JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Untuk mencapai swasembada pangan, pemerintah telah mencanangkan program peningkatan produktivitas dan produksi pangan sejak tahun 2007 yang diawali dengan pencanangan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), diikuti dengan komoditas pangan lainnya utamanya jagung. Untuk mencapai target tersebut perlu diimplementasikan salah satu strategi adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB). Kegiatan identifikasi VUB padi sawah dilaksanakan dengang tujuan untuk: 1) Mengembangkan VUB yang sesuai dengan keadaan agroekosistem, 2) Mengembangkan VUB yang sesuai dengan preferensi konsumen atau kesesuaian dengan kondisi sosial budaya masyarakat, 3) Menyederhanakan dan mempermudah penyebaran VUB padi sawah oleh peneliti, pengkaji dan penyuluh, dan 4) Meningkatkan adopsi VUB yang spesifik sesuai kebutuhan masyarakat. Kegiatan Identifikasi Wilayah Pengembangan Varietas Unggul Baru Padi sawah di Provinsi Sumatera Barat dilaksanakan pada bulan Oktober s/d Desember 2013 pada 14 kabupaten/kota pelaksana SL-PTT padi sawah. Untuk melaksanakan kegiatan identifikasi VUB dipilih 11 Kabupaten dan 3 kota sebagai sampel penelitian, setiap Kabupaten diambil 2-3 Kecamatan sedangkan untuk Kota diambil 1 Kecamatan sampel penelitian. Metode kuantitatif dilakukan dengan menyiapkan instrumen kajian kuantitaif berupa pertanyaan terstruktur (Quesioner) terkait karakteristik agroekologi dan kondisi sosial ekonomi serta budaya lokal. Sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan untuk mendalami subjektive meaning dari masyarakat petani lokal dengan menetapkan daftar pertanyaan pengarah, untuk menangkap secara mendalam kebutuhan masyarakat terhadap VUB padi sawah. Hasil penelitian antara lain sebagai berikut: 1) VUB padi sawah preferensi bagi masyarakat Sumatera Barat masih didominasi oleh varietas Cisokan, IR-42, Batang Piaman, Ciherang, serta sedikit VUB seperti Logawa, Mekongga, Inpari 13, Inpari Sidenuk dan Inpari 21-Batipuah dan beberapa varietas unggul lokal seperti: Anak Daro, Junjuang, serta Kuriek Kusuik dan Saganggam Panuah untuk sawah dataran tinggi; 2) VUB berkembang sesuai preferensi dan sosial budaya masyarakat Sumbar dengan rasa pera atau kandungan amilosa >25%; 3) Beberapa aspek teknis VUB diinginkan masyarakat Sumbar antara lain: tahan hama wereng coklat dan penyakit tungro dan blas, produktivitas tinggi, serta umur pendek (105-110 hss), dan 4) Adopsi inovasi teknologi VUB dan penggunaan benih bermutu memperlihatkan tingkat adopsi tertinggi dibandingkan inovasi teknologi PTT lainnya. Untuk menambah pilihan masyarakat Sumbar akan VUB dengan rasa pera disarankan pemulia Badan Litbang Kementan untuk menghasilkan VUB rasa pera dengan tetua berasal dari varietas Cisokan dan IR-42. untuk lebih lengkapnya hubungi email kami :This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Sumatera Barat termasuk salah satu provinsi sentra produksi kentang di Indonesia.  Di Sumatera Barat sentra produksi komoditas tersebut antara lain Kabupaten Solok, Tanah Datar, Solok Selatan dan Kabupaten Agam.  Dari perkembangan produktivitas kentang di daerah sentra produksi Sumatera Barat, rata-rata produktivitas kentang mencapai 15,36 ton/ha/tahun.  Produktivitas ini masih rendah dibandingkan potensi hasil yang bisa di capai yaitu sebesar 30,0 ton/ha. Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan kajian ”Pendampingan Pengembangan Kawasan Hortikultura Melalui Perbanyakan  Bibit Unggul Kentang” dengan tujuan Untuk mendapatkan bibit G2 dan G3 yang bermutu.

