Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Ulat Bulu
Kalender Tanam
Layanan Online Alsin
phsl
Hasil Lipi
E-Produk
Bank Padi
Sinar Tani
Info Pasar
KelayakanFinansial Integrasi Markisa, Kopi, Sayuran di Kawasan Air Dingin Kabupaten Solok PDF Cetak E-mail
PENDAHULUAN
Luas kawasan Air Dingin sebagai bagian dari Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok adalah 126,4 km2. Sebagian besar arealnya merupakan kawasan hutan dengan topografi berbukit dan bergelombang. Kawasan budidaya yang luasnya terbatas (1.772,4 ha), agar dapat memberikan hasil, pengelolaannya harus berwawasan konservasi. Jenis tanaman tahunan yang umum diusahakan petani saat ini adalah markisa, alpokad dan kopi, sedangkan tanaman semusimnya adalah sayuran (kentang, kubis, cabe, dan tomat). Dengan sistem tumpangsari, kombinasi antara tanaman tahunan dan tanaman semusim dapat dilakukan pada lahan yang sama secara bersamaan. Hadian et al. (2005) menyebutkan bahwa pengelolaan usahatani di kawasan ini masih relatif sederhana, menggunakan input rendah dan tanpa menghiraukan kaidah konservasi. Bersama tanaman lainnya, kopi sangat potensial untuk dikembangkan di kawasan ini.
Bagian barat dan timur kawasan Air Dingin dengan ketinggian 1100-1800 m dari muka laut (DML) merupakan kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan hutan kemasyarakatan yang sudah banyak dibabat untuk pertanian. Pada hutan yang masih tinggal kesuburan tanah masih tinggi dan lapisan top soilnya masih utuh. Kawasan dengan ketinggian di atas 1400 m DML (masih dalam kawasan hutan TNKS dan hutan masyarakat/nagari) sudah banyak ditanami oleh masyarakat dengan markisa, sedikit tanaman kopi, kayumanis dan sayuran dengan pola tanam campuran dan sistem ladang berpindah. Sementara itu, sebagian besar lahan yang layak dijadikan lahan usa-hatani dibiarkan terlantar yang ditumbuhi pakis resam dan alang-alang. Praktek perladangan berpindah ini perlu diatasi secepatnya, agar degradasi kesuburan lahan pertanian, kekurangan air dan kekurangan sumberdaya hayati dapat diantisipasi. Berdasarkan kondisi agroekosistem kawasan, maka kombinasi usahatani sayuran, markisa dan kopi dalam sistem integrasi berwawasan konservasi dapat dijadikan andalan. Pemanfaatan lahan pertanian secara optimal tidak saja dapat mengantisipasi dampak negatif kerusakan lingkungan, tetapi sekaligus mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dan kesempatan kerja (Pemda Solok, 2007).
Bappeda-BBSDL (2007) menyebutkan bahwa potensi areal yang sesuai untuk pengembangan tanaman kopi Arabika di Kabupaten Solok yang terluas terdapat di Kecamatan Lembah Gumanti (8264 ha). Kopi Arabika mutunya jauh lebih lebih baik dibandingkan jenis kopi yang lain. Sesuai dengan kondisi agroekosistemnya, kawasan Air Dingin dipandang sesuai untuk kawasan pengembangan kopi Arabika.
Analisis kelayakan finansial ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana integrasi markisa, kopi dan sayuran di kawasan Air Dingin menguntungkan secara finansial. Hal ini diperlukan dalam menentukan upaya mengubah praktek ladang berpindah menjadi pertanian menetap yang lebih produktif dan adaptif.
INTEGRASI MARKISA, KOPI, DAN SAYURAN
Integrasi tanaman markisa, kopi dan sayuran dimaksudkan sebagai penanaman ketiga jenis tanaman tersebut pada lahan yang sama dalam bentuk tumpangsari. Markisa dan kopi termasuk tanaman tahunan, sementara sayuran (kubis, tomat, kentang, bawang merah) adalah tanaman semusim yang dapat diusahakan 3-4 kali tanam sebelum tanaman tahunan menaungi tanah dan tanaman semusim di bawahnya. Tanaman kopi membutuhkan naungan yang sekaligus sebagai sumber bahan organik dari sarasah yang dihasilkan. Markisa manis selain dapat berfungsi sebagai penaung kopi juga menghasilkan buah secara kontinyu. Sayuran yang diintegrasikan dengan markisa dan kopi akan memberikan hasil dan mendatangkan penerimaan usahatani dari 3-4 musim tanam dalam 1-2 tahun pertama sebelum tanaman markisa dan kopi menghasilkan.
