JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Dinamika Indikator Kesejahteraan Petani Pedesaan Di Sumatera Barat

PENDAHULUAN

Indikator keberhasilan  pemberdayaan ekonomi rakyat di Sumatera Barat (Sumbar)   bergantung pada suksesnya pembangunan sektor pertanian.  Akan tetapi sektor pertanian yang menjadi andalan Sumbar  menghadapi berbagai persoalan yang belum jelas solusinya secara terukur. Kritik tentang rendahnya kinerja sektor pertanian makin sering dilontarkan.  Beberapa indikator yang dijadikan alasan  antara lain pendapatan rumah tangga pertani Sumbar tercatat sebagai  yang paling rendah di Sumatera serta termasuk golongan terendah di Indonesia (Taher et al., 2005).   Indikasi lain adalah terjadinya marginalisasi rumah tangga pertanian ke arah petani gurem dan buruh tani, serta makin dominannya petani yang menguasai lahan sempit, yakni 0,1-0,5 ha/KK (Kasryno et al., 2000;  Kasryno et al., 2001).

Di Sumbar, potensi SDA terbesar terdapat di sektor pertanian, sama halnya dengan mata pencarian utama penduduk juga di sektor pertanian. Tahun 2006 sebanyak 47,93% penduduk  bekerja pada sektor pertanian.  Secara keseluruhan tahun 2006, sumbangan sektor pertanian dalam menghasilkan PDRB  Sumbar adalah 25,26%.  Kontribusi tersebut masing-masing berasal dari pertanian pangan dan hortikultura (12,11%); perkebunan (5,61%); peternakan (2,04%); kehutanan (1,50%) dan perikanan (3,01%) dari total PDRB (Bappeda Sumbar, 2008).

Pendapatan rumah tangga petani di  pedesaan berasal dari berbagai sumber kegiatan yaitu dari usahatani padi, usahatani non padi, berburuh tani dan buruh di luar sektor pertanian, serta usaha di luar sektor pertanian. Kontribusi pendapatan dari sumber-sumber tersebut bervariasi antar daerah, agroekosistem dan antar kelompok pendapatan. Dengan perkembangan waktu, telah terjadi perubahan struktur pendapatan di seluruh daerah, tetapi sektor pertanian masih mendominasi pendapatan rumah tangga, walaupun porsi pertanian mengalami penurunan.   Turunnya struktur pendapatan di sektor pertanian  disebabkan oleh faktor dari individu petani itu sendiri, yaitu rendahnya produktivitas dan produksi karena kurangnya kemauan meningkatkan pengetahuan dan teknologi produksi. Selain itu juga karena faktor eksternal seperti iklim, kebijakan pemerintah, pasar, dan lainnya.

Peran sektor pertanian terhadap struktur pendapatan rumah tangga pedesaan   dipengaruhi oleh sumberdaya, baik alam maupun tenaga kerja yang tersedia. Selain itu, juga dipengaruhi oleh aksesibilitas terhadap penguasaan modal dan keterampilan (Rasahan  1988). Sementara pendapatan dari usahatani itu sendiri sangat bergantung pada penguasaan lahan dan tingkat efisiensi. Tingkat efisiensi ditentukan oleh struktur biaya dan profitabilitas. Makin efisien usahatani yang diusahakan akan menyebabkan pendapatan dari usahatani tersebut makin tinggi.

Preferensi petani dalam membuat keputusan memilih komoditas yang akan diusahakan adalah dengan mempertimbangkan dinamika harga input dan output usahatani serta tingkat upah pertanian. Hal ini berhubungan dengan tingginya biaya upah tenaga kerja selama proses produksi yang dibayarkan petani, sehingga secara  langsung mempengaruhi tingkat pendapatan. Hasil penelitian Rachman dan Sudaryanto (2002) menunjukkan bahwa dari biaya usahatani padi yang tersebar di 5 provinsi yaitu Jabar, Jateng, Jatim, Sumbar dan Sulsel ternyata bagian terbesar yang dikeluarkan oleh petani adalah untuk biaya upah tenaga kerja dan sewa lahan masing-masing sebesar 31% dan 26% dari nilai produksi. Tinggi rendahnya pendapatan yang diperoleh dari usahatani akan berpengaruh terhadap nilai tukar petani.  Informasi tentang nilai tukar petani merupakan salah satu indikator mengenai tingkat kersejahteraan petani. Beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa nilai tukar petani cenderung menurun, karena laju peningkatan harga yang diterima petani atas produk yang dihasilkan relatif lebih rendah dibandingkan dengan laju peningkatan harga yang dibayar petani untuk sarana produksi (Hutabarat 1996; Simatupang 1992).

Pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dinamika indikator kesejahteraan   petani pedesaan terhadap komoditas  padi, sayuran, dan karet  yang menjadi sumber pendapatan utama,  mencakup: 1)  Struktur pendapatan, 2)  Pengeluaran untuk pangan, 3) Daya beli rumah tangga petani, 4)  Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, dan 5) Perkembangan nilai tukar petani.  Parameter yang dihasilkan dapat dijadikan acuan dalam menilai keberhasilan pembangunan ekonomi di daerah pedesaan, dan basis untuk perencanaan program pembangunan ke depan.

METODOLOGI

Lokasi dan Waktu

Kajian dilaksanakan  di enam nagari dalam tiga kabupaten  dengan komoditas utama padi, sayur, dan karet. Setiap nagari dalam kabupaten yang sama dibedakan   berdasarkan kedekatan dengan pusat perekonomian daerah,  yaitu daerah non remote area (NRA) atau daerah yang mudah dijangkau dan remote area (RA) atau daerah yang sulit dijangkau (Tabel 1).

Pengkajian dilakukan secara berkala selama tiga tahun (2007-2009), menggunakan kuesioner terstruktur.   Data primer terdiri  atas:   (1) struktur dan pendapatan setahun rumah tangga petani, (2) struktur dan pengeluaran pangan dan non pangan,  (3) data produksi dan pendapatan dari setiap cabang usahatani yang diusahakan,  dan (4) data harga input produksi, harga output dan harga barang konsumsi yang dibayar petani serta tingkat upah.

Tabel 1.     Nama kabupaten dan nagari  contoh berdasarkan tipe desa dan komoditas utama padi, sayur dan karet.

Kabupaten

Nama  Nagari

Type

Desa

Agroekosistem

Komoditi Utama

Pesisir Selatan

Surantiah

RA

LS-DR

Padi

 

Bayang

NRA

LS-DR

Padi

Solok

Air Dingin

RA

LK-DT

Sayur

 

Sungai Nanam

NRA

LK-DT

Sayur

Sijunjung

Muaro Bodi

RA

LK-DR

Karet

 

Padang. Laweh

NRA

LK-DR

Karet

Keterangan: RA          : Remote area

NRA      : Non remote area

LK-DT   : Lahan kering dataran tinggi

LS-DR   : Lahan sawah dataran rendah

LK-DR   : Lahan kering dataran rendah

 

Metoda Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan metoda survei. Pemilihan petani contoh   berdasarkan Stratified Random Sampling,  dibedakan menjadi tiga strata, yaitu: petani dengan luas garapan luas  (>0,5 ha/KK), sedang (0,25-0,50 ha/KK) dan sempit (<0,25 ha/KK) untuk lokasi padi dan strata luas (>1,0 ha/KK); sedang (0,50-1,0 ha/KK); dan sempit (<0,50 ha/KK) untuk sayur dan karet.  Setiap strata dipilih lima petani contoh, sehingga jumlah setiap desa  15 orang.  Pemilihan desa contoh mengacu pada data statistik yang menunjukkan daerah terluas penanaman komoditas dominan di Sumbar (padi, sayur, dan karet).

Data upah dan harga dikumpulkan secara berkala di setiap lokasi.   Data upah buruh pertanian dikumpulkan musiman.  Harga input produksi, harga output, dan harga barang konsumsi dikumpulkan secara berkala 2 mingguan.  Harga sarana produksi dikumpulkan dari   kios penjual sarana produksi yang ada di lokasi.  Harga output atau hasil pertanian yang dihasilkan oleh masyarakat desa, dikumpulkan dari beberapa petani atau kontak tani setempat, kemudian dirata-ratakan.  Harga barang konsumsi dikumpulkan dari  kios  yang secara rutin mensuplai kebutuhan  barang konsumsi masyarakat desa contoh.

