JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Notice: Undefined property: Joomla\CMS\Categories\CategoryNode::$introtext in /var/vhosts/sumbar/public/plugins/content/extravote/extravote.php on line 190

PENDAHULUAN

Guna mempertahankan swasembada pangan memerlukan usaha optimalisasi penggunaan pupuk yang dapat menuju kepada tercapainya efisiensi pemupukan dengan menggunakan pupuk secara rasional sesuai dengan kemampuan tanah menyediakan hara, sumbangan hara dari air pengairan dan kebutuhan tanaman.

Rekomendasi pemupukan yang diberikan pemerintah melalui Departemen Pertanian didasarkan kepada pengujian-pengujian lapang yang bersifat agronomis dan merupakan rekomendasi umum yang bersifat nasional tanpa memperhatikan sifat-sifat tanah dan kebutuhan tanaman. Sejak tahun 1968, pemerintah telah merekomendasikan pemupukan untuk padi sawah jenis unggul berdasarkan hasil penelitian IRRI, yaitu 90-120 kg N, 30-60 kg P2O5, dan 30-50 kg K2O per hektar (Taslim, et al., 1993). Penggunaan rekomendasi pupuk tersebut yang dimulai dari program BIMAS dan Intensifikasi Khusus (INSUS) untuk semua jenis lahan dan daerah dalam kurun waktu yang lama telah menyebabkan terjadinya akumulasi beberapa unsur hara seperti P dan K.

Penggunaan  pupuk cenderung tidak terkendali,  antara lain tercermin dari aplikasi pupuk  Urea tanpa memperhatikan kapan waktu tanaman padi membutuhkan tambahan hara  N. Disamping itu, terdapatnya penimbunan hara P  disebagian besar  sawah intensifikasi sebagai akibat intensifnya  penggunaan pupuk TSP/SP-36 selama ini. Berbeda dengan pupuk N, pupuk P tidak mudah menguap, tercuci atau terbawa oleh air.  Meskipun hara P tersedia di tanah, tetapi hanya sedikit sekali yang termanfaatkan oleh tanaman. Pemberian  pupuk  P pada lahan sawah  secara  terus  menerus setiap  musim  tanam dan dengan takaran yang  tinggi  menyebabkan terjadinya  penimbunan  (akumulasi)  hara P  di  tanah,  sehingga efisiensi  pemupukan menjadi turun. Penelitian membuktikan  bahwa di  sebagian  besar  lahan  sawah  intensifikasi  telah   terjadi akumulasi  hara  dari pupuk P yang diberikan (Adiningsih  et al., 1990). Di Kota Padang dari 6.873 ha lahan sawah seluas 93% berkadar P tinggi, 6% sedang dan 1% tergolong rendah, sedangkan kandungan K tanah seluas 1% tergolong tinggi, 62% sedang dan 37% tergolong rendah. Di Kabupaten Padang Pariaman, dari 20.403,9 ha lahan sawah yang disurvey, seluas 42% berkadar P tinggi, seluas 43% sedang dan 15% rendah, sedangkan berdasarkan kandungan K tanah seluas 16% tinggi, 74% sedang dan 10% rendah (Burbey et al., 2003).

Sebagian besar tanah-tanah sawah irigasi di Jawa sudah terjadi akumulasi hara P yang sangat tinggi dan kapasita penyediaan hara K dari dalam tanah yang sudah cukup untuk mendukung produksi padi sampai 4-6 t/ha, sehingga penerapan pupuk P dan K pada saat ini belum menjadi masalah utama di tingkat petani (Dobermann dan Fairhurst. 2000).

Guna meningkatkan efisiensi pemupukan pada lahan sawah diperlukan metode penentuan rekomendasi pemupukan N, P dan K padi sawah spesifik lokasi. Rekomendasi pemupukan spesifik lokasi dimana rekomendasi pupuk didasarkan status hara tanah dan kebutuhan hara tanaman.

MACAM DAN PENETAPAN KEBUTUHAN PUPUK

1. pupuk Nitrogen (Urea)

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk N (Urea) petani dapat menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). BWD dapat menentukan apakah tanaman memerlukan pupuk N atau tidak, kalau memerlukan berapa takaran yang harus diberikan. Penggunaan BWD dapat menekan pemakaian pupuk N sebanyak 15-20% dari takaran yang digunakan petani tanpa menurunkan hasil (Abdulrachman 2002). BWD berbentuk persegi panjang dengan 4 kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua (Gambar 1).

Gambar 1.  Bagan Warna Daun dengan 4 skala warna dan dibelakangnya dicantumkan cara penggunaannya.

Rekomendasi pemupukan N (Urea) ditentukan berdasarkan tinggi rendahnya produktivitas padi per musim tanam, dengan petunjuk waktu aplikasi mengacu pada pendekatan Bagan Warna Daun (BWD).

Ada dua cara pemberian pupuk N (Urea) dengan menggunakan BWD yaitu :

1). Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan (Fixed Time)

Dengan cara ini, penggunaan BWD dilakukan pada pemupukan kedua dilakukan pada stadia anakan aktif (21-28 HST) dan pemupukan ketiga pada saat primordia bunga (35-40 HST), sedangkan pupuk dasar diberikan dengan takaran 75 kg urea/ha pada musim hasil tinggi, serta 0-50 kg urea/ha pada musim hasil rendah.

Pada saat pemupukan kedua bila pengukuran BWD pada skala 2-3, berikan 125 kg Urea/ha bila hasil yang biasa dicapai disuatu tempat sebesar 7 t/ha Gabah Kering Giling (GKG) dan 75 kg urea/ha kalau tingkat hasil sebesar 5 t/ha GKG. Bila warna daun berada pada skala 3 dan 4  berikan 100 kg Urea/ha kalau hasil yang biasa dicapai adalah 7 t GKG/ha. Bila warna daun pada skala 4 dan 5, berikan 50 kg urea/ha kalau hasil yang biasa dicapai 7-8 t GKG/ha (Tabel 2).

Tabel 1. Takaran Urea yang diberikan sesuai dengan Skala Warna Daun pada Penggunaan BWD Berdasarkan Waktu Pemberiannya yang telah ditetapkan (Fixed Time).

Skala warna

Takaran Pupuk Urea (kg/ha)/Tingkat hasil (t/ha GKG)*)

5

6

7

8

2 - 3

75

100

125

150

3 - 4

50

75

100

125

4 - 5

0

0-50

50

50

*)Tingkat hasil pada kondisi kebutuhan tanaman akan unsur hara P dan K serta faktor pertumbuhan lainnya yang optimal.

 

2). Berdasarkan kebutuhan riil tanaman (Real Time).

Saat pemupukan dasar, BWD tidak digunakan. Pengukuran warna daun dengan BWD dimulai pada umur 21-28 HST, dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali sampai 50 HST. Apabila tingkat hasil disuatu tempat sebesar 7 t/ha GKG, takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 100 kg urea/ha. Sedangkan bila tingkat hasil disuatu tempat hanya 5 t/ha GKG, maka pupuk urea susulan yang harus diberikancukup 50 kg urea/ha (Tabel 3).

Tabel 2. Takaran Urea susulan yang diberikan apabila warna daun dibawah nilai kritis (Skala < 4) pada Penggunaan BWD Berdasarkan Kebutuhan Riil Tanaman (Real Time).

Skala warna

Takaran Pupuk Urea (kg/ha)/Tingkat hasil (t/ha GKG)*)

5

6

7

8

< 4

50

75

100

125

*)Tingkat hasil pada kondisi kebutuhan tanaman akan unsur hara P dan K serta faktor pertumbuhan lainnya yang optimal.

2. Pupuk P dan K

Untuk menentukan kebutuhan P dan K tanaman dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu a). Berdasarkan analisis kimia tanah di laboratorium, b). Berdasarkan hasil uji perangkat sederhana Uji Tanah Sawah (PUTS/Soil Test Kit), dan c). Berdasarkan respon tanaman terhadap pupuk berdasarkan metode petak omisi (Omission Plot).

1) Berdasarkan Analisis Kimia Tanah

Analisis kimia tanah (Uji Tanah) adalah suatu cara untuk menentukan status unsur hara dalam tanah sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan. Ada tiga tahapan kegiatan yang dilakukan yaitu : 1). Studi korelasi yang bertujuan untuk mendapatkan metode ekstraksi terbaik untuk analisis  tanah di laboratorium dan rumah kaca, 2). Studi kalibrasi untuk menentukan batas kritis suatu unsur hara terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, dan 3). penyusunan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi (Sofyan, Nurjaya, dan Kasno, 2004).

Berdasarkan hasil analisis kimia tanah ini, rekomendasi pemupukan P pada lahan sawah berstatus P rendah (< 20 mg P2O5) sebanyak 100-125 kg SP-35/ha/MT, pada lahan sawah berstatus P sedang (20-40 mg P2O5) sebanyak 75 kg SP-36/ha/MT, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (> 40 mg P2O5) sebanyak 50 kg SP-36/ha/MT (Tabel 3).

Tabel 3. Rekomendasi pemupukan P pada padi sawah berdasarkan kriteria hasil analisis tanah.

Status P tanah

Kadar P2O5 (HCl 25%)   (mg/100 g tanah)

Rekomendasi P (kg SP-36/ha/MT)

Rendah

Sedang

Tinggi

< 20

20 - 40

> 40

100-125

75

50

Rekomendasi pupuk KCl sangat ditentukan oleh pengembalian/pemberian jerami ke lahan sawah. Bila jerami dikembalikan ke lahan, maka pemberian pupuk KCl cukup diberikan pada lahan sawah dengan status K rendah sebanyak  50 kg KCl/ha, sedangkan pada lahan sawah berkadar K sedang dan tinggi tidak perlu diberi pupuk KCl. Bila jerami tidak dikembalikan ke lahan, rekomendasi pemupukan K pada lahan sawah berstatus K rendah sebanyak 100 kg KCl/ha serta 50 kg KCl/ha pada lahan sawah berstatus K sedang-tinggi (Tabel 4).

Tabel 4. Rekomendasi pupuk KCl berdasarkan kriteria status hara K tanah.

Status hara K

Kadar K2O (HCl 25%) (mg/100 g tanah)

Rekomendasi (kg KCl/ha)

Tanpa Jerami

Dengan Jerami

Rendah

Sedang

Tinggi

< 10

10 – 20

> 20

100

50

50

50

0

0

2) Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)

PUTS merupakan suatu perangkat untuk pengukuran status hara P, K, dan pH tanah secara langsung dilapangan dengan relatif cepat, mudah, dan cukup akurat. PUTS terdiri dari pelarut (pereaksi) P, K, dan pH tanah serta peralatan pendukung lainnya (Widowati, 2004). Contoh tanah sawah yang telah diekstrak dengan pereaksi ini akan memberikan perubahan warna dan selanjutnya kadarnya diukur secara kualitatif.

Perinsip kerja PUTS adalah mengukur hara P dan K tanah yang terdapat dalam bentuk yang tersedia, secara semi kuantitatif dengan metode kalorimetri (pewarnaan). Pengukuran status P dan K tanah berdasarkan acuan menurut Setyorini (2004), dikelompokkan menjadi tiga ketegori yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T). Berdasarkan acuan tersebut didapat rekomendasi pemupukan P (SP-36) dan K (KCl) seperti yang disajikan pada Tabel 3 dan 4.

3) Berdasarkan Petak Omisi

IRRI bersama beberapa lembaga teknis pertanian di beberapa negara, termasuk Indonesia telah mengembangkan suatu model melalui penelitian secara empiris yang dapat digunakan untuk menduga kebutuhan pupuk untuk tanaman padi melalui bantuan petak omisi (Omission Plot) (Abdulrachman, Witt, dan Fairhurst (2002). Pendekatan petak omisi dirancang untuk memastikan dan menyempurnakan dosis rekomendasi yang ada berdasarkan status hara tanah, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi terhadap ketersediaan unsur hara alami. Konsep dasar dari pendekatan petak omisi adalah menentukan rekomnedasi pemupukan dengan terlebih dahulu mengetahui kemampuan tanah secara alami dalam menyediakan unsur hara melalui pembuatan petak omisi.

Petak omisi adalah suatu petak perlakuan yang tidak diberi dengan salah satu unsur hara atau pupuk. Selanjutnya dengan memperhitungkan selisih hasil antara petak omisi dengan hasil tertinggi yang mungkin dicapai, dapat diketahui takaran rekomendasi pemupukan (Abdulrachman, Witt, dan Fairhurst, 2002).

Pendekatan petak omisi secara teknis lebih praktis dan lebih mudah dipraktekkan oleh petani secara mandiri. Secara ilmiah, pendekatan petak omisi tidak kontradiktif dengan hasil uji tanah, bahkan bisa saling komplementer dengan peta status hara P dan K lahan sawah. Oleh karena itu untuk mendapatkan rekomendasi pemupukan P dan K spesifik lokasi lahan sawah, maka pendekatan petak omisi perlu dilakukan. Berdasarkan petak omisi akan diperoleh rekomendasi pemupukan P dan K spesifik lokasi, sehingga target hasil yang ingin dicapai disetiap daerah dapat ditentukan, sehingga efisiensi pemakaian pupuk P dan K dapat ditingkatkan.

Cara penentuan rekomendasi pemupukan P dan K dimulai dengan melakukan pengujian sederhana petak omisi P dan K dengan perlakuan  1). Tanpa N, dipupuk P dan K, 2). Tanpa P, dipupuk N dan K, 3). Tanpa K, dipupuk N dan P, dan 4). Dipupuk NPK. Tata letak pengujian disajikan pada Gambar 2.

 

Gambar 2. Tata letak petak omisi pengujian pemupukan P dan pada padi sawah.

Berdasarkan tingkat perbedaan hasil tanpa pupuk P dan K dengan pemupukan lengkap NPK maka didapat rekomendasi pemupukan P dan K sesuai dengan tingkat hasil yang ingin dicapai di lokasi pengujian. Bila tingkat perbedaan hasil tanpa P kecil (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 50 dan 75 kg SP-36/ha. Bila tingkat perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha) serta tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 75 dan 100 kg SP-36/ha serta  100 dan 125 kg SP-36/ha (Tabel 5).

Tabel 5. Rekomendasi pemupukan P berdasarkan tingkat perbedaan hasil antara petak omisi tanpa pupuk P dengan pemupukan lengkap NPK.

 

Target hasil

Pupuk P2O5 (kg SP-36/ha)

Beda hasil rendah  (< 1 t/ha)

Beda hasil sedang (1-2 t/ha)

Beda hasil tinggi (> 2 t/ha)

5 t/ha

50

75

100

7 t/ha

75

100

125

Berdasarkan petak omisi K, bila tingkat perbedaan hasil tanpa K rendah (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5  t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha dan dengan pengembalian jerami ke lahan sawah tanpa diperlukan pupuk KCl, sedangkan untuk mendapatkan target hasil  gabah 7 t/ha tanpa pengembalian jerami dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha dan 50 kg/ha dengan pengambalian jerami ke lahan sawah. Bila perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha), untuk mencapai terget hasil 5 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha serta 50 kg/ha dengan pengembalian  jerami ke lahan, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  100 kg/ha dan 50 kg/ha dengan pengembalian jerami ke lahan. Bila tingkat perbedaan hasil tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil 5 t/ha tanpa dan dengan pengembalian jerami ke lahan diperlukan pupuk KCl  sebanyak  100 kg/ha, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 125 kg/ha dan 100 kg/ha dengan pengembalian jerami ke lahan sawah (Tabel 6).

Tabel 6. Rekomendasi pemupukan K berdasarkan tingkat perbedaan hasil antara petak omisi tanpa pupuk K dengan pemupukan lengkap NPK.

Target hasil

 

Pengelolaan jerami

Pupuk K2O (kg KCl/ha)

Beda hasil rendah (< 1 t/ha)

Beda hasil sedang (1-2 t/ha)

Beda hasil tinggi (> 2 t/ha)

5 t/ha

Tanpa jerami

50

75

100

Dengan jerami

0

50

100

7 t/ha

Tanpa jerami

75

100

125

Dengan jerami

50

50

100

 

KESIMPULAN

 

Ada dua cara pemberian pupuk N (Urea) dengan menggunakan BWD, yaitu 1). Dosis dan waktu pemberian N berdasarkan BWD. Dengan cara ini, pemupukan pertama diberikan 10-14 hari setelah tanam (HST), tanpa menggunakan BWD dengan dosis 75 kg Urea/ha pada musim hasil tinggi, serta 0-50 kg Urea pada musim hasil rendah. Pemberian pupuk selanjutnya dilakukan menggunakan BWD dengan selang waktu 7-10 hari dan dilakukan  pada 28-62 HST. Bila pengukuran BWD kecil  dari batas kritis pemupukan segera diberi pupuk Urea sebanyak 100 kg/ha pada musim hasil tinggi serta 75-100 kg Urea/ha pada musim hasil rendah dan 2). Dosis dan waktu pemberian N ditentukan, sedangkan BWD digunakan sebagai penyempurnaan pemupukan. Dengan cara ini, pemupukan pertama diberikan 10-14 hari setelah tanam (HST), tanpa menggunakan BWD dengan dosis 75 kg Urea/ha pada musim hasil tinggi, serta 0-50 kg Urea pada musim hasil rendah. Pemberian pupuk kedua dilakukan pada stadia kritis pertumbuhan tanaman, yaitu anakan aktif (32-40 HST) menggunakan BWD dengan dosis 100 kg Urea (BWD = 3,5), 50 kg Urea (BWD > 4), dan 125 kg Urea/ha (BWD = < 3) pada musim hasil tinggi, sedangkan pada musim hasil rendah dengan dosis 100 kg Urea (BWD = 3,5), 0 kg Urea (BWD > 4), dan 100 kg Urea/ha (BWD = < 3). Pemupukan ketiga diberikan pada fase primordia (50-60 HST) dengan dosis 100 kg Urea (BWD = 3,5), 75 kg Urea (BWD > 4), dan 125 kg Urea/ha (BWD = < 3) pada musim hasil tinggi, sedangkan pada musim hasil rendah dengan dosis 75 kg Urea (BWD = 3,5), 0-50 kg Urea (BWD > 4), dan 100 kg Urea/ha (BWD = < 3).