Pengkajian dilakukan di lahan Kebun Percobaan (KP) Sukarami, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat di Sukarami dan di Kab. Solok pada tahun anggaran 2013.   Sedangkan dari hasil perbanyakan umbi bibit G2 menjadi G3 yang dilakukan di Sungai Nanam (Alahan Panjang) diperoleh umbi bibit G3 varietas Granola sebanyak 350 kg, umbi bibit G3 varietas Cipanas sebanyak 925 kg dan varietas Margahayu sebanyak 480 kg.  Varietas Cipanas memperlihatkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas Granola dan Margahayu serta tingkat serangan penyakit busuk daun P. Infestans, lebih rendah dibanding kedua varietas tersebut. untuk lebih lengkapnya hubungi email kami:This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Salah satu penyebab kesulitan meningkatkan produksi pangan akhir-akhir ini adalah konversi lahan sawah ke sektor perkebunan dan penggunaan lain di sektor non pertanian. Hasil sensus pertanian tahun 2003 menunjukkan bahwa lahan sawah yang dikonversi ke penggunaan lain (non pertanian dan bukan tanaman pangan) sekitar 188 ribu hektar/tahun atau 2,4% pertahuan dari luas lahan sawah yang tersedia (Sutomo, 2004). Seluas 110 ribu hektar lahan sawah yang dikonversi (59%) digunakan untuk kegiatan non pertanian (Irawan, 2011). Keadaan ini merupakan ancaman yang cukup besar dalam mencapai dan melestarikan swasembada beras nasional, dengan target peningkatan produksi beras nasinal pada tahun 2014 sebesar 10 juta ton.

Salah satu upaya yang di tempuh pemerintah untuk mengimbangi laju penyusutan lahan adalah mencetak sawah baru. Salah satu kabupaten pelaksana program cetak sawah baru di Sumatera Barat adalah Kabuapten Dharmasraya. Kapasitas Irigasi Batang Hari yang dibangun pada tahun 2005-2009 di Kabupaten ini cukup besar yang mampu mengairi sawah seluas 23.000 ha, sementara lahan sawah yang tersedia saat ini hanya sekitar 12.000 ha termasuk lahan kering yang dicetak untuk sawah pada periode 2005-2009 seluas 6.000 ha. Pada tahun 2011-2014 pencetakan sawah baru dilanjutkan pada lahan rawa dari jenis tanah Tropaquepots masing-masingnya  seluas 250 ha pada tahun 2011, dan  1.100 ha pada tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2013 sedang dilakukan pencetakan sawah baru seluas 500 ha. Sampai tahun 2014 target cetak sawah baru di Kabupaten Dharmasaraya mencapai 1.850 ha.