Metoda Analisis

1.   Struktur pendapatan rumah tangga

PPSP = (TPSP/TP) x 100%

dimana: PPSP  = Pangsa pendapatan sektor pertanian (%)

TPSP = Total pendapatan dari sektor pertanian (Rp/th)

TP     = Total pendapatan rumah tangga petani (Rp/th)

2.   Pengeluaran untuk pangan

PEP = (PEP/TE) x 100%

dimana: PEP  = Pangsa pengeluaran untuk pangan (%)

PEP  = Pengeluaran untuk pangan (Rp/th)

TE    = Total pengeluaran pendapatan rumah tangga petani (Rp/th)

3.   Daya beli rumah tangga petani

DBPp  =  TP/(TE – BU)

dimana: DBPp  = Daya beli rumah tangga petani

TP  = Total pendapatan rumah tangga petani (Rp/th) dari seluruh sumber

TE  = Total pengeluaran rumah tangga petani (Rp/th)

BU = Biaya usahatani

4.   Ketahanan pangan  tingkat rumah tangga petani

TKP  =  PB/KB

dimana:  TKP  = Tingkat ketahanan pangan

(TKP = 1, subsisten; TKP > 1, surplus; TKP < 1, defisit)

PB     = produksi dari usahatani sendiri setara beras.

KB    = kebutuhan setara beras.

5.  Nilai tukar petani

Pengukuran nilai tukar petani dinyatakan dalam bentuk indeks dirumuskan sebagai berikut (Rahmat  dalam Sunanto dan Sahardi 2008):

INTP  =  ITR/IB

dimana:  INTP  = Indeks nilai tukar petani

IT      = Indeks harga yang diterima petani

IB       = Indeks harga yang dibayar petani

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.   Struktur Pendapatan Rumah Tangga

Struktur pendapatan menunjukkan sumber pendapatan utama keluarga petani,  apakah dari sektor pertanian atau non pertanian.  Pangsa pendapatan rumah tangga petani dari sektor pertanian memperlihatkan bahwa rumah tangga petani sayur lebih besar daripada semua komoditas, kemudian diikuti oleh rumah tangga petani karet, dan paling rendah rumah tangga petani padi (Tabel 2).  Selanjutnya, kalau dibandingkan di antara strata rumahtangga tani, untuk petani padi pada strata rumah tangga berpenghasilan rendah, paling rendah pula pangsa pendapatannya, kemudian  makin meningkat dengan makin besarnya luas kepemilikan lahan.

Lain halnya dengan petani sayur, pangsa pendapatan sektor pertaniannya lebih ditentukan oleh harga pasar apabila saat panen,   harganya tinggi, maka  keuntungan   serta pangsa pendapatannya juga  besar.   Hal ini disebabkan oleh harga sayur yang berfluktuasi tajam dalam waktu singkat, sesuai  penawaran dan permintaan.   Pada rumah tangga petani karet, pangsa pendapatannya berfluktuasi berdasarkan sistem usahatani yang tradisional dan turun temurun.  Jumlah pertanaman karet masing-masing  petani jauh berbeda setiap hektarnya, jadi walaupun seorang petani menguasai lahan paling luas, belum tentu populasi karetnya lebih banyak daripada yang menguasai lahan lebih sempit.  Selain itu, ada yang melakukan  panen secara intensif,  ada pula yang  kurang  intensif.   Jadi, terlihat bahwa rendahnya pangsa pendapatan dari sektor pertanian karena belum optimalnya produksi dan produktivitas.

Tabel 2.  Pangsa  pendapatan  sektor  pertanian  rumah tangga   petani  di daerah   sentra   produksi  padi, sayur dan karet di Sumbar, 2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Pangsa pendapatan sektor pertanian (%)

RT petani padi

RT petani sayur

RT petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

 

NRA

I

42,6

83,8

70,5

75,4

84,9

80,9

58,0

70,9

80,4

II

47,1

41,9

41,6

65,1

77,7

92,3

43,6

78,3

90,6

III

26,8

9,1

23,7

93,2

55,6

76,9

67,1

64,9

77,0

 