Berdasarkan hasil analisis status hara P tanah, rekomendasi pemupukan P pada lahan sawah berstatus P rendah (< 20 mg P2O5) sebanyak 100-125 kg SP-35/ha/MT, pada lahan sawah berstatus P sedang (20-40 mg P2O5) sebanyak 75 kg SP-36/ha/MT, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (> 20 mg P2O5) sebanyak 50 kg SP-36/ha/MT. Rekomendasi pupuk KCl sangat ditentukan oleh pengembalian/pemberian jerami ke lahan sawah, bila jerami dikembalikan ke lahan, pemberian pupuk KCl cukup diberikan pada lahan sawah dengan status K rendah sebanyak 50 kg KCl/ha, sedangkan pada lahan sawah berkadar K sedang dan tinggi tidak perlu diberi pupuk KCl.

Berdasarkan petak omisi P dan K, rekomendasi pupuk didasarkan kepada tingkat perbedaan hasil tanpa pupuk P atau K dibandingkan dengan pemupukan lengkap (NPK). Bila tingkat perbedaan hasil tanpa P kecil (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 50 dan 75 kg SP-36/ha/MT. Bila tingkat perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha) serta tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 75 dan 100 kg SP-36/ha/MT serta  100 dan 125 kg SP-36/ha/MT.

Berdasarkan petak omisi K, bila tingkat perbedaan hasil tanpa K rendah (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target  hasil gabah 5  t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha/MT dan dengan pengembalian jerami ke lahan sawah tanpa diperlukan pupuk KCl, sedangkan untuk mendapatkan target hasil  gabah 7 t/ha tanpa pengembalian jerami dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha dan 50 kg/ha/MT dengan pengambalian jerami ke lahan sawah. Bila perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha), untuk mencapai terget hasil 5 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha/MT serta 50 kg/ha/MT dengan pengembalian  jerami ke lahan, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  100 kg/ha/MT dan 50 kg/ha/MT dengan pengembalian jerami ke lahan. Bila tingkat perbedaan hasil tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil 5 t/ha tanpa dan dengan pengembalian jerami ke lahan diperlukan pupuk KCl  sebanyak  100 kg/ha/MT, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 125 kg/ha/MT dan 100 kg/ha/MT dengan pengembalian jerami ke lahan sawah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrachman, S., C. Witt, dan T. Fairhurst. 2002. Petunjuk Teknis Pemupukan Spesifik Lokasi. Implementasi Omission Plot Padi. Potash and Phosphate Institute (ESEAP). International Rica Research Institute (IRRI) dan Balai Penelitian Tanaman Padi.

Burbey, A. Sahar, Dj. Djamaan, A. Dt. Tambijo, E. Mawardi, A. Izmi, Azizar dan Irman. 2003. Rekomendasi Pemupukan P dan K Padi Sawah di Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Laporan Akhir Kegiatan Pengkajian BPTP Sumatera Barat, 57 hlm (tidak dipublikasikan).

_______, A. Sahar, Z. Kari, Aguswarman, Adrizal, Misran, Azizar dan Irman, 2004. Pengkajian Pemupukan P dan K Spesifik Lokasi. Laporan Akhir Pengkajian BPTP Sumatera Barat, 59 hlm (Tidak dipublikasikan).

_______, Z. Kari, Adrizal, Azizar, Misran, A. Izmi. 2005. Pemetaan status hara P dan K lahan sawah Kabupaten Agam. Laporan Hasil Penelitian Kerjasama BPTP Sumatera Barat dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Agam.

Taslim, H., S. Partohardjono dan Subandi. 1993. Pemupukan Padi Sawah. Dalam Padi, 1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Puslitbangtan, Bogor.

Pendahuluan

Pengembangan buah  di suatu wilayah tergantung potensi yang dimiliki dan kendala yang dihadapi.  Potensi wilayah terutama ketersediaan sumberdaya pertanian, keragaman sistem usahatani yang ada dan infrastruktur serta ketersediaan teknologi pendukung. Peranan teknologi sangat menentukan dalam memanfaatkan potensi tersebut terutama dalam memecahkan masalah teknis.  Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan daya hasil dan daya guna dari setiap sumberdaya untuk menghasilkan output yang diharapkan agar mampu secara bertahap memperbaiki tingkat kesejahteraan, khususnya masyarakat tani dan pendapatan daerah serta nasional.

Potensi sumberdaya lahan di Sumatera Barat cukup besar.  Luas provinsi Sumatera Barat ± 42.226,64 km2 dan telah dimanfaatkan untuk lahan pertanian sekitar 20,0%, sisanya sebagian besar merupakan hutan yang masih berpeluang untuk pengembangan sektor pertanian (Bappeda Sumbar, 2009).  Posisi Sumatera Barat sangat strategis, terletak di tengah dan bagian barat pulau Sumatera.  Dari segi iklim, cukup mendukung pengembangan sektor pertanian khususnya buah-buahan rakyat diantaranya: pisang, manggis, sawo, alpukat, jeruk dan markisa manis.  Secara ekonomi Sumatera Barat mempunyai akses pasar ke provinsi tetangga terutama Jambi, Riau dan Sumatera Utara dan beberapa negara tetangga (Malaysia dan Singapura).

Usaha pertanian merupakan lapangan kerja utama bagi sebagian besar penduduk Sumatera Barat.  Jumlah rumah tangga yang berusaha di sektor pertanian tersebut mencapai 58,5%.  Namun demikian, sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB masih rendah, terutama sektor tanaman pangan.  Secara absolut sumbangan sektor pertanian menaik dari tahun ke tahun dan pada tahun 2008 sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Sumatera Barat sebesar 24,2% (Bappeda, 2009).   Akan tetapi, secara relatif terhadap sektor lainnya pertumbuhan sektor pertanian relatif lambat.  Keadaan tersebut perlu disikapi karena kebijakan Pemerintah Daerah ke depan adalah mendorong ekspor non migas, dan kecukupan pangan daerah mendukung swasembada pangan nasional dan peningkatan pendapatan petani melalui program Pensejahteraan Petani (GPP) sebesar  Rp. 2,0 juta/bulan.  Diharapkan melalui pengembangan buah-buahan yang sudah biasa diusahakan oleh  masyarakat,  peningkatan pendapatan petani  bisa tercapai.

Pengembangan sektor pertanian harus berbasis komoditas unggulan rakyat.  Dalam hal ini pada subsektor tanaman pangan dan hortikultura adalah beberapa jenis buah-buahan andalan rakyat. Peluang pengembangan komoditas unggulan secara umum ditentukan oleh seberapa kuat daya saing yang dimiliki oleh produk tersebut.  Bila daya saing cukup tinggi, maka komoditas tersebut mempunyai peluang pengembangan yang cukup besar untuk dapat masuk dan  bertahan di pasaran.  Demikian pula sebaliknya bila daya saing suatu komoditas ternyata rendah, muncul kendala dalam pemasaran.  Karena itu, pengembangan komoditas unggulan harus memperhatikan potensi dan kendala yang dihadapi dalam berbagai aspek.

KONSEPSI PENGEMBANGAN BUAH  POTENSIAL

Terwujudnya pengembangan suatu komoditas unggulan sangat ditentukan oleh berbagai faktor.  Secara teknis faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain, karena itu bentuk hubungannya merupakan hubungan fungsional (Gambar 1).  Faktor-faktor tersebut secara umum dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok parameter antara lain:  (1) Sumberdaya yang terdiri dari sumberdaya alam  (ketersediaan lahan pertanian, iklim dan air) dan sumberdaya manusia; (2) Faktor ekonomi, sosial, kelembagaan dan budaya diantaranya pendapatan usahatani, pendapatan keluarga, pasar, sikap masyarakat, status lahan, penyuluhan dan lain-lain; (3) Profil komoditas; (4) Kelembagaan; (5) Jaminan pasar; (6)  Infrastruktur: prasarana dan sarana transportasi, wisata, listrik, komunikasi dan lain-lain; (7) Kebijaksanaan dan peran pemerintah: provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan nagari. Setiap kelompok parameter tersebut dapat dipecah menjadi parameter-parameter yang lebih tajam, sehingga jelas permasalahan  apa  yang lebih dominan menentukan pengembangan komoditas unggulan di Sumatera Barat pada suatu kawasan secara berkelanjutan

KOMODITAS UNGGULAN BUAH

Meskipun aneka komoditas buah-buahan diusahakan oleh petani, namun di antaranya ada yang diandalkan oleh petani dan bahkan oleh Pemerintah Daerah.   Komoditas yang diunggulkan oleh petani artinya adalah komoditas tersebut memberikan kontribusi dalam struktur pendapatan keluarga dan dari segi aspek sosial terkait dengan keamanan pangan keluarga (Hosen et al., 2004).

Dengan berlakunya undang-undang otonomi daerah, masing-masing  kabupaten/kota juga mempunyai komoditas unggulan.  Komoditas unggulan daerah tersebut secara otomatis termasuk unggulan nasional/propinsi dan komoditas spesifik.  Pengembangan komoditas unggulan daerah diarahkan untuk peningkatan pendapatan petani,  produksi, pendapatan daerah serta mendukung agroindustri   didaerah, sehingga meningkatan kesempatan kerja.

Seleksi komoditas unggulan menggunakan beberapa indikator yaitu: (i) Indek LQ (Location Quotient) dengan  menganalisis data sekunder 5 tahun terakhir (2004-2009) (Bappeda Sumbar, 2004-2009). Indek LQ komoditas tingkat propinsi merupakan perbandingan antara pangsa relatif produksi komoditas ke-i terhadap total produksi tingkat propinsi dengan pangsa relatif produksi komoditas ke-i  terhadap total produksi tingkat nasional.  Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk mengukur keunggulan komoditas tingkat kabupaten/kota. Bila suatu komoditas mempunyai indek LQ >1; artinya adalah komoditas tersebut memiliki keunggulan komparatif.  Bila indek LQ=1, artinya  komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan  dan produksinya hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal;  Bila indek LQ<1 artinya   komoditas tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri, sehingga perlu pasokan dari luar (DIPTI, 1997; Hamdewi, 2003).  Parameter lainnya adalah (ii) Tingkat kesesuaian agroekologi yang tinggi dan potensi pengembangan. Komoditas tersebut memang sesuai dengan kondisi agroekologi potensial di propinsi serta potensi pengembangan cukup luas. Penilaian dilakukan secara relatif berdasarkan pengamatan di lapang dan survai AEZ  dengan kriteria: tinggi=1, sedang=2 dan kurang/tidak ada=3; (iii)  Kelayakan finansial dan ekonomi komoditas untuk diusahakan di suatu wilayah yang ditunjukkan oleh nilai B/C. Nilai B/C diperoleh berdasarkan beberapa survai secara terpisah dalam 5 tahun terakhir terhadap beberapa komoditas.  Penilaian dengan memberi skor 1 untuk  indek B/C tertinggi, skor 2 untuk B/C berikutnya dan seterusnya.; (iv) Dapat menciptakan nilai tambah dan kesempatan kerja yang ditunjukkan oleh tingkat pendapatan dan dapat juga nilai produksi yang dihasilkan di suatu wilayah. Pemberian skor sama dengan butir 2 di atas, nilai produksi tertinggi diberi skor 1 dan seterusnya. Total produksi  dan harga merupakan rata-rata selama 5 tahun terakhir; (v) Komoditas yang telah diusahakan banyak oleh masyarakat setempat yang ditunjukkan oleh jumlah petani yang terlibat (%).  Pemberian skor sama dengan butir 2 di atas, jumlah petani terbanyak diberi skor 1 dan seterusnya; (vi) Mempunyai orientasi pasar yang jelas (daerah/lokal, antar daerah dan ekspor).  Untuk komoditas ekspor dapat ditunjukkan dengan besar nilai ekspor (US$). Sistem penilaian bila ada nilai ekspor diberi nilai 1, bila dipasarkan ke luar propinsi/antar pulau diberi nilai 2 dan hanya pasar lokal dinilai  3; (vii) Ketersediaan teknologi merupakan indikator peluang intervensi teknologi yang diadaptasikan dan dirakit sesuai agroekosistem setempat serta akan dikembangkan dalam skala ekonomi.   Penilaian adalah bila banyak teknologi tersedia dengan peluang intervensi tinggi dinilai 1, bila teknologi tersedia sedang, dinilai 2 dan teknologi sangat terbatas/kurang dan bahkan tidak ada dinilai 3.

Prioritas komoditas unggulan ditetapkan apabila jumlah skor paling rendah menjadi prioritas pertama (1), dan seterusnya untuk komoditas dengan jumlah skor tertinggi prioritasnya rendah.  Penentuan prioritas komoditas dilakukan pada kelompok komoditas untuk setiap subsektor. Hasil analisis dikemukakan pada tabel 1 dan 2.

Tabel  1.   Beberapa komoditas buah unggulan dan prioritas menurut nilai indikator  yang dapat dikembangkan di Sumatera Barat

 

Jenis buah

LQ

Kesesuai-

an/Potensi pengemba

ngan

R/C

Nilai Produksi (Rp.M)

Jumlah

Petani (%)

Pasar/nilai ekspor (US$ Jt)

Keterse-

diaan teknologi

 

1. Jeruk

2. Sawo

3. Advokat

4. Markisa

5. Pisang

6. Manggis

 

2,52

1,72

1,53

8,29

3,50

7,50

 

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

 

2,10

>1,0

>1,0

2,26

>1,0

>1,0

 

111,6

4,6

11,0

4,0

-

-

 

0,75

0,78

1,98

0,45

0,60

50,0

 

Lokal

Lokal

Lokal

Lokal

Ekspor

Lokal

 

Cukup

Kurang

Kurang

Sedang

Sedang

Cukup

 

 

Tabel  2.   Distribusi pengembangan  komoditas buah-buahan unggulan menurut wilayah   kabupaten/kota di Sumatera Barat.

 

Kabupaten/

kota

Jeruk

Sawo

Alpukat

Manggis

Markisa manis

Pisang

Pesisir Selatan

Solok

Solok Selatan

Sijunjung

Dharmasraya

Tanah Datar

Pdg. Pariaman

Agam

50-Kota

Pasaman

Pasaman Barat

Pariaman

Padang

-

√

√

-

-

-

-

√

√

-

-

-

-

-

√

-

-

-

√

-

-

-

-

-

-

-

-

√

-

-

-

√

-

-

-

-

-

-

-

√

-

-

√

-

√

√

-

√

-

-

-

√

-

√

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

√

√

√

√

√

-

√

-

√=adalah wilayah pengembangan buah-buahan unggulan rakyat

PELUANG DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN

  1. 1. Peluang

1.1 Ketersediaan Lahan dan Dukungan Agroklimat

Secara geografis  Sumatera Barat memiliki sumberdaya alam yang cukup potensial untuk pengembangan komoditas pertanian yang berorientasi agribisnis, baik ditinjau dari segi agroklimat maupun dari potensi lahan. Kondisi biofisik wilayah yang komplek, mulai dataran rendah sampai dataran tinggi dengan berbagai tipe iklim dan jenis tanah, sangat memungkinkan untuk pengembangan berbagai komoditas, baik komoditas unggulan wilayah maupun komoditas potensial (prospektif).

Dinas Pertanian Provinsi Sumbar (2002), mengidentifikasi luas lahan pertanian di Sumatera Barat mencapai 1.327.294 ha yang tersebar pada setiap kabupaten/kota.  Potensi  pertanian terbesar dari sisi luas lahan adalah Kabupaten Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat dan Agam. Distribusi penggunaan lahan di Sumatera Barat disajikan pada Tabel 3. Luas lahan sawah adalah  238.949 ha dan lahan kering seluas 590.455 ha yang dimanfaatkan untuk pekarangan (110.559 ha); tegalan/kebun (319.373 ha); dan ladang/huma (160.563 ha), dengan total wilayah Sumatera Barat 4.229.750 ha.

Tabel 3.  Distribusi penggunaan tanah menurut kabupaten/kota yang memiliki lahan  dataran tinggi di Sumatera Barat, 2007 (ha).

 

Kabupaten/ kota

Pemu-

kiman

Pertanian

Padang rumput

Semak alang2

Hutan

Tanah

rawa

Lahan lainnya

Solok

4.427,9

60.620,6

-

47,0

281.935,5

26.778,0

-

Tanah Datar

12.007,0

46.890,0

-

1.881,0

35.726,0

7.054,0

143,0

Agam

23.335,4

119.965,2

6.827,4

-

61.348,7

11.753,0

-

50-Kota

7.367,8

88.448,5

-

-

217.492,0

22.121,7

-

Pd. Panjang

340,1

340,1

9,1

35,2

314,4

59,4

95,9

Bukittinggi

1.003,9

1.196,5

-

11,2

249,0

-

63,5

Jumlah

48.480,7

317.460

6.836,5

1.974,6

597.066

266.861

302,4

Sumber: Bappeda Sumbar, 2009

Berdasarkan  kemiringan lahan, 27,5% dari wilayah Sumbar berada pada kemiringan 0-20 ; 15,4% kemiringan 2-150; 15,6% kemiringan 15-400; dan 41,5% >400 tersebar mulai dari dataran rendah pantai barat Sumbar sampai gugusan pergunungan bukit barisan sebelah timur.