Lahan rawa yang dicetak untuk sawah mempunyai permasalahan biofisik yang kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman, diantaranya tingginya kandungan bahan organik yang belum melapuk,  kejenuhan basa dan hara makro yang rendah serta tingginya kemasaman tanah dan kelarutan Fe yang dapat meracuni tanaman.  Permasalahan lain adalah kuantitas air berlebih atau kekurangan dan kualitas air buruk kerenan mengandung unsur atau senyawa beracun. Perbaikan teknologi pada lahan sawah bukaan baru perlu dilakukan yang meliputi adaptasi varietas, pengelolaan lahan dan pemupukan yang tepat, serta cara tanam yang menguntungkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi yang adaptif pada  sawah bukaan baru dengan tipologi lahan rawa di Kabupaten Dharmasraya. Kegiatan pengkajian merupakan perbaikan paket teknologi pengelolaan lahan sawah bukaan baru dengan penerapan paket Lado-21. Kegiatan dilaksanakan dari bulan Mei sampai November 2013.  Penelitian disusun dalam Rancangan Petak-Petak Terpisah (Split-Split Plot Design) dengan tiga ulangan. Sebagai petak utama (Main Plot) adalah tiga paket pemupukan yaitu : (1) Peket Pemupukan berdasarkan hasil analisis tanah yaitu 200 kg Phonska/ha, 100 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha, dan aplikasi Urea berdasarkan BWD (50 kg saat tanaman berumur 10 hari, 50 kg umur 37 HST, dan 50 kg umur 55 HST) + 1 ton kapur + 1 ton Pupuk kandang, (2) Peket pemupukan berdasarkan hasil analisis tanah yaitu 200 kg Phonska/ha, 100 kg SP-36/ha, 50 kg KCL/ha, dan aplikasi Urea berdasarkan BWD (50 kg saat tanaman berumur 10 hari, 25 kg umur 28 HST, dan 25 kg umur 50 HST), dan (3)  Rekomendasi Umum yaitu: 300 kg Phonska/ha + 75 kg SP-36/ha + 200 kg Urea/ha (tiga kali pemberian) + 1 ton kapur. Sebagai anak petak (sub-plot) adalah tiga cara tanam yaitu (1) Legowo 4:1, (2) Legowo 2:1, (3) Tajur jajar 20 x 20 cm (cara petani). Sedangklan sebagai anak-anak petak (sub-sub plot) adalah lima varietas unggul yaitu (1) Batang Piaman, (2) Ipara-3, (4) Inpari 21 Batipuh, (5) Inpari 13, dan  (6) IR66.

Variabel yang diamati meliputi analisis sifat kimia tanah tanah  sebelum tanam,  tingkat pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah anakan 30, 45 HST dan saat penen), hasil, dan komponen hasil dan hasil gabak kering panen (kg GKP/ha).

Hasil hasil menunjukkan bahwa :

  1. Kombinasi pemupukan I mampu meningkatkan hasil secara nyata dibanding rekomendasi umum, yaitu : (a)  pada sistem tanam Legowo 4:1 rata-rata hasil meningkat sebesar 42 %, dari 4.348 kg GKP/ha meningkat menjadi 6.158 kg GKP/ha (b) pada legowo 2:1 rata-rata hasil meningkat sebesar 26 %, dari 4,504 kg GKP/ha meningkat menjadi 5.662 kg GKP/ha dan sistem tanam tanur jajar/cara petani (20 x 20 cm) rata-rata hasil meningkat sebesar  pada 158 % dari 2.157 kg GKP/ha meningkat menjadi 5.577 kg GKP/ha.
  2. Rata-rata peningkatan hasil Legowo 4:1 dan Legowo 2:1 pada paket pemupukan rekomendasi umum mencapai dua kali lipat (102 % dan 109 %) lebih tinggi dibanding dengan sistem tanam tanur jajar yaitu dari 2.157 kg GKP/ha pada tanur jajar menjadi 4.348 kg GKP/ha pada legowo 4:1 dan 4.504 kg GKP/ha pada legowo 2:1.
