian ke depan antara lain, stagnasi pertumbuhan produktivitas,  penurunan luas baku sawah akibat alih fungsi lahan. Daya saing ekonomi padi lemah, antara lain disebabkan lemahnya kelembagaan perekonomian pedesaan.  Sistem kelembagaan pedesaan masih terbelenggu oleh kebijakan pembangunan yang sentralistik yang menyebabkan kreativitas masyarakat pedesaan tidak berkembang dan kapital sosial melemah (Kasryno dan Effendi, 2004).  Kementerian Pertanian melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang dimulai tahun 2008 dan terus berkembang sampai tahun 2013, melakukan pemberdayaan terhadap kelembagaan pedesaan terutama penataan kelembagaan petani yaitu kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) serta penataan usaha agribisnis skala kecil. Gapoktan dikembangkan menjadi lembaga ekonomi pedesaan dan pada tahap awal gapoktan menumbuhkan usaha permodalan yaitu Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A). Program PUAP memfasilitasi gapoktan dana penguatan modal  Rp. 100 juta per gapoktan yang selanjutnya dikelola oleh LKM-A.  LKM-A berperan seperti Bank Tani dan meminjamkan modal usaha kepada para petani di wilayah kerjanya (desa/nagari)(Kementan, 2008). Modal tersebut diharapkan digunakan oleh petani untuk perbaikan teknik produksi atau peningkatan skala usaha. Pengembangan usaha oleh petani tersebut membutuhkan inovasi teknologi, disinilah peran BPTP sesuai tupoksinya dalam mendukung pengembangan usaha produktif termasuk usaha padi sawah.

Iovasi teknologi padi sawah sudah banyak tersedia. Teknologi tersebut diantaranya dalam bentuk varietas unggul, komponen teknologi dalam pengelolaan tanaman dan sumberdaya lahan terpadu (PTT), dan penanganan pascapanen (Sembiring, 2009).  BPTP Sumatera Barat mengkaji kesesuaian semua teknologi tersebut berdasarkan agroeosistem dan aspek sosial ekonomi sehinggga melahirkan rekomendasi teknologi padi sawah spesifik lokasi (BPTP, 2010). Teknologi adaptif tersebut didesiminasikan kepada petani untuk diterapkan guna meningkatkan produktifitas padi sawah, mutu dan pendapatan. Teknologi padi yang tersedia mampu mendukung target swasembada beras baik regional maupun nasional.  Target produksi gabah nasional tahun 2014 mencapai 76,57 juta ton, sementara tahun 2011 produksi hanya 65,76 juta ton (Anonimus, 2013). Sumatera Barat ikut berperan dalam mendukung swasembada beras nasional dengan potensi lahan sawah sekarang  238.514 ha, indeks pertanaman (IP) 1,89 mampu memproduksi gabah  2.188.709 t/GKG/tahun (Bappeda. 2011).  Potensi peningkatan produksi melalui perbaikan teknik produksi dan peningkatan IP cukup besar. Peran inovasi teknologi dalam memanfaatkan potensi tersebut sangat diharapkan.

Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktifitas padi adalah masih rendahnya adopsi. Tantangan yang  dihadapi  sekarang  dalam percepatan  adopsi  teknologi  adalah kelembagaan penyuluhan kurang berperan sebagaimana diharapkan sesuai fungsinya (Anwar, 1999).  Kondisi sekarang ketersediaan fasilitas dan jumlah penyuluh juga semakin terbatas, sehingga sulit melaksanakan fungsi penyuluhan sebagaimana  idealnya  (Bakorluh, 2013). Dalam kaitan dengan alih teknologi, saat ini perlu suatu strategi selain sistem alih teknologi yang biasa dilakukan dengan titik tumpu pada kelembagaan penyuluhan, agar arus informasi teknologi baru cepat sampai ke pengguna. Menurut Pranadji (2004), kepemimpinan seseorang dipedesaan mempunyai pengaruh yang besar dalam sistem sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam hal ini Pengurus Gabungan Kelompok tani (gapoktan) adalah seorang yang dipercaya untuk memimpin sebuah kelembagaan tani  yang merupakan kelompok masyarakat tani dengan tujuan yang sama, berpeluang dimanfaatkan sebagai agen pengembang teknologi minimal bagi petani dalam kelompoknya. Mereka perlu dibekali dengan informasi teknologi baru, dengan harapan suatu teknologi yang bermanfaat akan dapat disebarkan kepada petani anggota dan petani lainnya di wilayah nagari/desa. Hal ini merupakan latar belakang kajian ini yaitu dengan membina sejumlah gapoktan melalui pembekalan teknologi baru padi sawah, kemudian dievaluasi dampaknya dengan indikator tingkat adopsi teknologi tersebut oleh anggota gapoktan.