Sebaran jenis tanah utama, secara garis besar dibagi tiga bagian seperti, pembagian fisiografi dan ketinggian dari muka laut, yaitu: (i) wilayah bagian barat, (ii) wilayah bagian tengah, dan (iii) wilayah bagian timur. Wilayah bagian barat (Kabupaten Pasaman, Agam, Padang Pariaman, dan Pesisir Selatan), umumnya adalah tanah Latosol, Kompleks Podzolik, Andosol, Regosol dan sepanjang daerah aliran sungai didapatkan tanah Aluvial, sedangkan arah ke pantai adalah tanah Organosol yang sebagian besar masih tertutup hutan rawa.  Wilayah bagian tengah (Pasaman, Agam, Limapuluh Kota, Tanah Datar dan Solok), jenis tanah umumnya Andosol, Kompleks Podzolik, Latosol, Regosol, Litosol, dan Aluvial sepanjang aliran sungai.  Wilayah bagian timur (Pasaman, Limapuluh Kota, Tanah Datar, Sawahlunto/Sijunjung), umumnya Podzolik Merah Kuning dan Latosol, pada cekungan ditemukan sedikit Glay Humus serta sepanjang aliran sungai dan lembah adalah tanah Aluvial.  Prosentase luas masing-masing jenis adalah: Organosol  5,79%; Aluvial 6,41%; Regosol 3,26%; Andosol 6,90%, Latosol 22,11%; Podzolik Merah Kunig 18,09% dan sisanya 37,42%.

Oldeman et al., (1979), curah hujan bervariasi 3.000-5.000 mm/thn, dengan hari hujan 100-230 hh/thn, serta jarang terjadi bulan kering.  Tipe iklim pada umumnya termasuk tipe A (Schmidt and Ferguson) dan tipe Alfa (Kopper).

1.2.  Sumberdaya Manusia

Potensi sumberdaya manusia dapat dilihat dari besarnya angkatan kerja produktif yang bekerja di sekor pertanian, ataupun kualitas sumberdaya yang dimiliki.  Kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki dicerminkan oleh tingkat pendidikan.    Kecenderungan di Sumatera Barat adalah kurangnya minat tenaga berpendidikan untuk terlibat langsung dalam kegiatan agribisnis atau usahatani.  Dengan “sistem matrilinial” mereka cenderung bekerja di luar daerah sebagai perantau baik bekerja di sektor formal ataupun informal.  Kurangnya minat angkatan kerja bekerja di sektor pertanian tersebut menyebabkan tingkat upah menjadi lebih tinggi, skala usaha kecil dan pada gilirannya biaya produksi produk yang dihasilkan secara linear juga meningkat.

Tahun 2008, total jumlah penduduk Sumatera Barat sekitar  4,5 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan 1,7%/tahun.  Dari jumlah itu, 53,4% adalah angkatan kerja (umur ≥10 tahun), dan besarnya angkatan kerja yang bekerja adalah 50,1%.  Angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian 50,3%, berarti  jumlah angkatan kerja yang bekerja pada lapangan usaha utama sektor pertanian adalah 859.327 orang.  Jumlah  tersebut tersebar pada semua kegiatan mulai dari pengolahan tanah sampai panen atau pasca panen dalam subsistem produksi, baik pertanian pangan ataupun usaha  perkebunan.  Bilamana semua kegiatan usahatani menggunakan tenaga kerja manusia, potensi tenaga kerja yang ada sangat tidak seimbang.  Sebagai contoh, dengan luas  panen padi sawah 406.758 ha/tahun, serta jumlah tenaga kerja 859.327 orang, maka untuk setiap hektar sawah dalam satu musim hanya tersedia tenaga 2,11 orang.  Dengan kondisi yang tidak seimbang itu, kemungkinan salah satu alasan kenapa pengelolaan usahatani tidak dilakukan secara intensif, dalam arti melibatkan tenaga kerja orang lebih banyak. Oleh sebab itu untuk meningkatkan pendapatan perlu dikembangkan buah-buhan, karena dalam pengelolaannya tidak membutuhkan curahan tenaga kerja yang relatif banyak.

1.3 Infrastruktur

Kondisi infrastruktur di Sumbar relatif baik, sehingga asessibilitas masyarakat antar desa ke ibu kecamatan, ibu kabupaten ataupun pusat-pusat pelayanan masyarakat lainnya termasuk lancar.  Sumatera Barat terletak di bagian tengah dan barat pulau Sumatera serta dilalui oleh jalan Lintas Sumatera.  Karena itu daerah ini termasuk wilayah strategis.  Pada bagian timur berbatas dengan Provinsi Riau dan Jambi, Selatan dengan Bengkulu, dan bagian utara dengan Sumatera Utara. Prasarana jalan yang menghubungkan provinsi tetangga tersebut cukup baik.    Dengan demikian, transportasi keluar masuknya produk pertanian dari dan ke luar daerah provinsi tetangga menjadi lebih mudah, seperti ke provinsi Riau, Sumatera Utara, Jambi ataupun pulau Jawa.  Selain prasarana jalan, Sumatera Barat mempunyai pelabuhan laut (Teluk Bayur) dan pelabuhan udara (Bandara Internasional Minangkabau-BIM), yang sangat potensial mendukung ekspor hasil-hasil pertanian, terutama ke negara tetangga (Singapura, Brunai dan Malaysia).

1.4 Kelembagaan

Kelembagaan merupakan faktor penting dalam pengembangan usahatani.  Kelembagaan utama yang terkait dengan sistem produksi adalah Kelompok Tani (Pokatn). Pada setiap desa atau nagari ada beberapa  Poktan  dan pada setiap Poktan terdiri dari sejumlah anggota.  Tidak semua petani pada suatu wilayah (nagari) menjadi anggota Poktan.  Namun kemajuan manajemen Poktan yang aktif dalam mengadopsi inovasi teknologi diharapkan akan berdampak pada petani lainnya yang bukan anggota.  Kelembagaan sarana produksi   usahatani berupa  kios sarana produksi  juga tersedia pada pasar desa atau pasar kecamatan terdekat, sehingga untuk pengadaan sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan cukup lancar pada keadaan normal.  Kecuali bila terjadi gangguan pasokan, terutama yang sering terjadi pada pupuk.  Kelembagaan pasar juga tidak masalah, hal ini didukung oleh sarana dan prasarana transportasi yang lancar. Pedagang untuk komoditas pangan maupun produk perkebunan umumnya ada pada desa atau desa tetangga yang tidak jauh dari lokasi petani.  Bahkan untuk padi, umumnya petani didatangi oleh pedagang pengumpul pada waktu panen.

Lembaga keuangan seperti Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sudah mulai berkembang sebagai sumber pembiayaan bagi petani dalam mengembangan usaha pertanian mereka. Keberadaan LKM-A ini akan sangat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan, khususnya usaha agribisnis skala kecil (Hosen et al. 2009).

1.5 Dukungan Teknologi

Beberapa paket teknologi buah (markisa, pisang, manggis, jeruk) baik budidaya, pengendalihan hama/penyakit  maupun pascapanen hasil penelitian/pengkajian  BPTP Sumatera Barat yang telah disosialisasikan dan di diseminasikan ke pengguna atau stakeholders dikemukakan   dibawah ini.

Jeruk

Penyakit CVPD dan beberapa  penyakit lainnya menyerang  pertanaman jeruk saat ini.  Oleh sebab itu, bibit yang akan ditanam harus bebas dari patogen sistemik penyebab penyakit (bakteri, virus dan atau viroid), yaitu: Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), Citrus Tristeza Virus (CTM), Citrus Vein Enation Virus (CVEV), Citrus Exocortis Viroid (CEV), Citrus Psorosis Virus (CPsV), Citrus Tatter Leaf Virus (CTLV) dan Citrus Cachexia Virus (CcaV).  Perbanyakan bibit jeruk bebas penyakit dilakukan oleh penangkar bibit untuk diteruskan kepada petani, melalui okulasi atau okulasi cangkok, menggunakan entris yang berasal dari Block Pondasi Mata Tempel.  Untuk menghindari penggunaan bibit yang terinfeksi penyakit, penggunaan bibit jeruk yang tidak jelas asal usulnya harus dihindari.

Selain itu, aspek pemeliharaan tanaman juga perlu mendapat perhatian, mencakup: (i) pemupukan (fase vegetatif dan generatif); (ii) pengairan dan drainase; (iii) sanitasi kebun; (iv) pemangkasan; (v) penjarangan buah; (vi) dan pengendalian OPT yang kesemuanya termasuk dalam Pengelolaan Kebun Jeruk Sehat (PKJS).

Teknologi degreening buah jeruk menggunakan gas asetilen dimaksudkan untuk mendapatkan agar warna buah  menjadi seragam menyamai penampilan buah jeruk impor.   Dengan cara ini kulit buah jeruk dapat berubah menjadi kuning seragam dalam 6-7 hari, tanpa mengurangi susut bobot.

Markisa Manis

BPTP Sumbar telah melepas dua varietas unggul markisa manis, yakni Super Solinda dan Gumanti.  Dibanding varietas lokal bunga warna ungu biasa yang berkembang luas, kedua varietas unggul ini mempunyai keunggulan daya hasil lebih tinggi, ukuran buah lebih besar, harga jual lebih tinggi.  Rasa buah lebih manis dengan kandungan gula 10,1%, sari buah lebih banyak, dan total padat terlarut 15,6%.  Selain itu kulit buah lebih tebal dan aman untuk transportasi jarak jauh (Buharman et al., 2004).

Walaupun buah markisa diutamakan dikonsumsi segar sebagai buah meja, markisa juga bisa diolah menjadi sirup dan jus.  Campuran 70% markisa manis dengan 30%   terung belanda menghasilkan jus atau sirup mix terung belanda yang tahan lama, yaitu 10 bulan dalam ruang penyimpanan (Iswari dan Buharman, 2009).

Manggis

Tahun 2006 produksi manggis Sumbar sebanyak 18.000 ton. Dari jumlah tersebut sekitar 10% diekspor,  sementara sisanya (kualitas BS) di pasarkan dalam daerah yang harga jualnya jauh lebih rendah. Untuk meningkatkan nilai tambah, buah manggis BS dapat diolah menjadi sirup, jus, puree dan  xanthones.  Menurut Iswari et al., (2007) sirup dan jus terbuat dari buah manggis asli, tanpa pewarna sintetis, tanpa pengawet dan tahan disimpan 10 bulan pada suhu dingin. Berbeda dengan puree manggis sebagai bahan setengah jadi yang tidak tahan disimpan pada suhu ruang (harus disimpan pada suhu 5-7oC).  Produk olahan yang terbuat dari ekstrak kulit buah manggis yang selama ini tidak dimanfaatkan, ternyata punya nilai ekonomi dan nilai kesehatan yang tinggi untuk dikonsumsi.  Xanthones yang bahan bakunya dari kulit manggis dapat berfungsi sebagai obat anti kanker, kolesterol, darah tinggi, gula dan sakit perut.  Teknologi pengolahan manggis ini telah dikerjasamakan dengan Pemerintah Kabupaten Sijunjung melalui Dinas Pertanian setempat (Badan Litbang Pertanian 2008).

Pisang

Dalam dua dekade terakhir, di berbagai daerah pertanaman pisang mengalami serangan berat oleh penyakit laju Fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum dan penyakit layu bakteri disebabkan oleh Pseudomanas solanacearum dengan tingkat serangan mencapai 24%. Kedua penyakit ini tidak mudah dikendalikan karena sifat patogennya menyebar secara sistemik dalam jaringan tanaman.  Nurdin dan Hermanto (2009) mengemukakan beberapa cara teknik pengendalian penyakit fusarium dan penyakit layu bakteri pada pisang, dengan cara: (i) penggunaan bibit bebas penyakit; (ii) aplikasi agens hayati; (iii) aplikasi pupuk organik; (iv) eradikasi rumpun sakit; (v) penggunaan alat steril; (vi) penggerondongan tandan dan pemotongan jantung; (vii) pencegahan patogen terbawa kaki; (viii) pengapuran; dan (ix) penanaman varietas tahan.

Untuk mendapatkan penampilan buah  pisang yang mulus dan menarik terbebas dari serangan burik dilakukan pengerondongan pada tandan buah menggunakan plastik biru segera setelah jantung pisang keluar.  Dengan teknologi ini buah pisang yang dihasilkan mempunyai kulit yang mulus.  Disamping itu pengerodongan dapat mencegah serangan hama Trips dan mencegah penularan penyakit layu bakteri oleh serangga vektor.

Alpokat

Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbutrop), telah menghasilkan tiga varietas unggul alpokat yang pohon induknya diekplorasi  dari Kabupaten Solok Sumatera Barat.  Ketiga varietas unggul tersebut masing-masing adalah (i) Mega Gagauan; (ii) Mega Murapi; dan (iii) Mega Paninggahan.  Hasil masing-masing varietas ialah: 880-1.000 buah setara 300-350 kg/pohon/tahun untuk Mega Gagauan, 350-450 buah (180-225 kg/pohon/tahun) untuk Mega Murapi, dan 880-1.000 buah (300-350 kg/pohon/tahun) untuk Mega Paninggahan. Ketiganya mempunyai rasa manis pulen, kering, lembut dengan warna daging buah kuning mentega (Puslitbanghor 2003).

1.6 Aspek Sosial dan Budaya

Peluang dari aspek sosial budaya dapat direfleksikan melalui tingkat kesadaran masyarakat  sebagai konsumen yang memahami arti penting dari mengkonsumsi buah sebagai sumber mineral dalam menu sehari-hari. Promosi untuk pemahaman ini dilakukan sangat intensif sejak dini mulai dari anak balita bahkan dimulai dari ibu hamil.  Bahkan bagi sebagian golongan masyarakat tertentu, mereka lebih mengutamakan mengkonsumsi buah dibanding sumber karbohidrat

  1. 2. Tantangan

2.1 Aspek Teknis

Jenis buah yang disebutkan diatas pernah menempati urutan luas panen dan produksi melebihi jenis komoditas lainnya.  Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, posisi tersebut menjadi terbalik.  Jenis komoditas buah andalan rakyat seperti markisa manis, pisang, jeruk, dan alpokat perkembangannya dikemukakan di bawah ini.

Pada tahun 1990, luas tanaman markisa di Kabupaten Solok baru sekitar 600 ha.  Enam tahun berikutnya, luas areal markisa   mencapat  4.136 ha, yang tersebar di Kecamatan Lembang Jaya seluas 2.272 ha, Lembah Gumanti 1.712 ha dan sisanya di kecamatan tetangga, seperti Gunung Talang dan Pantai Cermin.  Berdasarkan data tersebut, selama 6 tahun telah terjadi peningkatan areal tanam yang sangat tajam mencapai 638,6%.  Hal ini tidak lain karena nilai ekonomi usahatani markisa mempunyai daya saing (komparatif dan kompetitif) yang tinggi.  Berkembangnya agribisnis berbasis markisa di Kabupaten Solok antara lain didukung oleh potensi sumberdaya lahan yang cocok, ditemukannya varietas unggul markisa (Super Solinda dan Gumanti), permintaan pasar yang makin meningkat, ketersediaan teknologi, dan besarnya keuntungan usahatani yang diterima petani.  Disamping itu tidak kalah pentingnya adanya dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam komponen dan sistem antara lain kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dan lembaga penelitian serta instansi terkait yang secara bersama-sama bergerak dalam kegiatan pengembangan agribisnis markisa (Buharman et al, 2004a).

Dibanding tahun 1996, luas areal markisa saat ini jauh berkurang. Terdapat beberapa kemungkinan alasan anjloknya luas areal markisa di Kabupaten Solok, yaitu:  (i) Eksplosif areal tanam markisa pada tahun 1996, terutama diusahakan pada lahan bukaan baru yang relatif subur (hutan sekunder dan hutan lindung); (ii) Menurunnya produksi markisa di Kabupaten Solok akhir-akhir ini sejalan dengan berkurangnya areal  tanaman produktif, terbatasnya peremajaan dan tidak adanya penanaman baru; (iii) Pada kawasan atau areal tertentu, usahatani markisa kalah bersaing dibanding usahatani sayuran; (iv) Lahan pengembangan tidak tersedia (bukaan baru hutan sekunder yang subur, sehingga tidak perlu pemupukan); (v) Modal sarana produksi (tiang, kawat, dsb) mahal; dan (vi) Budidaya dan pemeliharaan masih sederhana.

Luas areal panen yang cenderung berkurang juga terdapat pada tanaman pisang, jeruk, dan alpokat (Gambar 2).  Terlihat bahwa penurunan areal tanaman pisang bersifat linear (negatif), tetapi tidak demikian dengan jeruk dan alpokat.  Kecenderungan ini diduga karena peran tanaman buah tersebut sebagai sumber pendapatan dalam usahatani keluarga semakin menurun, sejalan dengan merosotnya produktivitas.  Gangguan hama/penyakit yang belum mampu dikendalikan sepenuhnya oleh petani menjadi penyebab utama di lapangan. Keadaaan ini menyebabkan petani beralih ke jenis komoditas lain yang nilai ekonominya lebih baik, seperti di Kabupaten Pasaman Barat yang awalnya menjadi sentra penghasil jeruk siam, petani tidak melakukan peremajaan atau perluasan areal, tetapi beralih ke tanaman perkebunan (kelapa sawit dan kakao).  Begitu juga untuk tanaman pisang di Tanah Datar, petani mengganti dengan tanaman pangan (jagung) yang lebih ekonomis.

