JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pola Pengandangan Dalam Sistim Integrasi Tanaman Ternak

Integrasi tanaman ternak telah mengakar pada pola pertanian rakyat dan menjadi bagian budaya dari usahatani di pedesaan. Penerapan sistim pertanian tersebut memungkinkan usahatani tanaman pangan bisa berdampingan sejalan dengan usaha peternakan. Ciri utamanya adalah terdapat sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan dalam satu siklus produksi tanaman dan ternak. Petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanaman, kemudian memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak (Pasandaran dkk. 2005).

Implementasi integrasi tanaman dan ternak bervariasi untuk setiap wilayah bergantung kepada kondisi geografis, ekologis serta sosial ekonomi setempat. Hal ini tercermin melalui pemilihan jenis ternak, sistim budidaya (penyedia bakalan atau penggemukan), sistim pengandangan (individu atau kelompok), komponen teknologi dan sistim kelembagaan. Penerapannya perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan, ramah lingkungan dan diterima masyarakat secara sosial (Boer dan Kasryno, 2005).

Meskipun usaha ternak telah berkembang di masyarakat, sebagian besar petani memelihara ternak sebagai usaha sambilan dan tabungan yang setiap saat dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak. Manajemen pemeliharaan dilakukan secara konvensional, ternak dilepas sepanjang hari di padang penggembalaan. Tanpa banyak campur tangan manusia ternak akan menyesuaikan produksi dengan kondisi sumber daya alam dimana mereka dipelihara. Ibrahim dkk (1995) menyatakan bahwa padang penggembalaan merupakan agroekosistim spesifik dan lahan yang memang sesuai sebagai hijauan pakan hewan ruminansia. Akan tetapi hijauan yang tersedia di padang penggembalaan berupa rumput alam yang hanya mampu memberikan hijauan dengan kualitas dan kuantitas rendah.

Sistim pemeliharaan ternak sapi yang digembalakan dengan berbagai alasan secara perlahan berubah dari sistim pemeliharaan tanpa kandang menjadi sistim pemeliharaan dengan kandang. Boer dan Kasryno (2005) menyatakan lahan penggembalaan mengalami alih fungsi menjadi areal pertanian atau pemukiman. Persaingan penggunaan lahan menyebabkan kapasitas tampung padang penggembalaan tidak lagi seimbang dengan kebutuhan per satuan ternak (ST). Hal ini menyebabkan ruang gerak ternak mencari makan di padang penggembalaan menjadi terbatas. Mathius (2008) menyatakan konsumsi hijauan yang tidak sesuai kebutuhan menurunkan produktifitas ternak jauh berada di bawah potensi genetik. Kondisi demikian memaksa petani mulai mengandangkan sapi miliknya dan secara otomatis diikuti perubahan pola pemberian pakan menjadi sistim “cut and carry”.

PEMACU PENGANDANGAN TERNAK

Usaha Ternak

Dalam usaha ternak sapi potong, maka segala upaya dilakukan agar tujuan utama pemeliharaan ternak dapat dicapai seoptimal mungkin (Bamualim dkk., 2006). Usaha peternakan sapi memiliki 2 macam usaha yaitu :

  1. Usaha pembibitan sapi potong. Tujuan pemeliharaannya adalah agar induk sapi mempunyai penampilan reproduksi yang optimal sehingga dapat menghasilkan anak yang sehat.
  2. Usaha penggemukan sapi bakalan. Tujuannya adalah agar ternak sapi bakalan yang dipelihara mengalami kenaikan berat badan secara cepat dalam waktu yang relatif singkat sehingga dapat dijual sebagai sapi potong.

Hal mendasar yang penting diperhatikan dalam memilih jenis usaha ternak pada sistim integrasi tanaman dan ternak adalah keterbatasan modal petani. Dengan skala usaha antara 1-3 ekor/KK, motivasi beternak sapi tidak lain hanyalah sebagai usaha sambilan atau tabungan keluarga (Adrial, 2010). Peternak mengalami kesulitan mempertahankan ternak jika terdapat kebutuhan rumah tangga yang tak terduga. Oleh sebab itu, usaha peternakan hendaklah menerapkan sistim produksi berkelanjutan (Hendri, 2013), artinya peternak selain mengusahakan sapi jantan sebagai penghasil daging sekaligus juga memelihara sapi betina sebagai sumber bibit. Sapi jantan hasil penggemukan sewaktu-waktu bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan sapi betina tetap lestari sebagai penghasil bibit.