Tulisan ini bertujuan mengemukakan hasil kajian peran gapoktan dalam mendorong percepatan  adopsi teknologi padi sawah  pada dua lokasi sentra produksi di Sumatera Barat yaitu Kabupaten Limapuluh Kota dan Padang Pariaman.

 

BAHAN DAN METODA

Lokasi pengkajian adalah Kabupaten Lima Puluh Kota dan Padang Pariaman yang termasuk sentra produksi padi di Sumatera Barat. Kabupaten Limapuluh Kota adalah kawasan dataran sedang dan Padang Pariaman adalah dataran rendah (kawasan pesissir). Kajian meliputi (a) Desk study; dan (b) Survey petani (Singarimbun dan S. Effendi. 1982) yang dilakukan bulan Maret-November  tahun 2012.  Pemilihan sampel Gapoktan dilakukan secara purposiv dengan kriteria jumlah aset lebih Rp. 150 juta dan sudah berfungsi 3-4 tahun. Jumlah Gapoktan contoh dipilih 2 gapoktan pada setiap kabupaten dan usahatani padi sawah termasuk usaha utama petani di wilayah kerja gapoktan. Pengambilan sampel petani dilakukan secara acak sederhana dengan strata adalah petani peminjam modal dari LKM-A Gapoktan (anggota) dan petani bukan peminjam modal di wilayah gapoktan  (bukan anggota) di wilayah (nagari/desa) yang sama dengan jumlah masing-masing strata 15 orang petani padi sawah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuessioner dengan parameter utama yaitu pengetahuan/pemahaman petani tentang teknologi padi sawah, input-output, adopsi teknologi sesuai anjuran, harga-harga dan upah. Analisis data dilakukan secara deskriptif, tabulasi (%, nisbah, rata-rata), analisa usahatani dengan indikator kelayakan ekonomi benefit cost ratio (BCR) dan marginal benefit cost ratio (MBCR) (Sukartawi, et. al. 2002; Adnyana, dan , Ketut Kariyasa, 2006). Analisis percepatan adopsi dilakukan dengan metoda komparativ antara kondisi sebelum ada sesudag adanya Gapoktan atau pada kondisi setelah ada gapoktan  dibandingkan antara petani anggota yang meninjam modal dari LKM-A dengan petani bukan anggota pada waktu dan wilayah yang sama.  Asumsi adalah petani bukan anggota kondisi kemampuan modal lemah, relatif sama dengan petani anggota Gapoktan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi

Peningkatan luas panen padi relative rendah meskipun perbaikan irigasi terus dilakukan. Kabupaten Limapuluh Kota termasuk sentra produksi padi pada kawasan dataran sedang dengan luas panen 46.641 ha dan rata-rata produktifitas 4,66 t/ha. Kabupaten Padang Pariaman terletak pada kawasan pesisir di mana kualitas irigasi relativ lebih baik dan merata, luas panen 48.658 ha dengan produktifitas 4,53 t/ha lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas padi sawah di Kabupaten Limapuluh Kota. Secara total luas panen padi sawah di Sumatera Barat  menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dan pada tahun 2011 luas panen padi mencapai 450.368 ha dengan pertumbuhan rata-rata selama 5 tahun terakhir 2,24%/tahun. Produksi gabah kering panen pada tahun 2011 sebesar 2.188.709 ton dengan produktivitas rata-rata sebesar  4,86 t/ha.  Rata-rata produktifitas di 2 lokasi pengkajian lebih rendah dibanding rata-rata produktifitas padi sawah secara total di Sumatera Barat (Bappeda, 2011).