2.2 Kemampuan IPTEK

Keberadaan lembaga penelitian baik yang berada dibawah jajaran Badan Litbang Pertanian maupun Perguruan Tinggi, pada dasarnya  dimaksudkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi petani, terutama dalam aspek inovasi teknologi. Untuk mempercepat diseminasi inovasi teknologi, perakitan komponen/paket teknologi dan pengembangannya dilakukan dengan melibatkan petani koperator secara aktif.  Selain itu, beberapa media diseminasi akhir-kahir ini juga dipacu pengembangannya.  Dengan demikian, respon yang terlambat dalam menjawab permasalahan di lapang dapat diatasi. Pada waktu bersamaan, secara simultan kemampuan SDM petani dalam mengakses Iptek melalui website secara kelembagaan juga terus ditingkatkan.

2.3 Aspek Ekonomi

Dari aspek ekonomi, pengembangan suatu komoditas pada agroekosistem yang sama sangat ditentukan oleh tingkat keuntungan usaha yang dihasilkan. Artinya petani sebagai produsen bebas memilih jenis komoditas yang akan diusahakan sesuai dengan kemampuan (lahan, tenaga kerja, dan modal) yang mereka miliki. Sebagai tanaman tahunan yang berumur panjang, tanaman buah tidak mudah diganti satu sama lain dalam waktu pendek.  Oleh sebab itu pemeliharaan baik sebelum menghasilkan maupun pada kondisi tanaman produktif perlu dilakukan secara intensif. Pemupukan, pengendalian OPT, serta perawatan tanaman lainnya membutuhkan biaya cukup besar.  Hal ini seringkali kurang mendapat perhatian, sehingga produktivitas dan keuntungan usahatani jadi rendah.

Dalam bidang pemasaran, kompetisi dengan buah lain, baik yang dihasilkan dari Sumatera Barat ataupun buah sejenis asal impor akhir-akhir ini semakin nyata.  Untuk buah jeruk di pasaran banyak dijual jeruk madu asal Sumatera Utara dan Jeruk Mandarin dan sunkis asal China, sementara jeruk lokal Sumatera Barat sudah jarang didapatkan di pasaran.  Berbeda  dengan beras sebagai sumber karbohidrat, untuk saat ini posisinya sebagai pangan utama tidak bisa digantikan oleh bahan pangan sumber karbohidrat lainnya. Komoditas buah  satu sama lainya bersifat substitusi.  Konsumen dengan mudah beralih dari satu jenis buah ke jenis buah yang lain sesuai dengan musim dan ketersediaannya di pasaran.  Fleksibilitas permintaan seperti ini akan sangat berbeda dengan permintaan untuk industri.  Artinya apabila jenis buah diproduksi sebagai bahan baku industri, maka ketergantungan industri tersebut terhadap bahan baku jenis buah tertentu

2.4 Kelembagaan/diseminasi

Penguatan kelembagaan petani seperti Poktan dan Gapoktan mendapat perhatian khusus akhir-akhir ini. Hal ini dimaksudkan agar aksesibilitas petani terhadap informasi, teknologi, permodalan, dan pasar yang selama ini menjadi kendala bagi petani dalam pengembangan usaha dapat teratasi.  Dalam konteks agribisnis, khususnya subsistem pemasaran kelembagaan diharapkan mampu membangun kemitraan usaha guna meningkatkan kemampuan posisi tawar ”bargaining position” terhadap produk yang dihasilkan secara berkelanjutan

Sejak tahun 2008, di Sumatera Barat telah dilaksanakan Program Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), yang salah satu tujuannya adalah mengatasi persoalan permodalan, akses pasar, dan teknologi bagi masyarakat miskin di perdesaan. Program PUAP dikelola oleh Gapoktan dan setiap gapoktan diberi bantuan langsung masyarakat yang dikelola melalui Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).  Selama dua tahun pelaksanaan PUAP di Sumatera Barat, telah terbentuk sebanyak 533 Gapoktan dengan anggota 45.192 petani (Tabel 5).  Melalui kelembagaan ini memungkinkan petani lebih mudah akses terhadap modal, pasar, dan teknologi dalam upaya mengembangkan komoditas buah sepanjang persyaratannya dapat dipenuhi.

Hal ini dapat dimulai dari kegiatan pembibitan pada lokasi-lokasi yang memungkinkan didukung oleh ketersediaan Block Pondasi Mata Tempel, misalnya  untuk tanaman jeruk. Pengalaman selama ini dalam pengembangan komoditas jeruk pada suatu kawasan terkendala oleh tidak tersedianya benih yang cukup. Oleh sebab itu, pembinaan dan pengawasan terhadap produsen atau penangkar benih dan distribusinya perlu dilakukan intensif.

Tabel 5.     Sebaran banyak Gapoktan, LKM-A dan jumlah petani pelaksana PUAP di  Sumatera Barat, 2008-2009.

 

Kabupaten/kota

Tahun 2008

Tahun 2009

Jumlah petani (orang)

Gapoktan

LKM-A

Gapoktan

LKM-A

  1. Dharmasraya
  2. Pesisir Selatan
  3. Sijunjung
  4. Agam
  5. Pasaman
  6. Pasaman Barat
  7. Limapuluh Kota
  8. Solok Selatan
  9. Solok

10.  Pdg. Pariaman

11.  Tanah Datar

12.  Ko. Padang

13.  Ko. Pariaman

14.  Ko.Payakumbuh

10

30

27

10

12

10

42

11

17

22

13

-

-

-

10

30

27

10

12

10

42

11

17

22

13

-

-

-

15

30

20

32

15

32

32

18

21

26

25

19

26

8

15

30

20

32

15

32

32

18

21

26

25

19

26

8

1.902

5.675

4.509

3.235

2.037

2.797

7.000

2.462

5.868

3.302

2.821

1.178

1.846

560

Jumlah

204

204

329

329

45.192

Sumber: Hosen et al., 2010.

PENUTUP

Periode dua sampai tiga dawawarsa yang lalu beberapa jenis buah seperti markisa manis, pisang dan jeruk menjadi komoditas andalan rakyat di Sumatera Barat.  Hal ini terutama dapat dilihat dari indek LQ dan beberapa variabel ekonomi lainnya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan yang terjadi sekarang. Berkurangnya daya saing komoditas tersebut, secara teknis terutama disebabkan petani belum sepenuhnya mampu  mengendalikan penyakit utama seperti jamur Fusarium dan CPVD pada tanaman pisang dan jeruk.  Berbeda dengan tanaman markisa, pengembangannya terkendala dengan tidak tersedia  lahan bukaan baru, sementara peremajaan pada lahan yang ada tidak dilakukan akibat  kalah bersaing dengan tanaman sayuran.

Pengembangan komoditas buah andalan rakyat ke depan sangat tergantung dari intervensi, dukungan dan fasilitasi berbagai pihak terkait. Pada satu sisi, dalam kondisi sekarang daya saing komoditas tersebut di kawasan sentra sebelumnya kemungkinan sudah jauh berkurang dan komoditas alternatif sudah berkembang secara mapan. Sebaliknya pada sisi lain, perannya tetap diharapkan baik sebagai diversifikasi sumber pendapatan dan kesempatan kerja maupun ketersediaan buah lokal dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Prinsip keunggulan komparatif pada kawasan-kawasan yang agoekosistemnya sesuai menjadi prioritas pengembangan komoditas selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2008. Limapuluh Teknologi Unggulan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.  Badan Peneltian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Bappeda Sumbar. 1998- 2002.   Sumatera Barat dalam Angka.  Kerjasama Bappeda Propinsi Sumatera Barat dengan Biro Pusat Statistik Sumatera Barat. Padang.

Bappeda Sumbar. 2009.   Sumatera Barat dalam Angka.  Kerjasama Bappeda Propinsi Sumatera Barat dengan Biro Pusat Statistik Sumatera Barat. Padang.

Buharman, B., Y. Mala, dan E. Afdi. 2004. Perspektif Pengembangan Agribisnis Markisa di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. JPPTP Vol. 7(1):54-68.

Buharman B., Yanti Mala, dan Edial Afdi. 2004a. Sistem usahatani markisa manis di lahan kering dataran tinggi Solok. Success Story Pengembangan Teknologi Inovatif. Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif (PAATP).  Buku 1. hal 32-43

DIPTI.  1997.  Analisis komoditi unggulan Propinsi Sumatera Barat.  Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri (DIPTI) Sumatera Barat.  Padang.

Dinas Pertanian Provinsi Sumbar.  1998-2002.  Perkembangan tanaman pangan di Sumatera Barat.  Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Barat.  Padang.

Handewi P.S. Rachman. 2003. Dasar penetapan komoditas unggulan nasional.  Makalah Lokakarya Sinkronisasi Program Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, Puslitbang Sosek Pertanian, Bogor 5-6 Mei 2003.

Hosen, N, Syahrial A, Buharman B., dan Zainal Lamid. 2004. Sintesis komoditas unggulan di Sumatera Barat.  Dalam Abdullah M, dkk Prosiding Seminar Nasional Kontribusi Hasil-Hasil Penelitian/Pengkajian Spesifik Lokasi Mendukung Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor. Hal 57-69.

Hosen, N., Nirwansyah, Harmaini, dan Nurnayetti. 2010.  Keragaan 2 tahun pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Sumatera Barat. Labor Diseminasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, Padang 9 April 2010.

Iswari, K. Harnel, E. Afdi, F. Artati, dan Azman. 2007.  Pengembangan teknologi pengolahan manggis skala rumah tangga di sentra produksi manggis Sumbar. Workshop Pengembangan Produk Manggis. Kerja sama BPTP Sumatera Barat dengan Bappeda Sumbar, Padang 10 April 2007.

Iswari, K dan Buharman B., 2009. Kajian dan pengembangan teknologi pengolahan sirup mix Arosuka: Campuran markisa manis dengan terung belanda. Prosiding Seminar Nasional Membangun Sistem Inovasi di Perdesaan.  Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Hal  306-313

Nurdin, F., C. Hermanto. 2009.  Pengendalian penyakit layu pada tanaman pisang.  Balai Pengkajian Teknologi  Pertanian Sumatera Barat dan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

Oldeman, L.R., Darwis, S. N., Las, I. An agroclimate Map of Sumatra. Contr. Centr. Res. Inst. for Agriculture No. 52. Bogor 1979.

Puslitbanghor. 2003. Katalog Teknologi Unggulan Hortikultura, Tanaman Sayuran, Tanaman Buah, dan Tanaman Hias.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.

 

 

PENDAHULUAN

Dari dahulu sampai sekarang padi masih tetap merupakan komoditas andalan bagi petani. Artinya adalah bahwa padi adalah menjadi usaha utama bagi petani dengan tujuan ketahanan pangan keluarga. Bagi petani di Sumatera Barat, padi mempunyai nilai sosial disamping nilai ekonomi. Perkembangan usahatani padi sawah dari sisi luas tanam dan produktifitas relativ tidak  dipengruhi oleh harga gabah. Akan tetapi harga pupuk, benih bermutu dan upah tenaga kerja menentukan kualitas budidaya, dan pada gilrannya mempengaruhi produktifitas.

Tantangan internal pembangunan tanaman pangan khususnya padi sawah yang patut menjadi perhatian ke depan antara lain, stagnasi pertumbuhan produktivitas,  penurunan luas baku sawah akibat alih fungsi lahan. Daya saing ekonomi padi lemah, antara lain disebabkan lemahnya kelembagaan perekonomian pedesaan.  Sistem kelembagaan pedesaan masih terbelenggu oleh kebijakan pembangunan yang sentralistik yang menyebabkan kreativitas masyarakat pedesaan tidak berkembang dan kapital sosial melemah (Kasryno dan Effendi, 2004).   Kementerian Pertanian melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang dimulai tahun 2008 dan terus berkembang sampai tahun 2013, melakukan pemberdayaan terhadap kelembagaan pedesaan terutama penataan kelembagaan petani yaitu kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) serta penataan usaha agribisnis skala kecil. Gapoktan dikembangkan menjadi lembaga ekonomi pedesaan dan pada tahap awal gapoktan menumbuhkan usaha permodalan yaitu Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A). Program PUAP memfasilitasi gapoktan dana penguatan modal  Rp. 100 juta per gapoktan yang selanjutnya dikelola oleh LKM-A.  LKM-A berperan seperti Bank Tani dan meminjamkan modal usaha kepada para petani di wilayah kerjanya (desa/nagari)(Kementan, 2008). Modal tersebut diharapkan digunakan oleh petani untuk perbaikan teknik produksi atau peningkatan skala usaha. Pengembangan usaha oleh petani tersebut membutuhkan inovasi teknologi, disinilah peran BPTP sesuai tupoksinya dalam mendukung pengembangan usaha produktif termasuk usaha padi sawah.

Iovasi teknologi padi sawah sudah banyak tersedia. Teknologi tersebut diantaranya dalam bentuk varietas unggul, komponen teknologi dalam pengelolaan tanaman dan sumberdaya lahan terpadu (PTT), dan penanganan pascapanen (Sembiring, 2009).  BPTP Sumatera Barat mengkaji kesesuaian semua teknologi tersebut berdasarkan agroeosistem dan aspek sosial ekonomi sehinggga melahirkan rekomendasi teknologi padi sawah spesifik lokasi (BPTP, 2010). Teknologi adaptif tersebut didesiminasikan kepada petani untuk diterapkan guna meningkatkan produktifitas padi sawah, mutu dan pendapatan. Teknologi padi yang tersedia mampu mendukung target swasembada beras baik regional maupun nasional.  Target produksi gabah nasional tahun 2014 mencapai 76,57 juta ton, sementara tahun 2011 produksi hanya 65,76 juta ton (Anonimus, 2013). Sumatera Barat ikut berperan dalam mendukung swasembada beras nasional dengan potensi lahan sawah sekarang  238.514 ha, indeks pertanaman (IP) 1,89 mampu memproduksi gabah   2.188.709 t/GKG/tahun (Bappeda. 2011).  Potensi peningkatan produksi melalui perbaikan teknik produksi dan peningkatan IP cukup besar. Peran inovasi teknologi dalam memanfaatkan potensi tersebut sangat diharapkan.

Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktifitas padi adalah masih rendahnya adopsi. Tantangan     yang     dihadapi    sekarang    dalam   percepatan   adopsi   teknologi  adalah kelembagaan penyuluhan kurang berperan sebagaimana diharapkan sesuai fungsinya (Anwar, 1999).  Kondisi sekarang ketersediaan fasilitas dan jumlah penyuluh juga semakin terbatas, sehingga sulit melaksanakan fungsi penyuluhan sebagaimana  idealnya  (Bakorluh, 2013). Dalam kaitan dengan alih teknologi, saat ini perlu suatu strategi selain sistem alih teknologi yang biasa dilakukan dengan titik tumpu pada kelembagaan penyuluhan, agar arus informasi teknologi baru cepat sampai ke pengguna. Menurut Pranadji (2004), kepemimpinan seseorang dipedesaan mempunyai pengaruh yang besar dalam sistem sosial dan ekonomi masyarakat.  Dalam hal ini Pengurus Gabungan Kelompok tani (gapoktan) adalah seorang yang dipercaya untuk memimpin sebuah kelembagaan tani  yang merupakan kelompok masyarakat tani dengan tujuan yang sama, berpeluang dimanfaatkan sebagai agen pengembang teknologi minimal bagi petani dalam kelompoknya. Mereka perlu dibekali dengan informasi teknologi baru, dengan harapan suatu teknologi yang bermanfaat akan dapat disebarkan kepada petani anggota dan petani lainnya di wilayah nagari/desa.  Hal ini merupakan latar belakang kajian ini yaitu dengan membina sejumlah gapoktan melalui pembekalan teknologi baru padi sawah, kemudian dievaluasi dampaknya dengan indikator tingkat adopsi teknologi tersebut oleh anggota gapoktan.

Tulisan ini bertujuan mengemukakan hasil kajian peran gapoktan dalam mendorong percepatan  adopsi teknologi padi sawah  pada dua lokasi sentra produksi di Sumatera Barat yaitu Kabupaten Limapuluh Kota dan Padang Pariaman.

 

BAHAN DAN METODA

Lokasi pengkajian adalah  Kabupaten Lima Puluh Kota dan Padang Pariaman yang termasuk sentra produksi padi di Sumatera Barat. Kabupaten Limapuluh Kota adalah kawasan dataran sedang dan Padang Pariaman adalah dataran rendah (kawasan pesissir). Kajian meliputi (a) Desk study; dan (b) Survey petani (Singarimbun dan S. Effendi. 1982) yang dilakukan bulan Maret-November  tahun 2012.  Pemilihan sampel Gapoktan dilakukan secara purposiv dengan kriteria jumlah aset lebih Rp. 150 juta dan sudah berfungsi 3-4 tahun. Jumlah Gapoktan contoh dipilih 2 gapoktan pada setiap kabupaten dan usahatani padi sawah termasuk usaha utama petani di wilayah kerja gapoktan. Pengambilan sampel petani dilakukan secara acak sederhana dengan strata adalah petani peminjam modal dari LKM-A Gapoktan (anggota) dan petani bukan peminjam modal di wilayah gapoktan  (bukan anggota) di wilayah (nagari/desa) yang sama dengan jumlah masing-masing strata 15 orang petani padi sawah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuessioner dengan parameter utama yaitu pengetahuan/pemahaman petani tentang teknologi padi sawah, input-output, adopsi teknologi sesuai anjuran, harga-harga dan upah. Analisis data dilakukan secara deskriptif, tabulasi (%, nisbah, rata-rata), analisa usahatani dengan indikator kelayakan ekonomi benefit cost ratio (BCR) dan marginal benefit cost ratio (MBCR) (Sukartawi, et. al. 2002; Adnyana, dan , Ketut Kariyasa, 2006). Analisis percepatan adopsi dilakukan dengan metoda komparativ antara kondisi sebelum ada sesudag adanya Gapoktan atau pada kondisi setelah ada gapoktan  dibandingkan antara petani anggota yang meninjam modal dari LKM-A dengan petani bukan anggota pada waktu dan wilayah yang sama.  Asumsi adalah petani bukan anggota kondisi kemampuan modal lemah, relatif sama dengan petani anggota Gapoktan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi

Peningkatan luas panen padi relative rendah meskipun perbaikan irigasi terus dilakukan. Kabupaten Limapuluh Kota termasuk sentra produksi padi pada kawasan dataran sedang dengan luas panen 46.641 ha dan rata-rata produktifitas 4,66 t/ha. Kabupaten Padang Pariaman terletak pada kawasan pesisir di mana kualitas irigasi relativ lebih baik dan merata, luas panen 48.658 ha dengan produktifitas 4,53 t/ha lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas padi sawah di Kabupaten Limapuluh Kota. Secara total luas panen padi sawah di Sumatera Barat  menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dan pada tahun 2011 luas panen padi mencapai 450.368 ha dengan pertumbuhan rata-rata selama 5 tahun terakhir 2,24%/tahun.  Produksi gabah kering panen pada tahun 2011 sebesar 2.188.709 ton dengan produktivitas rata-rata sebesar  4,86 t/ha.   Rata-rata produktifitas di 2 lokasi pengkajian lebih rendah dibanding rata-rata produktifitas padi sawah secara total di Sumatera Barat (Bappeda, 2011).

