JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tanggap Hasil Padi Sawah Varietas Umur Genjah (Ir 66) Dan Sangat Genjah (Inpari 12) Pada Populasi Tanaman Yang Berbeda Di Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat

 

PENDAHULUAN

Produksi padi perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Kebutuhan beras nasional dewasa ini telah menyentuh angka lebih dari 30 juta ton per tahun. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi dalam pengadaan produksi padi semakin berat. Laju pertumbuhan penduduk dan tingkat konsumsi beras yang relatif masih tinggi menuntut peningkatan produksi yang sinambung, sementara sebagian lahan sawah yang subur telah beralih fungsi untuk usaha lainnya. Rata-rata laju pertambahan penduduk Indonesia sekitar 1,27-1,29 % per tahun, dengan laju pertumbuhan tersebut pada tahun 2025 jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 296 juta jiwa dengan kebutuhan beras sekitar 41,5 juta ton atau setara dengan 78,3 juta ton GKG (Las. et al., 2008; Simamarta dan Yuwariah, 2008).  Oleh karena itu perlu upaya peningkatan produksi padi baik melalui peningkatan produktivitas, pencetakan sawah baru, maupun melalui peningkatan luas panen melalui peningkatan indek pertanaman (IP) padi sawah.

Pesisir Selatan termasuk Kabupaten penghasil padi di Sumatera Barat dengan luas sawah 30.446 ha, luas panen 46.525 ha, produktivitas 43,79 kuintal/ha dan total produksi 203.722 ton. Produktivitas ini masih rendah dari rata-rata produktivitas Sumatera Barat yang mencapai 46,01 kuintal/ha (BPS, 2008). Berbagai hipotesis dikemukakan oleh para ahli tentang penyebab makin menurunnya produktivitas padi sawah, antara lain : a). potensi genetik varietas yang ditanam terbatas (Abdullah, et al. 2002), b). cekaman biologi (hama/penyakit) dan fisik (kekeringan), c). degradasi kesuburan tanah, dan d). penurunan input produksi (Fagi, 2000). Keterbatasan potensi genetik varietas padi sawah merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas padi sawah di Sumatera Barat pada umumnya dan Kabupaten Pesisir Selatan khususnya. Di Pesisir Selatan varietas padi yang dominan adalah IR 42 (40%), Cisokan (57,5%) dan varietas-varietas lainnya sekitar 5% (Buharman et al. 2004).

Di samping keterbatasan varietas, kendala lain penyebab rendahnya produktivitas padi sawah adalah rendahnya tingkat penerapan teknologi intensifikasi. Kompleknya permasalahan yang dihadapi pada sistem intensifikasi padi sawah saat ini, maka untuk pengembangan pertanian ke depan, perlu dilakukan perbaikan terhadap komponen-komponen intensifikasi padi sawah yang ada saat ini. Dewasa ini upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan budidaya padi spesifik lokasi yang dikenal dengan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Ada 5 komponen teknologi utama untuk meningkatkan produktivitas padi sawah, yaitu 1). penanaman bibit muda (umur < 10 hari), 2). pemberian bahan organik pada waktu pengolahan tanah, 3). irigasi berselang (Intermittent irrigation), 4). pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, dan 5). pemupukan N menggunakan BWD (Las et al. 2003). Di samping itu ada beberapa alternatif teknologi untuk melengkapi komponen teknologi tersebut di atas yaitu :  a). penggunaan varietas unggul baru, b). penggunaan benih bermutu dengan daya tumbuh tinggi, c). penanaman 1-3 bibit per lubang, d). peningkatan populasi tanaman dengan penanaman sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1, e). penyiangan menggunakan landak, f). pengendalian OPT dengan sistem PHT, g). panangan pasca panen yang tepat, dan h). perontokan gabah menggunakan tresher (Las, et al. 2003 dan Zaini et al. 2003).