Jumlah gapoktan yang telah mempunyai LKM-A untuk melayani pembiayaan petani kecil di Kabupaten Limapuluh Kota 98 unit dan potensi modal yang siap melayani petani secara total Rp. 12, 22 milyar. Di Kabupaten Padang Pariaman jumlah gapoktan/LKM-A yang siap melayani pembiayaan petani sebanyak 78 unit dengan jumlah modal usaha Rp. 8,6 milyar. Sebagian besar di wilayah kerja gapoktan tersebut petaninya mengusahakan padi sawah, disamping usaha lainnya seperti jagng, kakao, dan ternak (Sekretariat PUAP Sumatera Barat, 2012).

Kondisi infrastruktur mendukung ketersediaan sarana dan prasarana produksi serta pemasaran hasil dan umumnya di Sumatera Barat infrastrktur seperti sarana dan prasarana transportasi, listrik, dan komunikasi cukup baik dan lancar.

Diseminasi Teknologi Adaptif

Pengembangan usaha produktif petani memerlukan teknologi adaptif. BPTP Sumatera Barat melalui Program PUAP telah melakukan diseminasi teknologi dengan serangkaian kegiatan diseminasi. Kegiatan diseminasi yang dilakukan antara lain: (i)  Sosialisasi teknologi bagi pengurus gapoktan, manejer LKM-A, ketua kelompok tani (Poktan) dan penyuluh pendamping.  Sosialisasi teknologi kepada petani dilakukan oleh penyuluh pendamping bersama dengan pengurus gapoktan dan ketua Poktan di wilayah kerja masing-masing; (ii) Mendistribusikan  media cetak dalam bentuk buku Kumpulan Informasi Paket Teknologi dan  Juknis SL-PTT padi sawah kepada pengurus Gapoktan, Ketua Poktan dan Penyuluh Pendamping; (iii) Media diseminasi lainnya seperti demplot teknologi, pelatihan dan pendampingan teknologi  (SL-PTT) disinerjikan dengan pelaksanaan kegiatan diseminasi yang ada di BPTP dengan sasaran Poktan yang sama.  Teknologi padi sawah yang didesiminasikan diantaranya benih bermutu, VUB dan unggul lokal, pemupukan spesifik lokasi, dan teknologi pascapanen (BPTP Sumatera Barat, 2009; 2010 dan Hosen, et al. 2013). Diharapkan dengan diseminasi teknologi petani paham tentang manfaat teknologi dan selanjutnya mempelajari teknik penerapnya. Sasaran akhir adalah teknologi diterapkan dalam pengelolaan usahatani salah satunya padi sawah.

Hasil kegiatan diseminasi di beberapa BPTP memperlihatkan bahwa, walaupun dari segi teknologi telah nyata manfaatnya, namun karena kelompok sasaran dalam proses diseminasi kurang dipersiapkan, terutama media dan metodenya maka proses adopsinya tidak begitu baik. Diperlukan sekitar 2 tahun sebelum teknologi hasil Badan Litbang diketahui oleh 50% PPS, dan 6 tahun sebelumnya 80% dari PPS tersebut telah mendengar  teknologi tersebut. Jangka waktu lebih lama dari pada itu diperlukan sampai ke PPL, dan lebih lama lagi sampai ke petani (Mundy, 2000).  Karena itu alur informasi teknologi perlu diperpendek dengan menyampaikan informasi langsung ke kelembagaan tani di pedesaan. Hal inilah yang dilakukan dalam program PUAP untuk percepatan adopsi teknologi oleh petani.