Jumlah gapoktan yang telah mempunyai LKM-A untuk melayani pembiayaan petani kecil di Kabupaten Limapuluh Kota 98 unit dan potensi modal yang siap melayani petani secara total Rp. 12, 22 milyar. Di Kabupaten Padang Pariaman jumlah gapoktan/LKM-A  yang siap melayani pembiayaan petani sebanyak 78 unit dengan jumlah modal usaha Rp. 8,6 milyar. Sebagian besar di wilayah kerja gapoktan tersebut petaninya mengusahakan padi sawah, disamping usaha lainnya seperti jagng, kakao, dan ternak (Sekretariat PUAP Sumatera Barat, 2012).

Kondisi infrastruktur mendukung ketersediaan sarana dan prasarana produksi serta pemasaran hasil dan umumnya di Sumatera Barat infrastrktur seperti sarana dan prasarana transportasi, listrik, dan komunikasi cukup baik dan lancar.

Diseminasi Teknologi Adaptif

 

Pengembangan usaha produktif petani memerlukan teknologi adaptif. BPTP Sumatera Barat melalui Program PUAP telah melakukan diseminasi teknologi dengan serangkaian kegiatan diseminasi. Kegiatan diseminasi yang dilakukan antara lain: (i)  Sosialisasi teknologi bagi pengurus gapoktan, manejer LKM-A, ketua kelompok tani (Poktan) dan penyuluh pendamping.  Sosialisasi teknologi kepada petani dilakukan oleh penyuluh pendamping bersama dengan pengurus gapoktan dan ketua Poktan di wilayah kerja masing-masing; (ii) Mendistribusikan  media cetak dalam bentuk buku ”Kumpulan Informasi Paket Teknologi” dan  Juknis SL-PTT padi sawah kepada pengurus Gapoktan, Ketua Poktan dan Penyuluh Pendamping; (iii) Media diseminasi lainnya seperti demplot teknologi, pelatihan dan pendampingan teknologi  (SL-PTT) disinerjikan dengan pelaksanaan kegiatan diseminasi yang ada di BPTP dengan sasaran Poktan yang sama.  Teknologi padi sawah yang didesiminasikan diantaranya benih bermutu, VUB dan unggul lokal, pemupukan spesifik lokasi, dan teknologi pascapanen (BPTP Sumatera Barat, 2009; 2010 dan Hosen, et al. 2013). Diharapkan dengan diseminasi teknologi petani paham tentang manfaat teknologi dan selanjutnya mempelajari teknik penerapnya. Sasaran akhir adalah teknologi diterapkan dalam pengelolaan usahatani salah satunya padi sawah.

Hasil kegiatan diseminasi di beberapa BPTP memperlihatkan bahwa, walaupun dari segi teknologi telah nyata manfaatnya, namun karena kelompok sasaran dalam proses diseminasi kurang dipersiapkan, terutama media dan metodenya maka proses adopsinya tidak begitu baik. Diperlukan sekitar 2 tahun sebelum teknologi hasil Badan Litbang diketahui oleh 50% PPS, dan 6 tahun sebelumnya 80% dari PPS tersebut telah mendengar  teknologi tersebut. Jangka waktu lebih lama dari pada itu diperlukan sampai ke PPL, dan lebih lama lagi sampai ke petani (Mundy, 2000).  Karena itu alur informasi teknologi perlu diperpendek dengan menyampaikan informasi langsung ke kelembagaan tani di pedesaan. Hal inilah yang dilakukan dalam program PUAP untuk percepatan adopsi teknologi oleh petani.

Beberapa pengkajian tentang diseminasi yang telah dilakukan oleh BBP2TP  menunjukan bahwa; (a) sumber inovasi teknologi yang digunakan petani dari BPTP baru sekitar 44,64%. Selebihnya petani mengakomodasi teknologi dari sesama petani dan penyuluh, (b) metode dan media yang disukai petani adalah pertemuan (81%), pendampingan (70,5%), kunjungan lapang (68,9%), demplot (67,6%) dan kursus tani (61,7%) dan (c) aspek yang dipertimbangkan petani dalam mengadopsi inovasi teknologi dalam Prima Tani adalah ketersediaan benih/bibit, harga benih/bibit, produktivitas, harga jual, akses pasar, keuntungan, kompatibilias, tingkat kerumitan, kemudahan untuk dicoba dan perubahan fisik (Hendayana et al, 2006).

Penguasaan  Teknologi oleh Petani

Penguasaan teknologi  petani dimaksudkan adalah petani sudah mengenal dan memahami tentang suatu teknologi atau komponen teknologi adaptif padi sawah, baik sebelum atau sesudah adanya gapoktan. Sebagian teknologi sudah dikenal oleh petani sebelum menjadi anggota.  Sebelum ada program PUAP, diseminasi teknologi sudah berjalan sehingga petani sudah mengenal sejumlah teknologi padi sawah, walaupun belum merata. Diseminasi teknologi setelah ada gapoktan melalui program PUAP  rata-rata pada dua lokasi telah menambah jumlah petani yang tahu dan memahami cara penerapan dan manfaat teknologi tersebut (Tabel 1).

 

Tabel  1.  Rata-rata jumlah petani (%) yang sudah tahu dan paham tentang teknologi adaptif  usahatani padi sawah  pada dua lokasi contoh di Sumatera Barat, 2012

 

No

Nama teknologi

Sebelum ada Gapoktan PUAP

Sesudah ada gapoktan

PUAP

Jumlah petani yang Sudah tahu (%)

Jumlah petani yang Belum tahu (%)

Jumlah petani yang Sudah tahu (%)

Jumlah petani yang Belum tahu (%)

1

VUB (Logawa, Impari-12, Bt. Piaman, Bt. Lembang)

20

80

66

34

2

Benih bermutu

100

0

100

0

3

Bibit 2-3 btg/rp

46

54

92

8

4

Legowo

40

60

82

18

5

Pemupukan spesifik lokasi

63

37

92

8

6

BWD

13

87

60

40

Adopsi Teknologi

Beragamnya tingkat adopsi teknologi disebabkan oleh berbagai faktor:  (i) Faktor sikap petani yang beragam ada yang respon cepat terhadap inovasi baru dan ada yang lambat; (ii)  Ada petani yang cenderung melihat kelemahan teknologi baru dari segi  tambahan biaya akibat perubahan teknologi,  akan tetapi tidak melihat tambahan hasil dan keuntungan dari penerapan teknologi tesebut. Petani yang mempunyai sikap seperti faktor di atas memerlukan waktu cukup lama untuk bisa yakin manfaat suatu inovasi baru.  (iii) Sebagian besar petani mempunyai luas garapan sawah relatif sempit (0,25-0,50 ha), akibatnya perubahan manfaat ekonomi penerapan teknologi kurang dirasakan; (iv) Kemampuan modal petani juga lemah untuk pengadaan teknologi; (v) Keunggulan  teknologi, dimana teknologi yang tersedia tidak memberikan manfaat yang signifikan, baik dari segi peningkatan produktivitas maupun penurunan biaya produksi; (vi) Peran Ketua Poktan dalam mengkomunikasikan  teknologi adaptif kepada anggota juga bervariasi, ada yang lebih aktif dan ada yang pasif (Hosen, et al, 2005).

Dalam kasus kajian ini kondisinya berbeda, dimana masalah modal petani ada solusi pinjaman modal dari LKM-A dan sebagian komponen teknologi utama tersedia di lokasi petani.  Adopsi teknologi padi sawah oleh petani anggota Gapoktan menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan sebelum adanya Gapoktan, begitu juga bila dibandingkan dengan petani bukan anggota Gapoktan. Adopsi terjadi setelah 1-2 tahun teknologi didiseminasikan kepada pengurus gapoktan/LKM-A, Ketua Poktan dan penyuluh pendamping. Hasil kajian Hendayana, et. al. (2009) pada komoditas padi, jagung dan kedelai menunjukkan bahwa sebagian besar proporsi petani lag adopsi terjadi antara 2-4 tahun, sedangkan lag adopsi yang lebih cepat (<2 tahun) hanya terjadi pada 16,67% proporsi petani dan sisanya 26,67% berjalan relatif lebih lambat (>4 tahun).

Pinjaman modal oleh petani digunakan untuk perbaikan teknik produksi dengan menerapkan sejumlah komponen teknologi dan yang utama sekali adalah benih bermutu (berlabel), verietas unggul (VUB maupun unggul lokal) dan pemupukan spesifik lokasi.  Pemupukan sesuai anjuran baik waktu pemberian yang tepat, jumlah dan jenis pupuk yang digunaan, peningkatan adopsinya cukup signifikan baik di Kabupaten Limapuluh Kota maupun di Padang Pariaman, berturut-turut pertambahan adopsi 52,8% dan 70,0%. Khusus pemupukan spesifik lokasi, dikategorikan diadopsi bila jumlah penggunaan  pupuk kurang lebih 15% dari anjuran. Kondisi tersebut ditolerir karena petani tidak tahu pasti luas sawah dengan standar satuan hektar.

Hal yang menarik adalah sebelum ada gapktan sebagian petani masih mengggunakan benih dari hasil panen sebelumnya dan setelah ada Gapoktan karena ada pinjaman modal dari LKM-A, petani beralih ke benih berlabel yang tersedia pada kios-kios setempat.  Alasannya adalah setelah ada Gapoktan, penjelasan tentang manfaat benih bermutu lebih disosialisakan baik melalui Poktan ataupun penyuluh.

Tabel 2. Adopsi komponen  teknologi  padi sawah oleh petani pada dua lokasi contoh di Sumatera Barat, 2012

 

Kabupaten

Komponen teknologi

Adopsi teknologi oleh anggota  Gapoktan (%)

Perubahan adopsi (%)

Adopsi oleh petani non anggota Gapoktan (%)

Perbandingan adopsi  dari anggota terhadap non anggota  Gapoktan (%)

 

Sblm ada Gapoktan

Setelah ada Gapoktan

 

1

2

3

4

5

6

7

 

Limapuluh Kota

VUB (Logawa, Impari-12, Bt. Piaman, Bt. Lembang)

3,3

3,3

0

0

0

 


Unggul Lama (IR-42 dan Cisokan)

30,0

36,3

+6,3

47,2

-10,9

 


Unggul Lokal (Junjung)

66,7

60,4

-6,3

52,8

+7,6

 


Benih bermutu

30,0

89,1

+59,1

30,0

+29,1

 


Legowo

0

0

0

0

0

 


Bibit 2-3 btg/rp

30,0

75,9

+45,9

30,0

45,9

 


Pemupukan Spesifik lokasi (Urea+Phonska)

26,4

79,2

+52,8

30,0

45,2

 

Padang-Pa

riaman

VUB (Bt. Piaman, Bt. Lembang, Impari-12)

3,3

3,3

0

0

0

 

 


Unggul Lama (IR-42 dan Cisokan)

75,9

79,2

+3,3

90,0

-10,8

 

 


Unggul Lokal (Anak Daro)

20,8

17,5

-3,3

10,0

+7,5

 

 


Benih bermutu

46,2

100,0

+53,8

50,0

+50

 

 


Legowo

0

0

0

0

0

 

 


Bibit 2-3 btg/rp

40,0

82,5

+42,5

36,7

+42,8

 

 


Pemupukan berimbang (Urea+Phonska)

30,0

100,0

70,0

26,7

+73,3

 

 

Dibandingkan dengan petani bukan anggota Gapoktan, ternyata jumlah petani anggota  yang  mengadopsi beberapa komponen teknologi padfi sawah juga lebih tinggi dibandingkan dengan bukan anggota pada waktu yang sama. Hanya saja terjadi dinamika adopsi teknologi varietas antara unggul lama (IR-42 dan Cisokan) dengan varietas unggul lokal karena pergiliran variatas antar musim tanam. VUB yang dianjurkan dalam PTT padi sawah adopsinya sangat lemah, termasuk Batang Piaman dan Batang Lembang dan  petani pernah mencoba tetapi tidak berlanjut (Tabel 2)

Analisis Manfaat Penerapan Teknologi

Penerapan teknologi adaptif padi sawah seperti pupuk spesifik lokasi, benih bermutu dengan menggunakan varietas unggul dan jumlah bibit perrumpun sedikit (2-3 batang), secara ekonomi dinilai layak untuk dikembangkan. Penambahan biaya produksi untuk perbaikan teknik produksi cukup menguntungkan dengan indikator MBCR > 1 yaitu di Kabupaten Limapuluh Kota nilai MBCR=2,73 dan di Padang Pariaman  MBCR = 3,34. Artinya adalah bahwa penambahan modal usaha untuk penerapan teknologi anjuran memberikan tambahan penerimaan yang lebih besar dari tambahan biaya yang dikorbankan.  Perbaikan teknik produksi dengan penerapan teknologi oleh petani anggota Gapoktan mampu meningkatkan produktifitas padi sawah di ke dua lokasi, berturut-turut 15,3% di Kabupaten Limapuluh Kota dan 18,2% di Kabupaten Padang Pariaman. Sejalan dengan peningkatan produktifitas, keuntungan usahatani padi sawah tersebut juga meningkat (Tabel 3).

Tabel  3.  Status hasil dan keuntungan usahatani padi sawah  sebelum dan sesudah adopsi teknologi pada dua lokasi contoh di Sumatera Barat, 2012.

Kabupaten

Hasil (t/ha)

Peningkatan (%)

Keuntungan (Rp.000/ha)

Peningkatan (%)

BCR

 

MBCR

Sebelum

Sesudah

Sebelum

Sesudah

Sebe

lum

Sesu

dah

Limapuluh Kota

4,25

4,90

15,3

4.862,0

6.099,0

25,4

1,61

1,71

2,73

Padang Pariaman

4,40

5,25

18,2

4.520,0

6.306,0

39,5

1,52

1,67

3,34

KESIMPULAN DAN SARAN

Pengetahuan petani tentang sejumlah komponen teknologi adaptif untuk pengembangan usahatani padi sawah telah meningkat melalui kegiatan diseminasi teknologi kepada pengurus gapoktan, poktan dan penyuluh pendamping. Pinjaman modal dari dari LKM-A gapoktan PUAP meningkatkan adopsi teknologi oleh petani sawah terutama penerapan pupuk spesifik lokasi di kedua lokasi yaitu 52,8% di Kabupaten Limapuluh Kota dan 70,0% di Kanbupaten Padang Pariaman. Komponwen teknologi lainnya seperti benih bermutu dan jumlah tanam 2-3 batang per rumpun juga sudah diterapkan oleh petani di kedua lokasi.  Tingkat adopsi teknologi oleh petani anggota juga lebih tinggi  dibandingkan dengan petani bukan anggota, pada waktu yang sama. Manfaat dari penerapan teknologi telah mampu meningkatkan produktivitas dan sekaligus keuntungan dengan penilaian secara ekonomi tambahan biaya produksi akibat perbaikan teknologi budidaya cukup menguntungkan dengan indikator nilai MBCR>1 dimana berturut-turut nilai MBCR di Kabupaten Limapuluh Kota 2,73 dan di Kabupaten Padang Pariaman 3,34. Keberlanjutan adopsi perlu diantisipasi yaitu ketersediaan pinjaman modal usaha di LKM-A dan ketersediaan teknologi sesuai kebutuhan menurut waktu, jumlah dan jenis. Saran kebijakan bagi pemangku kepentingan, gapoktan perlu dikembangkan menjadi lembaga yang mampu memfasilitasi ketersediaan teknologi seperti kios sarana produksi pertanian dan sekaligus sebagai tempat konsultasi tekologi petanian di bawah binaan penyuluh.  Kapasitas IPTEK pengurus gapoktan, poktan dan penyuluh juga perlu ditingkatkan secara regular sesuai dengan dinamika teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, M.O. dan Ketut Kariyasa.  2006. Dampak dan persepsi petani terhadap penerapan sistem pengeloaan tanaman terpadu padi sawah.  Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. Puslitbang Tanaman Pangan. Vol. 25 No. 1. Hal 21-29.

 

Anwar S. 1999. Masalah Penyuluhan Pertanian di Sumatera Barat. Modul dalam TITP Juni 1999 Padang.