RA

I

27,0

63,3

55,4

53,7

100,0

85,7

86,1

75,0

69,8

II

25,8

59,1

52,2

84,1

69,9

78,7

42,2

67,2

68,0

III

6,9

50,4

23,1

81,0

58,7

86,7

57,9

58,9

83,6

 

NRA: Non remote area

RA = Remote area

Kasryno (2005) mengemukakan bahwa perubahan struktur pendapatan rumah tangga pedesaan di Sumbar selama dua dekade terakhir (1993-2002) ini lebih cepat dari nasional, dan ini dibuktikan pula oleh penurunan tingkat kemiskinan.  Laju dan tingkat pendapatan rumah tangga pedesaan dari upah dan gaji serta dari sektor pertanian untuk wilayah pedesaan Sumbar lebih tinggi dari  nasional.  Sebaliknya, pendapatan rumah tangga dari sektor pertanian menurun, yaitu dari 63,80% tahun 1983 menjadi 42,41% dan 25,82% pada tahun 1993 dan 2002.

2.   Pengeluaran Untuk Pangan

Perkembangan pangsa pengeluaran untuk pangan dapat dipakai sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan pedesaan.   Besarnya pangsa pengeluaran untuk pangan menunjukkan pendapatan rumah tangga tani masih terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan dasar (subsisten).  Demikian pula sebaliknya, besarnya pangsa pengeluaran sektor sekunder (non pangan), mengindikasikan telah terjadi pergeseran posisi petani dari subsisten ke komersial.  Artinya, kebutuhan primer telah terpenuhi, kelebihan pendapatan dialokasikan untuk keperluan lain misalnya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sekunder lainnya. Berdasarkan data pangsa pengeluaran untuk pangan dalam Tabel 3, secara garis besar memperlihatkan   bahwa pemenuhan kebutuhan untuk pangan masih melebihi pemenuhan kebutuhan non pangan.  Kalau kita bandingkan dengan data pola konsumsi masyarakat Sumbar pada tahun 1999, 64,63% dari total pengeluaran penduduk masih dibelanjakan untuk pangan.   Artinya,  selama 8 tahun terakhir tidak terjadi peningkatan.  Hal ini mencerminkan bahwa kehidupan petani belum sejahtera.  Apalagi untuk rumah tangga pertanian padi yang menguasai lahan sempit,  terlihat masih sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya.

Tabel 3. Pangsa  pengeluaran  untuk  pangan  rumah tangga petani di daerah   sentra produksi padi, sayur dan karet, Sumbar,  2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Pangsa pengeluaran untuk pangan (%)

RT petani padi

RT petani sayur

RT petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

59,6

52,5

41,7

50,2

59,4

39,5

43,1

43,1

45,2

 

II

48,9

46,4

63,3

67,1

47,6

45,8

59,7

56,4

53,7

 

III

59,2

36,5

66,1

64,7

48,1

22,9

76,0

51,0

52,7

RA

I

53,7

59,9

44,3

50,9

43,4

44,6

52,1

47,0

52,4

 

II

48,2

58,5

79,5

56,1

32,0

46,0

61,0

59,5

56,2

 

III

48,9

55,8

80,4

58,5

63,6

51,0

51,1

60,2

52,5

 

3.   Daya Beli Rumah Tangga Petani

Sebagaimana halnya dengan pangsa pengeluaran rumah tangga untuk pangan, daya beli rumah tangga petani pun memperlihatkan hasil yang sama.  Dalam  Tabel 4 terlihat bahwa daya beli rumah tangga petani sayur yang mempunyai lahan luas, melebihi empat kali  daya beli rumah tangga petani padi dan karet yang mempunyai lahan paling luas.  Hal ini memperlihatkan bahwa rumah tangga petani sayur lebih sejahtera kehidupannya daripada rumah tangga petani padi dan karet.  Nanum demikian, petani sayur pada umumnya mempunyai lahan <0,25 ha, sehingga pendapatannya dari pertanianpun kecil. Konsekuensi logisnya daya beli rumah tangga petani akan kecil pula.  Selanjutnya, kalau kita lihat daya beli rumah tangga petani tahun 2009, terlihat menurun untuk semua komoditas.  Hal ini mungkin disebabkan oleh produktivitas petani menurun karena langkanya pupuk bersubsidi, dilain pihak harga barang-barang konsumsi mengalami kenaikan.