Beberapa pengkajian tentang diseminasi yang telah dilakukan oleh BBP2TP  menunjukan bahwa; (a) sumber inovasi teknologi yang digunakan petani dari BPTP baru sekitar 44,64%. Selebihnya petani mengakomodasi teknologi dari sesama petani dan penyuluh, (b) metode dan media yang disukai petani adalah pertemuan (81%), pendampingan (70,5%), kunjungan lapang (68,9%), demplot (67,6%) dan kursus tani (61,7%) dan (c) aspek yang dipertimbangkan petani dalam mengadopsi inovasi teknologi dalam Prima Tani adalah ketersediaan benih/bibit, harga benih/bibit, produktivitas, harga jual, akses pasar, keuntungan, kompatibilias, tingkat kerumitan, kemudahan untuk dicoba dan perubahan fisik (Hendayana et al, 2006).

Penguasaan  Teknologi oleh Petani

Penguasaan teknologi  petani dimaksudkan adalah petani sudah mengenal dan memahami tentang suatu teknologi atau komponen teknologi adaptif padi sawah, baik sebelum atau sesudah adanya gapoktan. Sebagian teknologi sudah dikenal oleh petani sebelum menjadi anggota.  Sebelum ada program PUAP, diseminasi teknologi sudah berjalan sehingga petani sudah mengenal sejumlah teknologi padi sawah, walaupun belum merata. Diseminasi teknologi setelah ada gapoktan melalui program PUAP rata-rata pada dua lokasi telah menambah jumlah petani yang tahu dan memahami cara penerapan dan manfaat teknologi tersebut (Tabel 1).

 

Tabel  1.  Rata-rata jumlah petani (%) yang sudah tahu dan paham tentang teknologi adaptif  usahatani padi sawah  pada dua lokasi contoh di Sumatera Barat, 2012

 

No

Nama teknologi

Sebelum ada Gapoktan PUAP

Sesudah ada gapoktan

PUAP

Jumlah petani yang Sudah tahu (%)

Jumlah petani yang Belum tahu (%)

Jumlah petani yang Sudah tahu (%)

Jumlah petani yang Belum tahu (%)

1

VUB (Logawa, Impari-12, Bt. Piaman, Bt. Lembang)

20

80

66

34

2

Benih bermutu

100

0

100

0

3

Bibit 2-3 btg/rp

46

54

92

8

4

Legowo

40

60

82

18

5

Pemupukan spesifik lokasi

63

37

92

8

6

BWD

13

87

60

40

 

Adopsi Teknologi

Beragamnya tingkat adopsi teknologi disebabkan oleh berbagai faktor:  (i) Faktor sikap petani yang beragam ada yang respon cepat terhadap inovasi baru dan ada yang lambat; (ii)  Ada petani yang cenderung melihat kelemahan teknologi baru dari segi  tambahan biaya akibat perubahan teknologi,  akan tetapi tidak melihat tambahan hasil dan keuntungan dari penerapan teknologi tesebut. Petani yang mempunyai sikap seperti faktor di atas memerlukan waktu cukup lama untuk bisa yakin manfaat suatu inovasi baru. (iii) Sebagian besar petani mempunyai luas garapan sawah relatif sempit (0,25-0,50 ha), akibatnya perubahan manfaat ekonomi penerapan teknologi kurang dirasakan; (iv) Kemampuan modal petani juga lemah untuk pengadaan teknologi; (v) Keunggulan  teknologi, dimana teknologi yang tersedia tidak memberikan manfaat yang signifikan, baik dari segi peningkatan produktivitas maupun penurunan biaya produksi; (vi) Peran Ketua Poktan dalam mengkomunikasikan  teknologi adaptif kepada anggota juga bervariasi, ada yang lebih aktif dan ada yang pasif (Hosen, et al, 2005).