Bakorluh, 2013. Gambaran kelembagaan penyuluhan di Sumatera Barat. Makalah dalam acara ”pembekalan penyuluh pendamping kegiatan Gerakan Pensejahteraan Petani-GPP di Sumatera Barat” Maret 2013.  Badan Koordinasi Penyuluh Provinsi Sumatera Barat.

Bappeda, 2011. Sumatera Barat dalam angka tahun 2011.  Bappeda dan Badan Pusat

Statistik Propinsi Sumatera Barat. Padang.

BPTP Sumatera Barat, 2009. Buku informasi paket teknologi adapatif.  BPTP Sumatera Barat. Padang.

BPTP Sumatera Barat, 2010.  Petunjuk Teknis SL-PTT Padi Sawah. BPTP Sumatera Barat.  Padang.

Hendaryana, R. A. Dhalimi. Sumedi. R. Sad Hutomo. 2006. Seminar Hasil Pengkajian Inovasi dan Diseminasi Program Prima Tani. BBP2TP. Bogor.

Hendaryana, R. A. Gozali. E. Syaefulah, A. Jauhari dan R. S, Hutomo. 2009. Desain model percepatan adopsi inovasi teknologi program unggulan Badan Litbang Pertanian. Seminar Hasil Pengkajian SINTA 2009, Badan Litbang Pertanian 9 - 10 Desember 2009.

Hosen, N., Buharman B dan Harmaini. 2013. Teknologi padi sawah spesifik lokasi mendukung usaha bersama gapoktan PUAP di Sumatera Barat.  Artikel dalam buku “Penerapan Teknologi Spesifik Lokasi untuk Usaha Agribisnis”.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Hal 37-64. IAARD Press. Jakarta

Kasryno F dan Effendi P. 2004. Reposisi padi dan beras dalam perekonomian nasional. Artikel dalam buku “Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.  Penerbit Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Hal  3-14.

Kementerian Pertanian, 2008. Pedoman Umum Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) tahun 2008. Kemnterian Pertanian. Jakarta.

Mundy, P. 2000. Investasi untuk komunikasi di Badan Litbang Pertanian (PATTP). Desember 2000.

Pranadji, T. 2005. Reformasi kelembagaan dan kemandirian perekonomian pedesaan: kajian pada kasus perekonomian padi sawah.  Artikel dalam buku ”Ekonomi padi dan beras Indonesia.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal. 107-129.

Sekretariat PUAP. 2012. Profil Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis. Sekretariat Tim Pembina PUAP Provinsi Sumatera Barat. BPTP Sumatera Barat.

Sembiring, H. 2010. Ketersediaan inovasi teknologi unggulan dalam meningkatkan produksi padi menunjang swasembada dan ekspor. Makalah dalam prosiding seminar nasional hasil penelitian padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian. Kementrian Pertanian. Jakarta.

Singarimbun, M dan Sofian Effendi. 1982. Metode Penelitian  Survai.  LP3ES. Jakarta.

Sukartawi; A. Soeharjo; John L. Dillon dan J. Brian Hardaker. 1984.  Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil.  UI. Jakarta.

PENDAHULUAN

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk pengahasil beras. Menurut Badan Litbang Deptan (1998), Sumatera Barat memberikan kontribusi beras sebesar 4,12% dari total produksi beras nasional. Pada MT 2000 total produksi padi di Sumatera Barat sebesar 1.736.848 ton yang dihasilkan dari 387.207 ha luas panen dengan produktivitas 44,85 kwintal/ha (BPS, 2001).

Keterbatasan potensi genetik padi sawah merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas padi sawah di Sumatera Barat akhir-akhir ini. Salah satu faktor penentu dalam peningkatan produksi padi sawah adalah penemuan varietas baru yang mempunyai potensi hasil tinggi. Varietas yang diminan berkembang di Sumatera Barat adalah IR-42 (34,2%) dan Cisokan (16,7%) dan Kurik Kusuik (16,7% (Buharman, et al. 2004). Selama tahun 1995-1999 Badan Litbang Deptan telah melepas beberapa varietas baru seperti Cibodas, Membramo, Batang Anai, Widas, Way Apo Buru, Towuti, Cirata, Limbato, Banyuasin, dan Batang Hari, dimana varietas-varietas ini memberikan potensi hasil lebih tinggi dari IR42 dan Cisokan (Hasanuddin, et al. 1999). Hanya sekitar 0,6% varietas ini berkembang di kabupaten Padang Pariaman. Batang Anai yang mempunyai hasil tinggi diharapkan untuk dapat mengganti IR-42 ternyata kurang diminati oleh masyarakat Sumatera Barat.

Keterbatasan varietas menyebabkan penerapan pola pergiliran varietas untuk menekan perkembangan organisme pengganggu tanaman tidak dapat dilaksanakan. Perkembangan penyakit blas dengan intensitas sedang sampai tinggi ditemui hampir pada semua sentra produksi yang merupakan dampak dari penanaman varietas Cisokan dan IR 42 sepanjang tahun, sehingga produktivitas kedua varietas ini menurun. Begitu lamanya perkembangan IR-42 (31 tahun) dan Cisokan (26 tahun) di Sumatera Barat serta berkembangnya beberapa varietas baru dengan berbagai nama yang bukan bersal dari pelepasan varietas nasional, maka sudah jelas produktivitas varietas-varietas ini sudah menurun. Seperti IR-42 yang beredar di Sumatera Barat saat ini sudah terserang oleh penyakit Bakane, sedangkan Cisokan sangat rentan terhadap penyakit blast. Penggunaan varietas-varietas ini sudah barang tentu memberikan produktivitas yang lebih rendah dari varietas aslinya, sehingga produktivitas padi sawah di Sumatera Barat menurun.

Cisokan merupakan varietas unggul berumur genjah (110-120 hari) dengan potensi hasil 4,5-5 t GKG/ha dan dilepas pada tahun 1985, sedangkan IR 42 merupakan varietas berumur sedang (135-145 hari) dengan potensi hasil 4,5-5 t GKG/ha dan dilepas pada tahun 1980 (Suprihatno, et al. 2010). Sampai saat ini kedua varietas ini masih disukai masayarakat Sumatera Barat karena berasnya pera dengan kandungan amilosa 26 dan 27% (Suprihatno, et al. 2010), dan produksinya lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya sehingga kedua varietas ini masih mendominasi pertanaman padi di Sumatera Barat.

Inpari 12 merupakan varietas berumur sangat genjah (103 hari) dengan potensi hasil yang tinggi yaitu 8 t GKG/ha dan baru dilepas jadi varietas pada tahun 2009 (Suprihatno, et al. 2010). Varietas ini kemungkinan besar bisa diterima masyarakat Sumatera Barat karena berasnya pera dengan kandungan amilosa 26,4% (Suprihatno, et al. 2010). Berdasarkan kandungan amilosa dan bentuk gabah yang mirip dengan Cisokan diharapkan varietas ini akan disukai oleh masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah potensi genetik padi di Sumatera Barat tahun-tahun mendatang.

Di samping keterbatasan varietas, kendala lain penyebab rendahnya produktivitas padi sawah adalah rendahnya tingkat penerapan teknologi intensifikasi. Kompleknya permasalahan yang dihadapi pada sistem intensifikasi padi sawah saat ini, maka untuk pengembangan pertanian ke depan, perlu dilakukan perbaikan terhadap komponen-komponen intensifikasi padi sawah yang ada saat ini. Dewasa ini upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan budidaya padi spesifik lokasi yang dikenal dengan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Ada 5 komponen teknologi utama untuk meningkatkan produktivitas padi sawah, yaitu 1). penanaman bibit muda (< 10 hari), 2). pemberian bahan organik pada waktu pengolahan tanah, 3). irigasi berselang (Intermittent irrigation), 4). pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, dan 5). pemupukan N menggunakan BWD (Las et al. 2003). Di samping itu ada beberapa alternatif teknologi untuk melengkapi komponen teknologi tersebut di atas yaitu :  a). penggunaan varietas unggul baru, b). penggunaan benih bermutu dengan daya tumbuh tinggi, c). penanaman 1-3 bibit per lubang, d). peningkatan populasi tanaman dengan penanaman sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1, e). penyiangan menggunakan landak, f). pengendalian OPT dengan sistem PHT, g). panangan pasca panen yang tepat, dan h). perontokan gabah menggunakan tresher (Las, et al. 2003 dan Zaini et al. 2003).

Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan pengkajian-pengkajian guna pengembangan varietas baru seperti Inpari 12 dengan menggunakan metode PTT padi sawah di Sumatera Barat. Pengkajian bertujuan melihat potensi hasil padi varietas Inpari 12 dibandingkan dengan Cisokan yang dibudidayakan dengan Sistem Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi Di Sumatera Barat.

METODOLOGI PENGKAJIAN

Pengkajian dilaksanakan pada MT 2011, di kelurahan Sungai Pasak, kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Lokasi pengkajian adalah lahan sawah beririgasi teknis dan sudah menerapkan IP padi 300. Lahan yang digunakan seluas 2 ha dengan melibatkan 5 orang petani. Ada dua varietas yang diuji yaitu varietas berumur sangat genjah (Inpari 12) dan berumur genjah (Cisokan), masing-masing varietas ditanam pada hamparan sawah seluas 1 ha.

Teknologi budidaya yang diterapkan menggunakan konsep Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu berupa : penggunaan varietas unggul (Cisokan dan Inpari 12), penggunaan bibit muda (< 20 HST), jumlah bibit 1-2 batang per rumpun, sistem tanam tanam jajar legowo 4 : 1 dengan jarak tanam 20 x 20 cm, dan pemupukan N dilakukan dengan menggunakan BWD, pupuk P dan K diberikan berdasarkan hasil analisis tanah dengan takaran 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl per hektar. Pemberian pupuk kandang berupa kompos ternak ayam sebanyak 2 t/ha yang diberikan setelah pengolahan tanah pertama. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman berdasarkan konsep PHT.

Pengamatan dilakukan terhadap kandungan hara tanah sebelum pengkajian, komponen hasil dan hasil tanaman, tingkat serangan hama kepinding tanah, Wereng Coklat dan tikus serta tingkat serangan penyakit Kerdil Rumput.

Pengamatan juga dilakukan terhadap penggunaan input, baik berupa bahan, maupun tenaga kerja harian atau borongan serta hasil gabah pada setiap pola pertanaman untuk analisis anggaran usahatani. Analisis anggaran usahatani meliputi input/output usahatani, antara lain sarana produksi yang digunakan (benih, pupuk, obat-obatan), tenaga kerja (pengolahan tanah, pesemaian, tanam, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, dan panen) dan biaya usahatani lainnya seperti jumlah dan harga benih, pupuk, obat-obatan, harga gabah saat menjual hasil.  Berdasarkan data-data tersebut  dilakukan  analisis  usahatani untuk menghitung biaya dan keuntungan usahatani berdasarkan nilai R-C rasio.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Lahan Sawah

Analisis karakteristik lahan sawah menunjukkan bahwa lahan sawah dengan tingkat kemasaman tanah yang tergolong agak masam dengan pH H2O sebesar  5,8 dan pH KCl sebesar 5,0, bahan organik tanah tergolong tinggi (N-total 0,28%, C-organik  2,76% dengan C/N rasio sebesar  9,86), sedangkan P tersedia tergolong rendah (P-Bray 1 = 12,9 dan P-pot = 15,4 mg P2O5/100 g); K-pot = 39,6 mg K2O/100 g) dan KTK sebesar 19,7 me/100 g tergolong tinggi, sedangkan K-dd (0,18 me/100 g) tergolong rendah (Hardjowigeno, 2003). Berdasarkan hasil analisis tanah lokasi pengkajian termasuk lahan dengan produktivitas tergolong sedang, kecuali terhadap kandungan P tanah yang tergolong rendah.

Komponen Hasil dan Hasil

Keragaan komponen hasil dan hasil padi sawah varietas Cisokan dan Inpari 12 disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel tersebut terlihat bahwa hasil tertinggi 6,800 kg/ha diperoleh pada varietas Cisokan, dan terendah 5,100 kg/ha dengan varietas Inpari 12. Rendahnya hasil Inpari 12 disebabkan malai lebih pendek, jumlah gabah per malai lebih rendah serta tingginya persentase gabah hampa. Walaupun jumlah malai per rumpun dan bobot seribu biji lebih tinggi dari Cisokan, namun demikian tidak mampu memberikan hasil lebih tinggi dari Cisokan.

Tabel 1. Komponen Hasil dan Hasil Gabah Kering Panen (GKP) varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dibudidayakan dengan sistem PTT padi sawah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

 

No

 

Varietas

Komponen hasil dan hasil

Jumlah malai per rumpun

Panjang malai  (Cm)

Jumlah Gabah per malai

Gabah Hampa (%)

Bobot 1000 biji (gr)

Hasil GKP (t/ha)

1.

Cisokan

16,0

22,8

130,4

8,7

22,5

6,800

2.

Inpari 12

17,3

20,6

123,2

12,4

25,8

5,100

Tingkat serangan Hama da Penyakit Tanaman

Pengamatan terhadap hama wereng coklat, kepinding tanah dan hama tikus disajikan pada Tabel 2. Dari Tabel tersebut terlihat bahwa hama wereng coklat pada Cisokan berkisar 4-15 ekor/rumpun tanaman dan pada Inpari 12 berkisar antara 2-8 ekor/rumpun tanaman. Menurut Dirjen Perlintan (1981) pengendalian populasi wereng coklat diperlukan bila ditemukan populasi wereng > 5 ekor/rumpun tanaman pada umur < 40 hari setelah tanaman (HST) atau > 20 ekor/rumpun tanaman pada umur > 40 HST.

Hama kepinding tanah pada varietas Cisokan menunjukkan bahwa tingkat populasi hama berkisar antara 2-15 ekor/rumpun tanaman dan pada Inpari 12 berkisar antara 2-12 ekor/rumpun tanaman. Populasi hama ini tergolong tinggi sehingga diperlukan pengandalian menggunakan insektisida. Menurut Dirjen Perlintan (1981) penggunaan insektisida diperlukan bila populasi kepinding tanah > 1 ekor/rumpun tanaman.

Pengamatan terhadap serangan hama tikus pada Cisokan berkisar antara 0,2-4% dan pada Inpari 12 berkisar antara 0,1-5,1%, dimana populasi hama ini tergolong rendah. Menurut Dirjen Parlintan (1981) tingkat serangan hama tikus sebesar 0-25% tergolong rendah.

Tabel 2. Perkembangan populasi hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal), kepinding tanah (Scotinophora spp), tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss) dan penyakit Kerdil Rumput (Grassy stunt) pada varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dibudidayakan dengan sistem PTT padi sawah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Pengamatan (minggu)

Populasi hama

Penyakit Kerdil Rumput (%)

Wereng Coklat*)

Kepinding Tanah*)

Tikus (%)

Cisokan

Inpari 12

Cisokan

Inpari 12

Cisokan

Inpari 12

Cisokan

Inpari 12

II

4,0

2,0

7,0

4,0

1,9

0,0

0,16

 

III

5,0

4,0

7,0

6,0

0,9

0,4

0,12

 

IV

5,0

6,0

12,0

5,0

0,5

0,5

0,18

 

V

8,0

6,0

12,0

8,0

1,2

1,6

0,18

0,14

VI

11,0

3,0

15,0

12,0

2,4

2,4

0,11

0,16

VII

15,0

8,0

8,0

9,0

2,2

5,1

0,14

0,30

VIII

5,0

4,0

11,0

6,0

4,0

2,4

 

 

IX

6,0

6,0

8,0

4,0

0,4

3,1

 

 

X

4,0

3,0

6,0

2,0

2,9

3,2

 

 

XI

10,0

8,0

4,0

6,0

0,2

0,2

 

 

XII

7,0

6,0

2,0

4,0

 

 

 

 

Keterangan : *)Populasi per rumpun tanaman.

 

Tingkat serangan penyakit Kerdil Rumput sangat rendah yaitu sekitar 0,11-0,30% pada Inpari 12 yang ditemukan pada minggu ke 5-7 serta 0,11-0,18% pada Cisokan yang ditemukan pada minggu ke 2-7 setelah tanam.

Berdasarkan pengamatan hama dan penyakit tersebut terlihat bahwa tanaman terbebas dari gangguan hama dan penyakit tanaman utama, kecuali terhadap hama kepinding tanah yang tergolong tinggi sehingga diperlukan pengendalian menggunakan pestisida. Berkurangnya tingkat serangan hama dan penyakit tanaman mengakibatkan pertumbuhan dan hasil tanaman meningkat dibandingkan dengan pertanaman sebelumnya.

Hasil analisis usahatani (Tabel 3) terlihat bahwa pada Cisokan tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 27,545,000,- dengan ongkos total sebesar Rp. 13,335,200,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 14,204,800,-. dengan tingkat R/C ratio 2,07, sehingga usahatani petani memberikan keuntungan 107% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,050,-, breakeven yield 3,293,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya Rp. 1,961,- sehingga tingkat keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 2,089,-. Pada varietas Inpari 12 tingkat pendapatan petani sebesar Rp. 20.400.000,- dengan ongkos total Rp. 12.050.000,- sehingga diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 8.350.000,- dengan tingkat R/C ratio sebesar 1,69, sehingga usahatani ini hanya memberikan keuntungan  69% dari total investasi yang dikeluarkan. Berdasarkan tingkat harga gabah Rp. 4,000,-/kg, breakeven yield sebesar Rp. 3,013,- kg/ha. Untuk memproduksi 1 kg gabah memerlukan biaya sebesar Rp. 2,363,- sehingga diperoleh keuntungan per kg gabah sebesar Rp. 1,637,-.