Penelitian bertujuan untuk melihat keragaan hasil dan nilai hasil usahatani varietas unggul baru padi sawah berumur genjah (IR 66) dan berumur sangat genjah (Inpari 12) pada populasi tanaman yang berbeda pada lahan sawah di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

BAHAN DAN METODE

Pengkajian dilaksanakan pada lahan sawah Kampung Marapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada MT 2010. Pengkajian dilaksanakan pada lahan sawah dengan luas  0,25 ha yang ditanam dengan 2 varietas padi sawah (IR 66 (VUG) dan Inpari 12 (VUSG)). Ke dua varietas ditanam menggunakan konsep pengelolaan tanaman terpadu padi sawah (PTT) dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1, sedangkan sebagai kontrol sistem tanam biasa. Komponen teknologi PTT pada sistem tanam legowo dan tanam biasa disajikan pada  Tabel 1.

Tabel 1.  Teknologi pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) dan non PTT padi sawah irigasi di Kampung Marapak Kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Komponen Taknologi

Sistem Tanam

Jajar Legowo

Tanam Biasa

Pengolahan tanah

Bajak singkal 1 kali + rotary 1 kali dan diratakan

Sederhana, sistem rotary  1 kali dan diratakan

Varietas

  1. IR 66 (VUG)
  2. Inpari 12 (VUSG)
  3. IR 66 (VUG)
  4. Inpari 12 (VUSG)

Bibit

10 kg/ha

>30 kg/ha

Persemaian

10 kg benih/100 m2

>30 kg benih/100 m2

Umur bibit

10 hari setelah tebar (HST)

21 hari setelah tebar (HST)

Jumlah bibit

1      batang/rumpun

3-5 batang/rumpun

Jarak tanam

20 x 20 cm

Tidak beraturan

Populasi Tanaman

Legowo 2:1 (333.333 rumpun/ha)

Legowo 4:1 (300.000 rumpun/ha)

+ 250.000 rumpun tanaman

Cara dan takaran pemberian pupuk.

  1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
  2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
  3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).
    1. Pemupukan N dengan takaran 150 kg Urea/ha
    2. Pemupukan P berdasarkan analisis kandungan P tanah sebesar 75 kg SP-36/ha (status P tanah sedang)
    3. Pemupukan K berdasarkan kandungan K tanah sebesar 50 kg KCl/ha (status K tanah sedang) (BPTP Sumbar dan Distan Sumbar, 2007).

Pupuk kandang

2 t/ha, diberikan secara tebar rata pada saat pengolahan tanah

Tanpa pupuk kandang

Pengendalian gulma

Secara manual 35 HST

Secara manual 35 HST

Pengelolaan air

Lahan sawah dikering saat tanam sampai 10 HST, kemudian diairi setinggi 5-10 cm selama 1 minggu dan dikeringkan lagi (membiarkan lahan sawah kering sendiri) dan diairi lagi dan dikeringkan lagi sampai fase pembungaan. Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi dengan tinggi air sekitar 5 cm, dan 10 hari menjelang panen lahan dikeringkan.

Tergenang terus menerus dari tanam sampai 10 hari sebelum panen

Pengendalian hama dan penyakit

Menggunakan metode PHT

Menggunakan metode PHT

Panen

Panen dilakukan menggunakan tresher

Panen dilakukan  mengguna-kan tresher

Pengamatan hasil dilakukan dengan cara mengambil ubinan dengan ukuran 5 x 5 meter yang dilakukan pada masing-masing varietas yang diuji dan pembanding. Hasil panen setelah dibersihkan ditimbang untuk menetapkan bobot gabah kering panen (GKP).

Model Analisis

Analisis anggaran biaya

Untuk membedakan antara varietas yang diuji dilakukan analisis anggaran biaya usahatani. Analisis anggaran usahatani meliputi masukan-hasil serta nilai nominalnya, yakni jumlah, harga, dan upah  sarana produksi yang digunakan (benih, pupuk, obat-obatan), tenaga kerja (pengolahan tanah, pesemaian, tanam, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, dan panen) dan perolehan hasil serta  harga gabah saat menjual hasil dalam penerapan teknologi intensifikasi dan non intensifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaan Hasil

Keragaan hasil varietas IR 66 (genjah) dan varietas Inpari 12 (sangat genjah) pada lahan sawah Koto Marapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Keragaan hasil padi sawah (t/ha) varietas IR 66 (VUB) dan Inpari 12 (VUSG) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Varietas