Dalam kasus kajian ini kondisinya berbeda, dimana masalah modal petani ada solusi pinjaman modal dari LKM-A dan sebagian komponen teknologi utama tersedia di lokasi petani.  Adopsi teknologi padi sawah oleh petani anggota Gapoktan menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan sebelum adanya Gapoktan, begitu juga bila dibandingkan dengan petani bukan anggota Gapoktan. Adopsi terjadi setelah 1-2 tahun teknologi didiseminasikan kepada pengurus gapoktan/LKM-A, Ketua Poktan dan penyuluh pendamping. Hasil kajian Hendayana, et. al. (2009) pada komoditas padi, jagung dan kedelai menunjukkan bahwa sebagian besar proporsi petani lag adopsi terjadi antara 2-4 tahun, sedangkan lag adopsi yang lebih cepat (<2 tahun) hanya terjadi pada 16,67% proporsi petani dan sisanya 26,67% berjalan relatif lebih lambat (>4 tahun).

Pinjaman modal oleh petani digunakan untuk perbaikan teknik produksi dengan menerapkan sejumlah komponen teknologi dan yang utama sekali adalah benih bermutu (berlabel), verietas unggul (VUB maupun unggul lokal) dan pemupukan spesifik lokasi.  Pemupukan sesuai anjuran baik waktu pemberian yang tepat, jumlah dan jenis pupuk yang digunaan, peningkatan adopsinya cukup signifikan baik di Kabupaten Limapuluh Kota maupun di Padang Pariaman, berturut-turut pertambahan adopsi 52,8% dan 70,0%. Khusus pemupukan spesifik lokasi, dikategorikan diadopsi bila jumlah penggunaan  pupuk kurang lebih 15% dari anjuran. Kondisi tersebut ditolerir karena petani tidak tahu pasti luas sawah dengan standar satuan hektar.

Hal yang menarik adalah sebelum ada gapktan sebagian petani masih mengggunakan benih dari hasil panen sebelumnya dan setelah ada Gapoktan karena ada pinjaman modal dari LKM-A, petani beralih ke benih berlabel yang tersedia pada kios-kios setempat.  Alasannya adalah setelah ada Gapoktan, penjelasan tentang manfaat benih bermutu lebih disosialisakan baik melalui Poktan ataupun penyuluh.

Tabel 2. Adopsi komponen  teknologi  padi sawah oleh petani pada dua lokasi contoh di Sumatera Barat, 2012

 

Kabupaten

Komponen teknologi

Adopsi teknologi oleh anggota  Gapoktan (%)

Perubahan adopsi (%)

Adopsi oleh petani non anggota Gapoktan (%)

Perbandingan adopsi  dari anggota terhadap non anggota  Gapoktan (%)

 

Sblm ada Gapoktan

Setelah ada Gapoktan

 

1

2

3

4

5

6

7

 

Limapuluh Kota

VUB (Logawa, Impari-12, Bt. Piaman, Bt. Lembang)

3,3

3,3

0

0

0

 

 

Unggul Lama (IR-42 dan Cisokan)

30,0

36,3

+6,3

47,2

-10,9

 

 

Unggul Lokal (Junjung)

66,7

60,4

-6,3

52,8

+7,6

 

 

Benih bermutu

30,0

89,1

+59,1

30,0

+29,1

 

 

Legowo

0

0

0

0

0

 

 

Bibit 2-3 btg/rp

30,0

75,9

+45,9

30,0

45,9

 

 

Pemupukan Spesifik lokasi (Urea+Phonska)

26,4

79,2

+52,8

30,0

45,2

 

Padang-Pa

riaman

VUB (Bt. Piaman, Bt. Lembang, Impari-12)

3,3

3,3

0

0

0

 

 

 

Unggul Lama (IR-42 dan Cisokan)

75,9

79,2

+3,3

90,0

-10,8

 

 

 

Unggul Lokal (Anak Daro)

20,8

17,5

-3,3

10,0

+7,5

 

 

 

Benih bermutu

46,2

100,0

+53,8

50,0

+50

 

 

 

Legowo

0

0

0

0

0

 

 

 

Bibit 2-3 btg/rp

40,0

82,5

+42,5

36,7

+42,8

 

 

 

Pemupukan berimbang (Urea+Phonska)

30,0

100,0

70,0

26,7

+73,3

 

 