Penerapan sistim produksi berkelanjutan secara langsung mempengaruhi persepsi petani terhadap manajemen pemeliharan terutama pola pengandangan ternak. Kandang merupakan sarana utama dalam pemeliharaan ternak sapi dan pola pengandangan akan disesuaikan dengan jenis usaha yang dilakukan. Pada usaha penggemukan sapi, petani mengusahakan agar sapi yang dipelihara mengalami kenaikan berat yang tinggi dalam waktu singkat. Sistim pemeliharaan sapi penggemukan adalah secara intensif, ternak dikandangkan terus menerus dengan pemberian pakan “cut and curry”.

Musim Tanam

Masyarakat di daerah pedesaan memiliki kesepakatan-kesepakatan yang memungkinkan tanaman pertanian dapat berdampingan dengan usaha ternak (Boer dan Kasryno, 2005), sebagai berikut :

  • Saat musim tanam, apakah areal pertanaman itu dipagar atau tidak, apabila ternak masuk ke areal pertanaman maka hal itu menjadi tanggung jawab pemilik ternak. dalam hal ini pemilik wajib memberi ganti rugi senilai kerusakan tanaman yang disebabkan oleh ternaknya.
  • Saat tidak musim tanam, umumnya areal tanaman akan dipagar, karena apabila ternak masuk ke areal tanaman yang tidak berpagar maka hal itu tidak menjadi tanggung jawab pemilik ternak. Artinya pemilik ternak tidak wajib mengganti kerusakan tanaman yang disebabkan oleh ternaknya.

Norma hubungan tanaman dan ternak yang berlaku secara umum dengan resiko lebih besar harus ditanggung pemilik ternak, mengakibatkan secara perlahan berpengaruh kepada sistim pemeliharaan dari sistim gembala menjadi sistim kandang. Kesepakatan ini secara perlahan berpengaruh kepada sistim pemeliharaan dari sistim gembala menjadi sistim kandang.

Pemberian Pakan

Pada areal persawahan di Sumatera Barat terdapat suatu kesepakatan tidak tertulis yang telah melembaga berkaitan dengan pakan dan tatalaksana pemberian pakan (Boer dan Kasryno, 2005), sebagai berikut :

  • Pada saat musim tanam, peternak dapat mencari hijauan pakan ternaknya di pematang sawah walaupun sawah itu bukan miliknya, kecuali pematang itu ditandai dengan semacam bendera kecil yang artinya pemilik sawah memerlukan rumput pematang itu untuk ternaknya sendiri
  • Pada saat setelah panen, peternak dapat mengambil jerami dan menggembalakan ternak di sawah yang bukan miliknya. Pengecualian akan hal ini kembali dengan melihat adanya bendera kecil ditengah sawah. Pelarangan biasanya dilakukan apabila pemilik sawah akan segera mengolah sawahnya kembali atau sedang menggunakan herbisida

Pelanggaran akan norma ini sangat mungkin terjadi akibat tindak tanduk sebagian anggota masyarakat yang tidak memenuhi kewajiban. Konflik masyarakat bisa berbuntut panjang dan tidak terselesaikan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi demikian secara perlahan menimbulkan kesadaran masyarakat menyediakan rumput secara individu melalui penanaman rumput di lahan-lahan kosong miliknya. Peluang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai upaya meningkatkan kualitas hijauan pakan ternak dengan menanam rumput unggul terutama tanaman pakan ternak sumber protein.

POLA PENGANDANGAN TERNAK

Pengandangan di Daerah Tanaman Hortikultura

Pemeliharaan ternak dengan sistim kandang ditandai dengan pemeliharaan ternak yang hampir terus menerus didalam kandang dan penyediaan rumput dilakukan oleh petani. Waktu yang dikorbankan untuk mencarikan rumput bagi ternak mendapat kompensasi dari terkumpulnya kotoran ternak yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman pertanian. Sistim ini berkembang di daerah tanaman pangan dan hortikultura, dalam hal ini disamping mengaritkan rumput maka peternak pada musim-musim tertentu akan menggunakan limbah tanaman pertanian untuk pakan ternak.

