JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Di Sumatera Barat jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah padi  karena  kebutuhan jagung semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan peningkatan populasi ternak unggas. Oleh sebab itu, komoditas ini   dikembangkan secara luas di Sumatera Barat. Upaya peningkatan produksi jagung dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal panen. Peningkatan produksi sangat tergantung pada penerapan komponen teknologi secara sinergis dalam bentuk pengelolaan tanaman terpadu (PTT) jagung. Penerapan PTT jagung melalui sekolah lapang PTT (SL-PTT) pada suatu kawasan pengembangan diharapkan dapat mempercepat pengembangan jagung di Sumatera Barat. Sehubungan dengan kegiatan SL-PTT jagung, BPTP Sumatera Barat berperan dalam pendampingan kegiatan tersebut. Pendampingan SL-PTT jagung dilaksanakan di Lubuk/Tanjung Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempercepat alih teknologi jagung melalui beberapa kegiatan (a) koordinasi dan sosialisasi SL-PTT jagung di Kabupaten Selatan, (b) melaksanakan displai varietas unggul baru (VUB) jagung dalam upaya peningkatan hasil (c) melakukan pelatihan inovasi teknologi jagung untuk penyuluh dan petani, (d) melakukan temu lapang dan distribusi media cetak. Hasil kegiatan pendampingan SL-PTT jagung di Kabupaten Solok Selatan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut; (1) Kegiatan pendampingan SL-PTT jagung dimulai dengan melakukan koordinasi dan sosialisasi program dengan pihak terkait, seperti Pemda Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan (Dispernakkan) dan BP4KP Kabupaten Solok Selatan, UPT/BPK kecamatan Sangir dan Kelompok tani Harapan Jaya dan Jambak Saiyo. Mereka sangat mendukung pendampingan SL-PTT jagung dan penerapan displai VUB jagung, (2) Pelatihan inovasi teknologi budidaya jagung kepada penyuluh/petugas pertanian di lapangan, telah dapat menambah pengetahuan mereka tentang teknologi budidaya jagung spesifik lokasi, sekaligus mengenal varietas jagung hibrida hasil Badan Litbang Pertanian, (3) VUB Bima yang diuji adaptasikan menunjukkan hasil relatif tinggi dibanding dengan varietas NK99 (dengan hasil 5,88 t/ha). Masing-masing dengan hasil dan peningkatan sebagai berikut; Bima 9 (6,75 t/ha dan 14,8%), Bima 15 (7,05 dan 19,9%), Bima 19-URI (7.20 dan 22,4%) dan Bima 20 URI (7,60 dan  29,3%), (4) Temu lapang dihadiri oleh Dispernakkan dan BP4KP Kabupaten Solok Selatan, UPT-BPK kecamatan Sangir, Wali Nagari Lubuk Gadang, perwakilan pengurus kelompok tani di kenagarian Lubuk Gadang, Pengurus  kelompok tani dan anggota kelompok tani Harapan Jaya dan Jambak Saiyo. Dari temu lapang diperoleh informasi persentase responden yang memilih VUB Bima 19-URI sebanyak 37,2%, Bima 20-URI sebanyak  44,7%, Bima 15 sebanyak   9,2% dan Bima 9 sebanyak 8,9%, (5) Media cetak yang telah disampaikan kepada penyuluh pertanian (PPL) dan petani jagung dari kelompok tani Harapan Jaya dan Jambak Saiyo.  adalah; Inovasi teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) jagung dalam bentuk fotocopy,  dan masing-masing satu buah buku saku “Petunjuk lapang Hama, Penyakit, dan Hara Pada tanaman Jagung” untuk setiap kelompok. Dari hasil pendampingan SL-PTT jagung ini diharapkan petani kooperator (anggota kelompok tani Harapan Jaya, dan kelompok tani Jambak Saiyo) dapat mengembangkan penggunaan VUB Bima yang telah diuji, terutama Bima 19-URI dan Bima 20-URI, dan sekaligus diikuti dengan komponen teknologi budidaya PTT lainnya. Untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Beras adalah makanan pokok yang sangat strategis bagi penduduk Indonesia. Sekitar 54 % dari total kosumsi kalori dan 46 % dari total kosumsi protein penduduk Indonesia berasal dari beras dan beras juga menyumbang 33% dari pendapatan kotor PDB untuk sektor pertanian.

Secara Nasional kebutuhan beras terus meningkat dan seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan beras ini di penuhi dari produksi dalam negeri dan sebahagian di impor dari luar negeri. Ketergantungan akan impor beras tentu berakibat kepada rapuhnya ketahanan pangan, oleh karena itu sejak tahun 2006 pemerintah secara nasional melaksanakan suatu program yang disebut Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan target peningkatan 2 juta ton dan kontinyu 5 % / tahun. Upaya pemerintah dalam peningkatan produksi beras nasional di tempuh dengan cara pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT)  salah satu komponen PTT yang dapat secara cepat meningkatkan produktivitas padi adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB)  dan diikuti oleh teknologi  lainya seperti pemupukan berimbang.

