JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sukses Membangun Kebun Bibit Karet Unggul

Karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis dalam perekonomian Indonesia. Luas areal perkebunan karet  Indonesia mencapai 3,435 juta ha dengan total produksi 3,08 juta ton karet kering. Sebagian besar (85 %) dari luasan perkebunan karet Indonesia merupakan  perkebunan rakyat,  dan sisanya dikelola oleh perkebunanan besar swasta dan BUMN.  Namun demikian, pada umumnya perkebunan karet yang dimiliki rakyat masih menggunakan bibit cabutan (seedling) dan baru sekitar 25 %  petani yang menggunakan bibit okulasi. Selanjutnya, sistem pemeliharaan kebun seperti sanitasi, pemupukan  dan cara panen belum dilakukan dengan benar, diperparah lagi dengan kondisi pertanaman sudah tua dan rusak, sehingga tingkat produktivitasnya rendah, yakni hanya 500-700 kg/ha.  Oleh sebab itu, jika ingin meningkatkan produksi karet Indonesia maka  perbaikan teknologi budidaya pada perkebunanan karet rakyat harus diupayakan semaksimal mungkin.  Salah satu teknologi yang mudah dan murah untuk diterapkan oleh petani karet adalah penggunaan bibit  bermutu, karena penggunaan bibit bermutu, merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam agribisnis karet. Dengan demikian, pengadaan bahan tanaman bermutu  merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan kebun. Namun, salah satu kendala utama dalam pengembangan perkebunan karet saat ini justru terletak pada kelangkaan bahan tanaman yang bermutu berupa bibit karet okulasi dari klon anjuran.

Memproduksi Bibit Karet Bermutu

Dalam pengelolaan bahan tanaman karet  bermutu memiliki berbagai persyaratan khusus, maka diperlukan pengetahuan yang benar tentang bagaimana cara memproduksi bibit karet bermutu serta apa-apa yang harus dipersipakan terlebih dahulu. Untuk memproduksi bibit karet bermutu, terlebih dahulu harus dibangun kebun entres agar  mata tunas atau kayu entres dapat tersedia secara kontinyu dengan jumlah yang mencukupi.  Jika ketersediaan mata tunas tidak mencukupi dan sulit diakses oleh petani, akhirnya petani tetap saja mencari jalan pintas untuk mendapatkan bahan tanamannya dengan menggunakan bibit cabutan asal biji (seedling). Untuk itu, peran kebun entres klon unggul menjadi sangat penting. Klon yang ditanam di kebun entres, diharapkan merupakan klon unggul yang dianjurkan sehingga dapat digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan ketersediaan bibit karet bermutu.

Setelah kebun entres dibangun lalu disiapkan pula bibit untuk batang bawah. Untuk memperoleh bibit batang bawah yang memiliki perakaran kuat, daya serap air dan unsur hara yang baik serta tahan terhadap penyakit akar tertentu seperti jamur akar putih (JAP). Untuk itu,  diperlukan pembangunan pembibitan batang bawah yang memenuhi syarat teknis yang mencakup persiapan lahan, penanganan benih, perkecambahan, penanaman kecambah, serta usaha pemeliharaan tanaman di pembibitan.  Setelah bibit batang bawah beumur 6-8 bulan maka pengokulasian sudah dapat dilakukan dengan menggunakan mata tunas dari tanaman entres yang sudah berumur menimal 8-12 bulan.

Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul. Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanaman berupa stum mata tidur, yang selanjutnya dilakukan pembibitan di lapangan atau dalam polibag. Bibit hasil okulasi dalam polibeg sudah bisa dipindah tanam ke lapang jika sudah memiliki satu atau dua payung daun.

Keuntungan Menggunakan Bibit Karet Bermutu

Penggunaan bibit bermutu merupakan suatu keharusan bagi usaha perkebunan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani pekebun rakyat. Selama ini yang dirasakan oleh petani adalah produktivitas tanaman karetnya selalu rendah yakani hanya 500-700 kg/ha sehingga hasil yang mereka terima dari kebun karet tidak mampu menutupi kebutuhan hidup keluarga mereka. Jadi sangat ironis rasanya petani pekebun karet yang mengelola komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi tetapi kehidupan petani karet identik dengan masyarakat miskin. Salah satu penyebabnya jelas akibat penggunaan bibit asalan atau cabutan disamping itu juga usia tanaman karet yang dikelola rakyat pada umumnya sudah berumur tua. Pada hal, jika petani pekebun karet rakyat dapat menggunakan bibit karet bermutu dari klon unggul jelas akan dapat meningkatkan produktivitas kebun karet mereka paling tidak dua kali lipat, meskipun tidak dikelola terlalu maksimal. Apalagi jika digunakan bibit bermutu  dan didiringi dengan pengelolaan kebun yang baik maka bukan tidak mungkin hasil kebun karet rakyat bisa mencapai 1.500 - 2.000 kg/ha/thn. Dengan sendirinya penerimaan mereka meningkat  dan pada gilirnya tentunya kesejahteraan  petani karet rakyat akan lebih baik dan berubah secara nyata.