Pemeliharaan ternak di daerah tanaman pangan umumnya dilakukan sebagai usaha sambilan. Tujuan pemeliharaan ternak sapi adalah sebagai tenaga kerja mengolah sawah dan ladang, dan juga sebagai tabungan. Tingkat kepemilikan ternak berkisar antara 1-3 ekor, demikian juga kepemilikan lahan dan modal terbatas. Kandang ternak umumnya sangat sederhana dari bahan bangunan seadanya sehingga melekat berbagai kendala antara lain :

  1. Jarak kandang sangat dekat dengan rumah memiliki potensi mengganggu kesehatan peternak dan keluarga.
  2. Tingkat produksi tidak optimal mengingat sulitnya menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak.
  3. Kandang rawan terhadap pencurian ternak

Kandang Individu dan Kandang Kelompok

Pola pengandangan ternak sapi diyakini sebagai kondisi ideal untuk memperbaiki manajemen pemeliharaan seperti perbaikan reproduksi, menajemen pakan dan pengendalian penyakit. Kondisi biofisik dan sosial setempat mempengaruhi pola pengandangan sehingga memunculkan kandang individu dan kandang kelompok. Pola pengandangan secara individu cendrung berkembang di daerah yang relatif aman dan masih ada lokasi untuk membangun kandang disekitar rumah petani. Sedangkan, kandang kelompok cendrung berkembang di daerah yang kondisi sosialnya kurang kondusif, kelangkaan lokasi kandang disekitar rumah dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan (Puspadi dkk. 2005).

Keuntungan pola pengandangan individu, petani lebih dekat dengan ternak dengan demikian pengaturan pemberian pakan dan minum lebih mudah. Disamping itu, pengandangan secara individu secara psikologis terjadi interaksi antara manusia dan ternak yang lebih intensif membuat ternak menjadi lebih jinak. Beberapa kelemahan kandang individu adalah keamanan menjadi tanggung jawab sendiri, penerapan teknologi reproduksi tidak dapat dilakukan secara baik serta pengolahan kotoran ternak tidak efisien.

Beberapa keuntungan pola pengandangan kelompok antara lain : keamanan ternak relatif terjamin, lingkungan perkampungan relatif bersih dan sehat, mempermudah untuk memperoleh informasi dan penerapan teknologi, mempermudah pembinaan dan penyuluhan, mempermudah pengawasan ternak secara berkelompok, mempermudah koordinasi kelompok dalam pemasaran ternak, sarana membina kebersamaan dalam pemeliharaan ternak dan pembersihan kandang, mempermudah pembuatan kompos secara berkelompok dan skala ekonomi agribisnis ternak mudah tercapai. Sedangkan kelemahannya antara lain : menyulitkan anggotan untuk mengontrol ternak secara lebih intensif, lokasi kandang jauh dari rumah, lahan terbatas untuk kandang kelompok dan pengaturan pemberian pakan dan minum pada ternak kurang teratur.

Dari aspek teknis seperti pengadaan bibit, manajemen pakan, pengobatan ternak dan pemasaran, pola pengandangan individu dan pola pengandangan kelompok tidak ada perbedaan secara berarti. Dalam pengadaan bibit pada kedua pola pengandangan dilakukan secara individu oleh petani sesuai kriteria-kriteria sapi bibit yang diinginkan. Demikian dalam manajemen pakan tidak perbedaan spesifik berdasarkan status fisiologis ternak kecuali sapi induk bunting dan induk yang baru melahirkan jumlah pakan yang diberikan lebih banyak. Bulu dkk., (2004) melaporkan bahwa ketergantungan petani pada ketersediaan hijauan sangat tinggi baik pola pengandangan individu dan kelompok.

Kandang Kelompok Pembibitan Sapi Model Grati

Pengembangan pembibitan ternak sapi saat ini mulai diarahkan pada peningkatan mutu genetik ternak, sumber daya ternak, daya dukung wilayah, pengawasan mutu dan penguasaan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternak. Untuk mendapatkan bibit sapi potong yang berkualitas, perlu dilakukan pengawasan mutu bibit sesuai dengan standar pemilihan dan penilaian sapi potong. Seleksi atau pemilihan sapi yang akan dipelihara merupakan salah satu faktor penentu dan mempunyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging sehingga diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelanjutan (Badan Litbang Pertanian, 2011).

Kandang kelompok Pembibitan Sapi Model Grati yaitu suatu ruangan kandang yang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk bersama dengan seekor pejantan yang diinginkan sehingga terjadi perkawinan dan ternak menjadi bunting. Namun apabila kandang kelompok bunting tidak tersedia, maka induk sapi yang telah bunting tua (8-9 bulan) dipisah dari kandang kelompok ke kandang individu (kandang beranak). Selanjutnya, induk yang sudah melahirkan dan pedet telah berumur 40 hari maka dari kandang beranak dipindah ke kandang kelompok kawin untuk melakukan proses reproduksi berikutnya.