Deskripsi umum komoditas markisa, kopi dan sayuran yang mendasari penyusunan kuantitas masukan hasil dalam analisis finansial, dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Markisa
Di Kabupaten Solok terdapat tiga jenis markisa manis yang diusahakan petani, yaitu markisa bunga ungu biasa, bunga putih, dan bunga ungu super. Markisa bunga putih dan bunga ungu super ada-lah jenis unggul yang masing-masing dinamakan Gumanti dan Super Solinda sesuai dengan SK Menteri Pertanian No. 121/Kpts/TP.20/2/2001 tanggal 8 Februari 2001 dan SK No. 220/Kpts/TP. 204/4/2001 tanggal 4 April 2001. Spesifikasi kedua jenis markisa unggul tersebut adalah produksi buah pada umur dua tahun 65-75 kg/pohon (setara 26-30 t/ha, populasi 400 pohon/ha), berat buah 120-140 gram/buah, dan toleran terhadap hama dan penyakit. Produksi buah terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan tanaman. Daya simpan buah pada wadah terbuka 18-21 hari, tahan dalam transportasi, dan umum-nya dikonsumsi dalam bentuk buah segar (BPTP Sumbar, 2001).
Selain dikonsumsi segar, buah markisa manis dapat diolah menjadi jus dan sirup, baik dalam bentuk tunggal ataupun dicampur dengan terung belanda (juice mix). Nilai tambah pengolahan juice mix markisa terung belanda ini cukup tinggi. Untuk menghasilkan 100 liter juice mix menggunakan peralatan sederhana, biaya variabelnya hanya Rp. 1.625,-/gelas, sementara harga jual di restoran dapat mencapai Rp.5.000,-/ gelas.
Markisa sebagai tanaman merambat membutuhkan para-para (menggunakan tiang kayu/bambu, kawat, dan tali nilon) untuk media rambatnya. Tiang para-para sudah harus dibangun 6 bulan setelah markisa ditanam. Secara bertahap tiang para-para perlu diganti bersamaan dengan pemangkasan dan pemupukan tanaman. Pemupukan tanaman markisa harus dilakukan secara rutin se-tiap 3 bulan berupa 250 gram NPK + 5 kg pupuk kandang yang diinkubasi sela-ma 1 minggu. Pupuk diberikan melingkar tanaman dengan jarak 1 m dari batang pada kedalaman 10 cm dan ditutup dengan tanah.
b. Kopi
Ada beberapa jenis kopi Arabika anjuran yang dapat ditanam pada agroekosistem dataran tinggi, seperti Abesinia 3, USDA 762, S 795, Kartika 1, Kartika 2, dan Andungsari. Tiga klon unggul perta-ma membutuhkan jarak tanam 2,5 x 2,5 m (populasi 1.600 batang/ha) dengan potensi hasil biji kering 1,0 – 1,5 ton/ tahun, mulai menghasilkan umur 2 tahun dengan umur ekonomis 25 tahun. Saran penanaman mulai ketinggian 700 m di atas permukaan laut pada lahan subur atau marginal dengan naungan cukup. Varietas Kartika dapat ditanam lebih rapat (1,6 x 1,6 m, populasi 3.600 batang/ha), potensi hasilnya 2.000-2.500 kg/ha/tahun dengan umur ekono-mis 25 tahun (Puslitkoka, 2006). Dari banyak klon yang tersedia, klon S 795 cocok untuk kawasan Air Dingin yang la-hannya tergolong kurang subur. Klon ini berbunga pertama umur 15-24 bulan, produktivitas 1,0–1,5 t/ha pada keting-gian >1.000 m di atas permukaan laut, dan tahan terhadap penyakit karat daun. Input rutin yang harus diberikan untuk tanaman kopi adalah pupuk buatan dengan takaran seperti pada Tabel 1. Pemeliharaan lainnya adalah pengenda-lian organisme pengganggu tanaman (OPT), pemangkasan, dan pengelolaan penaung yang berasal dari tanaman markisa.