Tabel 3. Hasil análisis usahatani varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dibudidayakan dengan sistem PTT padi sawah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, MT 2011.

Indikator ekonomi

Satuan

Varietas

Cisokan

Inpari 12

Hasil gabah

Kg

6,800

5,100

Penjualan gabah

Rp.

27,540,000

20,400,000

Ongkos total

Rp.

13,335,200

12,050,000

Keuntungan bersih

Rp.

14,204,800

8,350,000

Breakeven yield

Kg/Ha

3,293

3,013

Ongkos per kg gabah

Rp./kg

1,961

2,363

Keuntungan/kg gabah

Rp./kg

2,089

1,637

R/C

 

2.07

1.69

Tenaga (selain traktor dan panen)

HOK

51

51

Partisi ongkos



Rp

% total cost

Rp

% total cost

Upah tenaga

8,017,200

60.1

6,732,000

55.9

Kontrak/sewa lahan

1,500,000

11.2

1,500,000

12.4

Total upah dan sewa

9,517,200

71.4

8,232,000

68.3

Ongkos pupuk

1,590,000

11.9

1,590,000

13.2

Bahan organik

1,000,000

7.5

1,000,000

8.3

Pestisida

1,003,000

7.5

1,003,000

8.3

Benih

225,000

1.7

225,000

1.9

Ongkos total

13,335,200

100.0

12,050,000

100.0








Disini terlihat bahwa tingkat keuntungan tertinggi diperoleh varietas Cisokan sebesar 107% dari total investasi, sedangkan pada Inpari 12 tingkat keuntungan hanya 69% dari total investasi yang digunakan.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa potensi hasil varietas Inpari 12 belum mencapai optimal (5,1 t/ha) sehingga belum mampu menyamai atau meningkat lebih tinggi dibandingkan Cisokan, sedangkan varietas ini merupakan varietas unggul baru dengan potensi hasil bisa mencapai 8 t/ha. Sebaliknya pada Cisokan mampu menghasilkan gabah sebesar 6,8 t/ha lebih tinggi dari potensi hasil varietas sebesar 4,5-5 t/ha (Suprihatno, et al. 2010).

Kemungkinan penyebab rendahnya hasil ini rendahnya mutu varietas Inpari 12 yang digunakan karena varietas ini sudah digunakan pada 3 musim pertanaman padi sebelumnya, sedangkan Cisokan merupakan varietas dengan kelas benih sebar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pengkajian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Hasil gabah tertinggi sebesar 6,8 t/ha diperoleh dengan varietas cisokan, sedangkan pada Inpari 12 tingkat hasil yang dicapai sebesar 5,1 t/ha.
  2. Tingginya hasil Cisokan dibandingkan Inpari 12 disebabkan Cisokan mempunyai malai lebih panjang, jumlah gabah per malai lebih tinggi dan persentase gabah hampa lebih rendah dibandingkan Inpari 12.
  3. Tingkat serangan hama dan penyakit utama padi sawah tidak menjadi kendala pada kedua varietas ini akibat rendahnya populasi hama dan penyakit, kecuali terhadap hama kepinding tanah tergolong tinggi.
  4. Analisis usahatani Cisokan memberikan keuntungan sebesar 107% dari total invesatasi yang digunakan lebih tinggi dibandingkan Inpari 12 sebesar 69% dari total investasi yang digunakan.
  5. Disarankan untuk mengkaji kendala-kendala penyebab rendahnya produksi Inpari 12 dibandingkan Cisokan, sehingga potensi hasil Inpari yang bisa mencapai 8 t/ha dapat tercapai di Sumatera Barat.

DAFTAR BACAAN

Badan Litbang Deptan. 1998. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan teknologi untuk pengembangan sektor pertanian. Tim Peneliti Badan Litbang Pertanian.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2001. Sumatera Barat Dalam Angka. BPS Sumatera Barat, 610 hlm.

Buharman, B., Burbey, dan I. Manti. 2004. Pertumbuhan produksi padi di Sumatera Barat : Kendala dan Peluang Peningkatannya. Hlm. 378-405 Z. Dalam Z. Lamid, Buharman, B., M. Boer, N. Hosen, I. Manti, R. Febriamansyah, dan R. Mayerni (Eds). Seminar Nasional Penerapan Agro Inovasi Mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

Dirjen Perlintan, 1981. Rekomendasi Pengendalian Hama Tanaman Pangan di Indonesia. 63 hlm. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Hardjowigeni, S. 2003. Ilmu Tanah. Cetakan Kelima. CV Akademika Presindo. Jakarta. 286 hlm.

Hasanuddin, A., Baehaki, S.E. S.J. Munarso, dan Sutisna Noor. 1999. Teknologi unggulan peningkatan produksi padi menuju revolusi hijau kedua. Hlm : 154-182 Dalam A. Karim Makarin et al. (ed). Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengambangan Tanaman Pangan.

Las, I., A. K. Makarim, M. H. Toha, A. Gani, H. Pane, dan S. Abdulrachman. 2003. Panduan Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian, Jakarta, 30 hlm.

Suprihatno, B., A. A. Daradjat, Satoto, Baehaki, Suprihanto, A. Setyono, S. D. Indrasari, I. Putu Wardana, dan H. Sembiring. 2010. Deskripsi Varietas Padi. 109 hlm. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Jakarta.

Zaini, Z., I. Las, B. Haryanto, Suntoro, dan E.E. Ananto. 2003. Pedoman Umum Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu 2003. Departemen Pertanian, Jakarta. 25 hlm.

 

PENDAHULUAN

Pemerintah telah mencanangkan gerakan peningkatan produksi beras nasional (P2BN), Program ini menargetkan peningkatan  produksi padi sebesar 2 juta ton sejak tahun 2007 dan diharapkan rata-rata meningkat sebesar 5% per tahun pada tahun-tahun  berikutnya (Purwanto. 2008). Untuk mencapai target tersebut perlu diimplementasikan sejumlah strategi. Abduracman (2001) menyatakan bahwa salah satu upaya dalam peningkatan produksi padi adalah dengan penerapan budi daya tanaman padi sesuai dengan konsep pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) padi sawah, antara lain penggunaan varietas unggul baru (VUB) bermutu, penggunaan bibit umur muda, pengaturan sistem tanam, pengelolaan lahan dan air yang tepat, pemupukan berimbang yang rasional, pengendalian organisme pengganggu tanamam (OPT) sesuai dengan konsep pengendalian hama/penyakit terpadu (PHT).

Bibit merupakan komponen teknologi produksi yang sangat penting untuk mendapatkan tingkat produksi yang optimal. Kamil (1982) menyatakan bahwa bibit merupakan tumbuhan muda yang sangat menentukan untuk pertumbuhan tanaman selanjutnya. Untuk tanaman padi sawah, penggunaan bibit dengan umur dan jumlah yang tepat perlu diperhatikan. Secara umum yang sering digunakan untuk rekomendasi pada padi sawah adalah penggunaan bibit umur 21 hari setelah semai (HSS) dengan jumlah bibit 1-3 batang/rumpun.  Namun demikian masih banyak petani yang menggunakan bibit yang berumur lebih tua dari 21 HSS, bahkan ada petani yang menggunakan bibit yang telah berumur lebih dari 30 HSS, dengan jumlah bibit yang lebih banyak (5-10 batang/rumpun). Abdullah et al., (2000) melaporkan bahwa penggunaan bibit padi yang berumur lebih dari 30 HSS dan dengan jumlah bibit yang lebih banyak akan memberikan hasil yang kurang baik, karena bibit yang digunakan relatif tua, sehingga beradaptasi lambat (stagnasi pertumbuhan setelah tanam pindah lebih lama), tidak seragam (mempunyai anakan yang tidak seragam), perakaran dangkal sehingga sulit memanfaatkan unsur hara yang lebih dalam. Lebih lanjut menyebabkan tanaman padi tidak tumbuh dengan baik setelah tanam pindah. Sebaliknya penggunaan bibit padi yang relatif lebih muda (umur 10-15 HSS) akan membentuk anakan baru yang lebih seragam dan aktif, serta berkembang lebih baik, karena bibit yang  muda lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru setelah tanam pindah (Kartaatmadja dan Fagi, 2000; dan Gani, 2003).

Penanaman bibit dengan jumlah relatif lebih banyak (5 – 10 batang/rumpun) menyebabkan terjadinya persaingan (kompetisi) sesama tanaman padi (kompetisi inter spesies) yang sangat berat, terutama dalam hal mendapatkan air, unsur hara, CO2, O2, cahaya dan ruang untuk tumbuh, sehingga pertumbuhan akar menjadi tidak normal. menyebabkan tanaman menjadi lemah, mudah rebah dan mudah terserang oleh hama dan penyakit. Lebih lanjut, keadaan tersebut akan mengurangi hasil gabah. Sedangkan penggunaan jumlah bibit yang lebih sedikit (1-3 batang/rumpun) menyebabkan; (1) lebih ringannya kompetisi inter spesies untuk mendapatkan unsur hara, cahaya dan air, (2) dengan kurangnya jumlah bibit yang digunakan akan berdampak terhadap pengurangan biaya produksi. Musa (2001) melaporkan bahwa penggunaan bibit umur muda (10-15 hari) dengan jumlah bibit kurang dari 5 batang/ rumpun dapat meningkatkan hasil, mutu gabah dan beras yang lebih baik (Standard Bulog).

Disamping itu, peningkatan produksi padi juga dapat dicapai melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) (BB-Padi, 2009a). Hal ini antara lain didukung oleh tersedianya varietas umur genjah (VUG) seperti ; Logawa, IR66, Ciherang, Way Apo Boru dan Mekongga, dan varietas umur sangat genjah (VUSG) seperti Silugonggo, Inpari 1, dan Dodokan  (BB-Padi, 2009b). Sehubungan dengan penggunaan VUG dan VUSG tersebut, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh umur dan jumlah bibit terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa VUG dan VUSG padi sawah.

 

BAHAN DAN METODE

Lokasi, Waktu Penelitian, dan Rancangan Percobaan

Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Petani Sitiung Blok A di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Kegiatan dilaksanakan sejak bulan  Mei sampai  Desember 2009. Lokasi penelitian terletak pada ketinggian + 200 m diatas permukaan laut, dengan jenis tanah Podsolik merah Kuning. Perlakuan disusun dalam rancangan Petak terpisah (Split-plot) dengan 4 kali ulangan. Dengan uji Lanjut DNMRT (Duncan New Multiple Range Test). Sebagai petak utama adalah kombinasi umur dan jumlah bibit sebagai berikut: (a) umur 10 hari setelah semai dengan 1 batang bibit/rumpun (10 hss, 1 batang), (b) umur bibit 20 hari setelah semai dengan 3 batang bibit/rumpun (20 hss, 3 batang). Sedangkan anak petak adalah 4 varietas padi sawah yang terdiri dari 2 varietas umur genjah (VUG): logawa dan IR 66, dan 2 varietas umur sangat genjah (VUSG): Silugonggo dan Inpari 1. Luas petakan berukuran 6 x 10 m. Tanah diolah sempurna yaitu dengan 2 kali bajak 1 kali garu, dan diratakan. Umur dan jumlah bibit yang ditanam disesuaikan dengan perlakuan, dengan jarak tanam 25 x 25 cm. Untuk mengatasi keong mas sekeliling petakan dibuat parit. Pemupukan berdasarkan hasil analisis hara spesifik lokasi (PHSL) yaitu dengan pemupukan: 200 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP36, dan 75 kg/ha KCl. Seluruh pupuk P (SP36), 50% pupuk K (37,5 kg/ha KCl) dan 50 kg/ha Urea diberikan pada saat tanam. Kemudian 50% pupuk K (37,5 kg/ha KCl) dan 50 kg/ha Urea diberikan pada umur 21 hari setelah tanam (HST), selanjutnya pupuk Urea diberikan lagi pada umur 35 HST dan 49 HST, masing-masing sebanyak 50 kg/ha {pemberian urea ini berdasarkan pengamatan bagan warna daun (BWD)}. Penyiangan dilakukan secara manual (siang tangan) sebanyak 2 kali, yaitu pada umur 3 dan 6 minggu setelah tanam (MST). Pada saat tanam diaplikasikan insektisida Carbofuran sebanyak 17 kg/ha. Pengendalian penyakit blast dengan menggunakan fungisida Fujiwan dengan takaran 2 ml/liter air, sedangkan hama walang sangit dikendalikan dengan insektisida Ripcord dengan takaran aplikasi sebanyak 2 ml/liter air. Pemberian air dilakukan secara berselang dalam satu musim tanam, yaitu: (a) Bibit ditanam pada kondisi tanah jenuh air, (b) 3-5 hari setelah tanam petakan sawah diairi sekitar 3 cm, kemudian dibiarkan (tidak ada penambahan air), kemudian diairi lagi pada hari ke 5. Cara pengairan ini berlangsung sampai stadia anakan maksimum, (c) mulai stadia pembentukan malai sampai pengisian biji petakan sawah digenangi setinggi 3 cm, dan (d) petakan sawah dikeringkan sekitar 10 hari sebelum panen.

Pengamatan dilakukan terhadap analisis tanah awal untuk menentukan takaran pemupukan. Pertumbuhan tanaman pada stadia vegetatif aktif (meliputi; tinggi tanaman, jumlah anakan,dan kehijauan daun dengan menggunakan BWD) tinggi tanaman saat panen, komponen hasil (jumlah malai, jumlah biji per malai, persentase gabah bernas, dan bobot 1.000 biji), umur berbunga, umur panen, dan hasil gabah kering (KA.14%).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis Tanah

Hasil analisis contoh tanah lokasi penellitian pada kedalaman lapisan olah (0-25 cm) sebelum pelaksanaan percobaan (Tabel 1) menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria hasil analisis tanah di laboratorium menurut Harjowigeno (1992) terlihat bahwa tanah lokasi penelitian tergolong masam, baik berdasarkan pH-H2O (pH = 5,20) maupun berdasarkan pH KCl (pH = 4,76).

Tabel 1. Hasil analisis contoh tanah sebelum kegiatan di lokasi penelitian di sawah

petani Blok A. di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.MH.2009.

 

Sifat Kimia Tanah

Nilai

Kriteria*)

pH (H2O)

pH (KCl)

C-organik (%)

N-total (%)

C/N

P2O5 Bray I (ppm)

P2O5 (ekstrak HCl 25%)

K2O (ekstrak HCl 25%)

K-dd (me/100 g)

Al-dd (me/100 g)

Ca-dd (me/100 g)

Mg-dd (me/100 g)

Na-dd (me/100 g)

KTK (me/100 g)

Fe (ppm)

5,20

4,76

2,94

0,13

22,62

19,72

26,48

11,76

0,98

0,6

10,21

1,67

1,69

17,91

434

Masam

Masam

Sedang

Rendah

Tinggi

Rendah

Rendah

Rendah

Rendah

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sangat Tinggi

*) Kriteria menurut Harjowigeno. 1992.

 

Beberapa sifat kimi tanah lainnya seperti kandungan C-organik, kadar Ca-dd, Mg-dd, dan KTK tergolong sedang. Kadar N-total tergolong rendah dan nisbah C/N tergolong tinggi. Kadar P2O5 berdasarkan Bray I maupun dengan ekstrak HCl 25% tergolong rendah. Kadar K2O (ekstrak HCl 25%) dan kadar K-dd juga tergolong rendah, Sedangkan kadar Fe tergolong sangat tinggi.  Berdasarkan hasil analisis contoh tanah tersebut dan dikaitkan dengan pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) pada prinsip pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah, maka ditetapkan takaran untuk pemupukan P dan K yang semestinya diberikan pada lahan pertanaman padi tersebut, yaitu masing-masing sebanyak 100 kg/ha SP36 dan 75 kg/ha KCl. Sedangkan pemberian pupuk N (Urea) diaplikasikan sebanyak 50 kg/ha Urea bersamaan dengan pemberian pupuk SP36 dan KCl. Sedangkan pemberian N (Urea) susulan berikutnya berdasarkan hasil pembacaan bagan warna daun (BWD). Dari hasil pengamatan tersebut, pemberian Urea susulan dilakukan 3 kali lagi, masing-masing diaplikasikan sebanyak 50 kg/ha Urea pada saat tanaman berumur 21 HST, 35 HST dan 49 HST.

Pertumbuhan Tanaman

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata hasil pengamatan tinggi  tanaman padi pada umur 35 HST menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman untuk semua varietas yang diuji,  baik terhadap VUG (Logawa dan IR66) maupun terhadap VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) tidak berbeda nyata pada masing-masing perlakuan umur dan jumlah bibit per rumpun tanam (Tabel 2). Namun demikian, rataan tinggi tanaman berdasarkan perlakuan umur dan jumlah bibit menunjukkan perbedaan nyata. Nilai rata- rata tinggi tanaman dengan umur bibit 20 HSS, 3 batang/rumpun nyata lebih tinggi dibanding dengan umur bibit 10 HSS, 1 batang/rumpun. Hal ini disebabkan dengan menanam bibit yang lebih tua (20 HSS) tentu bibitnya lebih tinggi dibanding dengan umur bibit yang lebih muda (10 HSS). Disamping itu, menanam bibit dengan jumlah yang relatif lebih banyak (3 batang/rumpun) juga mendorong pertumbuhan tanaman lebih tinggi dibanding dengan tanam 1 batang/rumpun. Hal ini disebab pada jumlah bibit yang lebih banyak (3 batang/rumpun) tersebut masih terjadi kompetisi inter spesies diantara tanaman padi, sedangkan yang ditanam 1 batang/rumpun tidak terjadi kompetisi tersebut, sehingga lebih mendorong pertumbuhan kearah samping atau memperbanyak jumlah anakan. Menurut Gani (2002) penggunaan bibit tanaman padi umur muda menyebabkan bibit tersebut lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan tumbuh, mempunyai perakaran yang lebih baik dan dalam, sehingga lebih efektif memanfaatkan hara dan dapat tumbuh lebih baik. Lebih lanjut Balitpa Sukamandi (2003) juga melaporkan bahwa penggunaan bibit padi sawah umur muda (10-12 hari) akan mendorong pertumbuhan akar lebih dalam sehingga tanaman tahan rebah dan tahan kekeringan.