Tabel 4.   Daya beli rumah tangga petani di daerah  sentra produksi  padi, sayur, dan karet, Sumbar tahun 2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Daya beli rumah tangga

Petani padi

Petani sayur

Petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

1,46

2,02

1,21

8,64

8,68

1,37

1,23

1,92

1,38

 

II

1,58

1,61

1,23

6,83

11,37

1,47

1,65

2,48

1,22

 

III

1,56

2,35

0,78

1,66

5,65

1,68

1,90

1,82

1,12

RA

I

0,89

1,26

0,89

1,65

3,04

1,79

1,42

4,13

1,27

 

II

1,21

4,01

0,45

1,15

3,56

2,06

0,53

2,59

0,81

 

III

1,17

1,21

0,52

2,66

8,05

1,40

0,93

2,93

0,93

 

4.   Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani

Perkembangan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga petani juga merupakan ukuran indikator kesejahteraan petani.  Semakin tinggi tingkat ketahanan pangan, yang ditunjukkan oleh semakin kuatnya pemenuhan kebutuhan dari produksi sendiri atau semakin banyak stok pangan, menunjukkan semakin sejahtera rumah tangga petani.   Data dalam  Tabel 5 menggambarkan bahwa tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani padi paling rendah dibanding rumah tangga sayur dan karet nilai tingkat ketahanan pangan lebih kecil dari 1 (TKP < 1) dinyatakan defisit,  nilai  TKP = 1 dinyatakan sebagai subsisten, dan    nilai TKP > 1   dinyatakan surplus.   Hal ini  memperlihatkan bahwa produksi padi sangat rendah dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga petani, dalam arti kata petani padi paling rendah tingkat kesejahteraannya dibanding petani  sayur dan perkebunan.

Tabel 5.   Tingkat  ketahanan  pangan rumah tangga petani di  daerah   sentra produksi padi, sayur dan karet, Sumbar tahun 2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Tingkat ketahanan pangan rumah tangga

Petani padi

Petani sayur

Petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

0,9

1,2

2,0

4,0

1,0

3,2

1,3

0,7

2,5

 

II

1,3

0,6

0,8

2,6

1,1

3,0

1,0

0,8

2,1

 

III

0,6

0,2

0,3

1,4

1,0

2,7

1,2

0,7

1,6

RA

I

0,4

0,5

1,1

1,0

1,1

3,4

1,7

1,0

1,7

 

II

0,4

1,8

0,3

1,3

0,6

3,5

0,3

0,8

1,0

 

III

0,1

0,5

0,1

3,8

0,9

2,4

0,9

0,8

1,5

 

5.  Nilai Tukar Petani

Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan nisbah antara harga yang diterima petani  dengan harga yang dibayar petani.  Secara konsepsi NTP mengukur daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan dalam memproduksi usahatani.   Dalam  Tabel 6 terlihat nilai tukar petani yang kecil, terutama sekali pada rumahtangga petani padi dan karet.  Hal ini menggambarkan bahwa daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan memproduksi usahatani sangat kecil.  Dalam arti kata petani hanya mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, sehingga  secara umum petani  masih tergolong subsisten.

Tabel 6.   Indeks  nilai  tukar  petani  di  daerah  sentra produksi  padi, sayur, dan karet, Sumbar,  2007-2009

 

Daerah

 

Strata

Indeks nilai tukar petani

RT petani padi

RT petani sayur

RT petani karet

2007

2008

2009

2007

2008

2009

2007

2008

2009

NRA

I

0,91

1,19

0,72

3,96

1,05

0,89

1,38

0,71

0,64

 

II

1,32

0,59

0,47

2,63

1,11

0,91

0,97

0,85

0,63

 

III

0,65

0,20

0,18

1,42

1,04

0,91

1,18

0,66

0,59

RA

I

0,38

0,55

0,45

1,02

1,14

0,96

1,67

1,01

0,56

 

II

0,43

1,78

0,22

1,30

0,57

1,05

0,35

0,81

0,40

 

III

0,14

0,50

0,09

3,84

0,91

0,76

0,89

0,80

0,51

 

Di Sumbar, komoditas utama yang diusahakan masyarakat adalah padi,  karet,  dan   sayur (kubis, bawang merah, tomat, kentang dan cabe merah keriting). Sentra pertanaman padi berada di kabupaten Pesisir Selatan, tanaman sayur di Alahan Panjang, kabupaten Solok dan karet di kabupaten Sijunjung.