c. Sayuran
Berbagai jenis sayuran, varietas lokal dan unggul, tersedia di lapangan, baik yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian ataupun swasta. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang telah menghasilkan beberapa varietas unggul sayuran dataran tinggi dengan potensi hasil tinggi, seperti: (i) cabe merah (Lembang-1, Tanjung-1 dan Tan-jung-2) dengan hasil 9-18 t/ha; (ii) ba-wang merah (Kramat-1, Kramat-2, dan Kuning) dengan potensi hasil 6-25,3 t/ha; (iii) kentang (Amudra, Manohara, Merbabu-17, Repita, Krespo, Balsa, Tango, Erika, dan Fries) dengan potensi hasil berkisar 20-42 t/ha (Puslitbang-horti, 2006). Selain itu, varietas sayur-an produksi swasta juga banyak beredar di pasaran dan telah ditanam oleh pe-tani, seperti cabe Bagayo produksi PT Panah Merah dan berbagai jenis kubis asal impor. Banyaknya pilihan varietas lebih memudahkan petani untuk memilih varietas sesuai kondisi dan musim tanam. Perlu dicatat bahwa luas efektif lahan yang dapat ditanami sayuran dalam pola tumpangsari dengan markisa dan kopi untuk 3-4 musim tanam adalah sekitar 80%.
Pengelolaan tanaman sayuran harus dilakukan secara intensif, baik dalam hal seleksi bibit, waktu tanam, pemupukan dan pengendalian OPT maupun panen dan pascapanen. Satu hal yang agak krusial dalam usahatani sayuran adalah fluktuasi harga yang tajam. Karena itu perlu pengaturan waktu tanam dan sis-tem tanam, agar periode panen dapat diatur. Komoditas sayuran yang dianalisis dalam hal ini adalah kentang, kubis dan tomat yang ditanam secara berurutan.

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
Komponen Biaya-Penerimaan
Analisis kelayakan finansial dimaksud-kan sebagai dasar pertimbangan dalam berinvestasi pada usaha agribisnis, khusus-nya integrasi markisa, kopi, dan sayuran. Beberapa variabel ekonomi yang perlu dihi-tung kuantitas dan nilainya antara lain: 1. Status penguasaan lahan (milik, sewa) 2. Semua input yang digunakan 3. Manajemen dan tenaga kerja 4. Hasil fisik (sayuran, markisa, kopi) 5. Harga dan nilai input-output.
Asumsi
Dalam menyusun arus biaya dan peneri-maan (cost-benefit) ketiga komoditas dalam sistem integrasi perlu ditetapkan bebe-rapa asumsi, yaitu:
a. Proyeksi hasil tanaman sayuran (kentang, kubis, dan tomat) selama 3 musim tanam.
b. Investasi untuk lahan dan bangunan ti-dak dimasukkan dalam analisis, karena dianggap milik sendiri. Kalaupun tidak milik sendiri nilai lahan pada akhir tahun ke-15 sebagai salvage value tidak berubah.
c. Jangka waktu analisis tanaman tahunan (markisa dan kopi) selama 15 tahun.
d. Markisa mulai menghasilkan pada tahun ke-2 dan kopi pada tahun ke-3.
e. Biaya masukan-hasil dan upah tenaga kerja sesuai dengan harga berlaku pada pertengahan tahun 2007, khususnya harga pupuk bersubsidi.
f. Proyeksi hasil markisa mulai tahun ke-2 sampai tahun ke-15, rata-rata 25,07 t/ ha/tahun.
g. Proyeksi hasil kopi mulai tahun ke-3 sampai tahun ke-15 rata-rata 1,115 t/ ha/tahun.
Model Analisis
Analisis data dilakukan menggunakan model analisis kelayakan finansial dengan menghitung besaran nilai Net Present Va-lue, Benefit-Cost Ratio, Present Value, dan Internal Rate of Return (Gittinger, 1986), dengan formula sebagai berikut:
Apabila nilai NPV positif, B/C>1, dan IRR lebih besar dari bunga investasi, maka usahatani layak secara finansial. Artinya, investasi menggunakan dana bank dengan suku bunga komersial secara finansial dianggap menguntungkan (layak), begitu pula sebaliknya.