Aplikasi kandang kelompok di petani dapat dilakukan dengan cara memperluas atau menambah pagar pembatas yang identik dengan kandang pelumbaran. Untuk mendukung keberhasilan reproduksi yang ditunjukkan oleh jarak beranak < 14 bulan, maka sistem perkawinan dalam kandang kelompok sebaiknya menggunakan pejantan terpilih dan apabila menggunakan teknologi kawin suntik (IB) maka dapat menggunakan pejantan pengusik (detektor). Penggunaan pejantan terpilih atau pejantan pengusik dalam kandang kelompok diharapkan dapat meningkatkan kejadian kebuntingan (conception rate) terutama bagi induk-induk sapi yang mengalami birahi tenang (silent heat).

Keberhasilan sapi induk untuk menghasilkan anak setiap tahun (< 14 bulan) merupakan syarat utama dalam usaha pembibitan sapi potong. Prestasi ini sulit dicapai pada kondisi pemeliharaan ekstensif, pakan yang terbatas serta pengetahuan maupun luangan waktu yang terbatas untuk pengamatan birahi–terutama pada sapi-sapi yang mempunyai komposisi darah Bos taurus (impor) yang relatif tinggi. Selain itu, sebagian besar sapi-sapi betina tersebut menunjukkan kejadian birahi pada malam hari dengan lama waktu birahi yang cukup singkat yaitu kurang dari 6 jam. dan menjadi bunting.

Melalui inovasi teknologi kandang kelompok “Model Grati” diharapkan (i) jarak beranak (calving interval) sapi induk dapat diperpendek dari rataan 18 bulan menjadi 14 bulan, (ii) efisiensi usaha pemeliharaan/tenaga kerja meningkat diikuti oleh peningkatan skala pemeliharaan dari rataan 1-4 ekor menjadi lebih dari 5 ekor per kepala keluarga (KK) dan (iii) kesehatan ternak menjadi lebih baik. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, tipe kandang yang digunakan untuk pembibitan sapi potong “Model Grati” dibedakan menjadi dua, yaitu kandang kelompok dan kandang individu. Kandang kelompok berfungsi sebagai kandang kawin, pembesaran pedet sampai dengan disapih dan pembesaran pedet lepas sapih. Sedangkan kandang individu digunakan sebagai kandang untuk melahirkan (menjelang beranak) sampai dengan laktasi umur 40 hari. Di samping kedua jenis kandang di atas, terdapat juga kandang kelompok khusus sapi bunting. Kandang ini digunakan untuk sapi yang positif bunting lebih dari 5 bulan sampai kebuntingan 9 bulan. Sapi bunting tua dapat dideteksi melalui bentuk ambingnya yang mulai membesar sehingga harus segera dipindahkan dari kandang kelompok

KEBIJAKAN PENGANDANGAN KELOMPOK

Perubahan sistim pemeliharaan ternak dari padang penggembalaan kepada sistim kandang secara otomatis akan menumbuhkan kandang-kandang individu dan kandang-kandang kelompok. Kandang kelompok terbentuk karena adanya kepentingan bersama, terutama demi keamanan ternak yang dimiliki dari pencurian.

Pola pengandangan kelompok atas intervensi pemerintah yang diikuti dengan dukungan bantuan ternak dengan sistim bagi hasil mempunyai prospek keberlanjutan karena mempunyai muatan penguatan modal sosial masyarakat. Berbeda dengan pola pengandangan kelompok atas anjuran pemerintah dengan tanpa bantuan ternak dengan sistim bagi hasil justru banyak yang tidak aktif dan kembali pada pola pengandangan individu.

Pola pengandangan kelompok atas dasar untuk memperkuat posisi tawar petani tidak berkembang, karena hanya kelompok usaha penggemukan yang mempunyai motif seperti itu. Selain itu, sebagian besar peternak yang melakukan usaha pembibitan dengan kualitas bibit tergolong rendah sehingga memperkuat posisi tawar pada usaha tersebut tidak didukung oleh kualitas bibit sapi yang baik.

Pengalaman sebagai upaya untuk mengintroduksi kandang kelompok memperlihatkan bahwa terdapat beberapa cara pendekatan yang mesti diperbaiki sebelum introduksi kandang kelompok diadopsi peternak dengan baik. Hal tersebut antara lain :

  1. Pengalaman kelompok tani harus telah benar-benar berfungsi dimana setiap anggota mempunyai rasa kebersamaan dan semua kegiatan kelompok benar-benar dirasakan sebagai kepentingan bersama.
  2. Lokasi kandang kelompok dipilih yang mudah diakses oleh setiap anggota kandang sehingga aktivitas pemeliharaan ternak berjalan dengan baik.
  3. Semua kesepakatan yang dibuat dalam kandang kelompok harus merupakan kesepakatan bersama dari petani, oleh petani dan untuk petani. Penyuluh dan petugas teknis lain yang terlibat hanyalah sebagai fasilitator.

