JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tanggap Hasil Varietas Padi Berumur Sangat Genjah (Inpari 12) Dan Genjah (Cisokan) Pada Sistem Pengelolaan Tanaman Dan Sumberdaya Terpadu Di Lahan Sawah Irgiasi Sumatera Barat

PENDAHULUAN

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk pengahasil beras. Menurut Badan Litbang Deptan (1998), Sumatera Barat memberikan kontribusi beras sebesar 4,12% dari total produksi beras nasional. Pada MT 2000 total produksi padi di Sumatera Barat sebesar 1.736.848 ton yang dihasilkan dari 387.207 ha luas panen dengan produktivitas 44,85 kwintal/ha (BPS, 2001).

Keterbatasan potensi genetik padi sawah merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas padi sawah di Sumatera Barat akhir-akhir ini. Salah satu faktor penentu dalam peningkatan produksi padi sawah adalah penemuan varietas baru yang mempunyai potensi hasil tinggi. Varietas yang diminan berkembang di Sumatera Barat adalah IR-42 (34,2%) dan Cisokan (16,7%) dan Kurik Kusuik (16,7% (Buharman, et al. 2004). Selama tahun 1995-1999 Badan Litbang Deptan telah melepas beberapa varietas baru seperti Cibodas, Membramo, Batang Anai, Widas, Way Apo Buru, Towuti, Cirata, Limbato, Banyuasin, dan Batang Hari, dimana varietas-varietas ini memberikan potensi hasil lebih tinggi dari IR42 dan Cisokan (Hasanuddin, et al. 1999). Hanya sekitar 0,6% varietas ini berkembang di kabupaten Padang Pariaman. Batang Anai yang mempunyai hasil tinggi diharapkan untuk dapat mengganti IR-42 ternyata kurang diminati oleh masyarakat Sumatera Barat.

Keterbatasan varietas menyebabkan penerapan pola pergiliran varietas untuk menekan perkembangan organisme pengganggu tanaman tidak dapat dilaksanakan. Perkembangan penyakit blas dengan intensitas sedang sampai tinggi ditemui hampir pada semua sentra produksi yang merupakan dampak dari penanaman varietas Cisokan dan IR 42 sepanjang tahun, sehingga produktivitas kedua varietas ini menurun. Begitu lamanya perkembangan IR-42 (31 tahun) dan Cisokan (26 tahun) di Sumatera Barat serta berkembangnya beberapa varietas baru dengan berbagai nama yang bukan bersal dari pelepasan varietas nasional, maka sudah jelas produktivitas varietas-varietas ini sudah menurun. Seperti IR-42 yang beredar di Sumatera Barat saat ini sudah terserang oleh penyakit Bakane, sedangkan Cisokan sangat rentan terhadap penyakit blast. Penggunaan varietas-varietas ini sudah barang tentu memberikan produktivitas yang lebih rendah dari varietas aslinya, sehingga produktivitas padi sawah di Sumatera Barat menurun.

Cisokan merupakan varietas unggul berumur genjah (110-120 hari) dengan potensi hasil 4,5-5 t GKG/ha dan dilepas pada tahun 1985, sedangkan IR 42 merupakan varietas berumur sedang (135-145 hari) dengan potensi hasil 4,5-5 t GKG/ha dan dilepas pada tahun 1980 (Suprihatno, et al. 2010). Sampai saat ini kedua varietas ini masih disukai masayarakat Sumatera Barat karena berasnya pera dengan kandungan amilosa 26 dan 27% (Suprihatno, et al. 2010), dan produksinya lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya sehingga kedua varietas ini masih mendominasi pertanaman padi di Sumatera Barat.

Inpari 12 merupakan varietas berumur sangat genjah (103 hari) dengan potensi hasil yang tinggi yaitu 8 t GKG/ha dan baru dilepas jadi varietas pada tahun 2009 (Suprihatno, et al. 2010). Varietas ini kemungkinan besar bisa diterima masyarakat Sumatera Barat karena berasnya pera dengan kandungan amilosa 26,4% (Suprihatno, et al. 2010). Berdasarkan kandungan amilosa dan bentuk gabah yang mirip dengan Cisokan diharapkan varietas ini akan disukai oleh masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah potensi genetik padi di Sumatera Barat tahun-tahun mendatang.

