JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) atau Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani. Selengkapnya klik disini

Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) atau Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani melalui pemberdayaan keluarga petani dan organisasi petani dalam mengakses informasi, teknologi, modal dan sarana produksi untuk mengembangkan usaha agribisnis dan mengembangkan kemitraan dengan sektor swasta. Dalam upaya pemberdayaan petani tersebut, maka dilakukan berbagai pendekatan melalui upaya-upaya perbaikan pada semua komponen penyuluhan yang ada, penyempurnaan dan penguatan keberadaan kelembagaan yang terkait dengan pengadaan teknologi, serta sistem informasi pertanian.

Tahun 2009 BPTP Sumatera Barat, dari kegiatan penyediaan media informasi telah diproduksi:   (i) Lembaran Informasi Pertanian (LIPTAN) BPTP Sumbar, sebanyak  4 nomor;  (ii) Brosur (buklet)  teknologi sepesifik lokasi, sebanyak 3 nomor; (iii) Poster, sebanyak 3 nomor; (iv) Majalah Ilmiah Populer Primatani,   1 nomor:  (v) Siaran Informasi  Teknologi Pertanian di Televisi dalam bentuk mini feature, sebanyak 2 kali siaran; dan (vi) Penggandaan  materi informasi Teknologi Pertanian terproyeksi (VCD) dari kegiatan butir (v), 2 nomor.  Walaupun media tersebut tidak secara khusus ditujukan untuk pengguna di lokasi FEATI, tetapi informasi yang disajikan juga dapat dipakai dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha di daerah FEATI.

Tujuan kegiatan Penyediaan Materi  Informasi berupa publikasi tercetak,  terekam dan terproyeksi hasil penelitian/pengkajian dan diseminasi teknologi pertanian BPTP Sumatera Barat sesuai dengan Komponen C,  FEATI adalah untuk: (1) Menginformasikan dan menyebarluaskan  hasil litkaji dan diseminasi teknologipertanian kepada calon pengguna dalam mempercepat proses alih teknologi dan pengembangan teknologi pertanian, khususnya untuk mendukung kegiatan FMA pada kabupaten pelaksana FEATI; dan (2) Memperkuat kapasitas pelaku dalam hal penguasaan infprmasi dan teknologi, khususnya yang  dimuat  dalam madia informasi yang dihasilkan.

Pelaksanaan kegiatan sesuai tahapan sampai produksi materi informasi teknologi dan distribusinya dilaksanakan di BPTP Sumatera Barat,  dengan cakupan area pada 5 kabupaten FEATI yakni Kabupaten Solok, Solok Selatan, Padang Pariaman, Pesisir Selatan dan Limapuluh Kota, dimulai dari Januari 2010 sampai bulan Desember 2010.

Upaya pemberdayaan petani melalui teknologi dan informasi akan berjalan baik apabila teknologi dan informasi dapat diakses dengan mudah.  Penyediaan media informasi sesuai kebutuhan pada waktu diperlukan akan sangat membantu pemanfaatannya secara efektif dan efisien.  Materi informasi yang dihasilkan berupa:  (i)  Buku Masalah Lapang Hama Penyakit dan Hara pada padi sawah;   (ii) Compact  Disk (CD) Informasi Teknologi Padi; (iii) Buku Deskripsi Varietas Unggul Padi Sawah Amilosa Tinggi (Beras Pera);  (iv) Tayangan TVRI Sumbar Produksi Benih padi sawah di Kabupaten Solok Selatan;   dan (v) Display/spanduk dalam pameran acara peresmian Gedung BPP Model se Sumatera Barat,  dipandang relevan dengan kebutuhan teknologi dan informasi mendukung pelaksanaan SL-PTT padi sawah non hibrida di Sumatera Barat, terutama pada 5 lokasi kabupaten FEATI.

Keberadaan UP FMA pada 4 kabupaten FEATI sebanyak 190 UP FMA cukup banyak dan kebutuhan inovasi teknologi spesifik lokasi yang membutuhkan dukungan media informasi juga sangat beragam. Dilain pihak, untuk mengakomodasi permintaan yang beragam tersebut tidak mudah dilakukan.  Oleh sebab itu, untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tersebut, upaya cetak ulang atau reproduksi materi tercetak yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian melalui Puslit/Balai Besar/Balai komoditas (UK/UPT) sepanjang materinya dinilai sesuai dengan kondisi setempat masih mungkin dilakukan.