Dalam hal ini BPTP berperan melakukan pendampingan program SL-PTT padi dari aspek teknologi di Sumatera Barat dan Kabupaten Dharmasraya khususnya. Sebagai pendampingan teknologi mencakup beberapa kegiatan yaitu melakukan koordinasi dengan Pemda (Distan horti) sebagai Nara Sumber pada pelatihan PPL (PL3) dan memberikan masukan teknologi kepada petani pelaksana SL-PTT di Kabupaten Dharmasraya dalam pelaksanaan pengujian Demfarm padi di lapangan.

Lokasi  Demfarm VUB bisa diluar kawasan SL-PTT dengan luas paling sedikit 0,5-1 hektar. Hasil pendampingan SL-PTT di Kabupaten Dharmasraya antara lain : varietas padi yang digunakan IR 66, Ciherang, Batang Piaman, Cisokan, Mikongga, Inpari-12, Inpari-21,Inpara-3  dan VUB yang berkembang antara lain: Inpari-30 dengan hasil 6,03- 7,0 ton/ha dan Inpari-16 dan 21 dengan hasil 5,20 s/d 5,9 ton/ha. Dengan adanya varietas VUB yang beradaptasi baik di Kabupaten Dharmasraya, maka memberi kesempatan para petani akan alternatif pilihan varietas untuk di tanam di areal sawah dan kelompok. Untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Salah satu faktor yang menyebabkan besarnya senjang hasil jagung di tingkat penelitian dengan petani adalah lambannya proses diseminasi dan adopsi teknologi. Salah satu cara untuk membantu memecahkan masalah di atas, Balitbangtan melakukan pendekatan melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yang mana program ini mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi input produksi. Dalam upaya pengembangan PTT secara Nasional, Kementerian Pertanian memasyarakatkan  program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Pada tahun anggaran 2013, BPTP Sumatera Barat juga melaksanakan SL-PTT jagung pada 3 Kabupaten di Sumatera Barat, salah satunya di Kabupaten Tanah Datar  Pendampingan program SL-PTT jagung di Kabupaten Tanah Datar bertujuan agar teknologi yang telah dihasilkan Balitbangtan dapat diterapkan secara optimal dalam kegiatan SL-PTT jagung,  sehingga pelaksanaan SL-PTT jagung di Kabupaten Tanah Datar lebih berkualitas dalam mendukung pencapaian tujuan dan sasaran peningkatan produksi jagung secara nasional. Melalui pendampingan juga diharapkan varietas unggul baru (VUB) jagung hibrida juga dapat diketahui adaptasinya di Kabupaten Tanah Datar. VUB yang ternyata beradaptasi baik pada lokasi-lokasi tertentu dapat dipertimbangkan penyebarannya sebagai alternatif pengganti varietas yang biasa ditanam oleh petani di masa datang.Kegiatan ini merupakan program diseminasi hasil teknologi yang dikemas dalam bentuk kegiatan “demonstrasi plot dan pelatihan”. Kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Tanah Datar pada bulan Januari sampai Desember 2013. Lokasi demplot SL-PTT jagung dilaksanakan  pada satu lokasi di Kabupaten Tanah Datar, direncananak seluas 1,0 ha namun terealisasi seluas 2,0 ha. Lokasi yang terpilih adalah Keltan Koto Tangah Nagari Parambahan Kecamatan V Kaum. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah “demonstrasi plot dan pelatihan” yaitu suatu bentuk media penyajian kegiatan teknologi secara nyata di lapangan sehingga para pengguna teknologi dapat melihat dan mengamati secara langsung keragaan inovasi teknologi di lapangan yang pada akhirnya mereka dapat menerapkannya di daerah masing-masing. Materi demontrasi plot dan pelatihan adalah komoditas jagung. Kegiatan meliputi (1) Koordinasi dan Sosialisasi; dan (2) Teknologi Demonstrasi Plot dan Pelatihan. Komponen teknologi yang diterapkan petani sebagai penciri model PTT jagung adalah: (1) VUB hibrida Bima-5, Bima-6, Bima-14, dan STJ-01; (2) Asal benih dari BPTP Sumbar; (3) Daya kecambah >95%; (4) Perlakuan benih 2 g Saromil/kg benih; (5) Pengolahan tanah minimum; (6) Jarak tanam 75 x 40 cm (2 biji per lubang); (7) Pupuk Phonska 300 kg/ha, diberikan 2 kali, umur 1 dan 4 MST; (8) Pupuk SP-36 50 kg/ha, diberikan umur 1 MST; (9) Pupuk Urea 200 kg/ha, diberikan 1/3 umur 1 MST dan sisanya berdasarkan BWD; (10) Pupuk kandang kotoran sapi 2,0 t/ha diberikan saat tanam sebagai penutup benih; (11) Penyiangan manual umur 30 dan 60 