Di samping keterbatasan varietas, kendala lain penyebab rendahnya produktivitas padi sawah adalah rendahnya tingkat penerapan teknologi intensifikasi. Kompleknya permasalahan yang dihadapi pada sistem intensifikasi padi sawah saat ini, maka untuk pengembangan pertanian ke depan, perlu dilakukan perbaikan terhadap komponen-komponen intensifikasi padi sawah yang ada saat ini. Dewasa ini upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan budidaya padi spesifik lokasi yang dikenal dengan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Ada 5 komponen teknologi utama untuk meningkatkan produktivitas padi sawah, yaitu 1). penanaman bibit muda (< 10 hari), 2). pemberian bahan organik pada waktu pengolahan tanah, 3). irigasi berselang (Intermittent irrigation), 4). pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, dan 5). pemupukan N menggunakan BWD (Las et al. 2003). Di samping itu ada beberapa alternatif teknologi untuk melengkapi komponen teknologi tersebut di atas yaitu :  a). penggunaan varietas unggul baru, b). penggunaan benih bermutu dengan daya tumbuh tinggi, c). penanaman 1-3 bibit per lubang, d). peningkatan populasi tanaman dengan penanaman sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1, e). penyiangan menggunakan landak, f). pengendalian OPT dengan sistem PHT, g). panangan pasca panen yang tepat, dan h). perontokan gabah menggunakan tresher (Las, et al. 2003 dan Zaini et al. 2003).

Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan pengkajian-pengkajian guna pengembangan varietas baru seperti Inpari 12 dengan menggunakan metode PTT padi sawah di Sumatera Barat. Pengkajian bertujuan melihat potensi hasil padi varietas Inpari 12 dibandingkan dengan Cisokan yang dibudidayakan dengan Sistem Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi Di Sumatera Barat.

METODOLOGI PENGKAJIAN

Pengkajian dilaksanakan pada MT 2011, di kelurahan Sungai Pasak, kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Lokasi pengkajian adalah lahan sawah beririgasi teknis dan sudah menerapkan IP padi 300. Lahan yang digunakan seluas 2 ha dengan melibatkan 5 orang petani. Ada dua varietas yang diuji yaitu varietas berumur sangat genjah (Inpari 12) dan berumur genjah (Cisokan), masing-masing varietas ditanam pada hamparan sawah seluas 1 ha.

Teknologi budidaya yang diterapkan menggunakan konsep Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu berupa : penggunaan varietas unggul (Cisokan dan Inpari 12), penggunaan bibit muda (< 20 HST), jumlah bibit 1-2 batang per rumpun, sistem tanam tanam jajar legowo 4 : 1 dengan jarak tanam 20 x 20 cm, dan pemupukan N dilakukan dengan menggunakan BWD, pupuk P dan K diberikan berdasarkan hasil analisis tanah dengan takaran 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl per hektar. Pemberian pupuk kandang berupa kompos ternak ayam sebanyak 2 t/ha yang diberikan setelah pengolahan tanah pertama. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman berdasarkan konsep PHT.

Pengamatan dilakukan terhadap kandungan hara tanah sebelum pengkajian, komponen hasil dan hasil tanaman, tingkat serangan hama kepinding tanah, Wereng Coklat dan tikus serta tingkat serangan penyakit Kerdil Rumput.