4.2  Pembahasan

Dari lima materi informasi yang dihasilkan, baik dalam bentuk buku, CD, dan siaran TVRI materi utamanya adalah padi sawah. Salah satu pertimbangan mendasar dipilihnya  materi tersebut tidak terlepas dari dukungan Balai dalam melaksananakan kegiatan strategis Kementerian Pertanian di daerah, khususnya tentang dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi sawah.  Tahun 2010 kegiatan SL-PTT padi sawah non hibrida di Sumatera Barat tercatat 82.000 ha (3.280 unit), termasuk 39.000   ha di kabupaten FEATI.  Masing-masing adalah 9.000 ha (360 unit) di Kabupaten Solok; 5.000 ha (200 unit) di Kabupaten Solok Selatan, 8.000  ha (320 nit) di Pesisir Selatan, 9.000 ha (360 unit) di Padang Pariaman dan 8.000 ha (320 unit) di Limapuluh Kota.  Kegiatan SL-PTT dilaksanakan oleh kelompok tani pada hamparan seluas 25 ha  untuk setiap kelompok.  Dalam proses pendampingan SL-PTT tersebut, dari enam tugas pendampingan yang harus dilaksanakan oleh BPTP, satu diantaranya berhubungan langsung dengan kegiatan penyediaan materi informasi, yaitu menyiapkan, mecetak, mendistribusikan materi pelatihan berupa bahan cetakan kepada BPP dan penyuluh pendamping.  Tugas ini tentunya mendukung lima tugas pendampingan lainnya dalam konteks memperkuat kapasitas dan penguasaan informasi inovasi teknologi bagi petugas dan petani.

Dalam kaitan itu, materi informasi teknologi yang disajikan dalam dua buku utama adalah: (1). Buku Masalah lapang hama penyakit dan hara pada padi, memuat sebanyak 16 macam hama, 12 jenis penyakit, dan 5 jenis gejala kekurangan hara pada tanaman padi di lapangan. Informasi teknologi hama, penyakit, dan hara ini perlu diketahui lebih mendalam, baik oleh petugas lapangan maupun oleh petani sebagai pelaku.  Kesalahan dalam membaca gejala serangan hama/penyakit atau gejala defisiensi hara tertentu, dengan sendirinya akan mengakibatkan kesalahan dalam menafsirkan dan menentukan langkah-langkah pengendalian.  Kesalahan seperti ini apabila terjadi, tidak saja menyebabkan kerusakan tanaman karena gangguan hama/penyakit atau disebabkan keracunan hara tertentu sehingga pertumbuhan tanaman tidak normal, tetapi juga berdampak kepada biaya produksi menjadi lebih tidak efisien.   (2) Buku varietas unggul padi sawah amilosa tinggi (beras pera) memuat deskripsi 16 jenis varietas unggul padi sawah.  Varietas tersebut merupakan spesifik untuk konsumen etnik minang yang cenderung menkonsumsi beras pera.  Varietas pera tersebut selain dihasilkan dari Balai Besar Penelitian Padi, juga merupakan pemutihan dari varietas lokal yang berkembang luas pada daerah sentra produksi padi sawah di Sumatera Barat.  Varietas  Anak Daro dari Kota Solok, Junjuang (kabupaten Limapuluh Kota), Kuriek Kusuik (Agam), dan Caredek Merah dari Kabupaten Solok adalah-varietas lokal berkembang baik di masing-masing sentra penanaman.  Dibanding varietas alternatif, selain rasa pera, harga jual di pasaran lebih tinggi, sehingga petani cenderung mengusahakannya. Guna mempercepat dan memperluas penyebaran varietas tersebut maka kegiatan penangkaran benih perlu dioptimalkan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Upaya pemberdayaan petani melalui teknologi dan informasi akan berjalan baik apabila teknologi dan informasi dapat diakses dengan mudah.  Penyediaan media informasi sesuai kebutuhan pada waktu diperlukan akan sangat membantu pemanfaatannya secara efektif dan efisien.  Materi informasi yang dihasilkan berupa:  (i)  Buku Masalah Lapang Hama Penyakit dan Hara pada padi sawah;   (ii) Compact  Disk (CD) Informasi Teknologi Padi; (iii) Buku Deskripsi Varietas Unggul Padi Sawah Amilosa Tinggi (Beras Pera);  (iv) Tayangan TVRI Sumbar Produksi Benih padi sawah di Kabupaten Solok Selatan;   dan (v) Display/spanduk dalam pameran acara peresmian Gedung BPP Model se Sumatera Barat,  dipandang relevan dengan kebutuhan teknologi dan informasi mendukung pelaksanaan SL-PTT padi sawah non hibrida di Sumatera Barat, terutama pada 5 lokasi kabupaten FEATI.