Hal yang relatif sama dengan tinggi tanaman pada umur 35 HST tersebut juga terlihat terhadap jumlah anakan. Data pada Tabel 2. juga menunjukkan bahwa penggunaan bibit umur 20 HSS, 3 batang/rumpun dengan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) maupun dengan VUG (Logawa dan IR66) memberikan jumlah anakan yang nyata lebih banyak dibanding  dengan penggunaan bibit umur 10 HSS, dengan jumlah bibit 1 batang/rumpun. Hal ini disebabkan bahwa sampai dengan waktu pengamatan umur 35 HST penggunaan bibit sebanyak 3 batang/rumpun tentu akan memberikan jumlah anakan yang lebih banyak dibanding dengan penanaman bibit sebanyak 1 batang per rumpun.  Sedangkan rata-rata jumlah anakan untuk setiap kelompok varietas, baik VUG (Logawa dan IR66) maupun VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) pada masing umur dan jumlah bibit yang digunakan relatif tidak berbeda.

 

Tabel 2.  Pengaruh umur dan jumlah bibit per rumpun tanam terhadap Tinggi tanaman,

jumlah anakan dan pembacaan BWD (umur 35 HST) pada VUG dan VUSG

padi sawah di Sitiung, Kab.Dharmasraya, MH.2009.

Perlakuan

Pertumbuhan tanaman

Umur dan Jumlah bibit

Varietas

Tinggi tanaman

(cm)

Jumlah anakan

(batang/m2)

Pembacaan BWD

10 HSS,1 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

37,7 b

38,5 b

39,3 ab

38,5 b

171,2 b

163,2 b

171,5 b

180,8 b

3,67

3,54

4,10

3,83

Rataan

38,5 B

171,6 B

3,79

20 HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

42,9 a

43,7 a

43,3 a

41,2 ab

212,8 a

202,4 a

204,8 a

203,2 a

3,55

3,75

3,50

3,90

Rataan

42,8 A

205,8 A

3,68

Angka selajur diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT 5%.

Keterangan: VUG   = Logawa dan IR 66

VUSG = Silugonggo dan Inpari 1

Hasil pembacaan bagan warna daun (BWD) pada umur 35 HST menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil pembacaan BWD antara VUG dan VUSG dengan berbedanya umur dan jumlah bibit yang digunakan. Berdasarkan hasil pembacaan BWD pada umur 35 HST tersebut, maka diperlukan pemberian pupuk N (urea) susulan sebanyak 50 kg/ha. Hasil pengamatan yang sama juga terjadi pada umur 21 HST dan 49 HST.

Perlakuan umur dan jumlah bibit menunjukkan bahwa rata-rata umur berbunga dan umur panen dengan umur bibit 20 HSS 3 batang/rumpun lebih cepat empat hari dibanding dengan penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun. Tetapi, bila umur tanaman dihitung sejak benih mulai disemaikan, maka penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun dapat mempercepat tanaman berbunga, maupun panen, rata-rata 6 (enam) hari lebih cepat dibanding dengan penggunaan bibit umur 20 HSS 3 batang/ rumpun (Tabel 3). Gani (2002) dan Dipertahorti (2003) melaporkan bahwa dengan menggunakan bibit yang muda akan mempersingkat waktu stagnasi bibit di lapangan,  sehingga umur berbunga dan umur panen dapat lebih dipercepat dibanding dengan penggunaan bibit yang lebih tua. Hal ini disebabkan penggunaan bibit dengan umur muda (10 HSS) mempunyai tingkat adaptasi yang lebih cepat dibanding dengan yang lebih tua (20 HSS). Disamping itu, penggunaan bibit sebanyak 1 batang/rumpun memberikan jumlah anakan yang relatif lebih homogen dibanding dengan menggunakan bibit sebanyak 3 batang/rumpun, sehingga dengan tingkat keseragaman tanaman yang relatif lebih baik tersebut menyebabkan umur berbunga dan panen juga relatif lebih cepat dan lebih seragam.

Sampai dengan pengamatan umur 35 HST tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap tinggi tanaman antar VUG (Logawa dan IR66) dengan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) untuk setiap umur dan jumlah bibit. Namun demikian, hasil pengamatan tinggi tanaman pada saat panen menunjukkan perbedaan yang nyata antar VUG maupun VUSG yang diuji. Data menunjukkan bahwa VUG (Logawa dan IR66) cenderung lebih tinggi dibanding dengan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) (Tabel 3).  Perbedaan tinggi tanaman ini sangat terkait dengan sifat/kharakteristik masing-masing varietas yang di uji tersebut. Sama halnya dengan hasil pengamatan umur 35 HST, bahwa rata-rata tinggi tanaman padi yang ditanam dengan umur bibit 20 HSS 3 batang/rumpun nyata lebih tinggi dibanding dengan varietas padi yang ditanam dengan umur bibit 10 HSS 1 batang/rumpun. Hal ini disebabkan pertanaman bibit yang lebih muda (10 HSS) sebanyak 1 batang/rumpun memperlihatkan pertumbuhan yang cenderung melebar, terutama untuk pembentukan anakan yang lebih banyak, sedangkan bila umur bibit yang lebih tua (20 HSS, 3 batang/rumpun) memberikan pertumbuhan yang cenderung lebih meninggi, karena populasi tanam yang lebih padat dibanding dengan bibit 1 batang. Disamping itu, pada saat tanam umur bibit yang lebih tua (20 HSS) juga lebih tinggi dibanding dengan umur bibit muda (10 HSS).

 

Tabel 3.  Pengaruh umur dan jumlah bibit per rumpun tanam terhadap umur berbunga,

umur panen dan tinggi tanaman saat panen pada VUG dan VUSG padi sawah

di Sitiung, Kab.Dharmasraya, MH.2009.

 

Perlakuan

Umur Berbunga

(hari)

Umur Panen

(hari)

Tinggi Tanaman  Saat panen

(cm)

 

Umur dan Jumlah bibit

Varietas

10 HSS,1 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

81

78

73

75

117

108

100

102

95,5 a

92,8 ab

81,4 c

86,3 b

Rataan

76,7

107

89,8 B

20 HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

77

75

69

72

113

104

96

99

98,2 a

93,2 ab

88,1 b

93,0 ab

Rataan

73,2

103

93,1 A

Angka selajur diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT 5%.

Keterangan: lihat Tabel 2.

Komponen Hasil

Perbedaan umur dan jumlah bibit menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap rataan jumlah biji per malai dan persentase gabah bernas, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah malai dan bobot 1.000 biji. Namun demikian, penggunaan bibit umur 20 HSS 3 batang/rumpun memberikan rataan jumlah biji per malai VUG dan VUSG yang lebih tinggi dibanding dengan penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun.  Data pada Tabel 4. menunjukkan bahwa penggunaan VUG (Logawa dan IR66) cenderung meningkatkan jumlah malai per satuan luas tanam dengan umur bibit 1 batang/rumpun, sedangkan penggunaan bibit yang lebih tua (20 HSS, 3 batang/rumpun)  mengurangi jumlah malai per satuan luas tanam. Keadaan sebaliknya terlihat bila digunakan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan VUG (Logawa dan IR66) lebih baik ditanam dengan umur bibit yang lebih muda (10 HSS, 1 batang/rumpun).  Sedangkan bila digunakan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) akan memberikan jumlah malai yang banyak bila ditanam pada umur bibit 20 HSS, 3 batang/rumpun. Keadaan yang relatif sama juga terlihat terhadap jumlah biji per malai.

Berdasarkan umur dan jumlah bibit yang digunakan terlihat bahwa persentase gabah bernas tertinggi (85,2%) didapatkan dengan menggunakan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun dan berbeda nyata dibanding dengan penggunaan bibit umur 20 HSS 3 batang/rumpun. Berdasarkan  varietas yang digunakan terlihat bahwa penggunaan VUG (Logawa dan IR66) cenderung memberikan persentase gabah bernas yang lebih tinggi dengan penanaman bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun.  Sedangkan penggunaan VUSG Silugonggo dan Inpari 1 juga menunjukkan persentase gabah bernas yang tinggi pada  umur bibit 10 HSS 1 batang/rumpun,  masing-masing 86,5% dengan VUSG Silugonggo dan 81,9% dengan VUG Inpari 1.  Musa (2001) juga melaporkan bahwa padi sawah tanam pindah dengan bibit muda (umur 10-15 HSS) meningkatkan kualitas gabah yang dihasilkan, dengan meningkatnya persentase gabah bernas dan bobot 1.000 biji. Persentase gabah bernas  terrendah (77,6%) terlihat pada VUSG Inpari 1 dengan umur bibit 20 HSS 3 batang/rumpun.  Lebih banyaknya jumlah malai dan jumlah gabah per malai serta tingginya persentase gabah bernas dengan jumlah bibit < 3 batang per rumpun  disebabkan kurangnya kompetisi antar tanaman padi dalam mendapatkan unsur hara dan cahaya, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih baik dan memberikan keragaan komponen hasil yang baik (Gani, 2002., dan Balitpa Sukamandi 2003).

Perbedaan kombinasi umur dan jumlah bibit yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai rataan bobot 1.000 biji. Lebih lanjut terlihat pada setiap VUG (Logawa dan IR66) atau VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) yang digunakan (Tabel 4). Data pada Tabel 4. menunjukkan bahwa masing-masing varietas baik pada VUG (Logawa dan IR66) maupun pada VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) memperlihatkan bobot 1.000 biji yang berbeda. Dengan VUG Logawa memberikan bobot 1.000 biji tertinggi (28,5 g), kemudian diikuti oleh VUSG Inpari 1 (26,8 g), dan VUG IR66  (25,2 g), sedangkan bobot 1.000 biji terrendah  pada VUSG Silugonggo. Dengan demikian, perbedaan bobot 1.000 biji ini lebih ditentukan oleh sifat/karakteristik masing-masing varietas yang digunakan.

 

Tabel 4.  Pengaruh umur dan jumlah bibit per rumpun tanam terhadap komponen hasil

pada VUG dan VUSG padi sawah di Sitiung, Kab.Dharmasraya, MH.2009.

 

Perlakuan

Jumlah malai

(malai/m2)

Jumlah biji

per-malai

(biji/malai)

Persentase bernas

(%)

Bobot

1.000 biji

(g)

Umur dan Jumlah bibit

Varietas

10 HSS,1batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

286 a

264 ab

231 b

242 b

102,3 b

101,8 b

91,7 c

96,8 bc

87,0 a

85,5 ab

86,5 a

81,9 b

28,5 a

26,2 bc

25,2 c

26,8 b

Rataan

257,8 A

98,2 B

85,2 A

26,7 A

20HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

249 b

240 b

283 a

278 a

106,5 ab

113,8 a

101,3 b

98,5 bc

82,2 b

80,3 bc

77,6 c

79,9 bc

27,6 ab

26,5 bc

25,7 bc

27,7 ab

Rataan

262,5 A

105,0 A

80,0 B

26,9 A

Angka selajur diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT 5%.

Keterangan: lihat Tabel 2.

Hasil Gabah Kering

Perbedaan umur dan jumlah bibit yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap rata-rata hasil gabah kering (KA.14%) VUG (Logawa dan IR66) dan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) yang digunakan. Namun demikian, data pada Tabel 5. menunjukkan bahwa penggunaan umur bibit 10 HSS 1 batang/rumpun memberikan hasil yang lebih tinggi terhadap kedua VUG yang diuji, masing-masing 6,79 t/ha dengan VUG Logawa, dan 6,48 t/ha dengan VUG IR66. Tingginya hasil gabah kering yang didapatkan, terutama disebabkan terdapatnya kontribusi yang nyata  dari beberapa komponen hasil seperti jumlah malai persatuan luas tanam, persentase gabah bernas, dan bobot 1.000 biji (Table 4). Keadaan ini, sesuai dengan tingkat hasil yang dicapai seperti yang telah dilaporkan oleh Gani (2002), dan Balitpa Sukamandi (2003).  Sebaliknya terjadi pada kedua VUSG yang diuji, dimana kedua VUSG tersebut memberikan hasil yang tinggi dengan umur bibit 20 HSS 3 batang/rumpun, masing-masing 6,19 t/ha dengan VUSG Silugonggo dan 5,88 t/ha dengan VUSG Inpari 1.

 

Tabel 5.  Pengaruh umur dan jumlah bibit per rumpun tanam terhadap hasil gabah

kering (KA.14%) pada VUG dan VUSG padi sawah di Sitiung, Kabupaten

Dharmasraya, MH.2009.

 

Perlakuan

Hasil Gabah

Pada KA.14%)

(t/ha)

Umur dan Jumlah bibit

Varietas

10 HSS,1 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

6,79 a

6,48 ab

4,58 d

4,92 cd

Rataan

5,69 A

20 HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

5,47 bc

5,33 bc

6,19 ab

5,88 b

Rataan

5,72 A

Angka selajur diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT 5%.

Keterangan: lihat Tabel 2.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pengkajian ini dapat dikemukakan beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut:

Kesimpulan

  1. Penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun meningkatkan jumlah malai VUG (Logawa dan IR66) per satuan luas tanam. Sedangkan untuk VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) peningkatan jumlah malai per satuan luas tanam dicapai dengan menggunakan bibit umur 20 HSS 3 batang/rumpun.
  2. Jumlah biji per malai cenderung lebih tinggi dengan menggunakan bibit umur 20 HSS 3 batang/rumpun, baik dengan VUG (Logawa dan IR66) maupun VUSG (Silugonggo dan Inpari 1). Sedangkan persentase gabah bernas yang tinggi didapatkan dengan menggunakan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun pada kedua VUG dan VUSG yang diuji.
  3. Berdasarkan umur benih yang digunakan, maka penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun dapat mempersingkat waktu berbunga dan umur panen rata-rata selama 6 hari dibanding dengan penggunaan bibit umur 20 HSS 3 batang/ rumpun.
  1. Penggunaan VUG (Logawa dan IR66) dengan umur bibit 10 HSS 1 batang/ rumpun memberikan hasil yang tinggi, masing-masing 6,79 t/ha dengan VUG Logawa, dan 6,48 t/ha dengan VUG IR66.  Sedangkan penggunaan  kedua VUSG memberikan hasil yang tinggi dengan umur bibit 20 HSS 3 batang/rumpun, masing-masing 6,19 t/ha dengan VUSG Silugonggo dan 5,88 t/ha dengan VUSG Inpari 1.

Saran

  1. Untuk mendapatkan hasil yang optimal disarankan pengunaan kedua VUG (Logawa dan IR66) agar ditanam dengan umur bibit muda (10 HSS 1 batang/rumpun), sedangkan untuk kedua VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) sebaiknya mengguna- kan umur bibit 20 HSS 3 batang/rumpun.


DAFTAR PUSTAKA

Abduracman, A., Irsal las, A. Hidayat, dan E. Pasandaran, 2001. Optimalisasi sumberdaya lahan dan air untuk pembangunan pertanian tanaman pangan. Dalam. A. Makarim.K (Eds). Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Pangan. Puslitbangtan, Badan Litbang Pertanian, p.28-44.

Abdullah, S. R. Munir, Z. Hamzah, S. Zen, dan A. Kanufi. 2000. Laporan tahunan hasil pengkajian intesifikasi padi sawah dalam pola labor lapang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sukarami. 116 hal.

Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) Sukamandi. 2000. Kinerja Penelitian, Balai Penelitian Tanaman Padi. Bahan Rapat Kerja Badan Litbang Pertanian, 22-24 Mei 2000 di Cisarua, Bogor.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Puslitbangtan, Balitbangtan.  2009a. Pedoman Umum Peningkatan Produksi Padi Melalui Pelaksanaan IP Padi 400, 34 hal.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB-Padi). 2009b. Deskripsi Varietas Padi (Draft). Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 91 hal.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dipertahorti) Sumbar, 2003. Sistem Intensifikasi Padi. Northern Sumatera Irrigated Agriculture Sector Project (NSIASP) Part B.

Dirjen Tanaman Pangan. 2007. Rencana operasional peningkatan tambahan produksi beras 2 juta ton tahun 2007. Makalah disampaikan pada Lokakarya P2BN, Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi, Maret 2007.

Gani, A. 2003. Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification) Pedoman Praktis Bercocok Tanam Padi Sawah dengan Sistem SRI. 6 hal.

Hajowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta 231 hal.

Kamil. J. 1982. Teknologi Benih, Penerbit Angkasa Raya, Padang Sumatera Barat, Indonesia, 2 32 hal.

Kartaatmadja, S. dan A. M. Fagi. 2000. Pengelolaan Tanaman Terpadu, Konsep dan Penerapan. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV. Hal. 75-89.

Musa, S. 2000. Program pengembangan komoditi serealia. Makalah disampaikan pada pertemuan regional peningkatan produksi tanaman pangan wilayah barat. Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan, Bukittinggi, 19-21 September 2000.

Purwanto.S. 2008. Implementasi kebijakan untuk pencapaian P2BN). Dalam. B. Suprihatno et al. (Eds). Hasil-Penelitian Padi Menunjang P2BN. Prosid. Seminar Apresiasi (Buku I), Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. p.9-37.