Pengamatan juga dilakukan terhadap penggunaan input, baik berupa bahan, maupun tenaga kerja harian atau borongan serta hasil gabah pada setiap pola pertanaman untuk analisis anggaran usahatani. Analisis anggaran usahatani meliputi input/output usahatani, antara lain sarana produksi yang digunakan (benih, pupuk, obat-obatan), tenaga kerja (pengolahan tanah, pesemaian, tanam, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, dan panen) dan biaya usahatani lainnya seperti jumlah dan harga benih, pupuk, obat-obatan, harga gabah saat menjual hasil.  Berdasarkan data-data tersebut  dilakukan  analisis  usahatani untuk menghitung biaya dan keuntungan usahatani berdasarkan nilai R-C rasio.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Lahan Sawah

Analisis karakteristik lahan sawah menunjukkan bahwa lahan sawah dengan tingkat kemasaman tanah yang tergolong agak masam dengan pH H2O sebesar  5,8 dan pH KCl sebesar 5,0, bahan organik tanah tergolong tinggi (N-total 0,28%, C-organik  2,76% dengan C/N rasio sebesar  9,86), sedangkan P tersedia tergolong rendah (P-Bray 1 = 12,9 dan P-pot = 15,4 mg P2O5/100 g); K-pot = 39,6 mg K2O/100 g) dan KTK sebesar 19,7 me/100 g tergolong tinggi, sedangkan K-dd (0,18 me/100 g) tergolong rendah (Hardjowigeno, 2003). Berdasarkan hasil analisis tanah lokasi pengkajian termasuk lahan dengan produktivitas tergolong sedang, kecuali terhadap kandungan P tanah yang tergolong rendah.

Komponen Hasil dan Hasil

Keragaan komponen hasil dan hasil padi sawah varietas Cisokan dan Inpari 12 disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel tersebut terlihat bahwa hasil tertinggi 6,800 kg/ha diperoleh pada varietas Cisokan, dan terendah 5,100 kg/ha dengan varietas Inpari 12. Rendahnya hasil Inpari 12 disebabkan malai lebih pendek, jumlah gabah per malai lebih rendah serta tingginya persentase gabah hampa. Walaupun jumlah malai per rumpun dan bobot seribu biji lebih tinggi dari Cisokan, namun demikian tidak mampu memberikan hasil lebih tinggi dari Cisokan.

Tabel 1. Komponen Hasil dan Hasil Gabah Kering Panen (GKP) varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dibudidayakan dengan sistem PTT padi sawah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

 

No

 

Varietas

Komponen hasil dan hasil

Jumlah malai per rumpun

Panjang malai  (Cm)

Jumlah Gabah per malai

Gabah Hampa (%)

Bobot 1000 biji (gr)

Hasil GKP (t/ha)

1.

Cisokan

16,0

22,8

130,4

8,7

22,5

6,800

2.

Inpari 12

17,3

20,6

123,2

12,4

25,8

5,100

Tingkat serangan Hama da Penyakit Tanaman

Pengamatan terhadap hama wereng coklat, kepinding tanah dan hama tikus disajikan pada Tabel 2. Dari Tabel tersebut terlihat bahwa hama wereng coklat pada Cisokan berkisar 4-15 ekor/rumpun tanaman dan pada Inpari 12 berkisar antara 2-8 ekor/rumpun tanaman. Menurut Dirjen Perlintan (1981) pengendalian populasi wereng coklat diperlukan bila ditemukan populasi wereng > 5 ekor/rumpun tanaman pada umur < 40 hari setelah tanaman (HST) atau > 20 ekor/rumpun tanaman pada umur > 40 HST.

Hama kepinding tanah pada varietas Cisokan menunjukkan bahwa tingkat populasi hama berkisar antara 2-15 ekor/rumpun tanaman dan pada Inpari 12 berkisar antara 2-12 ekor/rumpun tanaman. Populasi hama ini tergolong tinggi sehingga diperlukan pengandalian menggunakan insektisida. Menurut Dirjen Perlintan (1981) penggunaan insektisida diperlukan bila populasi kepinding tanah > 1 ekor/rumpun tanaman.

Pengamatan terhadap serangan hama tikus pada Cisokan berkisar antara 0,2-4% dan pada Inpari 12 berkisar antara 0,1-5,1%, dimana populasi hama ini tergolong rendah. Menurut Dirjen Parlintan (1981) tingkat serangan hama tikus sebesar 0-25% tergolong rendah.