  3. Dari lima varietas yang diuji, Impari-13 yang ditanam dengan sistem Legowo 4:1 dan paket pemupukan I memberikan hasil tertinggi dibanding varietas lainnya yaitu 7.123 kg GKP/ha diikuti dengan varietas Batang Piaman dengan rata-rata hasil 6.493 kg GKP/ha. Tiga varietas lainnya (Impara 3 , Impari 21 dan IR 66) masing-masing memberikan hasil 5.453;  5.813 ; dan 5.907 kg GKP/ha). untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Peningkatan Produksi Padi dengan Teknologi Spesipik Lokasi Sumatera Barat (Teknologi Salibu).HSalah satu misi kerja Badan Litbang Pertanian adalah menghasilkan teknologi inovatif, tepat guna spesifik lokasi dan spesifik pemakai. Upaya dalam peningkatan produksi padi mengarah pada pengembangan teknologi yang peningkatan produktivitas lahan dan meningkatkan indeks panen dari 2 menjadi 3 bahkan bisa 4 kali panen dalam 1 tahun. Peningkatan IP (indek panen) dapat dicapai dengan beberapa cara, salah satu cara adalah dengan  budidaya padi teknologi Salibu (ratun yang dimodifikasi). Dalam usaha pengembangan  teknologi salibu ini perlu kiranya di ujii / dievaluasi teknologi yang dirakit dari komponen teknologi pendukung antara lain, varietas, tinggi dan waktu pemotongan batang sisa panen, sistim pengairan, pemupukan. Tujuan pengkajian ini adalah mendapatkan satu teknologi salibu pada budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Kegiatan dilaksanakan di tanah petani Kabupaten Tanah Datar. Pengkajian dilaksanakan  beberapa tahap, 1) sosialisasi teknologi salibu yang baru dirakit, evaluasi/diujui, 2) kegiatan lapangan, a) evaluasi terhadap paket teknologi padi salibu yang telah dirakit, b) temu lapang peneliti dengan petani dan penyuluh. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan dan hasil : Tinggi tanaman vegetativ, dan generative/saat panen, Jumlah anakan, Jumlah biji per malai, Bobot biji, Persentase biji hapa, Hasil gabah kering giling/ha, dan data pendungkung lainya;  Curah hujan,  suhu dan Analisa usaha tani (tahun 2013). Dari hasil pengkajian terlihat bahwa pertumbuhan awal tanaman menunjukan  teknologi salibu, lebih baik dibanding sistim tanam pindah, hal yang sama juga terlihat pada tanaman umur 45 hari. Dari kompnen hasil yang diamati terlihat bahwa jumlah anakan produktif dan jumlah butir permalai lebih nyata perbedaannya, sedangkan tinggi tanaman, panjang malai bobot biji dan persentase gabah hampa relatif sama. Hasil tekologi salibu 6,8 ton/ha sedangkan hasil tenologi tanam pindah hanya 6,4 ton/ha. Temu lapang dilaksanakan sebanyak 2 kali, tanaman umur 25 hari dan saat panen. Temu lapang pertama dihadiri oleh Bapak Bupati, Bapak Dirjen (PSP), Kadis Pertanian TK I, Ka. BPTP, Kadis Pertania TKII, Penyuluh Pertanian, anggota kelompok tani serta tokok masyarakat dan undangan lainya, jumlah undangan yang hadir diperkirakan sekitar 450 orang. Analisa usahatani memperlihatkan bahwa biaya produksi teknologi salibu hanya Rp. 1.800.0000/ha sedangkan biaya produksi tanam pindah Rp. 4.150.000/ha, terjadi selisih biaya produksi sekitar Rp. 2.650.000,-. Biaya saprodi teknologi salibu Rp. 840.000., untuk tanam pindah Rp. 1.100.000.