Berdasarkan uraian diatas, kebijkan yang diharapkan dari pemerintah untuk mendukung usaha perbaikan di tingkat petani dalam upaya mendukung pengembangan pola pengandangan ternak adalah kebijakan-kebijakan yang akan memfasilitasi dan memotivasi peternak kearah pemeliharaan ternak yang lebih baik dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada dan bukan memaksakan penggunaan kandang kelompok.

KESIMPULAN

Pengandangan menjadi langkah yang efektif  dalam meningkatkan efisiensi pemeliharaan ternak ketika menerapkan sistim integrasi tanaman dan ternak di kawasan usahatani. Peningkatan kebutuhan lahan akan areal pertanian dan pemukiman secara perlahan akan merubah pola pemeliharaan ternak dari sistim penggembalaan menjadi sistim pengandangan. Pemilihan jenis usaha, musim tanam dan masalah pemberian pakan merupakan kearifan lokal yang perspektif mendorong petani melakukan pengandangan ternak.

Pola pengandangan ternak individu maupun kelompok masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Pola pengandangan ternak tergantung kondisi biofisik dan sosial setempat, pada daerah yang relatif aman petani lebih memilih pola pengandangan individu dan daerah yang kondisi sosialnya tidak kondusif petani lebih cendrung memilih pola pengandangan kelompok. Usaha pembibitan sapi dalam sistim integrasi tanaman dan ternak dapat menerapkan kandang kelompok model Grati.

Intervensi pemerintah dalam sistim pengandangan kelompok memiliki muatan penguatan modal sosial masyarakat jika bantuan ternak dengan sistim bagi hasil. Namun demikian pemerintah masih perlu mencari cara pendekatan yang efektif sebelum intervensi kandang kelompok diadopsi masyarakat. Pendekatan tersebut antara lain kebijakan memfasilitasi petani memelihara ternak kearah yang lebih baik terlebih dahulu sebelum mengintervensi sistim pengandangan secara kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Adrial. 2010. Potensi sapi pesisir dan upaya pengembangannya di Sumatera Barat. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 29 (2) : 66-72.

Badan Litbang Pertanian. 2011. Pembibitan Sapi Potong Model Grati. Dalam Sinar Tani. Edisi 30 Maret 2011. No 3399 tahun XLI

Bamualim, A.M, Wirdahayati R.B., dan Marak Ali. 2006. Profil peternakan sapi dan kerbau di Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat. Sukarami. hlm. 34-60.

Boer, M dan F. Kasryno. 2005. Kearifan lokal : Pola pengandangan ternak dalam sistem integrasi tanaman-ternak di Sumatera Barat. Dalam : Integrasi Tanaman-Ternak di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. hlm. 145-149.

Bulu, Y.G, K. Puspadi, A. Muzani dan T.S. Panjaitan. 2004. Pendekatan sosial budaya dalam pengembangan sistem usaha tani tanaman-ternak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam : Prosiding Lokakarya Sistem dan Kelembagaan Tanaman-Ternak. Penyunting : Fagi, A.M dan Hermanto. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Hlm : 24-35

Hendri, Y. 2013. Dinamika pengembangan sapi pesisir sebagai sapi lokal Sumatera Barat. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 32 (1) : 39-45.

Ibrahim, T.M., L.P. Batubara, D. Sihombing, M. Doloksaribu, L. Haloho dan P.M. Horne. 1995. Produktifitas ternak ruminansia di padang penggembalaan Sumatera Utara. Prosiding Seminar Strategi dan Komunikasi Hasil Penelitian Peternakan, 31 Januari 1995. Sub. Balitnak Sei. Putih dan SR-CRSP, Medan. Badan Litbang Pertanian. Hlm:67-73.

Mathius, I W. 2008. Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2): 206-224.

Pasandaran, E., A. Djajanegara, K. Kariyasa dan F. Kasryno. 2005. Kerangka Konseptual Integrasi Tanaman-Ternak di Indonesia. Dalam : Integrasi Tanaman-Ternak di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. hlm. 11-31.

Puspadi, K., Y.G. Bulu, A. Muzani dan Mashur. 2005. Pola pengandangan ternak sapi bali dalam sistem usahatani tanaman-ternak (Kasus Nusa Tenggara Barat). Dalam : Integrasi Tanaman-Ternak di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. hlm. 99-144.