Tabel 2. Perkembangan populasi hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal), kepinding tanah (Scotinophora spp), tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss) dan penyakit Kerdil Rumput (Grassy stunt) pada varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dibudidayakan dengan sistem PTT padi sawah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Pengamatan (minggu)

Populasi hama

Penyakit Kerdil Rumput (%)

Wereng Coklat*)

Kepinding Tanah*)

Tikus (%)

Cisokan

Inpari 12

Cisokan

Inpari 12

Cisokan

Inpari 12

Cisokan

Inpari 12

II

4,0

2,0

7,0

4,0

1,9

0,0

0,16

 

III

5,0

4,0

7,0

6,0

0,9

0,4

0,12

 

IV

5,0

6,0

12,0

5,0

0,5

0,5

0,18

 

V

8,0

6,0

12,0

8,0

1,2

1,6

0,18

0,14

VI

11,0

3,0

15,0

12,0

2,4

2,4

0,11

0,16

VII

15,0

8,0

8,0

9,0

2,2

5,1

0,14

0,30

VIII

5,0

4,0

11,0

6,0

4,0

2,4

 

 

IX

6,0

6,0

8,0

4,0

0,4

3,1

 

 

X

4,0

3,0

6,0

2,0

2,9

3,2

 

 

XI

10,0

8,0

4,0

6,0

0,2

0,2

 

 

XII

7,0

6,0

2,0

4,0

 

 

 

 

Keterangan : *)Populasi per rumpun tanaman.

 

Tingkat serangan penyakit Kerdil Rumput sangat rendah yaitu sekitar 0,11-0,30% pada Inpari 12 yang ditemukan pada minggu ke 5-7 serta 0,11-0,18% pada Cisokan yang ditemukan pada minggu ke 2-7 setelah tanam.

Berdasarkan pengamatan hama dan penyakit tersebut terlihat bahwa tanaman terbebas dari gangguan hama dan penyakit tanaman utama, kecuali terhadap hama kepinding tanah yang tergolong tinggi sehingga diperlukan pengendalian menggunakan pestisida. Berkurangnya tingkat serangan hama dan penyakit tanaman mengakibatkan pertumbuhan dan hasil tanaman meningkat dibandingkan dengan pertanaman sebelumnya.

Hasil analisis usahatani (Tabel 3) terlihat bahwa pada Cisokan tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 27,545,000,- dengan ongkos total sebesar Rp. 13,335,200,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 14,204,800,-. dengan tingkat R/C ratio 2,07, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 107% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,050,-, breakeven yield 3,293,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,961,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,089,-. Pada varietas Inpari 12 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 20.400.000,- dengan ongkos total Rp. 12.050.000,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 8.350.000,- dengan tingkat R/C ratio sebesar 1,69, sehingga usahatani ini hanya memberikan keuntungan  69% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, breakeven yield sebesar Rp. 3,013,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 2,363,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,637,-.

Tabel 3. Hasil análisis usahatani varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dibudidayakan dengan sistem PTT padi sawah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Indikator ekonomi

Satuan

Varietas

Cisokan

Inpari 12

Hasil gabah

Kg

6,800

5,100

Penjualan gabah

Rp.

27,540,000

20,400,000

Ongkos total

Rp.

13,335,200

12,050,000

Keuntungan bersih

Rp.

14,204,800

8,350,000

Breakeven yield

Kg/Ha

3,293

3,013

Ongkos per kg gabah

Rp./kg

1,961

2,363

Keuntungan/kg gabah

Rp./kg

2,089

1,637

R/C

 

2.07

1.69

Tenaga (selain traktor dan panen)

