JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengembangan dan percepatan adopsi inovasi teknologi VUB dan komponen teknologi budidaya jagung lainnya untuk mendukung penerapan SL-PTT jagung di Aia Tajun, Kabupaten Padang Pariaman.

File lengkap klik disini

Sistem integrasi tanaman sawit dengan ternak sapi memberi bermacam manfaat antara lain limbah dan hasil ikutan agroindustri tanaman sawit menjadi sumber pakan yang menghasilkan daging, susu dan tenaga ternak, serta kotoran ternaknya menjadi sumber pupuk organik untuk mempertahankan kesuburan lahan. Dengan demikian pertimbangan mendasar dalam kegiatan ini adalah memanfaatkan pakan lokal untuk memacu pertumbuhan sapi potong dengan menggunakan hasil ikutan tanaman sawit. Apalagi KP Sitiung kini digunakan sebagai kebun sumber daya genetik tanaman sawit nasional, menjadikannya sebagai salah satu lokasi yang ideal sebagai lokasi percontohan pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak.

File lengkap klik disini

Varietas IR-42 yang mendominasi areal pertanaman padi sawah yang dilepas awal tahun 80-an terindikasi telah mengalami degradasi yang menyebabkan potensi hasilnya cenderung menurun dari musim ke musim. Dengan demikian, totalitas produksi padi Sumatera Barat tidak bisa dipacu, karena rata-rata hasil yang diwakili oleh IR-42 yang dominan tersebut tergolong rendah. Menyangkut komoditas unggulan lainnya seperti markisa di Kabupaten Solok, yang pada awal tahun 80-an berkembang pesat, akhir-akhir ini juga mengalami pengurangan areal cukup drastis. Selengkapnya

Keterbatasan keragaman varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen dan cekaman lingkungan baik biotik maupun abiotik menyebabkan penggunaan varietas lokal masih merupakan pilihan yang tidak terelakan di beberapa sebaran lokasi di Sumatera Barat.  Sebanyak 35% (81.075 ha) dari 231.643 ha luas sawah tahun 2010 menanam varietas local, yang sebagian besar tersebar ditemui pada Kabupaten Agam, Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Lima Puluh.

Sempitnya keragaman varietas yang dapat dikembangan sesuai dengan preferensi konsumen Sumatera Barat menyebabkan penerapan pengelolaan tanaman terpadu melalui pergiliran varietas yang memiliki sumber ketahanan yang berbeda kurang terlaksana dengan sempurna, keadaan demikian menyebabkan sering ditemui munculnya serangan organisme pengganggu tanaman  yang tersebar pada semua sentra produksi padi di Sumatera barat dengan intensitas ringan sampai berat. Penemuan varietas unggul baru secara berkesinambungan mutlak dilakukan dalam rangka mengantisipasi perubahan struktur organisme pengganggu tanaman dilapangan yang sangat dinamis, ketahanan suatu varietas unggul terhadap organisme pengganggu tanaman tidak dapat berlangsung lama.

Melalui  kegiatan jaringan litkaji pemulian BPTP Sumatera Barat tahun 2003 telah berhasil dilepas varietas Batang Piaman dan Batang Lembang, dan awal tahun 2012 dilepas Inpari 22 Batipuh. Varietas Inpari 21 Batipuah mempunyai keunggulan tahan terhadap penyakit blas dan wereng coklat dengan produksi tidak nyata dibandingkan varietas Batang Piaman, Penelitian tahun 2011 berhasil diseleksi 9 galur yang mempunyai potensi hasil 6,0-7,0 t/ha atau lebih tinggi 15 % dibandingkan varietas Batang Piaman dan 7-18%  dibanding Cisokan. Pengujian lebih lanjut terhadap galur-galur yang terpilih tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan dalam rangka memunculkan calon varietas unggul baru,

Kegiatan MT 2012 telah dilaksanakan koleksi plasmanutfah di Kabupaten Agam, Tranah Datar, Agam dan Lima Puluh Kota dan pengujian adaptasi 12 galur/varietas di Buayan Padang Pariaman, Koto Anau dan Jawi=Jawi Kabupaten Solok, kegiatan ditata dengan rancangan Acak Kelompok, ulang tiga kali, ukuran plot 4,0 m x 4,0 m. Takaran pupuk 280 kg, 100 kg dan 75 kg per ha masing-masing dalam bentuk Urea, SP36 dan KCl. Peubah yang diamati meliputi vigor tanaman, tinggi tanaman, umur berbunga dan masak, anakan produktif,  jumlah gabah dan prosentase gabah bernas per malai, bobot 1000 butir,  hama/penyakit, hasil   dan mutu fisik beras.