Sistem tanam

Tanam biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

IR 66

5,200

7,000

6,800

Inpari 12

5,400

7,200

6,900

Dari Tabel 2 terlihat bahwa hasil gabah kering panen VUG (IR 66) dan VUSG (Inpari 12) tidak memperlihatkan perbedaan hasil yang signifikan, akan tetapi sistem tanam memberikan perbedaan hasil yang signifikan. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 pada IR 66 (genjah) serta Inpari 12 (sangat genjah) meningkat hasil sebesar 1,8 t/ha atau sebesar 35% lebih tinggi dibandingkan tanam biasa. Pada legowo 4:1 peningkatan hasil lebih rendah dibandingkan dengan legowo 2:1, yaitu sebesar 31% pada IR 66 serta 28% pada Inpari 12. Hasil yang sama juga dilaporkan pada lahan sawah irigasi semi-intensif Desa Pulung Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten  Tulang Bawang Barat, Lampung (Mulyanti  dan  Pujiharti, 2011) serta Sunanjaya et al. (2011) pada lahan sawah di Subak Panarukan Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan-Bali dimana jajar legowo 2:1 memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan legowo 4:1 atau sistem tanam biasa. Hasil penelitian Sumijan dan Jauhari (2011) di Desa Sumberejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri menunjukkan pula bahwa penerapan PTT (VUB, perlakuan benih, dan pemupukan) mampu meningkatkan produktivitas sebasar 23,8% lebih tinggi dibandingkan teknologi petani. Penerapan teknologi PTT dengan sistem tanam 1-3 bibit/lobang tanaman memberikan peningkatan produktivitas lebih tinggi sebesar 33,7%, sedangkan penerapan teknologi PTT dengan komponen teknologi tanam bibit 1-3 batang/rumpun tanaman dan sitem tanam legowo mampu memberikan peningkatan produktivitas yang paling tinggi mencapai 75,8% dibandingkan dengan teknologi petani. Menurut Triny et al. (2004) tanaman yang mendapatkan pengaruh border effect akan lebih banyak mendapatkan faktor-faktor tumbuh seperti cahaya matahari, air dan CO2 sehingga memberikan efek yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi.

Lebih rendahnya peningkatan hasil pada legowo 4:1 disebabkan pada legowo 2:1 populasi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan legowo 4:1. Teknik jajar legowo dikembangkan untuk memanfaatkan pengaruh barisan pinggiran tanaman padi (border effect) yang lebih banyak, sehingga tanaman tumbuh lebih baik dan hasil lebih tinggi. Pada sistem tanam jajar legowo 2:1 seluruh pinggiran tanaman menjadi border effect. Selain border effect, populasi tanaman legowo 2:1 juga lebih banyak dibandingkan legowo 4:1 yakni 333,333 rumpun/ha atau 11,1% lebih tinggi (Tabel 1). Menurut Suriapermana dan Syamsiah (1994), teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanaman padi dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun dalam barisan dan melebar jarak antar barisan. Hasil penelitian Pujiharti dan Mulyanti (2012) pada lahan sawah Kampung Pulung Kencana Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung menunjukkan pula legowo 2:1 lebih efisien dibandingkan dengan jajar legowo 4:1 dan sistem tanam biasa (tegel)

Hasil analisis usahatani (Tabel 3 dan 4) terlihat bahwa pada varietas IR 66 (VUG) dengan sistem tanam biasa tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 18,200,000 dengan ongkos total sebesar Rp. 9,139,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 9,060,500,-. dengan nilai R/C ratio 1,99, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 99% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-, break event yield 2,611,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,758,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,742,-. Pada legowo 2:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 24.500.00024.500.000,- dengan ongkos total Rp. 11,523,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 12,976,500,- dengan tingkat R/C ratio sebesar 2,13, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  113% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,292,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,646,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,854,-. Sedangkan pada legowo 4:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 23.800.00023.800.000,- dengan ongkos total Rp. 11,157,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 12,642,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,13, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  113% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 3,500,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,188,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,641,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,859,-.

Tabel 3. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas IR 66 (VUB) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Indikator ekonomi

Satuan

Sistem Tanam

Biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

Hasil gabah

Kg

5,200

7,000

6,800

Penjualan gabah

Rp.