Struktur pendapatan petani berasal dari tiga komponen,  yaitu sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan peternakan, kegiatan dari luar usahatani (berburuh pertanian dan menyewakan alat pertanian), dan kegiatan non pertanian (perdagangan dan jasa).  Pada lokasi pengkajian komoditas padi, struktur pendapatan terbesar adalah dari luar sektor pertanian, sedangkan dari sektor pertanian menempati urutan kedua.  Berbeda dengan lokasi pengkajian komoditas sayur dan karet, struktur pendapatan terbesar berasal dari sektor pertanian, dan dari luar sektor pertanian menempati urutan kedua.    Perkembangan pendapatan rumah tangga untuk ketiga komoditas utama dikemukakan dalam Tabel 7.   Pada tahun 2008 terdapat kenaikan pendapatan total dan pendapatan  usahatani pada ketiga komoditas dibandingkan tahun 2007, tetapi menurun lagi pada tahun 2009. Namun demikian, pendapatan tahun 2009 tetap lebih besar dibanding tahun 2007. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya pendapatan tahun 2008 adalah harga hasil usahatani yang lebih baik dibanding tahun 2007 dan 2009.  Selain itu, kelangkaan dan mahalnya harga pupuk juga menjadi penyebab produktivitas usahatani menurun.

Tabel 7. Dinamika perubahan pendapatan rumah tangga petani menurut komoditas yang diusahakan pada tahun 2007-2009

Komoditi

Sumber pendapatan

Pendapatan (Rp’000/tahun)

2007

2008

2009

Padi

Usahatani

Luar usahatani

Total

5.158,2

11.638,0

16.796,2

10.842,5

13.188,3

24.030,8

8.776,7

10.390,0

19.706,7

Sayuran

Usahatani

Luar usahatani

Total

24.819,9

8.185,3

33.005,5

28.188,3

6.288,3

34.476,6

25.558,3

5.163,3

30.721,6

Karet

Usahatani

Luar usahatani

Total

11.179,1

7.479,9

18.659,0

21.905,0

9.210,0

31.115,5

17.750,0

4.833,3

22.583,3

 

Total pengeluaran rumah tangga selama setahun relatif seimbang, jika dibandingkan dengan total pendapatan setahun untuk semua petani  di lokasi pengkajian.  Pengeluaran rumah tangga ini terdiri atas dua kelompok yaitu pengeluaran untuk keperluan konsumsi pangan dan pengeluaran untuk konsumsi non pangan.  Pengeluaran untuk pangan terdiri atas pengeluaran untuk beras, pengeluaran untuk non beras,   seperti jagung   dan ubikayu  yang   berfungsi menggantikan beras, dan  pengeluaran untuk lauk pauk, minuman, bumbu dapur, rokok dan bahan bakar masak.   Pengeluaran non pangan  antara lain untuk   pendidikan anak, kesehatan keluarga, pakaian, transportasi, pajak,  sumbangan sosial, dan untuk keluarga lain yang memerlukan. Kalau dibandingkan antara pengeluaran untuk pangan dengan pengeluaran non pangan maka terlihat masih berimbang.  Hal ini mengindikasikan bahwa petani di desa-desa Sumbar  masih banyak yang subsisten.

Nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar faktor produksi (NTFP)   untuk ketiga komoditas utama dan  dibandingkan antara daerah NRA dan RA terlihat bahwa NTFP daerah NRA lebih tinggi daripada daerah RA.  Artinya nilai tukar di daerah NRA lebih tinggi daripada di daerah RA.  Hal ini disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan petani di daerah RA lebih tinggi daripada di daerah NRA, seperti harga pupuk, demikian juga dengan harga penjualan produksi pertanian lebih rendah di daerah RA daripada di daerah NRA, sehingga nilai tukar petani di daerah NRA lebih tinggi daripada di daerah RA.  Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan antara RA dengan NRA.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Total pendapatan setahun rumah tangga petani selama 3 tahun cenderung meningkat, namun  pengeluaran rumah tangga  terlihat  berimbang, sehingga  petani tidak dapat menabung  untuk perluasan usahatani.
  2. Pendapatan rumah tangga petani sayur paling tinggi,  disusul oleh petani karet dan padi.  Seharusnya pendapatan petani karet  paling tinggi karena karet merupakan komoditas ekspor, tetapi karena manajemen produksi karet rakyat masih  konvensional, maka  produktivitas  dan pendapatan petani juga rendah.
  3. Usahatani sayur lebih menguntungkan dibanding  padi dan karet, tetapi mempunyai resiko paling rawan dalam proses produksi karena sangat bergantung pada iklim dan pasar.  Permasalahan ini paling terasa pada petani golongan bawah yang selalu kesulitan dalam pengadaan modal, sementara itu biaya produksi komoditas sayur paling tinggi dibanding padi dan karet.
  4. Pengeluaran rumah tangga petani untuk pangan dan non pangan yang  berimbang   membuktikan bahwa petani masih terfokus untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.   Pemenuhan kebutuhan rumah tangga non pangan yang masih kecil menggambarkan bahwa kualitas hidup  petani masih rendah,  tergambar dari   rendahnya  daya beli dan  tingkat ketahanan pangan.
  5. Guna meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan, perlu  dorongan upaya untuk meningkatkan  pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani ke arah lebih baik, terutama untuk petani padi dan karet.  Upaya tersebut dapat ditempuh, antara lain dengan cara  meningkatkan kemampuan SDM, bimbingan inovasi teknologi, penguatan kelembagaan,  dan akses permodalan, serta pembangunan infrastrukur, terutama di daerah NRA, sehingga arus informasi teknologi serta mobilitas barang dan jasa bergerak lebih cepat dengan biaya murah.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Sumbar. 2008.  Sumatera Barat dalam Angka.  Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah  Sumbar dengan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat.

Hutabarat, B. 1996.  Pengaruh dampak nilai tukar terhadap produksi dan pendapatan petani padi sawah. Jurnal Agroekonomi.  15(2): 21-35.

Kasryno, F., E. Jamal, dan I. Las. 2000. Menempatkan pertanian sebagai basis perekonomian Sumatera Barat: Suatu kilas balik dan prospektif ke depan. Makalah disampaikan pada Round Table Discussion Gebu Minang. Bogor, 6 Mei 2000.

Kasryno, F, E. Pasandaran, P. Simatupang, Erwidodo, dan T. Sudaryanto. 2001. Membangun kembali sektor pertanian dan kehutanan.  Prosiding Perspektif Pembangunan Pertanian dan Kehutanan Tahun 2001 Ke Depan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

Kasryno, F. 2005. Peranan Modal Sosial Penguasaan Tanah Ulayat dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan.  Dalam Kasryno, F., E. Pasandaran, dan A.M. Fagi (eds). Tanah Ulayat dan Budaya Padi Minangkabau. Badan Litbang Pertanian- Yayasan Padi Indonesia. hal 17-40

Rasahan, C. A.  1988. Prospek struktur pendapatan masyarakat pedesaan dalam hubungannya dengan kebijakan pembangunan pertanian. Prosiding Patanas: Perubahan Ekonomi Pedesaan Menuju Struktur Ekonomi Berimbang. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi, Bogor

Rachman, B. dan T. Sudaryanto. 2002.  Dampak kebijakan insentif terhadap daya saing usahatani padi.  Makalah Seminar Balitpa Sukamandi, 5 Maret 2002.

Simatupang, P. 1992.  Pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar barter sektor pertanian. Jurnal Agroekonomi   II(1): 37-50.

Sunanto dan Sahardi. 2008.  Analisis pemasaran jagung dan daya beli petani di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. JPPTP 11(2): 1-10.

Taher, T., I. Manti, N. Nasril, N. Hosen, K. Khairanis, Wilson, R. Yuliet, Adrizal, S. Basri dan Mulyadi. 2005. Penelitian Prioritas dan Strategis Pembangunan Pertanian 2005-2015 Sumatera Barat. Badan Litbang Provinsi Sumatera Barat