JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengembangan teknologi  salibu pada padi sawah di tiga zona agro ekosistim di Sumatera Barat. Pengkajian dilaksanakan di  Kabupaten Solok,  Tanah Datar dan Kota Padang kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh BPTP Sumatera Barat tahun 2014. HSalah satu misi kerja Badan Litbang Pertanian adalah menghasilkan teknologi inovatif, tepat guna spesifik lokasi dan spesifik pemakai. Upaya dalam peningkatan produksi padi mengarah pada pengembangan teknologi yang peningkatan produktivitas lahan dan meningkatkan indeks panen, salah satu cara adalah dengan  budidaya padi teknologi Salibu (ratun yang dimodifikasi). Dalam usaha pengembangan dan memasyarakatkan  teknologi salibu ini perlu kiranya di laksanakan pada bebrapa agro ekosistim lahan. Tujuan pengkajian berkembangnya teknologi salibu pada budidaya padi sawah  di Sumatera Barat, yang mampu meningkatkan produktivitas dan penda-patan petani. Kegiatan dilaksanakan di tanah petani Nagari Guguk Kab. Solok,  Nagari Tabek Kab. Tanah Datar dan Nagari Sungai Sapih Kota Padang. Pengkajian dilaksanakan  beberapa tahap, 1) sosialisasi dan pelatihan teknologi salibu, 2) kegiatan lapangan demplot dan gelar teknologi, 3) temu lapang peneliti dengan petani dan penyuluh. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan dan hasil : Tinggi tanaman vegetativ, dan generative/saat panen, Jumlah anakan, Jumlah biji per malai, Bobot biji, Persentase biji hapa, Hasil gabah kering giling/ha, dan data pendungkung lainya;  Curah hujan dan hari hujan, dan Analisa usaha tani (tahun 2014). Dari hasil pengkajian terlihat bahwa pertumbuhan awal tanaman menunjukan  teknologi salibu sama atau lebih baik dibanding sistim tanam pindah, hal yang sama juga terlihat pada tanaman umur 45 hari. Dari kompnen hasil yang diamati terlihat bahwa jumlah anakan produktif dan jumlah butir permalai lebih nyata perbedaannya, sedangkan tinggi tanaman, panjang malai bobot biji dan persentase gabah hampa relatif sama. Hasil tekologi salibu 6,8 ton/ha sedangkan hasil tenologi tanam pindah hanya 6,5 ton/ha. Temu lapang dilaksanakan sebanyak 2 kali, tanaman umur 30 hari dan saat panen. Temu lapang pertama dihadiri oleh Kadis Pertanian TK II, Penyuluh Pertanian, anggota kelompok tani serta tokoh masyarakat dan undangan lainya, jumlah undangan yang hadir diperkirakan sekitar 150 orang. Temu lapang kedua dihadiri oleh Bapak Wakil Mentri pertanian, Bupati Solok, Kadis Pertanian TK I, Ka BPTP Sumbar, Penyuluh Pertanian, anggota kelompok tani serta tokoh masyarakat dan undangan lainya, jumlah undangan yang hadir diperkirakan sekitar 350 orang. Analisa usahatani memperlihatkan bahwa biaya produksi teknologi salibu hanya Rp. 2.200.0000/ha sedangkan biaya produksi tanam pindah Rp. 4.900.000/ha, terjadi selisih biaya produksi sekitar Rp. 2.700.000,-. Biaya saprodi teknologi salibu Rp. 900.000., untuk tanam pindah Rp. 1.050.000.-. Keuntungan dengan teknologi salibu Rp.24.100.000), tanam pindah (Rp.21.050.000), terjadi tambahan keuntungan untuk teknologi salibu Rp. 3. 