HASIL ANALISIS
Masukan-Hasil Usahatani Sayuran
Keragaan teknis yang direfleksikan dari kuantitas masukan-hasil dan gambaran kinerja ekonomis dari nilai biaya dan pene-rimaan serta tingkat keuntungan dan nilai rasio B/C disajikan pada Tabel 2. Selama satu setengah tahun pertama, lahan dapat ditanami dengan aneka sayuran. Biaya awal langsung adalah biaya pembukaan lahan untuk tanaman pertama, sementara untuk tanaman berikutnya biaya ini tidak diperlukan. Begitu juga penggunaan pupuk kandang dengan jumlah 30 t/ha, tidak selalu harus diberikan setiap musim tanam, karena efeknya terhadap perbaikan struktur tanah masih berlanjut. Kalau tanaman awal dipilih cabe menggunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP), untuk tanaman kedua seperti bawang merah MPHP tidak perlu diganti. Dengan sekuen polatanam tertentu dapat diperoleh efisiensi biaya dan beberapa keuntungan teknis misalnya diputusnya mata rantai jenis penyakit tertentu apabila tidak menanam tanaman sejenis secara berurutan.
Banyak pilihan jenis sayuran dataran tinggi yang dapat diusahakan. Dalam analisis ini lahan yang baru dibuka ditanami dengan kentang-kubis dan tomat. Ketiga jenis sayuran ini membutuhkan input dengan kuantitas dan biaya yang berbeda. Menurut peringkat, total biaya produksi kentang paling tinggi diikuti oleh tomat dan kubis dengan nilai masing-masing Rp. 22.980.000,-, Rp.21.587.000,- dan Rp. 9.805.000,-/ha serta nilai rasio B/C 1,96; 1,85; dan 1,91.


Masukan-Hasil Markisa dan Kopi
Dalam sistem integrasi markisa, kopi dan sayuran, pemisahan pemakaian tenaga kerja tidak terlalu tegas, dalam arti bahwa perawatan satu jenis tanaman secara tidak langsung juga dapat merawat tanaman lain yang berintegrasi (sinergis). Pembukaan la-han di awal untuk tanaman sayuran, misal-nya, sekaligus juga untuk tanaman markisa dan kopi. Pemupukan tanaman sayuran dapat memberi efek positif terhadap tanaman tahunan di sekitarnya. Demikian juga dengan perawatan tanaman markisa yang tidak hanya berfungsi untuk mendapatkan pertumbuhan hasil buah yang baik, melainkan juga dapat memberi naungan bagi tanaman kopi.
Pada tahun pertama, total curahan te-naga kerja untuk pengelolaan usahatani kentang, kubis dan tomat berturut-turut adalah 145, 115, dan 155 HOK, sementara untuk persiapan penanaman markisa dan kopi dibutuhkan sebanyak 64 HOK dan 68 HOK. Selanjutnya, kebutuhan tenaga kerja untuk markisa dan kopi meningkat sejalan dengan pertumbuhan tanaman. Selama umur ekonomis tanaman, diproyeksikan kebutuhan tenaga kerja untuk markisa dan kopi adalah 3.798 dan 1.333 HOK atau rata-rata 253 dan 89 HOK/ha/tahun. Dengan tingkat upah Rp.25.000,-/HOK, total nilai tenaga kerja untuk markisa dan kopi men-capai Rp.8.550.000,-/ha/tahun atau Rp. 128.250.000,- selama 15 tahun. Besaran ini merupakan salah satu indikasi penciptaan kesempatan kerja sektor pertanian di pe-desaan yang tidak sedikit. Sejalan dengan kebutuhan bahan pertanaman, khususnya bibit markisa, pupuk serta kebutuhan sarana lainnya pada tahun pertama pertanaman markisa dibutuhkan biaya Rp.17.466.000,-/ha (Tabel 3). Kebut-uhan biaya untuk kopi pada tahun pertama adalah Rp.3.792.000,-, sedangkan pada tahun kedua hanya Rp.1.132.000,- yang besarnya meningkat secara linear (Tabel 4 dan 5).
