JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Eskalasi Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) Integrasi Kakao Dengan Sapi Di Kabupaten Padang Pariaman

Kegiatan Pendampingan Program Strategis Kementerian Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Provinsi Sumatera Barat telah dilakukan melalui beberapa kegiatan antara lain: Pendampingan Pengelolaan Tanaman Terpadu padi sawah, jagung dan kedelai, Pendampingan Program PKAH, Pendampingan Program PSDSK, dan Pendampingan Kalender Tanam Terpadu. Program Pendampingan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. Dalam upaya mendukung target surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014. Untuk mempercepat pengembangan Program PTT secara nasional, Kementerian  Pertanian meluncurkan program Sekolah Lapang (SL) PTT. Tujuan dari kegiatan adalah: (a) Melaksanakan kesepakatan dengan Dinas terkait dan Pemda Kab/kota dalam pelaksanaan pendampingan PTT padi sawah, jagung dan kedelai, PKAH, PSDSK dan program kalender tanam; (b) Melakukan pendampingan dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kemauan petani untuk penerapan inovasi teknologi PTT padi sawah, jagung dan kedelai, PKAH dan PSDSK dan kalender tanam; (c) Meningkatkan produktivitas dan mempercepat penerapan inovasi teknologi padi sawah, jagung dan kedelai melalui program PTT; (d) Meningkatkan produktvitas dan mempercepat penerapan inovasi teknologi budidaya tanaman jeruk, bawang merah untuk dataran rendah, cabe dan perbanyakan benih kentang melalui pendampingan PKAH; (e) Meningkatkan kemampuan SMD dan peternak dalam manajemen pemeliharaan sapi potong; (f) Memanfaatkan sumber daya lokal (limbah tanaman) dalam memenuhi kebutuhan pakan untuk meningkatkan produktivitas sapi potong mendukung PSDSK di Sumatera Barat; (g) Melihat persepsi dan tingkat adopsi peternak terhadap komponen teknologi yang diberikan; (h) Validasi dan verifikasi data dalam kalender tanam meliputi penyebaran varietas, kebutuhan pupuk, OPT dan kondisi eksisting, dan (i) Mendesiminasikan penggunaan Kalender Tanam yang Dinamik setiap musim tanam. Hasil kegiatan pendampingan sebagai berikut: (1) Kegiatan koordinasi telah dilakukan dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Bakorluh Provinsi Sumatera Barat serta Dinas Pertanian dan Bapeluh Kabupaten lokasi pendampingan SL-PTT padi sawah, jagung dan kedelai, pendampingan PKAH, Pendampingan PSDSK dan Pendampingan Gugus Tugas Katam Terpadu; (2) Sosialisasi kegiatan telah dilakukan dengan BPK, PPL dan anggota poktan pelaksana kegiatan pendampingan SL-PTT padi sawah, jagung dan kedelai, dan pendampingan PKAH, pendampingan PSDSK; (3) VUB Inpari 13 dan Inpari 30 cukup potensi untuk dikembangkan di Kabupaten Pasaman dan Dharmasraya, sedangkan Inpari 21-Batipuah cocok dikembangkan di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Sijunjung dan Tanah Datar. Jagung hibrida Bima 19 (URI) cukup potensial untuk dikembangkan di kawasan pengembangan jagung, sedangkan VUB Argomulyo dan Burangrang memberikan hasil cukup baik di Pasaman Barat; (4) Kegiatan temu lapang dihadiri oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pelaksana Penyuluhan, BPK, PPL, Walinagari, Pengurus dan anggota kelompok tani pelakasana kegiatan displai VUB padi sawah dan jagung; (5) Kegiatan perbanyakan dan distribusi media cetak telah dilakukan untuk mendukung pelaksanaakn kegiatan pendampingan SL-PTT padi sawah, jagung dan sdemfarm kedelai di Sumatera Barat; (6) Survei tingkat aplikasi teknologi budidaya diketahui bahwa petani (anggota kelompok) rata-rata hanya memiliki <100 tanaman/lahan dengan varietas Siam Madu, dengan luas kebun yang relatif sempit.  Sedangkan untuk teknologi budidaya yang diaplikasikan oleh setiap anggota kelompok umumnya rendah. Visitor Plot Jeruk ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukarami dengan jumlah 45 batang, Varietas yang digunakan adalah Jeruk Keprok Batu 55, yang di tanam pada Bulan April 2013. Tanaman-tanaman tersebut perlu pemeliharaan; (7) Hasil demplot varietas bawang merah hasilnya rendah yaitu varietas Bima 3,3 t/ha (basah) dan Katumi 1,4 t/ha (basah),  bahkan var. Pikatan dan Mentes tidak menghasilkan. Kegiatan demplot  budidaya cabe merupakan kegiatan paket pemupukan dengan menggunakan varietas cabe Kopay dan varietas Kencana. Pelaksanaan kegiatan ini mengalami kemarau dan kekeringan yang berakibat tanaman mati; (8) Varietas kentang digunakan adalah G2 Granola. Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman dan jumlah tunas yang dilakukan pada umur 50 hst, rata-rata tinggi tanaman 56,6 cm. Jumlah tunas berkisar antara 4,63 batang. Umbi bibit kentang G3 varietas Granola sebanyak 959,68 kg; (9) Program Pendampingan Teknologi yang dilakukan melalui pelatihan langsung di empat lokasi telah dapat dilaksanakan dengan baik, dipahami dan peternak mampu dengan trampil dalam melaksanakan komponen teknologi yang diberikan; (10) Sebaran adopsi (SA) 65%, berarti komponen teknologi yang telah didesiminasikan dapat diadopsi peternak lebih dari 50%. Intensitas adopsi (IA) sangat baik pada setiap komponen teknologi terutama pada pemanfaatan BIS. sementara tingkat adopsi (TA) 36,25%; (11) Kegiatan Katam Terpadu telah dilakukan koordinasi dan sosialisasi dengan pemangku kebijakan dan validasi data;  verifikasi data melalui Google Drive; serta melakukan koordinasi ke pusat. Melaksanakan identifikasi, monitoring dan evaluasi kejadian perkembangan dan gejala ancaman kekeringan, banjir, eksplosivitas OPT. untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.