JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penyediaan Media Cetak, Terekam, Terproyeksi dan Display

4.2  Pembahasan

Dari lima materi informasi yang dihasilkan, baik dalam bentuk buku, CD, dan siaran TVRI materi utamanya adalah padi sawah. Salah satu pertimbangan mendasar dipilihnya  materi tersebut tidak terlepas dari dukungan Balai dalam melaksananakan kegiatan strategis Kementerian Pertanian di daerah, khususnya tentang dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi sawah.  Tahun 2010 kegiatan SL-PTT padi sawah non hibrida di Sumatera Barat tercatat 82.000 ha (3.280 unit), termasuk 39.000   ha di kabupaten FEATI.  Masing-masing adalah 9.000 ha (360 unit) di Kabupaten Solok; 5.000 ha (200 unit) di Kabupaten Solok Selatan, 8.000  ha (320 nit) di Pesisir Selatan, 9.000 ha (360 unit) di Padang Pariaman dan 8.000 ha (320 unit) di Limapuluh Kota.  Kegiatan SL-PTT dilaksanakan oleh kelompok tani pada hamparan seluas 25 ha  untuk setiap kelompok.  Dalam proses pendampingan SL-PTT tersebut, dari enam tugas pendampingan yang harus dilaksanakan oleh BPTP, satu diantaranya berhubungan langsung dengan kegiatan penyediaan materi informasi, yaitu menyiapkan, mecetak, mendistribusikan materi pelatihan berupa bahan cetakan kepada BPP dan penyuluh pendamping.  Tugas ini tentunya mendukung lima tugas pendampingan lainnya dalam konteks memperkuat kapasitas dan penguasaan informasi inovasi teknologi bagi petugas dan petani.

Dalam kaitan itu, materi informasi teknologi yang disajikan dalam dua buku utama adalah: (1). Buku Masalah lapang hama penyakit dan hara pada padi, memuat sebanyak 16 macam hama, 12 jenis penyakit, dan 5 jenis gejala kekurangan hara pada tanaman padi di lapangan. Informasi teknologi hama, penyakit, dan hara ini perlu diketahui lebih mendalam, baik oleh petugas lapangan maupun oleh petani sebagai pelaku.  Kesalahan dalam membaca gejala serangan hama/penyakit atau gejala defisiensi hara tertentu, dengan sendirinya akan mengakibatkan kesalahan dalam menafsirkan dan menentukan langkah-langkah pengendalian.  Kesalahan seperti ini apabila terjadi, tidak saja menyebabkan kerusakan tanaman karena gangguan hama/penyakit atau disebabkan keracunan hara tertentu sehingga pertumbuhan tanaman tidak normal, tetapi juga berdampak kepada biaya produksi menjadi lebih tidak efisien.   (2) Buku varietas unggul padi sawah amilosa tinggi (beras pera) memuat deskripsi 16 jenis varietas unggul padi sawah.  Varietas tersebut merupakan spesifik untuk konsumen etnik minang yang cenderung menkonsumsi beras pera.  Varietas pera tersebut selain dihasilkan dari Balai Besar Penelitian Padi, juga merupakan pemutihan dari varietas lokal yang berkembang luas pada daerah sentra produksi padi sawah di Sumatera Barat.  Varietas  Anak Daro dari Kota Solok, Junjuang (kabupaten Limapuluh Kota), Kuriek Kusuik (Agam), dan Caredek Merah dari Kabupaten Solok adalah-varietas lokal berkembang baik di masing-masing sentra penanaman.  Dibanding varietas alternatif, selain rasa pera, harga jual di pasaran lebih tinggi, sehingga petani cenderung mengusahakannya. Guna mempercepat dan memperluas penyebaran varietas tersebut maka kegiatan penangkaran benih perlu dioptimalkan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Upaya pemberdayaan petani melalui teknologi dan informasi akan berjalan baik apabila teknologi dan informasi dapat diakses dengan mudah.  Penyediaan media informasi sesuai kebutuhan pada waktu diperlukan akan sangat membantu pemanfaatannya secara efektif dan efisien.  Materi informasi yang dihasilkan berupa:  (i)  Buku Masalah Lapang Hama Penyakit dan Hara pada padi sawah;   (ii) Compact  Disk (CD) Informasi Teknologi Padi; (iii) Buku Deskripsi Varietas Unggul Padi Sawah Amilosa Tinggi (Beras Pera);  (iv) Tayangan TVRI Sumbar Produksi Benih padi sawah di Kabupaten Solok Selatan;   dan (v) Display/spanduk dalam pameran acara peresmian Gedung BPP Model se Sumatera Barat,  dipandang relevan dengan kebutuhan teknologi dan informasi mendukung pelaksanaan SL-PTT padi sawah non hibrida di Sumatera Barat, terutama pada 5 lokasi kabupaten FEATI.

5.2 Saran

Keberadaan UP FMA pada 4 kabupaten FEATI sebanyak 190 UP FMA cukup banyak dan kebutuhan inovasi teknologi spesifik lokasi yang membutuhkan dukungan media informasi juga sangat beragam. Dilain pihak, untuk mengakomodasi permintaan yang beragam tersebut tidak mudah dilakukan.  Oleh sebab itu, untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tersebut, upaya cetak ulang atau reproduksi materi tercetak yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian melalui Puslit/Balai Besar/Balai komoditas (UK/UPT) sepanjang materinya dinilai sesuai dengan kondisi setempat masih mungkin dilakukan.