Analisis Finansial
Nilai masukan hasil komoditas sayuran, markisa, dan kopi yang diproyeksikan pada Tabel 2, 3, dan 5 disederhanakan pada Tabel 6. Khusus untuk tanaman sayuran, besarnya nilai biaya dan penerimaan dihitung dengan luas efektif 80%, karena 20% lainnya sudah dimanfaatkan untuk tanaman markisa dan kopi. Secara kumulatif dalam jangka waktu 15 tahun besarnya biaya investasi sebelum didiscount mencapai Rp. 320.194.000,- dan total manfaat sebesar Rp.651.500.000,- untuk setiap hektar tanaman yang diintegrasikan.
Menggunakan Discount Factor (DF) 18% sebagai patokan suku bunga komersial tan-pa subsidi, ternyata integrasi markisa, ko-pi, dan sayuran menghasilkan Net Present Value = Rp.93.316.430,-; rasioB/C = 1,73; dan IRR >50% yang secara finansial adalah sangat layak. Bilamana bunga modal lebih rendah seperti skim kredit SP3 dan KKPE dengan bunga disubsidi, maka tingkat kelayakan investasi menjadi lebih besar lagi.
Analisis Kepekaan
Dalam analisis kepekaan diproyeksikan terjadi kenaikan biaya produksi sebesar 50%, baik akibat kenaikan harga sarana produksi ataupun upah tenaga kerja. Sebaliknya besarnya penerimaan tidak ber-ubah karena jumlah hasil dan harga jual dianggap tetap. Namun dalam kenyataannya selama periode 15 tahun, nilai hasil akan cenderung naik sejalan dengan laju inflasi.

Analisis kepekaan menghasilkan nilai yang masih layak (feasible) dengan nilai NPV = Rp.29.385.400,-; rasio B/C = 1,15; dan IRR = 39,12%. Peningkatan biaya produksi 50% menyebabkan NPV pada tahun pertama bernilai negatif, tetapi pada tahun kedua sampai tahun kelima belas semua NPV bernilai positif (Tabel 7).
Belum berkembangnya usahatani integrasi markisa, kopi, dan sayuran di kawasan Air Dingin tidak terlepas dari kurangnya modal petani serta keterbatasan lainnya termasuk informasi teknologi dan kelembagaan. Dengan tingkat kelayakan finansial yang menguntungkan, aplikasi di lapangan membutuhkan intervensi dari pihak luar. Hal ini memberi peluang bagi calon inves-tor untuk membangun kemitraan dengan pemilik lahan.
KESIMPULAN
1. Penerapan pola integrasi markisa, kopi, dan sayuran pada agroekosistem lahan kering dataran tinggi beriklim basah           merupakan salah satu alternatif budidaya berwawasan konservasi untuk lahan kering bergelombang seperti kawasan Air Dingin, Kabupaten Solok. Integrasi tersebut selain dapat mencegah kerusakan lingkungan akibat praktek ladang berpindah, juga mengarah kepada pemanfaatan potensi sumberdaya lahan secara optimal serta penciptaan kesempatan kerja di sektor pertanian.
2. Secara finansial dengan DF 18% sebagai patokan suku bunga komersial, integrasi markisa, kopi, dan sayuran menghasilkan NPV = Rp.93.316.430,- (Present Value of Benefit Rp.221.178.500,- dan Present Value of Cost Rp.127.862.000,); rasio B/C = 1,73 dan IRR>50% yang ber-arti sangat layak. Nilai tersebut didasarkan pada jangka waktu analisis 15 tahun untuk markisa dan kopi serta 3 musim tanam tahun pertama untuk sayuran. Apabila biaya produksi naik 50%, integrasi markisa, kopi, dan sayuran masih layak dengan nilai NPV = Rp. 29.385.400,- (Present Value of Benefit Rp.221.178.500,- dan Present Value of Cost Rp.191.793.100,-); rasio B/C = 1,15 dan IRR = 39,12%.
3. Implementasi integrasi markisa, kopi dan sayuran di lapangan membutuhkan dukungan teknologi dan investasi dari pihak luar sebagai bagian dari kegiatan pengembangan kawasan. Kerjasama antara pemilik lahan dan investor dalam bentuk sistem bagi hasil yang saling menguntungkan perlu dirumuskan.(Buharman B dan Nusyirwan Hasan)
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com