5.2 Saran

Keberadaan UP FMA pada 4 kabupaten FEATI sebanyak 190 UP FMA cukup banyak dan kebutuhan inovasi teknologi spesifik lokasi yang membutuhkan dukungan media informasi juga sangat beragam. Dilain pihak, untuk mengakomodasi permintaan yang beragam tersebut tidak mudah dilakukan.  Oleh sebab itu, untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tersebut, upaya cetak ulang atau reproduksi materi tercetak yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian melalui Puslit/Balai Besar/Balai komoditas (UK/UPT) sepanjang materinya dinilai sesuai dengan kondisi setempat masih mungkin dilakukan.

 

Workshop Untuk Meningkatkan Keterkaitan

Antara Peneliti, Penyuluh Dan Petani

Di 5 Kabupaten Feati Di Sumbar

Oleh : Harmaini,Ermidias,Ellya Rosa,Sjofjendi Noer,Rafli Munir,M Sabir,Yusri renor,Eva Riza.

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

Workshop Untuk Meningkatkan Keterkaitan Antara Peneliti, Penyuluh dan Petani di 5 Kabupaten FEATI bertujuan untuk saling tukar informasi  tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan usahatani apakah teknologi usahatani yang telah dikembangkan oleh Peneliti, penyuluh maupun oleh Petani serta berbagai hal  berkaitan dengan kebijakan pembangunan pertanian . Tidak hanya saling tukar informasi pada waorkshop juga dihimpun umpan balik penerapan teknologi yang telah direkomendasikan oleh BPTP serta kebutuhan petani terhadap teknologi usahatani serta bentuk media informasi yang efektif. Workshop dilaksanakan di 5 Kabupaten FEATI (kab Solok, Kab Solok Selatan, Kab. Pd.Pariaman, Kab.Pesisir Selatan dan Kab. Lima Puluh Kota) dimulai pada minggu ke III bulan Mei sampai minggu ke IV Juni 2010 diikuti oleh peneliti, penyuluh, petani, pengambil kebijakan, perguruan tinggi, komisi penyuluhan dan menghasilkan 38 butir rumusan.  Diharapkan rumusan tersebut  dapat dijadikan masukan bagi unsur-unsur yang terlibat  dalam pembangunan pada saat menyusun rencana kerja ke depan.

EXECUTIVE SUMMARY

Workshop To Improve Linkage Between Research, Extension and Farmers on 5 FEATI District aims to exchange information about various matters related to farming activity whether farming technologies have been developed by researchers, extension workers and the farmers as well as various things related to agricultural development policy. Not only exchange information on workshop also collected feedback on the application of technology that has been recommended by BPTP and the needs of farmers towards farming technology as well as an effective form of information media. Workshop held on 5 FEATI District (Solok, Solok Selatan , Pd.Pariaman, Pesisir Selatan and Lima Puluh Kota) beginning on the third week of May until the fourth week in June 2010 followed by researchers, extension workers, farmers, policy makers, universities, education commissions and produces 38 grain formulation. It is expected that these formulas can be used as input for the elements involved in the development at the time of preparing the work plan forward.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan petani baik secara teknis maupun sosial ekonomi, pemerintah merupaya meningkatkan pengadopsian inovasi teknologi melalui menerapkan Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) atau Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI).

download selengkapnya