JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Secara umum, masalah utama pengembangan peternakan sapi potong di Sumatera Barat (Sumbar), sebagaimana yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia lainnya, adalah rendahnya kualitas dan kuantitas pakan. Sapi potong membutuhkan hijauan dengan kualitas dan kuantitas yang terjamin. Selengkapnya buka disini

Laju pertumbuhan penduduk terus meningkat,pada tahun 2025 diproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai hampir 300 juta jiwa. Dalam rangka antisipasi kebutuhan pangan bagi penduduk tersebut perlu diupayakan peningkatan produksi padi (beras) melalui peningkatan produktivitas maupun melalui penambahan luas tanam dengan meningkatkan indeks pertanaman (IP). Badan Litbang Pertanian telah mencanangkan program peningkatan intensitas pertanaman padi menuju penerapan IP Padi 400. Program IP Padi 400 akan berhasil jika didukung dengan masukkan teknologi tepat guna yang adaptif dan ditunjang oleh ketersediaan dan penyaluran sarana produksi yang cukup. Pengkajian dilaksanakan di lahan sawah petani Sitiung, Kabupaten Dharmasraya selama priode satu tahun. selengkapnya

RINGKASAN

Uji Adaptasi VUB Kentang (Produktivitas > 20 t/ha, Toleran Penyakit Layu Bakteri) dan Cabe  (Produktivitas > 9 t/ha, Toleran Dataran Tinggi > 1000 m dpl) Di Sumatera Barat. Komoditas hortikultura seperti kentang, cabai, bawang merah dan tomat telah lama dibudidayakan dan merupakan usaha pertanian yang menunjang ekonomi masyarakat pedesaan. Komoditas tersebut dibudidayakan oleh petani pada daerah dataran tinggi (>700 m dpl). Usahatani komoditas hortikultura telah memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat tani. Akhir-akhir ini, hasil kentang, cabe, bawang merah dan tomat cenderung menurun. Keadaan ini disebabkan penggunaan varietas dan bibit yang tidak bermutu, disamping meningkatnya gangguan hama dan penyakit sehubungan meningkatnya penggunan pestisida. Tingginya penggunaan sarana produksi pertanian menyebabkan berkurangnya pendapatan petani. Penggunaan varietas unggul baru merupakan teknologi yang mudah dan murah serta dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan 1) Mengetahui adaptasi varietas-varietas unggul baru komoditas hortikultura pada kondisi spesifik daerah pertanaman di Sumatera Barat. 2).Mempercepat penyebaran varietas unggul baru komoditas hortikultura yang adaptif pada  kondisi spesifik daerah pertanaman di Sumatera Barat. 3). Meningkatkan produktivitas komoditas hortikultura di Sumatera Barat melalui penggunaan varietas unggul baru. Penelitian ini merupakan penelitian uji adaptasi varietas unggul baru kentang dan cabe keriting yang dilaksanakan pada dataran tinggi Kabupaten Solok dan Agam.  Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok dan uji lanjut DMRT, varietas kentang yang diuji adalah Cingkariang, Marbabu-17, Kikondo dan Granola yang merupakan perlakuan dengan tiga ulangan. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, intensitas serangan hama dan penyakit utama (penyakit layu bakteri, lanas dan virus), dan hasil. Varietas cabe yang diuji adalah cabe keriting Kopay, Bukittinggi, Lembang-1, Kawek, dan Alahan Panjang, sebagai perlakuan dengan empat ulangan.Variabel pengamatan antara lain, tinggi tanaman, intensitas penyakit utama (penyakit virus kuning dan layu bakteri),  dan hasil. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan 1). Informasi adaptabilitas dan produktivitas beberapa varietas unggul baru  komoditas kentang dan cabe spesifik daerah. 2). Tersosialisasinya 2-3 varietas unggul baru kentang dengan produktivitas > 20 t/ha yang toleran penyakit layu bakteri  dan 2-3 varietas unggul baru cabe produktivitas > 9 t/ha yang toleran dataran tinggi. Sumatera Barat. Dan 3). Dipublikasikan hasil penelitian berupa 4 karya tulis ilmiah pada prosiding seminar, 2 karya tulis ilmiah pada Jurnal Hortikultura Puslitbang Hortikultura, dan satu karya tulis ilmiah pada jurnal internasional. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kentang varietas Merbabu-17 dan Kikondo memiliki pertumbuhan yang baik, beradaptasi baik pada dataran tinggi >1000 m dpl serta memiliki tingkat ketahanan yang baik terhadap penyakit lanas (Phytophthora infestans) dan layu bakteri dibanding varietas Cingkariang dan Granola di Sumatera Barat. Varietas Merbabu – 17 memberikan berat umbi yang tertinggi, yaitu 678,89 g/rumpun atau 20,36 t/ha di Alahan Panjang, Kabupaten Solok dan 675,33 g/rumpun atau 20,26 t/ha di Padang Laweh, Kabupaten Agam, Berdasarkan hasil pengamatan tersebut disarankan untuk dataran tinggi (>1000 m dpl) menanam kentang varietas Merbabu-17 khusus pada musim hujan. Sedangkan tanaman cabe sampai saat masih pengamatan tinggi tanaman, yakni pada umur 75 hari setelah tanam di Padang Laweh, Agam. Sedangkan di Alahan Panjang, Solok baru berumur 61 hari setelah tanam. Pada kedua lokasi pengujian ini tinggi tanaman tidak berbedanyata.