050.000. setiap kali panen. Untuk lebih lengkapnya hububgi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Kegiatan Pengelolaan Laboratorium Diseminasi (Labdis) Padang bertujuan untuk: (1) Memanfaatkan lahan Laboratoriumatorium Diseminasi Padang dengan pengembangan 10 (sepuluh) jenis tanaman hias dan bibit buah-buahan,  penanaman dan pemeliharaan 25 (dua puluh lima) jenis plasma nutfah buah-buahan unggul nasional maupun spesifik lokasi Sumatera Barat serta percontohan Kawasan Pangan Lestari (KPL); (2) Memberikan pelayanan teknologi melalui media cetak dan konsultasi serta percontohan di lapangan Kegiatan dilaksanakan di Lahan Laboratorium Diseminasi Padang pada bulan Januari sampai Desember 2014. Kegiatan yang dilakukan terdiri dari: (1) Memelihara dan memperbanyak 10 jenis tanaman hias, yaitu: anggrek, anthurium, philodendron, aglaonema, sensiviera, bromelia, adenium, pucuk merah, jamaika dan Raphis excelsa; (2) Memelihara  25 jenis plasma nutfah tanaman buah-buahan yang sudah ditanam  pada tahun 2009-2013; (3) Menanam 20 batang bibit buah-buahan pada pot dan lahan yang masih kosong serta menyisip tanaman yang mati; (4) Membuat taman; (5) Membangun dan memelihara Kawasan Pangan Lestari (KPL); (6) Memberikan Pelayanan teknologi melalui penyebaran media cetak dan konsultasi tentang inovasi teknologi pertanian dan proses diseminasi pada Pos Yantek. Sampai akhir Desember 2014, lahan Laboratorium Diseminasi Padang telah dimanfaatkan dengan melakukan pemeliharaan terhadap 10 jenis tanaman hias sehingga jumlah tanaman mencapai 905 pot, dan 26 pot tanaman terjual dengan nilai Rp 656.000,- yang disetorkan ke Balai tanggal 18 Desember 2014. Sebanyak 25 jenis atau  161 batang tanaman buah-buahan unggul telah dipelihara secara rutin, beberapa tanaman telah berbuah.  Percontohan KPL juga telah dibangun dan dipelihara secara rutin. Lahan KPL, pembibitan buah-buahan dan tanaman hias  telah menjadi objek kunjungan dan pembelajaran bagi masyarakat.  KPL telah berproduksi dan dipasarkan secara rutin setiap hari rabu, sehingga telah terbentuk pasar tani mini pada setiap hari Rabu di Laboratorium Diseminasi Padang. (2) Pelayanan teknologi telah dilakukan melalui penyebaran media cetak dan konsultasi bagi mahasiswa, kelompoktani dan masyarakat umum lainnya. Telah berkunjung sebanyak  69 0rang mahasiswa, 25 orang anggota kelompoktani, 14 orang siswa SLB,  dan 159 orang masyarakat umum yang datang secara perorangan. Untuk lebih lengkapnya hububgi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Dengan adanya pertanaman jeruk yang telah eksis dan berproduksi cukup luas serta adanya perluasan wilayah pengembangan, maka pendampingan inovasi teknologi budidaya oleh BPTP Sumbar sangat diperlukan. Kegiatan pendampingan terdiri dari sosialisasi teknologi jeruk sehat, demoplot budidaya jeruk di Candung, Kab. Agam serta penerapan inovasi teknologi jeruk di visitor plot.  Kegiatan dilaksanakan pada bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Desember 2014.  Tujuannya adalah untuk memperbaiki pengelolaan produksi jeruk melalui difusi inovasi teknologi.  Sasaran pendampingan ini adalah diterapkannya inovasi teknologi pengelolaan kebun jeruk sehat spesifik Sumatera Barat oleh pelaku agribisnis sehingga mendukung percepatan perluasan kawasan pengembangan jeruk unggulan daerah dan sekaligus peningkatan kesejahteraan petani.