HOK

51

51

Partisi ongkos



Rp

% total cost

Rp

% total cost

Upah tenaga

8,017,200

60.1

6,732,000

55.9

Kontrak/sewa lahan

1,500,000

11.2

1,500,000

12.4

Total upah dan sewa

9,517,200

71.4

8,232,000

68.3

Ongkos pupuk

1,590,000

11.9

1,590,000

13.2

Bahan organik

1,000,000

7.5

1,000,000

8.3

Pestisida

1,003,000

7.5

1,003,000

8.3

Benih

225,000

1.7

225,000

1.9

Ongkos total

13,335,200

100.0

12,050,000

100.0








Disini terlihat bahwa tingkat keuntungan tertinggi diperoleh varietas Cisokan sebesar 107% dari total investasi, sedangkan pada Inpari 12 tingkat keuntungan hanya 69% dari total investasi yang digunakan.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa potensi hasil varietas Inpari 12 belum mencapai optimal (5,1 t/ha) sehingga belum mampu menyamai atau meningkat lebih tinggi dibandingkan Cisokan, sedangkan varietas ini merupakan varietas unggul baru dengan potensi hasil bisa mencapai 8 t/ha. Sebaliknya pada Cisokan mampu menghasilkan gabah sebesar 6,8 t/ha lebih tinggi dari potensi hasil varietas sebesar 4,5-5 t/ha (Suprihatno, et al. 2010).

Kemungkinan penyebab rendahnya hasil ini rendahnya mutu varietas Inpari 12 yang digunakan karena varietas ini sudah digunakan pada 3 musim pertanaman padi sebelumnya, sedangkan Cisokan merupakan varietas dengan kelas benih sebar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pengkajian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Hasil gabah tertinggi sebesar 6,8 t/ha diperoleh dengan varietas cisokan, sedangkan pada Inpari 12 tingkat hasil yang dicapai sebesar 5,1 t/ha.
  2. Tingginya hasil Cisokan dibandingkan Inpari 12 disebabkan Cisokan mempunyai malai lebih panjang, jumlah gabah per malai lebih tinggi dan persentase gabah hampa lebih rendah dibandingkan Inpari 12.
  3. Tingkat serangan hama dan penyakit utama padi sawah tidak menjadi kendala pada kedua varietas ini akibat rendahnya populasi hama dan penyakit, kecuali terhadap hama kepinding tanah tergolong tinggi.
  4. Analisis usahatani Cisokan memberikan keuntungan sebesar 107% dari total invesatasi yang digunakan lebih tinggi dibandingkan Inpari 12 sebesar 69% dari total investasi yang digunakan.
  5. Disarankan untuk mengkaji kendala-kendala penyebab rendahnya produksi Inpari 12 dibandingkan Cisokan, sehingga potensi hasil Inpari yang bisa mencapai 8 t/ha dapat tercapai di Sumatera Barat.

DAFTAR BACAAN

Badan Litbang Deptan. 1998. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan teknologi untuk pengembangan sektor pertanian. Tim Peneliti Badan Litbang Pertanian.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2001. Sumatera Barat Dalam Angka. BPS Sumatera Barat, 610 hlm.

Buharman, B., Burbey, dan I. Manti. 2004. Pertumbuhan produksi padi di Sumatera Barat : Kendala dan Peluang Peningkatannya. Hlm. 378-405 Z. Dalam Z. Lamid, Buharman, B., M. Boer, N. Hosen, I. Manti, R. Febriamansyah, dan R. Mayerni (Eds). Seminar Nasional Penerapan Agro Inovasi Mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

Dirjen Perlintan, 1981. Rekomendasi Pengendalian Hama Tanaman Pangan di Indonesia. 63 hlm. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Hardjowigeni, S. 2003. Ilmu Tanah. Cetakan Kelima. CV Akademika Presindo. Jakarta. 286 hlm.

Hasanuddin, A., Baehaki, S.E. S.J. Munarso, dan Sutisna Noor. 1999. Teknologi unggulan peningkatan produksi padi menuju revolusi hijau kedua. Hlm : 154-182 Dalam A. Karim Makarin et al. (ed). Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengambangan Tanaman Pangan.

Las, I., A. K. Makarim, M. H. Toha, A. Gani, H. Pane, dan S. Abdulrachman. 2003. Panduan Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian, Jakarta, 30 hlm.

Suprihatno, B., A. A. Daradjat, Satoto, Baehaki, Suprihanto, A. Setyono, S. D. Indrasari, I. Putu Wardana, dan H. Sembiring. 2010. Deskripsi Varietas Padi. 109 hlm. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Jakarta.

Zaini, Z., I. Las, B. Haryanto, Suntoro, dan E.E. Ananto. 2003. Pedoman Umum Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu 2003. Departemen Pertanian, Jakarta. 25 hlm.