Dibandingkan dengan petani bukan anggota Gapoktan, ternyata jumlah petani anggota  yang mengadopsi beberapa komponen teknologi padfi sawah juga lebih tinggi dibandingkan dengan bukan anggota pada waktu yang sama. Hanya saja terjadi dinamika adopsi teknologi varietas antara unggul lama (IR-42 dan Cisokan) dengan varietas unggul lokal karena pergiliran variatas antar musim tanam. VUB yang dianjurkan dalam PTT padi sawah adopsinya sangat lemah, termasuk Batang Piaman dan Batang Lembang dan  petani pernah mencoba tetapi tidak berlanjut (Tabel 2)

Analisis Manfaat Penerapan Teknologi

 

Penerapan teknologi adaptif padi sawah seperti pupuk spesifik lokasi, benih bermutu dengan menggunakan varietas unggul dan jumlah bibit perrumpun sedikit (2-3 batang), secara ekonomi dinilai layak untuk dikembangkan. Penambahan biaya produksi untuk perbaikan teknik produksi cukup menguntungkan dengan indikator MBCR > 1 yaitu di Kabupaten Limapuluh Kota nilai MBCR=2,73 dan di Padang Pariaman  MBCR = 3,34. Artinya adalah bahwa penambahan modal usaha untuk penerapan teknologi anjuran memberikan tambahan penerimaan yang lebih besar dari tambahan biaya yang dikorbankan.  Perbaikan teknik produksi dengan penerapan teknologi oleh petani anggota Gapoktan mampu meningkatkan produktifitas padi sawah di ke dua lokasi, berturut-turut 15,3% di Kabupaten Limapuluh Kota dan 18,2% di Kabupaten Padang Pariaman. Sejalan dengan peningkatan produktifitas, keuntungan usahatani padi sawah tersebut juga meningkat (Tabel 3).

Tabel  3.Status hasil dan keuntungan usahatani padi sawah  sebelum dan sesudah adopsi teknologi pada dua lokasi contoh di Sumatera Barat, 2012.

 

Kabupaten

Hasil (t/ha)

Peningkatan (%)

Keuntungan (Rp.000/ha)

Peningkatan (%)

BCR

 

MBCR

Sebelum

Sesudah

Sebelum

Sesudah

Sebe

lum

Sesu

dah

Limapuluh Kota

4,25

4,90

15,3

4.862,0

6.099,0

25,4

1,61

1,71

2,73

Padang Pariaman

4,40

5,25

18,2

4.520,0

6.306,0

39,5

1,52

1,67

3,34

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Pengetahuan petani tentang sejumlah komponen teknologi adaptif untuk pengembangan usahatani padi sawah telah meningkat melalui kegiatan diseminasi teknologi kepada pengurus gapoktan, poktan dan penyuluh pendamping. Pinjaman modal dari dari LKM-A gapoktan PUAP meningkatkan adopsi teknologi oleh petani sawah terutama penerapan pupuk spesifik lokasi di kedua lokasi yaitu 52,8% di Kabupaten Limapuluh Kota dan 70,0% di Kanbupaten Padang Pariaman. Komponwen teknologi lainnya seperti benih bermutu dan jumlah tanam 2-3 batang per rumpun juga sudah diterapkan oleh petani di kedua lokasi. Tingkat adopsi teknologi oleh petani anggota juga lebih tinggi  dibandingkan dengan petani bukan anggota, pada waktu yang sama. Manfaat dari penerapan teknologi telah mampu meningkatkan produktivitas dan sekaligus keuntungan dengan penilaian secara ekonomi tambahan biaya produksi akibat perbaikan teknologi budidaya cukup menguntungkan dengan indikator nilai MBCR>1 dimana berturut-turut nilai MBCR di Kabupaten Limapuluh Kota 2,73 dan di Kabupaten Padang Pariaman 3,34. Keberlanjutan adopsi perlu diantisipasi yaitu ketersediaan pinjaman modal usaha di LKM-A dan ketersediaan teknologi sesuai kebutuhan menurut waktu, jumlah dan jenis. Saran kebijakan bagi pemangku kepentingan, gapoktan perlu dikembangkan menjadi lembaga yang mampu memfasilitasi ketersediaan teknologi seperti kios sarana produksi pertanian dan sekaligus sebagai tempat konsultasi tekologi petanian di bawah binaan penyuluh.  Kapasitas IPTEK pengurus gapoktan, poktan dan penyuluh juga perlu ditingkatkan secara regular sesuai dengan dinamika teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Adnyana, M.O. dan Ketut Kariyasa.  2006. Dampak dan persepsi petani terhadap penerapan sistem pengeloaan tanaman terpadu padi sawah.  Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. Puslitbang Tanaman Pangan. Vol. 25 No. 1. Hal 21-29.