Hasil eksplorasi plasmanutfah varietas lokal padi sawah berturut-turut diperoleh 17 varietas di Kabupaten Tanah Datar, 27 varietas Kabupaten Solok, 11 varietas di Kabupaten Lima Puluh Kota dan 8 varietas Agam. Sembilan varietas lokal diantarnya cukup luas berkembang pada empat Kabupaten tersebut yaitu Kuriek Sangka di Kabupeten Tanah Datar, varietas Pandan Wangi dan Randah Putih di Kabupaten Solok, varietas Putih Malereng, Putih Haji dan Sungkam di Kabupaten Lima Puluh Kota serta varietas Kuriek Agam di Kabupaten Agam. Sebaran plasmanutfah varietas lokal tersebut sebagian besar ditemui pada elevasi > 500 m dari permukaan laut

Kisaran umur berbunga koleksi plasmanutfah sangat lebar yaitu 87-130 hari, dengan  umur masak panen 119 – 162 hari. Sebaran umur berbunga plasmanutfah dibagi atas tiga kelompok yaitu kurang dari 90 hari  terdapat 7 varietas, kisaran 90 – 100 hari terdapat 25 varietas dan besar dari 100 hari terdapat 20 varietas. Mengacu pada selang waktu dari berbunga sampai masak panen yaitu 25 – 35 hari, ternyata hanya satu varietas yaitu Seratus Hari Putih yang berasal dari Saruaso Tanah Datar dengan elervasi 345 m dpl umur masak panen yang kurang dari 120 hari dan termasuk klasifikasi umur  genjah, 34 varietas umur masak panen berkisar 120 – 135 hari dengan klasifikasi umur sedang dan 17 varietas mempunyai umur masak panen lebih dari 135 hari. Sebagian besar varietas yang berumur masak panen 120-135 hari diperoleh dari lingkungandengan elevasi 500-1000 m dpl sedangkan yang umur masak panen lebih panjang dari 135 hari umumnya bersal dari lingkungan diatas 1000 m dpl. Kondisi umur masak panen plasmanutfah tersebut pada lingkungan dibudidayakan lebih panjang dibandingkan dengan pertanaman plasmanutfah saat ini.

Keragaan prototype tinggi tanaman berkisar 133,33 – 228,33 cm, berdasarkan pengelompokan tinggi tanaman tidak ditemui tanaman pendek (< 110 cm), 11 varietas tinggi tanamanm sedang (110-130 cm) dan 41 varietas termasuk klasifikasi tanaman yang tinggi dan bahkan 8 varietas diantaranya tinggi tanaman > 200 cm. Kondisi tinggi tanaman yang tinggi tersebut menyebabkan rentan rebah, pada linggkungan berkembangnya varietas tersebut tinggi tanaman relatif jauh lebih rendah dibandingkan dengan di Bandar Buat.

download laporan lengkap disini

Sempitnya keragaman varietas yang dapat dikembangan sesuai dengan preferensi konsumen Sumatera Barat menyebabkan penerapan pengelolaan tanaman terpadu melalui pergiliran varietas yang memiliki sumber ketahanan yang berbeda kurang terlaksana dengan sempurna, keadaan demikian menyebabkan sering ditemui serangan organisme pengganggu tanaman yang tersebar pada semua sentra produksi padi dengan intensitas ringan sampai berat. Penemuan varietas unggul baru secara berkesinambungan mutlak dilakukan dalam rangka mengantisipasi perubahan struktur organisme pengganggu tanaman dilapangan yang sangat dinamis, ketahanan suatu varietas unggul terhadap organisme pengganggu tanaman tidak dapat berlangsung lama. selengkapnya