-. Keuntungan dengan teknologi salibu (Rp.19.120.000), tanam pindah (Rp.14.930.000), terjadi tambahan keuntungan untuk teknologi salibu Rp. 4.190.000. Hasil pengkajian sumper impos terlihat bahwa Hibrida Hipa-5 dan Hipa-3 memberikan hasil lebih tinggi dibanding varietas inbrida (Batang Piman, Inpari-21 Batipuh dan Inpari-12), hasil tertinggi (7,8 ton/ha) didapat dari varietas Hibrida Hipa-5, hasil terendah didapat dari varietas Inpari-12 (5,5 ton/ha). untuk lebih lengkapnya hubungi email dibawah ini: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Evaluasi Pelaksanaan SLPTT Padi Sawah serta Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Produksi Beras di Sumatera Barat dalam Mendukung Program P2BN Kegiatan ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui keragaan pelaksanaan SLPTT dan Pendampingan SLPTT di Sumatera Barat; 2) Mengetahui tingkat adopsi inovasi PTT padi sawah di Sumatera Barat; dan 3) Mengetahui pengaruh pelaksanaan SLPTT dan pendampingan SLPTT terhadap peningkatan produksi  padi sawah di Sumatera Barat. Pengkajian dilaksanakan pada 3 (tiga) kabupaten pelaksana program SL-PTT padi sawah dan pendampingan SL-PTT padi sawah oleh BPTP Sumatera Barat pada tahun 2012 dengan rata-rata produksi rendah (Kabupaten Pasaman), sedang (Kabupaten Padang Pariaman) dan tinggi (Kabupaten Tanah datar). Pada masing-masing kabupaten dipilih 3 (tiga) lokasi pelaksanaan SLPTT dan 3 (tiga) lokasi pelaksanaan SLPTT yang didampingi BPTP Sumbar. Sampel dipilih sebanyak 5 orang (2 orang pengurus dan 3 orang anggota) per masing-masing lokasi sehingga keseluruhan sampel berjumlah 90 orang. Pengkajian dilakukan dengan menggunakan metode survey. Dari hasil pengkajian disimpulkan: 1) Sebanyak 64,44% petani pelaksana SLPTT dan pendampingan SLPTT berumur antara 40-56 tahun, sebagian besar (62,22%) berpendidikan SMP sampai SMA  dengan pengalaman berusahatani 9-29 tahun sebanyak 48,89%. 2) Semua lokasi SLPTT memiliki tenaga penyuluh pendamping yang telah mengikuti PL. III. Rata-rata pelaksanaan PRA dalam bentuk KKP di lokasi SLPTT telah mencapai   55,56% dan di lokasi pendampingan 33,33%. 3) Jumlah pertemuan dalam SL 3-12 kali dimana sebanyak 66,67 % kelompoktani melaksanakan 6-10 kali pertemuan. Kehadiran petani dalam SL berkisar antara 1-12 kali dengan kehadiran terbanyak antara 3-9 kali. Jumlah inov yg diajarkan 3-12 komponen teknologi, sebagian kelompoktani (61,12%) mengajarkan 5-9 komponen teknologi. Kehadiran PPL pada SL berkisar antara 3-12 kali, sesuai dengan jumlah pertemuan SL. Sedangkan kehadiran PHP antara 0-12 kali dan kehadiran peneliti antara 0-10 kali. Umumnya kehadiran peneliti adalah di lokasi pendampingan SLPTT dengan frekuensi kehadiran antara 1-5 kali. Sebanyak 58,89 petani menyatakan telah pernah mengikuti SLPTT pada tahun-tahun sebelumnya antara 2-4 kali. 4) Secara umum pada pelaksanaan SLPTT telah terjadi adopsi inovasi teknologi PTT rata-rata 62,01%, dimana pada lokasi SLPTT terjadi adopsi 64,10% dan di lokasi SLPTT yang didampingi 59,91%. Komponen inovasi PTT yang tertinggi adopsinya adalah pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam (94,45%) sedangkan yang terendah pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah (BWD dan PUTS) (20,00%). 5)  Pelaksanaan SLPTT telah menyebabkan terjadinya peningkatan produktivitas padi di Sumatera Barat rata-rata 722 t/ha, dan pada beberapa lokasi (7,78%) terjadi peningkatan lebih dari 1.253 t/ha. Tidak terjadi perbedaan peningkatan produktivitas antara lokasi pengembangan SLPTT dan pendampingan SLPTT. Peningkatan produktivitas padi dipengaruhi oleh kehadiran dalam SL, ketersediaan benih bermutu, kompatibilitas, adopsi olah tanah, dan legowo. Untuk meningkatkan produktivitas padi, maka pada pelaksanaan SLPTT perlu usaha untuk meningkatkan kehadiran petani dalam SL serta adopsi olah tanah dan legowo.  Untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.