 

Kata Kunci: Adaptasi, Varietas Unggul Baru, Cabe keriting, Kentang, Dataran Tinggi

Pengkajian Percepatan Adopsi Pergantian Varietas Unggul Baru Untuk Meningkatkan Adopter 2 Kali Lipat Di Provinsi Sumatera Barat

Dr.Ir. Nusyirwan Hasan, MSc

RINGKASAN

Pengkajian Percepatan Adopsi Pergantian Varietas Unggul Baru untuk Meningkatkan Adopter 2 kali Lipat di Provinsi Sumatera Barat. Pengkajian dilakukan pada bulan Februari s/d November 2010. Tujuan pengkajian adalah: (1) Meningkatkan adopter inovasi teknologi penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi sawah bermutu menjadi dua kali lipat, (2) Meningkatkan produksi benih VUB padi sawah bermutu sebesar 25%, dan (3) Meningkatkan dinamika gapoktan 50%. Pengkajian dilaksanakan di Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam, Nagari Limbanang Kecamatan Suliki Kabupaten Limapuluh Kota dan Nagari Latang Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung. Pengkajian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Identifikasi kondisi sosial ekonomi eksisting petani yang dilakukan dengan metode survey (survey pendahuluan); 2) Melakukan gelar teknologi VUB padi sawah bermutu dengan menggunakan 2 (dua) varietas unggul baru (VUB) padi sawah nasional antara lain: Logawa dan Tukad Unda; 3) Temu lapang dan temu usaha; 4) Penyediaan benih VUB padi sawah untuk petani; 5) Fasilitasi penyediaan benih VUB padi sawah bermutu melalui pembinaan kelompok tani penangkar benih; dan 6) Survei identifikasi kondisi sosial ekonomi eksisting petani setelah pelaksanaan gelar teknologi (after). Analisis data dilakukan secara deskriptif, tabulasi, analisis ekonomi. Pengkajian dilatarbelakangi oleh upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi padi sawah melalui Program P2BN sebesar 5% per tahun pada tahun 2008-2009. Untuk mencapai target tersebut diimplementasikan melalui: (1) Perluasan areal tanam dengan mencetak sawah baru, (2) Peningkatan produktivitas dengan penerapan budi daya tanaman sesuai dengan konsep pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) padi sawah. Salah satu komponen inovasi teknologi PTT yang secara signifikan dapat meningkatkan produktivitas padi sawah adalah: penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi sawah, dimana untuk provinsi Sumatera Barat Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan VUB padi sawah preferensi Sumbar, yaitu: Logawa, dan Tukad Unda dengan potensi hasil masing-masing 7,5 t/ha dan 7,0 t/ha. Selain itu Tukad Unda juga merupakan varietas padi sawah yang agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteri strain VIII, dan tahan terhadap penyakit tungro yang banyak menyerang pertanaman padi sawah di Sumatera Barat. Inovasi VUB ini perlu didiseminasikan dan dipercepat tingkat adopsinya sehingga target peningkatan produktivitas padi sawah dapat tercapai.

Hasil VUB Logawa berkisar 6,30–7,60 ton/ha untuk kelas benih BS dan 6,10-6,20 ton/ha untuk kelas benih BR, VUB Tukad Unda 5,35-6,60 ton/ha untuk kelas benih BS dan 4,90-6,15 ton/ha untuk kelas benih BR. Sedangkan hasil uji rasa terhadap kedua VUB  menunjukkan bahwa 86,67% di Nagari Lubuk Basung memberikan penilaian suka sampai sangat suka sekali terhadap VUB Logawa dan 93,33% petani memberikan penilaian suka sampai sangat suka sekali terhadap VUB Tukad Unda. Di Nagari Limbanang petani memberikan penilaian suka sampai sangat suka sekali terhadap VUB Logawa (90,00%) dan terhadap Tukad Unda sebanyak 86,67%. Sedangkan di Nagari Latang  86,67% petani memberikan penilaian suka sampai sangat suka sekali terhadap VUB Logawa dan Tukad Unda. Tingkat adopsi petani yang mencoba menanam VUB Logawa dari 12 orang (13,33 %) menjadi 48 orang (53,33 %) dan Tukad Unda dari tidak ada yang menanam menjadi 42 orang (46,67 %). Untuk VUB Logawa terjadi peningkatan adopter 4 kali lipat (400%) sedangkan untuk VUB Tukad Unda terjadi peningkatan adopter lebih tinggi dari VUB Logawa. Sebelum pengkajian, benih yang diproduksi penangkar di lokasi pengkajian adalah Cisokan, Batang Piaman, IR-64, IR-66, Junjuang, Anak Daro dan Bendang Pulau dengan kelas benih BR, kecuali di Nagari Limbanang Kabupaten Limapuuh Kota pada MT2 tahun 2009 penangkar benih Arjuna telah menghasilkan benih VUB Logawa sebanyak 8,96 ton. Setelah pengkajian terjadi peningkatan produksi VUB bermutu di tiga lokasi pengkajian dari 8,96 ton menjadi 11,69 ton, atau terjadi peningkatan sebesar 30,61 %. Peningkatan dinamika Gapoktan sebesar 55,55 %, disamping itu setelah pengkajian, Gapoktan akan meningkatkan unit usaha dalam penyediaan saprodi seperti pupuk, obat-obatan dan penyediaan benih unggul padi sawah untuk anggota Gapoktan.

Cabai Kopay termasuk jenis cabai keriting plasmanutfah Kota Payakumbuh dilepas dengan SK MENTAN 2085/Kpts/SR.120/5/2009 yang mempunyai keunggulan hasil tingggi (18-21 ton/ha), dengan panjang buah 30-35 cm. Kondisi fisik menjadi kendala pengemasan/pengepakan bagi petani/pedagang yaitu mudah patah/rusak dan saat panen raya harga rendah. selengkapnya