HST; (12) Pengendalian OPT; dan (13) Panen dilakukan setelah jagung masak fisiologis, dan prosesing hasil menggunakan alat pemukul. Dari hasil pendampingan SLPTT padi sawah di Kabupaten Tanah Datar dapat disimpulkan dan disarankan antara lain: (1) Keragaan hasil demplot terlihat bahwa VUB Bima-6 memberikan hasil pipilan kering tertinggi (8,50 t/ha), diikuti Bima-5 (8,27 t/ha), Bima-14 (7,99 t/ha), dan STJ-01 (7,97 t/ha); (2) Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, menyambut sangat baik adanya kegiatan demonstrasi plot ini. Mereka sangat mengharapkan pada tahun-tahun selanjutnya BPTP Sumatera Barat terus melaksanakan kegiatan pelatihan maupun demonstrasi plot teknologi pertanian lainnya sehingga mutu sumberdaya manusia (SDM) petani khususnya dapat ditingkatkan sekaligus pendapatan  petani juga meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan petani akan dapat dicapai; (3) Umpan balik yang didapatkan dari kegiatan ini antara lain: BPTP Sumatera Barat diharapkan dapat menjadi pusat sumber informasi pertanian di Sumatera Barat, melalui kegiatan pelatihan-pelatihan kepada penyuluh pertanian atau penyuluh swadaya atau petani. Selain itu, demonstrasi plot dan uji coba teknologi pertanian sesuai kebutuhan petani hendaknya perlu ditingkatkan pada wilayah lain; dan (4) Untuk memasyarakatkan VUB hibrida yang dihasilkan oleh Kementan perlu sosialisasi dan promosi yang berkelanjutan kepada petani dan pengambil kebijakan. Selain itu, perlu ketersediaan benih tersebut di kios-kios setiap waktu. Untuk lebih lengkapnya hubungi email kami:This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasil kan inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produksi padi, antara lain penyediaan varietas unggul baru (VUB)  bersama dengan komponen teknologi produksi lainnya mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah. PTT padi sawah merupakan suatu pendekatan  inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani padi melalui perbaikan pendekatan dalam perakitan paket teknologi produksi padi yang sinergis antar komponen-komponen  teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani, serta bersifat spesifik lokasi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sebagai perpanjangan tangan  Badan Litbang Pertanian melakukan perakitan komponen teknologi melalui pendekatan PTT spesifik lokasi. Untuk mempercepat pelaksanaan dan pengembangan PTT padi sawah di tingkat usahatani, maka perlu dilakukan pendampingan dalam penerapan teknologi di tingkat usahatani, yaitu dalam bentuk sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT).  Pendampingan pelaksanaan kegiatan SL-PTT Padi Sawah di Kabupaten Agam bertujuan untuk; (a) melaksanakan koordinasi dan sosialisasi dengan institusi terkait (Dinas Pertanian, Badan penyuluhan pertanian dan ketahanan pangan), dan dengan UPTD di kecamatan terpilih, (b) mempercepat diseminasi inovasi teknologi padi sawah melalui kegiatan displai VUB (varietas unggul baru) untuk peningkatan produksi padi, (c) menjadi nara sumber inovasi teknologi padi sawah untuk penyuluh, dan nara sumber SL-PTT padi sawah yang dilaksanakan oleh kelompok tani, (d) mendistribusikan media cetak inovasi teknologi padi sawah, dan (e) melaksanakan temu lapang pada salah satu lokasi terpilih, serta. Pendampingan kegiatan SL-PTT Padi sawah dimulai dengan melakukan koordinasi, dan sosialisasi program dengan pihak terkait, mulai di tingkat Propinsi (di Dinas Tanaman Pangan Provinsi Sumater Barat, Intistusi terkait di tingkat kabupaten, dengan UPTD-BPK (Balai penyuluhan kecamatan) di kecamatan Lubuk Basung kabupaten Agam, dan dengan kelompok tani pelaksana displai VUB padi sawah.  