18,200,000

24,500,000

23,800,000

Ongkos total

Rp.

9,139,500

11,523,500

11,157,500

Keuntungan bersih

Rp.

9,060,500

12,976,500

12,642,500

Breakeven yield

Kg/Ha

2,611

3,292

3,188

Ongkos/kg gabah

Rp./kg

1,758

1,646

1,641

Keuntungan/kg gbh

Rp./kg

1,742

1,854

1,859

R/C

 

1.99

2.13

2.13

Tenaga

HOK

44

54

50

Partisi ongkos

Ongkos

Ongkos

Ongkos

Nilai Rp

% total biaya

Nilai Rp

% total biaya

Nilai Rp

% total biaya

Upah tenaga

5,916,000

64.7

7,650,000

66.4

7,284,000

65.3

Kontrak

1,200,000

13.1

1,200,000

10.4

1,200,000

10.8

Total upah

7,116,000

77.9

8,850,000

76.8

8,484,000

76.0

Ongkos pupuk

1,062,500

11.6

1,062,500

9.2

1,062,500

9.5

Bahan organik

0

0.0

800,000

6.9

800,000

7.2

Pestisida

736,000

8.1

736,000

6.4

736,000

6.6

Benih

225,000

2.5

75,000

0.7

75,000

0.7

Ongkos total

9,139,500

100.0

11,523,500

100.0

11,157,500

100.0

Pada varietas Inpari 12 (VUSG) dengan sistem tanam biasa tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 21,600,000,- dengan ongkos total sebesar Rp. 9,751,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 11,848,500,-. dengan nilai R/C ratio 2,22, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 122% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-, break event yield 2,438,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,806,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,194,-. Pada legowo 2:1 varietas Inpari 12 memberikan tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 28.800.00028.800.000,- dengan ongkos total Rp. 12,297,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 16,502,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,34, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  134% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, break event yield sebesar Rp. 3,074,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,708,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,292,-. Sedangkan pada legowo 4:1 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 27.600.00027.600.000,- dengan ongkos total Rp. 11,841,500,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 15,578,500,- dengan nilai R/C ratio sebesar 2,33, sehingga usahatani ini memberikan keuntungan  133% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, break event yield sebesar Rp. 2,960,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 1,716,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,284,-.

 

Tabel 4. Analisis kelayakan usahatani padi sawah varietas Inpari 12 (VUSG) pada beberapa cara tanam padi sawah dengan komponen teknologi PTT padi sawah di kenagarian Koto Marapak, kecamatan Bayang, kabupaten Pesisir Selatan, MT 2010.

Indikator ekonomi

Satuan

Sistem Tanam

Biasa

Legowo 2 : 1

Legowo 4 : 1

Hasil gabah

Kg

5,400

7,200

6,900

Penjualan gabah

Rp.

21,600,000

28,800,000

27,600,000

Ongkos total

Rp.

9,751,500

12,297,500

11,841,500

Keuntungan bersih

Rp.

11,848,500

16,502,500

15,758,500

Breakeven yield

Kg/Ha

2,438

3,074

2,960

Ongkos/kg gabah

Rp./kg

1,806

1,708

1,716

Keuntungan/kg gbh

Rp./kg

2,194

2,292

2,284

R/C

 

2.22

2.34

2.33

Tenaga

HOK

44

54

50

Partisi ongkos

Ongkos

Ongkos

Ongkos

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Nilai Rp.

