JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengelolaan Kebun Percobaan Sukarami tahun 2015, lebih diarahkan pada pemeliharaan plasma nutfah yang sudah ada yang ditanam/diusahakan beberapa tahun sebelumnya baik tanaman maupun ternak. 

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempertahankan dan memelihara asset yang sudah ada berupa plsma nutfah tanaman dan ternak seperti tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman sayuran, tanaman hijauan makanan ternak (HMT), ternak sapi Simental dan kambing Burka.

Pemeliharaan tanaman koleksi dan HMT yang dilakukan meliputi ; 1) penyiangan gulma dan sanitasi kebun dengan sistim manual dan herbisida, 2) Pemupukan dengan pupuk organik dan anorganik dengan dosis anjuran dan frekuensi 2 kali setahun, 3) penyiraman/pengairan, 4) pengendalian hama dan penyakit (menggunakan pestisida anjuran) serta penerapan paket pengendalian hama-penyakit terpadu (PHT).  Sedangkan pemeliharaan ternak (sapi dan kambing) meliputi; 1) pemberian pakan HMT bermutu, 2) pemberian pakan tambahan (kosentrat), 3) pemeriksaan dan pengendalian penyakit, 4) pelaksanaan perkawinan dengan sistim Inseminasi Buatan (IB) pada ternak sapi sesuai dengan siklus berahi ternak, dan perkawinan alami pada kambing, 5) pencatatan bobot anak lahir dan perkembangan fisik (ditimbang setiap bulan).

Hasil kegiatan yang diperoleh terpeliharanya plasma nutfah dan berupa hasil panen tanaman yang dapat disetorkan berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) berasal dari tanaman pisang 550 sisir, alpukat 300 kg dan jagung manis 1.000 kg serta kelahiran pedet ternak sapi Simental 2 ekor dan 5 ekor anak kambing. 

Selain itu optimalisasi pemeliharaan plasma nutfah tanaman sering terkendala oleh berbagai gangguan seperti pengembalaan ternak secara liar/ilegal, pencurian hasil tanaman dan banyaknya penyerobotan lahan kebun percobaan oleh peladang ilegal serta perusakan pagar kebun percobaan oleh masyarakat sekitar kebun percobaan. Untuk Lebih Lengkapnya Klik Disini

 

Penggunaan benih bermutu dan berlabel di Sumatera Barat sebelum dilakukan bantuan benih langsung relatif masih kecil yaitu masih kurang dari 30%. Varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen yaitu yang mempunyai tekstur nasi pera relatif masih kurang, disamping harga benih tidak terjangkau oleh petani hal demikian menyebabkan rendahnya pemakaian varietas unggul dengan yang yang berkualitas. Mengingat begitu pentingnya fungsi benih dalam ketahanan pangan, maka penggunaan varietas unggul yang sesuai preferensi konsumen dan sisitem produksi benih secara berkelanjutan menjadi semakin penting. Untuk meningkatkan penyediaan benih sumber yang bermutu, maka BPTP Sumbar melakukan kegiatan perbanyakan benih padi sawah yang sesuai dengan preferensi konsumen. Kegiatan produksi benih sumber dilakukan pada lahan sawah petani dengan kriteria air irigasi mencukupi sepanjang tahun, tidak merupakan daerah endemik organisme pengganggu tanaman sebelumnya dan transfortasi lancar. Kepada petani kooperator dilakukan sosialisasi sistem dan teknologi produksi benih sumber. Pendampingan petani dilakukan mulai dari persemaian, penanaman, pemupukan, rouging dan panen. Sertifikasi dilakukan oleh petugas/koordinator BPSB-TPH Propinsi Sumatera Barat pada masing-masing Kabupaten/Kota yang dimulai dari pemeriksaan lapangan calon lakasi untuk menentukan kelayakan sebagai lokasi penangkaran, selanjutnya pemeriksaan lapangan pada stadia anakan maksimun, stadia berbunga dan masak. Sebelum pemeriksaan petugas BPSB-TPH seleksi/rouging dlakukan oleh tim pengkaji sebanyak empat kali yaitu, saat pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, stadia berbunga penuh dan stadia masak panen yaitu seminggu sebelum panen atau 20 hari setelah berbunga penuh. Gabah kering panen dibeli dan selanjutnya diproses menjadi calon benih di UPBS BPTP Sumatera Barat, calon benih yang telah mempunyai kadar air <12% dan daya tumbuh minimal 80% dari hasil pengujian oleh UPBS BPTP dilaporkan pada petugas BPSB-TPH untuk pengambilan sampel sebagai bahan untuk diuji pada labor BPSB-TPH. Realisasi hasil produksi benih padi sampai akhir Desember 2015 pada musm tanam I mencapai 62.945 Kg dengan rincian dihibahkan 21.240 kg, masuk gudang 31.855 kg, gagal jadi benih 9.850 kg. Benih Dasar 6.454kg dan benih pokok 45.011kg  dan telah terdistribusi sebanyak 32.042kg dengan nilai Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp336.408.000. Kondisi  pertanaman pada MT II sampai saat ini cukup baik dan telah panen varietas Inpari 21 sebanyak 750 kg dan  B.Piaman 4.450 kg sebagai calon benih dalam proses pelabelan, sedangkan pertanaman lainnya panen tertunda hingga  bulan Februari 2016 berupa varietas B.Piaman, Inpari 21, dan Inpari 17.