Sampai dengan bulan Desember 2014, kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan adalah terlaksananya 4 kali koordinasi pelaksanaan kawalan teknologi budidaya antara Dinas Pertanian/Kabupaten, Balitjestro serta BPTP Sumbar; terlaksananya 3 kali sosialisasi budidaya jeruk bebas penyakit pada petani jeruk di Kab. Agam, Solok Selatan dan Limapuluh Kota, terbangunnya Demoplot jeruk di Candung, Kab. Agam, serta telah terlaksananya survey untuk mengetahui teknologi budidaya yang diterapkan oleh petani jeruk di Kab. Agam dan Solok Selatan.  Selain itu, aplikasi inovasi teknologi jeruk di visitor plot KP. Sukarami juga dilakukan.  Dari kegiatan tersebut didapat hasil bahwa aplikasi inovasi teknologi kebun jeruk sehat di lokasi Demoplot (Candung, Kab. Agam) berdampak pada penurunan intensitas serangan embun tepung dan embun jelaga secara nyata (76%), serta meningkatkan rata-rata jumlah buah/ranting contoh sampai 173,5% bila dibandingkan dengan petani pembanding.  Pada penerapan inovasi teknologi budidaya jeruk sehat (13 item) di Candung (Kab. Agam) dan Pikonina (Kab. Solok Selatan) masing-masing rata-rata hanya mencapai 25,3 dan 17,2%.  Sedangkan aplikasi mulsa yang berasal dari potongan tanaman Titonia pada pertanaman jeruk visito plot yang berumur 1 tahun relatif meningkatkan pertumbuhan tanaman dibandingkan aplikasi mulsa lainnya. Untuk lebih lengkapnya hububgi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya dengan keanekaragaman hayati, termasuk sumber daya genetik (SDG). Dengan adanya keragaman SDG Pertanian disertai dengan keragaman budaya di masing-masing daerah akan semakin beragam tingkat pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam memanfaatkan SDG untuk keperluan pangan, papan, sandang, obat-obatan maupun bahan baku industri dalam skala komersial.  Mengingat hal tersebut, maka perlu penguatan kemampuan pengelolaannya pada tingkat daerah.

Komisi Nasional (KOMNAS) SDG telah mendorong pembentukan Komisi Daerah (KOMDA) SDG di berbagai daerah di Indonesia. Sampai dengan tahun 2014 telah berdiri 20 KOMDA, yaitu 18 KOMDA tingkat Provinsi (Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Riau, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali, Sumatera Barat, dan Bengkulu) serta dua KOMDA tingkat Kabupaten / Kotamadya yaitu KOMDA Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Adapun tugas KOMDA antara lain meliputi: (a) memberikan saran kepada Kepala Daerah yang bersangkutan mengenai pelaksanaan dan pengaturan pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah di daerah; (b) memberikan masukan kepada Kepala Daerah tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengkajian dan pemilihan teknologi yang dapat diterapkan dalam pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah; (c) melakukan evaluasi perkembangan dari pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah; (d) mempromosikan pentingnya plasma nutfah khas daerah dan pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangannya; dan (e) melakukan koordinasi kerja dengan Komnas  Sumberdaya Genetik. Meskipun demikian, diantara KOMDA yang telah terbentuk saat ini, tampaknya belum semuanya merealisasikan program pelestarian plasma nutfah sesuai dengan yang diharapkan karena adanya berbagai macam kendala di daerah masing-masing. Hal ini ditunjukkan oleh tidak adanya kegiatan yang dipublikasikan atau diinformasikan oleh KOMDA masing-masing kepada instansi lain (Komnas, 2002).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penguatan kelembagaan pengelolaan sumber daya genetik di Sumatera Barat melalui penguatan Komda SDG Provinsi Sumatera Barat sangat diperlukan dengan tujuan untuk memperdayakan kembali peran KOMDA SDG dalam mendukung program desentralisasi, diantaranya: (a) peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola keaneka-ragaman hayati; (b) penciptaan mekanisme koordinasi; (c) penyesuaian alokasi kewenangan dan sumber daya pengelolaan; dan (d) penerapan valuasi yang akurat terhadap sumber daya.  