JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bawang Merah Sangat Berpeluang Di Sumatera Barat

Bawang merah salah satu hasil pertanian yang selalu dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, dengan memanfaatkan umbi bawang merah ke dalam masakan mengakibatkan masakan menjadi lebih sedap. Apalagi umbi bawang merah yang digoreng ditaburkan ke nasi goreng atau mie goreng, mie rebus, sup dan sebagainya, makanan tersebut akan lebih harum aromanya dan sedap rasanya.

Umbi bawang merah juga dimanfaatkan untuk berbagai pengobatan penyakit. Kita mungkin masih ingat pada zaman dulunya orang tua-tua memanfaatkan umbi bawang merah yang dihancurkan dan dicampur dengan minyak tanah sebagai obat sakit perut. Umbi bawang merah dibakar dan diris-iris, gosokkan kebisul, insyaallah bisul akan segera sembuh. Banyak lagi manfaat umbi bawang merah seperti penggobatan radang tenggorokan, obat batuk, obat jerawat, menurunkan kadar gula darah dsb.

Berbagai macam manfaat umbi bawang merah, maka kebutuhan terhadap bawang merah setiap tahunnya selalu meningkat. Menurut data statistik Dirjen Bina Produksi Hortikultura Jakarta bahwa kebutuhan terhadap bawang merah semenjak tahun 2003 sampai 2025 diduga selalu meningkat. Bahkan untuk berbagai kebutuhan seperti konsumsi, benih dan industri diprediksi terjadi peningkatan. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri pemerintah harus melakukan import bawang merah dari negara produsen. Tetapi dari data yang diperoleh Negara Indonesia termasuk negara pengekspor bawang merah. Dalam periode tahun 1999 sampai 2003 Indonesia mengekspor berturut-turut 8.602,7 ton, 6.753,3 ton, 5.991,5 ton, 6.816,2 ton dan 5.402,1 ton. Namun demikian, dalam tahun yang sama Indonesia mengimpor bawang merah sebagai berikut; 35.710,8 ton, 56.710,8 ton, 47.946,3 ton, 32.928,8 ton dan 42.007,9 ton. Dari data tersebut terlihat terjadi perbedaan yang besar  antara ekspor dan impor, sehingga Indonesia harus merupakan negara pengimpor bawang merah yang menyodot devisa.

Berdasarkan sifat dan kharateristiknya, bawang merah memiliki adaptasi yang luas terhadap ekosistem atau daerah pertumbuhannya. Bawang merah dapat tumbuh pada ketinggian 0 m dari permukaan laut (dpl) sampai ke tinggian > 1000 m dpl.

Di Indonesia bawang merah telah ditanam di berbagai provisi, mulai dari Aceh sampai ke Papua. Pada tahun 2011 Jawa Tengah memproduksi bawang merah yang tertinggi yaitu sebesar 372.256 ton, sedangkan Sumatera Barat pada tahun yang sama hanya memproduksi 32.442 ton. Kalau diamati pertumbuhan luas panen bawang merah di Sumatera Barat semenjak tahun 2008 sampai dengan 2012 mencapai 9,88%, lebih baik dibanding Jawa Tengah yang pertumbuhan luas panen pada kurun waktu yang sama hanya mencapai 0,33%. Bagi Sumatera Barat pertumbuhan luas panen ini akan dapat ditingkatkan, jika penanaman bawang merah diarahkan ke dataran rendah seperti di Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Agam. Kabupaten lainnya yang perpeluang untuk pengembangan bawang merah adalah Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan.

Kalau diperhatikan hasil bawang merah dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat pada preriode tahun 2008 sampai 2012 hanya tidak lebih dari 9 ton/ha dan sedangkan di Jawa Tengah sudah mencapai hasil > 10 ton/ha. Sumatera Barat sebenarnya mampu menghasilkan bawang merah lebih baik, karena ekosistem sangat mendukung untuk pertumbuhan bawang merah, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Dari hasil penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat, bawang merah yang ditanam di Nagari Gadua Kabupaten Padang Pariaman mampu menghasilkan 15 ton/ha.

Apa masalahnya bagi Sumatera Barat dalam memproduksi bawang merah?. Dari pengamatan kami di lapangan kendala utama bagi petani untuk mengusahakan usahatani bawang merah adalah mendapatkan bibit bermutu baik. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus didukung dengan bibit bermutu baik. Kenyataan di tingkat petani bibit diperoleh di pasar atau dibeli ke petani tetangga. Kendala lain juga yang tak kalah pentingnya untuk mendukung keberhasilan usahatani bawang merah adalah ilmu pengetahuan petani dalam menguasai teknologi budidaya bawang merah. Pada umumnya petani mengusahakan budidaya bawang merah merupakan ilmu yang turun temurun dari orang tua atau ilmu yang mencontoh teman. Faktor modal termasuk kendala utama yang terdapat di tingkat petani, pada umumnya petani kita tergolong petani miskin yang sangat sulit mendapatkan modal. Pada hal untuk berusahatani bawang merah membutuhkan modal Rp. 35 juta lebih untuk setiap hektarnya. Sampai saat ini pemerintah provinsi ataupun pusat belum pernah mengucurkan bantuan sosial maupun kredit usaha untuk bawang merah.

Kalau diamati penanaman bawang merah di Sumatera Barat  terdapat di dataran tinggi yang bermasalah untuk meningkatkan luas tanam. Karena pada keadaan tertentu bawang merah harus bersaing untuk mendapatkan areal penanaman. Disamping itu, penanganan pasca panen yang butuh sinar matahari untuk pengeringan umbi termasuk bermasalah. Di daerah dataran tinggi sering terjadi kabut, sehingga pengeringan umbi butuh waktu yang lama. Faktor hama dan penyakit (OPT) pada dataran tingggi merupakan faktor pembatas untuk memperoleh hasil yang maksimal, karena di dataran tinggi terdapat berbagai tanaman inang OPT yang perlu dikendalikan dengan mengeluarkan biaya tinggi.

Untuk memperluas areal tanam dan meningkatkan hasil atau produksi bawang merah di Sumatera Barat, pemerintah diharapkan dapat memperhatikan dan mencari solusi pemecahan masalah usahatani bawang merah. Semoga dengan uraian singkat ini pemerintah daerah akan dapat gambaran mengenai langkah-langkah pengembangan bawang merah di provinsi kita ini. Irmansyah Rusli