Kata kunci ; padi sawah, varietas, benih.   Untuk Lebih Lengkapnya Klik Disini

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kedelai adalah ketersediaan benih bermutu. Sejak tahun 2007 pemerintah melaksanakan program benih kedelai berbantuan kepada para petani guna mengatasi permasalahan ketersediaan benih bermutu di tingkat petani. Sebagai lembaga penghasil inovasi teknologi, Balitbangtan dituntut untuk berperan aktif dalam program nasional tersebut melalui penyediaan benih sumber, terutama dalam kaitannya dengan upaya percepatan pengembangan varietas unggul baru. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu benih kedelai yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kegiatan ini bertujuan utama untuk memperkuat sistem perbenihan dan penangkar benih kedelai di Provinsi Sumatera Barat. Secara terperinci, tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini antara lain untuk:      (a) memproduksi benih sumber varietas unggul kedelai kelas benih dasar (FS) sebanyak 1,0 ton; dan (2) memproduksi benih sumber varietas unggul kedelai kelas benih pokok (SS) sebanyak 29,97 ton. Kegiatan dilaksanakan pada berbagai lokasi di Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Sijunjung, dan Kota Sawahlunto) seluas 31,5 ha untuk memproduksi benih kelas SS dan 1,0 ha untuk memproduksi benih kelas FS. Varietas unggul yang digunakan sebagai sumber benih kelas SS adalah: Anjasmoro, Panderman, Bueangrang, dan Gepak Kuning. Sedangkan untuk benih kelas FS adalah Anjasmoro. Komponen teknologi sesuai anjuran Balitbangtan diterapkan dalam kegiatan ini. Hasil sementara kegiatan perbanyakan benih kedelai sampai laporan ini ditulis dapat disimpulkan, antara lain: (1) Kegiatan perbanyakan benih kedelai terealisasi seluas 31,5 ha untuk menghasilkan benih kelas SS varietas Anjasmoro, Panderman, Burangrang, dan Gepak Kuning. Sedangkan untuk kelas benih FS varietas Anjasmoro seluas 1,0 ha; (2) Calon benih kedelai yang dihasilkan sebanyak 8.673 kg. Dari calon benih ini, dihasilkan benih bersertifikat kelas benih SS sebanyak 4.825 kg; (3) Masih akan dihasilkan lagi benih kelas SS yang saat ini dalam proses pasca panen di tingkat petani dan seleksi benih di UPBS; dan (4) Benih kelas FS saat ini masih stadia mulai berbunga. Diperkirakan panen pada awal Februari 2016. Untuk lebih lengkapnya klik disini

Dalam lima tahun terakhir ini, produksi cabe di Provinsi Sumatera Barat menunjukkan tendensi peningkatan yang tajam dari tahun ke tahun. Sementara itu, produktivitas cabe terlihat tendensi meningkat pada tahun 2009-2012 dan selanjutnya menurun, yaitu: 6,25 t/ha, 6,74 t/ha, 7,42 t/ha, 8,63 t/ha, dan 8,18 t/ha, berturut-turut dari tahun 2009 sampai 2013. Pada daerah sentra produksi cabe, produktivitas ini sangat bervariasi antara 5,23-12,71 t/ha. ). Produktivitas ini jauh lebih rendah dibanding potensinya yang dapat mencapai 20 t/ha. Tujuan kegiatan ini adalah: (a) Melakukan  pendampingan  dalam  rangka  meningkatkan   kemampuan dan kemauan petani untuk penerapan inovasi teknologi PTT cabe; dan (2) Meningkatkan produktivitas dan mempercepat penerapan inovasi teknologi PTT cabe.