Dari kegiatan ini, maka terbentuklah kepengurusan KOMDA SDG Sumbar, dengan Ketua Prof. Drh. Hj. Endang Purwati, MS, Ph.D.  yang telah disahkan tanggal 20 Oktober 2014 dan dilantik tanggal 21 Oktober 2014 oleh Gubernur Sumatera Barat. Untuk lebih lengkapnya hububgi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Penggunaan benih bermutu dan berlabel di Sumatera Barat sebelum dilakukan bantuan benih langsung relatif masih kecil yaitu masih kurang dari 30%. Varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen yaitu yang mempunyai tekstur nasi pera relatif masih kurang, disamping harga benih tidak terjangkau oleh petani hal demikian menyebabkan rendahnya pemakaian varietas unggul dengan yang yang berkualitas. Mengingat begitu pentingnya fungsi benih dalam ketahanan pangan, maka penggunaan varietas unggul yang sesuai preferensi konsumen dan sisitem produksi benih secara berkelanjutan menjadi semakin penting. Untuk meningkatkan penyediaan benih sumber yang bermutu, maka BPTP Sumbar melakukan kegiatan perbanyakan benih padi sawah yang sesuai dengan preferensi konsumen. Kegiatan produksi benih sumber dilakukan pada lahan sawah petani dengan kriteria air irigasi mencukupi sepanjang tahun, tidak merupakan daerah endemik organisme pengganggu tanaman sebelumnya dan transfortasi lancar. Kepada petani kooperator dilakukan sosialisasi sistem dan teknologi produksi benih sumber. Pendampingan petani dilakukan mulai dari persemaian, penanaman, pemupukan dan persemaian. Sertifikasi dilakukan oleh petugas/koordinator BPSB-TPH Propinsi Sumatera Barat pada masing-masing Kabupaten/Kota yang dimulai dari pemeriksaan lapangan calon lakasi untuk menentukan kelayakan sebagai lokasi penangkran, selanjutnya pemeriksaan lapangan pada stadia anakan maksimun, stadia berbunga dan masak. Sebelum pemeriksaan petugas BPSB-TPH seleksi/rouging dlakukan oleh tim pengkaji sebanyak empat kali yaitu, saat pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, stadia berbunga penuh dan stadia masak panen yaitu seminggu sebelum panen atau 20 hari setelah berbunga penuh. Gabah kering panen dikuasai oleh UPBS BPTP Sumatera Barat untuk menjadi calon benih. Calon benih yang telah mempunyai kadar air >12% dan daya tumbuh minimal 80% dari hasil pengujian laboratorium UPBS BPTP diajukan untuk pengujian. Realisasi produksi benih padi TA 2014 telah dihasilkan sebanyak Realisasi produksi benih padi TA 2014 telah dihasilkan sebanyak 36.773 kg benih padi sawah dengan kuantitas kelas BD sebanyak 22.967 kg, BP sebanyak 13.531 kg dan BR sebanyak 275 kg yang merupakan turun kelas BP ke BR karena tingginya CVL dilapangan. Sebanyak 23.308 kg diantaranya telah disimpan di gudang UPBS dengan kuantitas benih sumber kelas BD sebanyak 15.067 kg dan yang terbanyak adalah varietas Batang Piaman (4.917 kg) diikuti oleh varietas Saganggam Panuah, Inpari 21 Batipuah, IR 42 dan Inpari 13 masing-masing adalah 3.820 kg, 3.104 kg, 2.140 kg dan 1.086 kg. Sedangkan kuantitas benih kelas BP adalah 7.966 kg yang terbanyak ditemui pada varietas Batang Piaman yaitu sebanyak 2.381 kg, diikuti oleh varietas Ceredek Merah, Inpari 21 Batipuah dan Anak Daro masing-masing sebanyak 1.933 kg,  1.852 kg dan 1.800 kg, serta kelas BR sebanyak 275 kg terhadap varietas IR 66. Sejumlah 13.465 kg yang sebagian besar terdiri dari varietas dengan tekstur nasi pulen dihibahkan pada penangkar sebagai mitra dengan kuantitas kelas BD sebanyak 7.900 kg dan BP 5.565 kg. Untuk lebih lengkapnya hububgi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.