VUB Inpari 21 Batipuah memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding dengan varietas Cisokan di Manggopoh dan dengan varietas IR42 di Kampung Pinang, masing-masing lebih tinggi 16,67% di Manggopoh,  dan 21,42%  di Kampung Pinang. Sedangkan penggunaan VUB Batang Piaman juga memberikan hasil rata-rata  6,73 t/ha GKP (6,40-7,06 t/ha GKP), juga memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding varietas Cisokan. Varietas Batang Piaman memberikan hasil lebih tinggi 12,28% dibanding Cisokan di Manggopoh, sebesar 19,05% lebih tinggi dibanding IR42 di Kampung Pinang. Penggunaan varietas Junjuang juga menunjukkan hasil yang lebih tinggi sebesar 11,13% dibanding IR42. Telah bertindak sebagai nara sumber pada kegiatan pelatihan kepada petugas, penyuluh (PPL dan THL) dan petugas lapang lainnya, pengurus, dan anggota kelompok tani pelaksana displai VUB padi sawah, dengan materi:  “Inovasi teknologi PTT padi sawah untuk peningkatan produksi padi”, terutama tentang  komponen/paket teknologi PTT padi sawah.  Telah didistribusikan media cetak, dalam bentuk Buku “Rekomendasi Teknologi Spesifik Lokasi Mendukung Peningkatan Produksi Padi di Sumatera Barat” kepada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Agam, Dinas Pertanian, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Agam, dan kepada seluruh UPTD Balai Penyuluhan  Pertanian kecamatan se Kabupaten Agam. Kegiatan temu lapang dan panen  perdana telah dilaksanakan disalah satu lokasi kegiatan displai VUB padi sawah, yaitu di  Kelompok Tani “ Batang Piarau Saiyo” Jorong Sago di nagari Manggopoh, kecamatan Lubuk Basung kabupaten Agam pada tanggal 16 September 2014.Untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Salah satu pendekatan untuk meningkatkan produksi padi dilakukan melalui introduksi varietas unggul baru produktivitas tinggi yang dibudidayakan dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Penyebarluasan PTT dilakukan melalui Sekolah Lapang (SL). Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) merupakan pendekatan paling efektif untuk saat ini dalam mendukung program percepatan peningkatan produksi tanaman pangan, terutama padi sawah. Oleh karena itu, SL-PTT telah diadopsi oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan sebagai salah satu program strategis Kementerian Pertanian untuk peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) memiliki peran sangat strategis dalam mendukung SL-PTT. Dalam hal ini, BPTP tidak saja merupakan sumber inovasi teknologi bagi petani, akan tetapi sekaligus sebagai narasumber dan pendamping teknologi di lapangan. Melalui program ini, Indonesia telah mencapai swasembada beras kedua pada tahun 2008. Keberlanjutan swasembada beras ini perlu terus diupayakan, antara lain dengan lebih meningkatkan pelaksanaan program SL-PTT. Oleh karena itu, program SL-PTT perlu terus dilaksanakan dan dikembangkan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat. Kegiatan pendampingan yang dilaksanakan pada tahun 2013 ini bertujuan untuk mempercepat diseminasi inovasi teknologi padi sawah melalui display varietas unggul baru (VUB) padi sawah dan demonstration plot (demplot) PTT dengan teknologi padi sawah lengkap dalam mendukung program SL-PTT padi sawah sehingga dapat meningkatkan produktifitas padi sawah. Ruang lingkup kegiatan ini terdiri dari: (a) Koordinasi dan sosialisasi SLPTT padi sawah; (b) Demonstration plot (demplot) PTT padi sawah; dan (c) Pelatihan. Dari hasil kegiatan pendampingan SLPTT padi di Kabupaten Tanah Datar dapat disimpulkan dan disarankan antara lain: (1) Hasil panen VUB Inpari-21 Batipuah (7,70 t/ha) di Kecamatan Tanjung Ameh, diikuti Cisokan (7,31 t/ha) di Kecamatan Sungai Tarab, Batang Piaman (7,04 t/ha) di Kecamatan Tanjung Ameh, dan IR-66 (5,63 t/ha) serta Inpari-21 Batipuah (6,15 t/ha) di Kecamatan Sungai Tarab; (2) Produktivitas hasil VUB Inpari-21 Batipuah berkisar 6,15-7,70 t/ha. Dibanding pertanaman VUB ini pada tahun lalu (2012) terlihat peningkatan hasil. Tahun 2012, kisaran hasil VUB Inpari-21 Batipuah berkisar 5,76-7,01 t/ha; (3) VUB Inpari-21 Batipuah sesuai untuk dikembangkan di Kabupaten Tanah Datar karena rata-rata hasil lebih tinggi dibanding VUB lainnya dan rasa nasinya yang enak berdasarkan preferensi masyarakat Sumatera Barat; dan (4) Pemerintan Kabupaten Tanah Datar disarankan untuk dapat mengembangkan VUB Inpari-21 Batipuah. untuk lebih lengkapnya silahkan hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.