Kegiatan ini merupakan diseminasi hasil teknologi yang dikemas dalam bentuk kegiatan “demplot dan pelatihan”. Kegiatan demplot PTT cabe dan pelatihan dilaksanakan di Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, sedangkan kegiatan pelatihan PTT cabe dilaksanakan di Kabupaten Tanah Datar, Limapuluh Kota, Solok, Pasaman Barat, Kota Padang, dan Padang Panjang pada bulan Januari sampai Desember 2015.

Dari hasil kegiatan pendampingan pengembangan kawasan pertanian nasional hortikultura komoditas cabe sampai laporan ini ditulis dapat disimpulkan, antara lain: (1) Telah dilaksanakan sebanyak tujuh kali pertemuan dalam bentuk pelatihan dan diskusi lapang pada enam kabupaten/kota yang melibatkan sekitar 244 orang, dengan topik “Inovasi teknologi budidaya cabe”; (2) Pada lokasi demplot telah dilakukan sebanyak lima kali pelatihan yang melibatkan sekitar maksimum 40 orang setiap pelatihan. Pelatihan juga mendatangkan narasumber dari BBP2TP Bogor; (3) Teknologi existing pada tingkat petani di Kecamatan Pariangan adalah petani masih menggunakan varietas cabe lokal dengan produktivitas sekitar 5 t/ha; dan (4) Pertumbuhan tanaman terbaik adalah varietas Lotanbar, sedangkan dosis terbaik adalah 750 kg/ha.  Untuk lebih Lengkapnya Klik Disini

Salah satu pendekatan untuk meningkatkan produksi kedelai dilakukan melalui introduksi varietas unggul baru produktivitas tinggi, yang dibudidayakan dengan pendekatan pengolahan tanaman terpadu (PTT). Penyebarluasan PTT dilakukan melalui Sekolah Lapang (SL). SL-PTT merupakan pendekatan paling efektif untuk saat ini dalam mendukung program percepatan peningkatan produksi tanaman pangan. Oleh karena itu SL-PTT telah diadopsi oleh Derektorat Jenderal Tanaman Pangan sebagai salah satu program strategis Kementerian Pertanian untuk peningkatan produktivitas dan produksi pangan termasuk kedelai.

Berkaitan dengan hal di atas, dan sesuai dengan kebutuhan spesifik Sumatera Barat, maka Demfarm PTT kedelai dapat dilaksanakan di Kabupaten Pasaman Barat oleh karena Kabupaten tersebut merupakan pengembangan komoditas kedelai di Sumatera Barat tahun 2014.

Tujuan Supaya petani kedalai mengetahui, memahami dan biasa menerapkan komponen-komponen teknologi budidaya kedelai secara benar.

Keluaran Terlaksananya percepatan diseminasi inovasi teknologi dengan:

  1. Dipahaminya komponen - komponen teknologi spesifik lokasi PTT kedelai oleh petani.
  2. Terlaksananya Demfarm PTT kedelai di kawasan SL-PTT sehingga dapat meningkatkan hasil.

Lokasi Kegiatan Di Kanagarian Simpang Tigo, Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Pasaman Barat

Jangka Waktu Februari  Juni 2014

Biaya Rp 18.500.000

Hasil

Demfarm PTT kedelai di Kanagarian Simpang Tigo, Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Pasaman Barat diperoleh hasil dimana dari 4 varietas unggul kedelai (Panderman, Agromulyo, Burangrang, dan Gepak Kuning) yang diuji, varietas Agromulyo mempunyai hasil tertinggi, yaitu rata-rata 2 ton/ha. Varietas tersebut mempunyai ukuran biji lebih besar, berat 100 bijinya lebih tinggi, biji hampanya lebih rendah, produksi ubinannya lebih tinggi dan warna kulit biji kuning cerah. untuk lebih lengkapnya hubungi email kami: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.