JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kajian Paket Teknologi Produksi Lipat Ganda Bawang Merah Di Sumatera Barat

Bawang merah termasuk komoditas sayuran yang berkontribusi terhadap inflasi dengan kebutuhan bawang merah tersebut belum dapat dipenuhi dari produksi nasional yang baru dapat memenuhi 15-16% setiap tahunnya (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2010). Permasalahan pengadaan benih bibit bawang merah di Indonesia antara lain adalah bibit sulit diperoleh saat menjelang musim tanam, produktivitas bibit rendah karena penyakit terbawa umbi, dan harga bibit mahal tetapi harga jual murah saat panen (Sumarni et al., 2012c). generasi berikutnya (Kurniawan dan Suastika, 2013). Penggunaan benih biji bawang merah (True Seed of Shallot = TSS) dapat menjadi alternatif sebagai sumber benih bawang merah karena memiliki beberapa keuntungan dibandingkan umbi bibit seperti penggunaan sedikit (3-6 kg/ha), relatif sehat, dapat disimpan lama dan dapat digunakan pada saat diperlukan (terutama saat off season), mudah ditransportasikan, tidak ada dormansi, dan potensi hasil mencapai 32 ton/ha. Rosliani et al. (2014a) menyatakan TSS dapat dikembangkan dalam rangka penyediaan benih bawang merah sepanjang tahun. Salah satu kelebihan benih TSS adalah mempunyai daya simpan sekitar 1–2 tahun (Copeland dan McDonald, 1995) dibandingkan dengan umbi yang hanya 3–4 bulan (Rosliani et al., 2014b). Namun demikian TSS memiliki beberapa kekurangan yaitu populasi tidak seragam dan masa produksi lebih panjang (Ridwan et al., 1989; Permadi 1993; Rosliani et al., 2005). Untuk Lebih lengkapnya Klik Disini