 

Anwar S. 1999. Masalah Penyuluhan Pertanian di Sumatera Barat. Modul dalam TITP Juni 1999 Padang.

Bakorluh, 2013. Gambaran kelembagaan penyuluhan di Sumatera Barat. Makalah dalam acara pembekalan penyuluh pendamping kegiatan Gerakan Pensejahteraan Petani-GPP di Sumatera Barat Maret 2013.  Badan Koordinasi Penyuluh Provinsi Sumatera Barat.

Bappeda, 2011. Sumatera Barat dalam angka tahun 2011.  Bappeda dan Badan Pusat

Statistik Propinsi Sumatera Barat. Padang.

BPTP Sumatera Barat, 2009. Buku informasi paket teknologi adapatif.  BPTP Sumatera Barat. Padang.

BPTP Sumatera Barat, 2010.  Petunjuk Teknis SL-PTT Padi Sawah. BPTP Sumatera Barat.  Padang.

Hendaryana, R. A. Dhalimi. Sumedi. R. Sad Hutomo. 2006. Seminar Hasil Pengkajian Inovasi dan Diseminasi Program Prima Tani. BBP2TP. Bogor.

Hendaryana, R. A. Gozali. E. Syaefulah, A. Jauhari dan R. S, Hutomo. 2009. Desain model percepatan adopsi inovasi teknologi program unggulan Badan Litbang Pertanian. Seminar Hasil Pengkajian SINTA 2009, Badan Litbang Pertanian 9 - 10 Desember 2009.

Hosen, N., Buharman B dan Harmaini. 2013. Teknologi padi sawah spesifik lokasi mendukung usaha bersama gapoktan PUAP di Sumatera Barat.  Artikel dalam buku Penerapan Teknologi Spesifik Lokasi untuk Usaha Agribisnis.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Hal 37-64. IAARD Press. Jakarta

 

Kasryno F dan Effendi P. 2004. Reposisi padi dan beras dalam perekonomian nasional. Artikel dalam buku Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.  Penerbit Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Hal 3-14.

Kementerian Pertanian, 2008. Pedoman Umum Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) tahun 2008. Kemnterian Pertanian. Jakarta.

Mundy, P. 2000. Investasi untuk komunikasi di Badan Litbang Pertanian (PATTP). Desember 2000.

Pranadji, T. 2005. Reformasi kelembagaan dan kemandirian perekonomian pedesaan: kajian pada kasus perekonomian padi sawah.  Artikel dalam buku Ekonomi padi dan beras Indonesia.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal. 107-129.

Sekretariat PUAP. 2012. Profil Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis. Sekretariat Tim Pembina PUAP Provinsi Sumatera Barat. BPTP Sumatera Barat.

Sembiring, H. 2010. Ketersediaan inovasi teknologi unggulan dalam meningkatkan produksi padi menunjang swasembada dan ekspor. Makalah dalam prosiding seminar nasional hasil penelitian padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian. Kementrian Pertanian. Jakarta.

Singarimbun, M dan Sofian Effendi. 1982. Metode Penelitian  Survai.  LP3ES. Jakarta.

Sukartawi; A. Soeharjo; John L. Dillon dan J. Brian Hardaker. 1984.  Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil.  UI. Jakarta.