% total biaya

Upah tenaga

6,528,000

66.9

8,424,000

68.5

7,968,000

67.3

Kontrak

1,200,000

12.3

1,200,000

9.8

1,200,000

10.1

Total upah

7,728,000

79.2

9,624,000

78.3

9,168,000

77.4

Ongkos pupuk

1,062,500

10.9

1,062,500

8.6

1,062,500

9.0

Bahan organik

0

0.0

800,000

6.5

800,000

6.8

Pestisida

736,000

7.5

736,000

6.0

736,000

6.2

Benih

225,000

2.3

75,000

0.6

75,000

0.6

Ongkos total

9,751,500

100.0

12,297,500

100.0

11,841,500

100.0

Dari uraian diatas terlihat bahwa sistem tanam jajar legowo memberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sistem tanam biasa. Pada varietas IR 66 (VUG) sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 memberikan tingkat pendapatan 14% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanaman biasa. Sedangkan pada varietas Inpari 12 (VUSG) sistem tanam jajar legowo memberikan tingkat pendapatan petani 12% dan 11% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Hasil padi sawah di Bayang Pesisir Selatan MT 2010 menggunakan varietas IR 66 (genjah) dengan sistem tanam biasa sebesar 5,2 t/ha sedangkan dengan varietas Inpari 12 (sangat genjah) sebesar 5,4 t/ha.
  2. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1  dan 4 : 1  pada IR 66 (genjah) meningkatkan hasil gabah sebesar 35% dan 31% dan pada Inpari 12 (sangat genjah)  sebesar 33% dan 28% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.
  3. Sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 pada varietas IR 66 (genjah) meningkatkan  pendapatan petani 14% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanaman biasa, sedangkan pada Inpari 12 (sangat genjah) meningkatkan pendapatan petani 12 dan 11% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam biasa.
  4. Sistem tanaman legowo 2:1 dengan jumlah populasi tanaman sebesar 333.333 rumpun/ha memberikan hasil gabah dan tambahan pendapatan tertinggi pada pada inovasi PTT padi sawah di Sumatera Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. B., Soewito. T dan B. Kustianto. 2002. Status perkembangan pemuliaan padi type baru di Indonesia. Makalah disampaikan pada Lokakarya Penelitian Litkaji dan Pemuliaan Partisipatif, tanggal 22-25 Juli 2002 di Balitpa Sukamandi.

Buharman, B., Burbey, dan I. Manti. 2004. Pertumbuhan produksi di Sumatera Barat : Kendala dan Peluang Peningkatannya. Hlm. 378-405 Z. Dalam Z. Lamid, Buharman, B., M. Boer, N. Hosen, I. Manti, R. Febriamansyah, dan R. Mayerni (Eds). Seminar Nasional Penerapan Agro Inovasi Mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

BPS, 2008. Pesisir Selatan dalam Angka 2008. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesisir Selatan.

Fagi, A. M. 2000. Strategi Perluasan dan Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi untuk Meningkatkan Pendapatan Petani dan Meraih Kembali Swasembada Beras. Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Lahan, Buku I, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Las, I., A. K. Makarim, M. H. Toha, A. Gani, H. Pane, dan S. Abdulrachman. 2003. Panduan Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian, Jakarta, 30 hlm.

Las, I., H. Syahbuddin, E. Surmaini, dan Ahmad M. Fagi. 2008. Iklim dan Tanaman Padi: Tantangan dan Peluang. Dalam Suyamto et al. (Eds). Buku Padi, Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.151-189.

Mulyanti, N. dan Yulia Pujiharti. 2011. Pengaruh Sitem tanaman Legowo terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Padi Sawah di Tulang Bawang Lampung. Hlm. 893-899 Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Pujiharti, Y. dan N. Mulyanti. 2012. Efisiensi Suistem Tanam Legowo di Kampung Pulung Kencana, Provinsi Lampung. Hlm. 1391-1400 Dalam Abdulrachman, S., B. Kusbiantoro, I.P. Wardana, Z. Susanti, G.R. Pratiwi, dan M.J. Mejaya (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2011. “Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Cekaman Lingkungan Biotik dan Abiotik” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Kementerian Pertanian.

Sumijan dan S. Jauhari, 2011. Peluang peningkatan produktivitas padi melalui teknologi PTT pada lahan sawah Semi Intensif di KabupatenWonogiri Jawa Tengah. Hlm. 901-909. Dalam Abdulrachman, S., Anischan Gani, dan Z. Susanti (Eds). Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Tanaman Padi Nasional 2010. “Variabilitas dan Perubahan Iklim: Pengaruhnya Terhadap Kemandirian Pangan Nasional” Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Simamarta, T., dan Y. Yuwariah. 2008. Teknologi intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) untuk mempercepat kemandirian dan ketahanan pangan. Dalam. B. Suprihatno et al. (Eds) Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Prosiding Seminar CallSend SMSAdd to SkypeYou'll need Skype CreditFree via Skype